Mubadalah.id – “Ini tempat kerja Eyang, lho,” ujar Nyai Sholichah kepada Inayah Wahid kecil sembari menunjuk ke sebuah gedung besar di bilangan Senayan, Jakarta yang menyerupai kura-kura.
Inayah kecil kemudian terkagum-kagum melihat gedung pemerintahan tempat eyang putrinya bekerja. Pola pikirnya di tahun 90an yang masih sederhana kemudian memaklumi kehebatan dan privilese eyangnya. Bagaimana tidak, Nyai Sholichah adalah istri dari menteri agama Republik Indonesia yang pertama, K.H. Abdul Wahid Hasyim.
Namun, ketika Inayah beranjak dewasa, ia kemudian menyadari bahwa eyangnya bukanlah bayangan dari suaminya. Nyai Hj. Sholichah Wahid Hasyim dapat membuktikan bahwa beliau adalah seorang perempuan yang istimewa dan hebat. Beliau adalah penggerak yang berprestasi dan pribadi yang mandiri serta layak menjadi panutan banyak orang.
Maka pada kesempatan diskusi Serial #13 Pembacaan Biografi Ulama Perempuan Indonesia pada Kamis, 14 Mei 2026 bersama Jaringan Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI), Inayah Wahid menceritakan kiprah dan prestasi Nyai Sholichah dari sudut pandang seorang cucu perempuan yang masih meneruskan nilai-nilai perjuangan eyangnya hingga saat ini.
Nyai Sholichah Bertemu Jodoh dengan Cara yang Berkesan
Terlahir dari pasangan K.H. Bisri Syansuri dan Hj. Nur Chadijah di tahun 1922, Nyai Sholichah diberi nama Munawaroh oleh kedua orang tuanya. Sebagai putri dari seorang pemimpin pesantren di Jawa, Nyai Sholichah, Inayah menceritakannya sebagai sosok yang sangat lekat dengan nilai-nilai keislaman saat itu. Salah satu contohnya adalah sapaan ‘Ning’ yang diberikan kepadanya sedari kecil.
Nyai Sholichah, atau masih dikenal sebagai Ning Waroh, yang pada saat itu berusia 14 tahun dicarikan jodoh oleh K. H. Hasyim Asy’ari. Menurut Inayah, pernikahan anak tersebut memang tidak sesuai dengan apa yang kita anut saat ini. Akan tetapi, sekitar tahun 1930 tradisi tersebut dianggap wajar di lingkungan eyangnya. Sehingga Ning Waroh menikah dengan Abdul Rochim di usia yang masih sangat belia.
Di usia yang masih belum terbilang dewasa tersebut juga Ning Waroh menjadi janda. Hal ini karena wafatnya Abdul Rochim setahun setelah mereka menikah.
Kurang lebih dua tahun setelah kepergian Abdul Rochim, Ning Waroh bertemu dengan calon suami keduanya, Abdul Wahid Hasyim. “Ceritanya lucu,” ujar Inayah. Suatu hari Ning Waroh diminta oleh kedua orang tuanya pergi bertakziah. Ia kemudian diantar oleh seorang supir, Pak Jayus, menggunakan sebuah mobil berwarna hitam.
Selesai takziah, Ning Waroh mengalami kesultan dalam mencari mobil dan supir yang mengantarnya. “Mungkin mobil hitam yang terpakai oleh eyang saya saat itu pasaran seperti mobil BYD hari ini ya,” canda Inayah. Akhirnya Ning Waroh masuk ke dalam sebuah mobil yang ia yakini milik keluarganya. Namun, bukannya Pak Jayus yang ia temukan di balik kemudi, tetapi seorang pemuda bernama Abdul Wahid Hasyim yang saat itu belum ia kenal.
Kejadian memalukan tersebut ternyata sangat berkesan bagi Abdul Wahid Hasyim. Sehingga bersama ayahnya ia datang ke rumah Ning Waroh untuk melamarnya. Menariknya, ayah dari Abdul Wahid Hasyim adalah K. H. Hasyim Asy’ari yang pernah menjodohkan Ning Waroh dengan almarhum suaminya. Alhasil, di usia yang ke-17 Ning Waroh menikahi K. H. Abdul Wahid Hasyim dan berganti nama menjadi Nyai Hj. Sholichah Wahid Hasyim.
Thalabul Ilmi dan Perjuangan Nyai Sholichah yang Tak Pernah Berhenti
Inayah kemudian ingat bahwa sedari dulu Nyai Sholichah selalu berpesan, utamanya kepada perempuan, untuk selalu thalabul ilmi yakni belajar dan mencari ilmu. Prinsip tersebut semakin menguat setelah ia menikahi Abdul Wahid Hasyim.
Tidak hanya semakin rajin membaca seperti suaminya dan belajar banyak hal baru, Nyai Sholichah bahkan semakin mandiri sejak menjadi istri dari Abdul Wahid Hasyim. Bagaimana tidak, ketenangan mereka tinggal di Pondok Pesantren Tebuireng terancam akibat tertangkapnya sang pendiri pesantren, K. H. Hasyim Asy’ari oleh penjajah Jepang.
Kejadian tersebut membuat Nyai Sholichah harus kembali ke Pondok Pesantren Denanyar milik keluarganya tanpa sang suami. Abdul Wahid Hasyim harus pergi dan membebaskan ayahnya dari penjara milik penjajah Jepang.
Nyai Sholichah tidak hanya berdiam diri. Ia ikut berjuang dengan mendirikan dapur umum untuk para pejuang yang melawan Jepang. Inayah juga bercerita bahwa eyangnya ikut menjadi kurir dan mengantar dokumen-dokumen rahasia. Hal ini menunjukkan bahwa Nyai Sholichah tidak bergantung kepada suaminya dalam berpartisipasi dan berjuang untuk negaranya.
Kemandiriannya semakin teruji ketika sang suami meninggal dunia karena kecelakaan lalu lintas pada tahun 1953. Abdul Wahid Hasyim meninggalkan Nyai Sholichah yang sedang hamil beserta 5 orang anak. Keluarga Nyai Sholichah menawarkannya untuk kembali ke Jombang. Anak-anak akan dirawat bersama di sana menjadi jaminan dari keluarga besar agar Nyai Sholichah kembali. Namun, ia menolaknya dan bertahan hidup membesarkan anak-anaknya di Jakarta.
Hidup sebagai seorang janda di Jakarta pada tahun 50an sangat berat. Tidak hanya tantangan finansial tetapi juga stigma negatif janda yang masih bertahan hingga saat ini. Akan tetapi, Nyai Sholichah tidak pantang menyerah. Segala materi yang bisa terjual ia lepas demi bisa menafkahi keenam anaknya. Inayah juga bercerita bagaimana eyangnya ikut berpartisipasi dalam pembangunan Masjid Sunda Kelapa dengan menjual bahan-bahan material.
Selain mencari nafkah, Nyai Sholichah tidak pernah lupa berdema. Ia memang suka sekali membantu mereka yang membutuhkan. Keinginannya untuk mendukung jalannya kebaikan mengantarnya sebagai pimpinan Muslimat Nahdlatul Ulama (MNU), kemudian menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jakarta, hingga menjabat sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI).
Inayah juga menyebutkan peran-peran penting eyangnya seperti menjadi bendahara pada Front Nasional Pembebasan Irian Barat. Lalu berperan dalam Yayasan Bunga Kemboja, dan juga mendirikan Panti Asuhan Harapan Remaja, serta Panti Lanjut Usia di daerah Rawamangun.
Figur Kuat Nyai Sholichah yang Disegani dan Dihormati
Menurut salah satu putra dari Nyai Sholichah, K. H. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, ibunya memiliki pengaruh yang sangat besar bagi NU sehingga disebut sebagai ‘ayam induk’. Inayah membenarkan pernyataan ayahnya bahwa tidak hanya untuk MNU tetapi eyangnya juga menjadi panutan semua pimpinan NU dalam pengambilan keputusan.
Salah satu wujud kepemimpinan Nyai Sholichah terlihat dari sikapnya yang selalu menerima dan membuka pintu rumahnya bagi siapa saja yang ingin belajar serta berdiskusi dengannya tanpa terkecuali. Salah satu contohnya terjadi setelah Gerakan 30 September (G30S) 1965. Ketika semua orang lebih memilih pergi dari Jakarta untuk menyelamatkan diri, Nyai Sholichah berani dan bersikeras untuk menetap. Ia bahkan membukakan pintu rumahnya untuk semua jenis pertemuan yang dilakukan demi keberlangsungan sosial politik saat itu.
Kuatnya peranan Nyai Sholichah dan perempuan-perempuan pemimpin lainnya di NU bahkan menjadi kelakar yang tersampaikan kepada suami Inayah sebelum mereka menikah yakni ‘yang sabar ya’. Wejangan tersebut mungkin hanyalah sebuah candaan, tapi hal tersebut sangat menunjukkan bahwa tokoh perempuan NU seperti Nyai Sholichah, keturunan-keturunannya, hingga Inayah merupakan sosok-sosok kuat dan penting. Sehingga pernikahan yang setaralah yang pas untuk mendukung kiprah mereka dalam memberdayakan sesama.
Pesan Nyai Sholichah: Perempuan Tidak Boleh Berhenti Belajar
Mengenang kiprah dan perjuangan Nyai Sholichah, Inayah tahu betul bahwa eyangnya memang tidak mendeklarasikan diri sebagai feminis. Konsep feminisme pun belum dikenal di Indonesia saat itu. Namun, Nyai Sholichah sudah menghidupi perjuangan-perjuangan kemanusiaan yang tidak memandang latar belakang gender apapun pada saat itu.
Yang Inayah sayangkan adalah masih kurangnya dokumentasi mengenai eyangnya, dan nyai-nyai lainnya, secara utuh. Hal ini penyebabnya, karena rekam jejak mereka masih saja terbayangi oleh nama dan peran suami mereka. Selain itu, seringkali terdapat kesalahan dalam pendokumentasian tersebut. Sehingga semakin sulit untuk masyarakat luas dalam menggali informasi mengenai Nyai Sholichah maupun tokoh-tokoh perempuan hebat lainnya secara menyeluruh.
Sebagai penutup, Inayah menekankan kembali pesan Nyai Hj. Sholichah Abdul Wahid untuk tidak melupakan thalabul ilmi; belajar dan mencari ilmu. Utamanya bagi perempuan agar tidak bergantung pada orang lain serta mampu memberdayakan diri dan sesamanya di jalan kebaikan. []












































