Mubadalah.id – Sejarah peradaban manusia yang tertulis oleh tradisi Masyarakat di seluruh dunia selalu menuliskan kiprah para tokoh besar yang dapat menjadi rujukan keteladanan. Para tokoh itu terdiri dari yang berjenis kelamin laki-laki dan juga Perempuan. Meskipun budaya patriarki masih lekat dalam konstruk sosial, penulisan peran para tokoh perempuan tidak pernah luput dari catatan.
Kendati ruang catatan yang kaum perempuan miliki tidak sebanyak catatan bagi para tokoh laki-laki, keabadian nama mereka dalam tinta pena merupakan bukti bahwa perempuan juga memiliki potensi yang sama. Hal ini sebagaimana laki-laki dalam memberikan kebermanfaatan bagi kehidupan.
Dalam konteks Indonesia, nama-nama itu juga ada. Melalui wasilah KUPI, nama-nama tokoh perempuan ini kembali kita gaungkan agar spirit keadilan gender di masa lampau dapat terwariskan dari generasi ke generasi.
Di antara banyak nama tokoh perempuan yang Indonesia miliki, mungkin masih ada yang merasa asing dengan sosok Teungku Fakinah. Siapakah dia dan apa perannya di masyarakat yang kemudian membuat namanya kekal dalam kebaikan? Tulisan ini berdasarkan paparan Prof. Eka Srimulyani pada Diskusi Serial Biografi Ulama Perempuan #9 yang diadakan oleh KUPI pada Minggu, 10 Mei 2026 (14.00-16.00 WIB).
Siapa Teungku Fakinah?
Teungku Fakinah, berdasarkan semua data yang ada, tergambarkan sebagai seorang ulama perempuan dari Aceh. Ia hidup pada abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Ketokohannya sangat masyhur. Ia terkenal sebagai pendidik, pemimpin Dayah, sekaligus pemimpin perang dalam melawan pasukan kolonial Belanda.
Sebagai orang Aceh, Teungku Fakinah tentu lahir dan besar dalam konteks sosial masyarakat Aceh. Konteks inilah yang kemudian membentuk otoritas keulamaan perempuan yang menjadi identitasnya. Identitas sebagai pendidik, pemimpin Dayah dan juga pemimpin masyarakat inilah yang menarik banyak peneliti untuk mengkaji figurnya dalam berbagai penelitian ilmiah.
Teungku Fakinah diperkirakan lahir pada tahun 1856. Sementara untuk tahun wafatnya, tidak diketahui secara pasti. Ada riwayat yang mencatat, ia meninggal pada tanggal 13 Oktober 1933. Lalu, ada pula yang mencatat 13 Oktober 1938 di kampung Beuha, Lam Krak, pada usia sekitar 70-75 tahun. Ia adalah anak dari bangsawan Aceh. Sang ayah, Teungku Datuk Mahmud (Teungku Asahan), adalah pejabat Kerajaan Aceh Darusalam.
Sedangkan ibunya bernama Teungku Fatimah (Cut Mah) merupakan putri dari ulama besar Aceh, Teungku Chik Lom Pucok. Teungku Chik Lom Pucok, yang tidak lain adalah kakek Teungku Fakinah dari garis ibu, merupakan pendiri Dayah Lom Pucok. Dayah ini adalah tempat Teungku Chik Di Tiro mendalami agama Islam. Maka kita dapatkan kesimpulan, bahwa Teungku Fakinah memiliki darah garis biru/aristrokat sekaligus memiliki darah keulamaan.
Dengan latar belakang yang demikian, maka sejak kecil Teungku Fakinah sudah mendalami ilmu agama juga mempelajari keterampilan-keterampilan hidup lainnya. Termasuk dalam keterampilan yang diajarkan padanya adalah keterampilan bela diri. Keterampilan ini menjadi salah satu hal yang diperhatikan orang tuanya mengingat kondisi sosial di masa itu sedang dalam masa penjajahan kolonial.
Maka dapat kita bayangkan, seberapa otoritasnya Teungku Fakinah apabila dilihat dari latar belakang keluarga juga kompetensi yang ia miliki ini. Terlebih Teungku Fakinah menikah dengan Teungku Ahmad yang juga merupakan seorang ulama di Aceh, ketokohannya di masyarakat tidak kita ragukan lagi. Setelah pernikahannya, Teungku Fakinah dan suami melakukan pelayanan atas ilmu di Dayah Lom Pucok.
Tradisi Kepemimpinan Perempuan di Aceh
Apabila kita membaca sejarah, kepemimpinan perempuan bukanlah hal asing bagi Masyarakat Aceh di masa lampau. Data itu dapat kita kilas balik dari sejarah Kerajaan Aceh Darusalam maupun Kerajaan Samudra Pasai yang memiliki para tokoh perempuan di dalamnya. Kita mengenal nama Cut Nyak Dhien dan juga Sultanah Nahrasiyah.
Cut Nyak Dhien yang terkenal sebagai pejuang, sejatinya ia juga merupakan seorang ulama perempuan yang sangat mendalami agama Islam. Ia memiliki ikatan persahabatan dengan Teungku Fakinah.
Pun tentang sosok Sultanah Nahrasiyah, ia adalah sosok perempuan Aceh yang meninggalkan artefak sejarah dalam nisan kuburannya yang diklaim sebagai kuburan terindah di Nusantara (Asia Tenggara, Indo-Malaya). Nisan tersebut merupakan nisan terindah yang dibuat oleh rakyat untuk penguasanya. Keberadaan nisan indah ini merupakan bentuk pengakuan kepemimpian perempuan dalam tradisi Masyarakat Aceh di masa itu.
Kendati nama-nama tokoh perempuan Aceh ini eksis dalam catatan sejarah, namun masih ada ketimpangan narasi apabila kita bandingkan dengan para tokoh laki-laki Aceh. Dengan kembali menulis dan membincang nama-nama tokoh perempuan, tidak lain merupakan upaya untuk menghilangkan ketimpangan tersebut dalam kehidupan keilmuan dan sosial kemasyarakatan.
Sepak Terjang Kehidupan Teungku Fakinah: Ulama Perempuan dan Pejuang Pembebas Penindasan
Teungku Fakinah hidup tidak selalu dalam kondisi yang aman sentosa, ia juga merasakan hidup dalam kondisi peperangan. Lebih tepatnya pada Perang Aceh yang terjadi pada tahun 1873. Pada tahun tersebut, sang suami (Teungku Ahmad) juga merupakan seorang pejuang. Teungku Ahmad meninggal secara syahid dalam pertempuran melawan kolonial Belanda. Gugurnya Teungku Ahmad tidak membuat Teungku Fakinah berhenti melakukan perlawanan terhadap penjajah.
Pada masa itu, Aceh merupakan sasaran kolonial Belanda karena posisinya yang strategis di jalur perdagangan Selat Malaka. Namun usaha untuk menguasai Aceh melalui perjanjian itu gagal, dan pecahlah Perang Aceh ini yang berlangsung dalam kurun waktu yang berkepanjangan.
Perang ini juga melibatkan seluruh lapisan Masyarakat, termasuk daya. Lembaga Pendidikan tradisional Islam yang berkembang di Aceh, dalam masyarakat Jawa dikenal dengan istilah pondok pesantren. Maka tidak mengherankan apabila kita membuka buku sejarah Nusantara, kita akan menemukan tokoh-tokoh agama yang juga para berperan sebagai pejuang yang membebaskan rakyat dari belenggu penjajahan.
Teungku Fakinah sebagai pejuang juga melakukan hal yang sama, ia memimpin resimennya yang membawahi empat batalyon. Satu dari empat batalyon tersebut berisikan para pejuang perempuan semua. Dan para pejuang perempuan inilah yang mendirikan benteng pertahanan Kuta Cot Weue. Dapat kita katakan, peran ulama dan dayah dalam konteks sejarah sosial, keagamaan dan perlawanan sosial, tidak pernah terabaikan dan mendapat posisi yang krusial, termasuk peran dari sosok Teungku Fakinah.
Menilik Gelar Teungku di dalam Nama Fakinah
Gelar ‘Teuku’ yang tersemat dalam nama-nama orang Aceh memiliki makna bahwa orang tersebut memiliki darah bangsawan. Adapun gelar ‘Teungku’ maknanya lebih dalam lagi, karena dalam gelar tersebut tersimpan otoritas dari dimensi keulamaan. Maka, gelar Teungku pada nama Fakinah merupakan pengakuan yang melekat pada sosoknya perihal otoritas pengetahuan dan keagamaan. Ini sangat kentara dari latar belakangnya, kompetensinya, juga kiprahnya di Masyarakat.
Terlebih Teungku Fakinah merupakan pemimpin Dayah rintisan sang kakek, hal ini membuat sosoknya sangat pantas untuk menyandang gelar tersebut. Ia adalah santri perempuan yang kemudian menjadi Teungku Inong Dayah, perempuan yang memiliki kapasitas keilmuan agama, mengajar santri, dan memimpin dayah.
Dalam kepemimpinannya, Dayah Lom Pucok dapat mencetak murid-murid yang faqih dan bersemangat juang. Ketokohan Teungku Fakinah bersifat produktif dan reproduktif, tidak sekedar simbolik semata.
Sebagai pejuang yang melawan penindasan, setelah sang suami meninggal dunia, Teungku Fakinah mengorganisir para janda, yang suaminya gugur di medan peperangan. Bersama para perempuan ini, ia membentuk barisan Inoeng Balee untuk mendukung Perang Aceh.
Aksi ini menggambarkan bahwa secara konseptual pemikiran, Teungku Fakinah memiliki ijtihad tafsir versi dirinya, yakni jihad adalah kewajiban kolektif yang tidak saja untuk laki-laki, tetapi juga perempuan.
Sebagai pemimpin perjuangan, Teungku Fakinah tentu bergerak atas mandat dari Sultan Alaiddin Muhammad Daud Syah. Ia diberi mandat untuk memimpin satu sukey/resimen yang terdiri dari tiga batalyon laki-laki dan satu batalyon perempuan janda. Seperti yang telah saya singgung, para perempuan ini terlibat dalam pendirian benteng dengan memasang pagar, menggali parit, dan juga memasang ranjau.
Mendirikan Dayah Lam Diran
Adapun nama perempuan-perempuan yang menjadi bagian dari batalyon ini di antaranya adalah Cutpo Fatimah Blang Preh, Nyak Raniah dari Lam Uriet, Cutpo Hasbi, Cutpo Nyak Cut, dan Cut Puteh. Ya, walaupun pada akhirnya semua benteng, termasuk benteng para pejuang perempuan, jatuh ke tangan Belanda, Teungku Fakinah tidak menyerah.
Ia melanjutkan perjuangan dengan bergerilya panjang, ke Pasai, Gayo Lues dan sekitar danau Laut Tawar sambil tetap mengajar para perempuan yang turut berjuang bersamanya. Hingga pada akhirnya, setelah ia merasa selesai dengan perjuangan fisik, ia kembali melanjutkan perjuangannya di Dayah.
Pada tahun 1911, seusai perjuangan fisik, Teungku Fakinah kembali ke Lam Krak dan mengabdi di dayah dengan mendirikan Dayah Lam Diran. Dayah ini cepat menarik antusias santri dari berbagai daerah yang ingin memperdalam ilmu agama dan kemudian berkembang menjadi salah satu pusat Pendidikan Islam penting di Aceh Besar. Pembelajaran Dayah lam Diran meliputi bidang al-Qur’an, Fikih, Tauhid, Akhlak-Tasawuf, dan kitab kuning.
Dayah menggunakan metode belajar tradisional dengan menekankan pada aspek ibadah dan etika. Melalui pengalaman yang ia miliki, Teungku Fakinah menanamkan nilai kedisiplinan, keberanian, juga solidaritas kepada para santrinya. Pada saat itu, dayah lekat dengan pembelajar laki-laki, sampai tiba kepemimpinan Teungku Fakinah, para pembelajar mulai kaum perempuan minati.
Apakah dayah yang Teungku Fakinah dirikan masih ada? Jika masih ada, ada di mana itu? Dari sisi operasionalnya, dayah tersebut sudah tidak beroperasi lagi. Namun untuk bukti-bukti sejarahnya, termasuk makam Teungku Fakinah, tentu masih ada di sana, yakni di Lam Krak.
Empat Model Kepemimpinan Teungku Fakinah
Ada empat model kepemimpinan yang Teungku Fakinah jalankan, antara lain, pertama, kapasitas ilmu. Ia menguasai ilmu agama secara mendalam dan berhasil melahirkan murid yang meneruskan diseminasi keilmuan serta pengabdian sosial. Kedua, perjuangan, ia mampu mengorganisir janda-janda pejuang dalam Inoeng Balee, santri di dayah, serta tokoh lokal pendukung program pendidikan.
Ketiga, peran patron, ia tidak saja memberi ilmu, tetapi juga melindungi, mengarahkan, dan menghubungkan murid dengan jaringan sosial yang lebih luas. Keempat, akses perempuan, Dayah Lam Diran menjadi ruang aman bagi perempuan belajar agama, menguatkan mental, dan berlatih mengelola kehidupan dalam perspektif Islam.
Perjuangannya adalah perjuangan lintas dimensi, yakni dimensi fisik, intelektual, dan juga sosial dalam membangun dan memajukan Pendidikan.Teungku Fakinah menjadi sosok yang meliputi tiga nilai dedikasi yang dapat setiap individu lakukan, khususnya perempuan, di dalam kehidupannya. Yakni, keberanian dalam perjuangan, konsistensi pengabdian dalam melindungi masyarakat rentan. Selain itu juga komitmen merawat tradisi keilmuan dan Pendidikan Islam.
Teungku Fakinah menjadi bukti bahwa perempuan dapat membangun otoritas keagamaan sebagaimana laki-laki. Teungku Fakinah menjadi argumentasi historis bahwa kehadiran perempuan sebagai ulama bukanlah inovasi modern semata, akan tetapi melanjutkan estafet dari tradisi yang telah ada untuk mereduksi resistensi budaya dan teologis yang tidak masyarakat perlukan.
Sisterhood Penuh Kelembutan dalam Pergerakan Perjuangan
Teungku Fakinah memiliki hubungan persahabatan dengan pahlawan nasional perempuan dari Aceh yang bernama Cut Nyak Dhien. Keduanya kerap saling mengunjungi. Ada kalanya Cut Nyak Dhien yang datang mengunjungi Teungku Fakinah, dan ada kalanya Teungku Fakinah yang mengunjungi Cut Nyak Dhien untuk meminta dukungan moril dan materil (logistik dalam medan peperangan). Terdapat satu pesan dari Teungku Fakinah untuk Cut Nyak Dhien yang tertulis:
Peugah bak Cut Nyak Dhien haba lon:
Yue jak beu reujang lakoe gopnyan Teuku Meulaboh,
Jak prang inong-inong balee mangat jikalon ceubeueh le gop,
Bah agam lawan inong balee
(Sampaikan pesan saya kepada Cut Nyak Dhien:
Suruh datang suaminya (Cut Nyak Dhien), Teuku Meulaboh,
Untuk berperang dengan perempuan-perempuan janda supaya orang dapat melihat keberaniannya,
Bahwa laki-laki melawan perempuan janda).
Mendapat pesan satir dari Teungku Fakinah ini, membuat Cut Nyak Dhien merasa gelisah. Beberapa referensi juga meriwayatkan perihal usaha Cut Nyak Dhien untuk menyampaikan pesan ini kepada suaminya.
Tidak tahu apakah pesan ini berhasil tersampaikan atau tidak. Namun sejarah mencatat bahwa Teuku Meulaboh (Teuku Umar) kemudian berbalik haluan kembali untuk mendukung perjuangan masyarakat Aceh melawan penjajah Belanda. Sebelumnya ia tampak mendukung Belanda sebagai strategi atau taktik untuk mempelajari kelemahan musuh. Selain itu, mengumpulkan pasokan senjata, amunisi, serta logistik perang.
Di surat berbeda, Teungku Fakinah juga mempertanyakan posisi Cut Nyak Dhien, apakah sang sahabat ini juga membelot sebagaimana suaminya atau tidak. Pertanyaan itu Cut Nyak Dhien jawab secara halus dengan mengatakan yang artinya, ”Hati Cut Nyak Dhien masih seperti semula.” Jawaban ini merupakan jawaban yang digunakan untuk meyakinkan sahabatnya.
Ya, sisterhood merupakan sesuatu yang penting dalam sebuah perjuangan. Sikap maskulin yang laki-laki dan perempuan miliki dalam suatu keadaan. Sementara sifat feminin Tuhan Yang Maha Lembut seyogyanya juga menjadi penyeimbang yang senantiasa menjadi wasilah baik bagi segala hubungan. []












































