Sabtu, 4 Juli 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

    Pemadaman Listrik

    Pemadaman Listrik Bergilir: Ironi Negara Eksportir Batu Bara

    Suporter Jepang

    Kritik untuk Suporter Jepang di Piala Dunia 2026: Cuitan Warganet, Sentilan Aristoteles

    Slut Shaming

    Slut Shaming: Ruang Digital tidak Ramah Terhadap Perempuan Kritis

    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Feminisme: Kala Perempuan Tak Melulu Menjadi Penghibur

    Aliansi Perempuan Indonesia

    Aliansi Perempuan Indonesia Turun ke Jalan Tolak Kenaikan Harga

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Putri

    Menjadi Guru bagi Putri, Anak dengan Disabilitas Intelektual

    Pemain Diaspora

    Fenomena Pemain Diaspora Piala Dunia 2026 dalam Lensa Mubadalah

    Pengelolaan Sampah

    Implementasi Nilai Kesemestaan KUPI dalam Pengelolaan Sampah Pondok Pesantren

    Anak Autisme

    Menjaga Emosi Tetap Stabil dari Pola Makan bagi Anak Autisme dan Down Syndrome

    Anak Disabilitas

    Stabilitas Keluarga, Kunci Utama Menjaga Hak Anak Disabilitas

    Masa Depan Anak

    Momen Lulus Sekolah: Siapa yang Berhak Menentukan Masa Depan Anak?

    Memaknai Mahar

    Memaknai Mahar sebagai Penghormatan, Bukan Pembelian

    ToT KUPI

    ToT KUPI: Memahami Jejak Keulamaan Perempuan hingga Anatomi Gerakan KUPI

    Budaya FOMO

    Bahaya Budaya FOMO dalam Meningkatkan Sampah

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Layanan Aborsi

    Bagaimana Mengetahui Layanan Aborsi Aman atau Tidak? Ini 9 Tandanya

    Obat Aborsi

    3 Jenis Obat yang Aman Digunakan untuk Aborsi

    Aborsi

    Mengenal Aborsi dengan Obat serta Risiko yang Perlu Diwaspadai

    Aborsi Aman

    2 Metode Aborsi yang Aman dalam Layanan Medis

    Aborsi

    Aborsi Menurut Hukum Indonesia

    Aborsi legal

    Sulitnya Akses Aborsi Legal dan Bahaya Praktik Aborsi Ilegal

    Aborsi

    Kapan Aborsi Diperbolehkan? Memahami Ketentuan di Berbagai Negara

    Aborsi

    Aborsi Tidak Aman Mengancam Nyawa: Hindari Cara-cara Berbahaya Ini

    Aborsi Aman

    Aborsi Aman dan Tidak Aman: Memahami Perbedaannya Demi Keselamatan Perempuan

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

    Pemadaman Listrik

    Pemadaman Listrik Bergilir: Ironi Negara Eksportir Batu Bara

    Suporter Jepang

    Kritik untuk Suporter Jepang di Piala Dunia 2026: Cuitan Warganet, Sentilan Aristoteles

    Slut Shaming

    Slut Shaming: Ruang Digital tidak Ramah Terhadap Perempuan Kritis

    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Feminisme: Kala Perempuan Tak Melulu Menjadi Penghibur

    Aliansi Perempuan Indonesia

    Aliansi Perempuan Indonesia Turun ke Jalan Tolak Kenaikan Harga

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Putri

    Menjadi Guru bagi Putri, Anak dengan Disabilitas Intelektual

    Pemain Diaspora

    Fenomena Pemain Diaspora Piala Dunia 2026 dalam Lensa Mubadalah

    Pengelolaan Sampah

    Implementasi Nilai Kesemestaan KUPI dalam Pengelolaan Sampah Pondok Pesantren

    Anak Autisme

    Menjaga Emosi Tetap Stabil dari Pola Makan bagi Anak Autisme dan Down Syndrome

    Anak Disabilitas

    Stabilitas Keluarga, Kunci Utama Menjaga Hak Anak Disabilitas

    Masa Depan Anak

    Momen Lulus Sekolah: Siapa yang Berhak Menentukan Masa Depan Anak?

    Memaknai Mahar

    Memaknai Mahar sebagai Penghormatan, Bukan Pembelian

    ToT KUPI

    ToT KUPI: Memahami Jejak Keulamaan Perempuan hingga Anatomi Gerakan KUPI

    Budaya FOMO

    Bahaya Budaya FOMO dalam Meningkatkan Sampah

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Layanan Aborsi

    Bagaimana Mengetahui Layanan Aborsi Aman atau Tidak? Ini 9 Tandanya

    Obat Aborsi

    3 Jenis Obat yang Aman Digunakan untuk Aborsi

    Aborsi

    Mengenal Aborsi dengan Obat serta Risiko yang Perlu Diwaspadai

    Aborsi Aman

    2 Metode Aborsi yang Aman dalam Layanan Medis

    Aborsi

    Aborsi Menurut Hukum Indonesia

    Aborsi legal

    Sulitnya Akses Aborsi Legal dan Bahaya Praktik Aborsi Ilegal

    Aborsi

    Kapan Aborsi Diperbolehkan? Memahami Ketentuan di Berbagai Negara

    Aborsi

    Aborsi Tidak Aman Mengancam Nyawa: Hindari Cara-cara Berbahaya Ini

    Aborsi Aman

    Aborsi Aman dan Tidak Aman: Memahami Perbedaannya Demi Keselamatan Perempuan

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Figur

Tidak Pernah Berhenti Belajar dan Berjuang: Prinsip Hidup Nyai Hj. Sholichah Wahid Hasyim

Sedari dulu Nyai Sholichah selalu berpesan, utamanya kepada perempuan, untuk selalu thalabul ilmi yakni belajar dan mencari ilmu.

Retno Daru Dewi G. S. Putri by Retno Daru Dewi G. S. Putri
18 Mei 2026
in Figur, Rekomendasi
A A
0
Nyai Hj. Sholichah Wahid Hasyim

Nyai Hj. Sholichah Wahid Hasyim

16
SHARES
810
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – “Ini tempat kerja Eyang, lho,” ujar Nyai Sholichah kepada Inayah Wahid kecil sembari menunjuk ke sebuah gedung besar di bilangan Senayan, Jakarta yang menyerupai kura-kura.

Inayah kecil kemudian terkagum-kagum melihat gedung pemerintahan tempat eyang putrinya bekerja. Pola pikirnya di tahun 90an yang masih sederhana kemudian memaklumi kehebatan dan privilese eyangnya. Bagaimana tidak, Nyai Sholichah adalah istri dari menteri agama Republik Indonesia yang pertama, K.H. Abdul Wahid Hasyim.

Namun, ketika Inayah beranjak dewasa, ia kemudian menyadari bahwa eyangnya bukanlah bayangan dari suaminya. Nyai Hj. Sholichah Wahid Hasyim dapat membuktikan bahwa beliau adalah seorang perempuan yang istimewa dan hebat. Beliau adalah penggerak yang berprestasi dan pribadi yang mandiri serta layak menjadi panutan banyak orang.

Maka pada kesempatan diskusi Serial #13 Pembacaan Biografi Ulama Perempuan Indonesia pada Kamis, 14 Mei 2026 bersama Jaringan Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI), Inayah Wahid menceritakan kiprah dan prestasi Nyai Sholichah dari sudut pandang seorang cucu perempuan yang masih meneruskan nilai-nilai perjuangan eyangnya hingga saat ini.

Nyai Sholichah Bertemu Jodoh dengan Cara yang Berkesan

Terlahir dari pasangan K.H. Bisri Syansuri dan Hj. Nur Chadijah di tahun 1922, Nyai Sholichah diberi nama Munawaroh oleh kedua orang tuanya. Sebagai putri dari seorang pemimpin pesantren di Jawa, Nyai Sholichah, Inayah menceritakannya sebagai sosok yang sangat lekat dengan nilai-nilai keislaman saat itu. Salah satu contohnya adalah sapaan ‘Ning’ yang diberikan kepadanya sedari kecil.

Nyai Sholichah, atau masih dikenal sebagai Ning Waroh, yang pada saat itu berusia 14 tahun dicarikan jodoh oleh K. H. Hasyim Asy’ari. Menurut Inayah, pernikahan anak tersebut memang tidak sesuai dengan apa yang kita anut saat ini. Akan tetapi, sekitar tahun 1930 tradisi tersebut dianggap wajar di lingkungan eyangnya. Sehingga Ning Waroh menikah dengan Abdul Rochim di usia yang masih sangat belia.

Di usia yang masih belum terbilang dewasa tersebut juga Ning Waroh menjadi janda. Hal ini karena wafatnya Abdul Rochim setahun setelah mereka menikah.

Kurang lebih dua tahun setelah kepergian Abdul Rochim, Ning Waroh bertemu dengan calon suami keduanya, Abdul Wahid Hasyim. “Ceritanya lucu,” ujar Inayah. Suatu hari Ning Waroh diminta oleh kedua orang tuanya pergi bertakziah. Ia kemudian diantar oleh seorang supir, Pak Jayus, menggunakan sebuah mobil berwarna hitam.

Selesai takziah, Ning Waroh mengalami kesultan dalam mencari mobil dan supir yang mengantarnya. “Mungkin mobil hitam yang terpakai oleh eyang saya saat itu pasaran seperti mobil BYD hari ini ya,” canda Inayah. Akhirnya Ning Waroh masuk ke dalam sebuah mobil yang ia yakini milik keluarganya. Namun, bukannya Pak Jayus yang ia temukan di balik kemudi, tetapi seorang pemuda bernama Abdul Wahid Hasyim yang saat itu belum ia kenal.

Kejadian memalukan tersebut ternyata sangat berkesan bagi Abdul Wahid Hasyim. Sehingga bersama ayahnya ia datang ke rumah Ning Waroh untuk melamarnya. Menariknya, ayah dari Abdul Wahid Hasyim adalah K. H. Hasyim Asy’ari yang pernah menjodohkan Ning Waroh dengan almarhum suaminya. Alhasil, di usia yang ke-17 Ning Waroh menikahi K. H. Abdul Wahid Hasyim dan berganti nama menjadi Nyai Hj. Sholichah Wahid Hasyim.

Thalabul Ilmi dan Perjuangan Nyai Sholichah yang Tak Pernah Berhenti

Inayah kemudian ingat bahwa sedari dulu Nyai Sholichah selalu berpesan, utamanya kepada perempuan, untuk selalu thalabul ilmi yakni belajar dan mencari ilmu. Prinsip tersebut semakin menguat setelah ia menikahi Abdul Wahid Hasyim.

Tidak hanya semakin rajin membaca seperti suaminya dan belajar banyak hal baru, Nyai Sholichah bahkan semakin mandiri sejak menjadi istri dari Abdul Wahid Hasyim. Bagaimana tidak, ketenangan mereka tinggal di Pondok Pesantren Tebuireng terancam akibat tertangkapnya sang pendiri pesantren, K. H. Hasyim Asy’ari oleh penjajah Jepang.

Kejadian tersebut membuat Nyai Sholichah harus kembali ke Pondok Pesantren Denanyar milik keluarganya tanpa sang suami. Abdul Wahid Hasyim harus pergi dan membebaskan ayahnya dari penjara milik penjajah Jepang.

Nyai Sholichah tidak hanya berdiam diri. Ia ikut berjuang dengan mendirikan dapur umum untuk para pejuang yang melawan Jepang. Inayah juga bercerita bahwa eyangnya ikut menjadi kurir dan mengantar dokumen-dokumen rahasia. Hal ini menunjukkan bahwa Nyai Sholichah tidak bergantung kepada suaminya dalam berpartisipasi dan berjuang untuk negaranya.

Kemandiriannya semakin teruji ketika sang suami meninggal dunia karena kecelakaan lalu lintas pada tahun 1953. Abdul Wahid Hasyim meninggalkan Nyai Sholichah yang sedang hamil beserta 5 orang anak. Keluarga Nyai Sholichah menawarkannya untuk kembali ke Jombang. Anak-anak akan dirawat bersama di sana menjadi jaminan dari keluarga besar agar Nyai Sholichah kembali. Namun, ia menolaknya dan bertahan hidup membesarkan anak-anaknya di Jakarta.

Hidup sebagai seorang janda di Jakarta pada tahun 50an sangat berat. Tidak hanya tantangan finansial tetapi juga stigma negatif janda yang masih bertahan hingga saat ini. Akan tetapi, Nyai Sholichah tidak pantang menyerah. Segala materi yang bisa terjual ia lepas demi bisa menafkahi keenam anaknya. Inayah juga bercerita bagaimana eyangnya ikut berpartisipasi dalam pembangunan Masjid Sunda Kelapa dengan menjual bahan-bahan material.

Selain mencari nafkah, Nyai Sholichah tidak pernah lupa berdema. Ia memang suka sekali membantu mereka yang membutuhkan. Keinginannya untuk mendukung jalannya kebaikan mengantarnya sebagai pimpinan Muslimat Nahdlatul Ulama (MNU), kemudian menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jakarta, hingga menjabat sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI).

Inayah juga menyebutkan peran-peran penting eyangnya seperti menjadi bendahara pada Front Nasional Pembebasan Irian Barat. Lalu berperan dalam Yayasan Bunga Kemboja, dan juga mendirikan Panti Asuhan Harapan Remaja, serta Panti Lanjut Usia di daerah Rawamangun.

Figur Kuat Nyai Sholichah yang Disegani dan Dihormati

Menurut salah satu putra dari Nyai Sholichah, K. H. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, ibunya memiliki pengaruh yang sangat besar bagi NU sehingga disebut sebagai ‘ayam induk’. Inayah membenarkan pernyataan ayahnya bahwa tidak hanya untuk MNU tetapi eyangnya juga menjadi panutan semua pimpinan NU dalam pengambilan keputusan.

Salah satu wujud kepemimpinan Nyai Sholichah terlihat dari sikapnya yang selalu menerima dan membuka pintu rumahnya bagi siapa saja yang ingin belajar serta berdiskusi dengannya tanpa terkecuali. Salah satu contohnya terjadi setelah Gerakan 30 September (G30S) 1965. Ketika semua orang lebih memilih pergi dari Jakarta untuk menyelamatkan diri, Nyai Sholichah berani dan bersikeras untuk menetap. Ia  bahkan membukakan pintu rumahnya untuk semua jenis pertemuan yang dilakukan demi keberlangsungan sosial politik saat itu.

Kuatnya peranan Nyai Sholichah dan perempuan-perempuan pemimpin lainnya di NU bahkan menjadi kelakar yang tersampaikan kepada suami Inayah sebelum mereka menikah yakni ‘yang sabar ya’. Wejangan tersebut mungkin hanyalah sebuah candaan, tapi hal tersebut sangat menunjukkan bahwa tokoh perempuan NU seperti Nyai Sholichah, keturunan-keturunannya, hingga Inayah merupakan sosok-sosok kuat dan penting. Sehingga pernikahan yang setaralah yang pas untuk mendukung kiprah mereka dalam memberdayakan sesama.

Pesan Nyai Sholichah: Perempuan Tidak Boleh Berhenti Belajar

Mengenang kiprah dan perjuangan Nyai Sholichah, Inayah tahu betul bahwa eyangnya memang tidak mendeklarasikan diri sebagai feminis. Konsep feminisme pun belum dikenal di Indonesia saat itu. Namun, Nyai Sholichah sudah menghidupi perjuangan-perjuangan kemanusiaan yang tidak memandang latar belakang gender apapun pada saat itu.

Yang Inayah sayangkan adalah masih kurangnya dokumentasi mengenai eyangnya, dan nyai-nyai lainnya, secara utuh. Hal ini penyebabnya, karena rekam jejak mereka masih saja terbayangi oleh nama dan peran suami mereka. Selain itu, seringkali terdapat kesalahan dalam pendokumentasian tersebut. Sehingga semakin sulit untuk masyarakat luas dalam menggali informasi mengenai Nyai Sholichah maupun tokoh-tokoh perempuan hebat lainnya secara menyeluruh.

Sebagai penutup, Inayah menekankan kembali pesan Nyai Hj. Sholichah Abdul Wahid untuk tidak melupakan thalabul ilmi; belajar dan mencari ilmu. Utamanya bagi perempuan agar tidak bergantung pada orang lain serta mampu memberdayakan diri dan sesamanya di jalan kebaikan. []

Tags: Biografi Ulama PerempuanBulan Kebangkitan Ulama Perempuan IndonesiaBulan KUPINyai Hj. Sholichah Wahid Hasyimulama perempuan
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

Next Post

Ruang Digital Masih Jadi Tantangan bagi Penyandang Disabilitas

Retno Daru Dewi G. S. Putri

Retno Daru Dewi G. S. Putri

Daru adalah koordinator komunitas Puan Menulis dan seorang pengajar bahasa Inggris di Lembaga Bahasa Internasional, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia. Anggota Puan Menulis ini memiliki minat seputar topik gender, filsafat, linguistik, dan sastra.

Related Posts

Sitti Rohmi Djalilah
Figur

Sitti Rohmi Djalilah: Ulama Perempuan dalam Gerak Muslimat dan Pendidikan

5 Juni 2026
Cut Nyak Dien
Aktual

Ulama Perempuan Serukan Indonesia Tanpa Kekerasan Melalui Risalah Cut Nyak Dien

26 Mei 2026
Nyai Luluk Farida
Aktual

Di BuKUPI, Nyai Luluk Farida Ajak Masyarakat Dukung Perjuangan Ulama Perempuan

26 Mei 2026
Bulan KUPI
Personal

Bulan KUPI, Momen Bersejarah Gerakan Keulamaan Perempuan

26 Mei 2026
BuKUPI
Aktual

Pera Sopariyati: BuKUPI 2026 Perkuat Independensi Gerakan Ulama Perempuan

25 Mei 2026
Buku Manaqib Ulama Perempuan
Aktual

Diluncurkan di BuKUPI: Buku Manaqib Ulama Perempuan Indonesia Jadi Ikhtiar Awal Dokumentasi Sejarah Ulama Perempuan

25 Mei 2026
Next Post
Transformasi Digital dan disabilitas

Ruang Digital Masih Jadi Tantangan bagi Penyandang Disabilitas

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Menjadi Guru bagi Putri, Anak dengan Disabilitas Intelektual
  • Fenomena Pemain Diaspora Piala Dunia 2026 dalam Lensa Mubadalah
  • Bagaimana Mengetahui Layanan Aborsi Aman atau Tidak? Ini 9 Tandanya
  • Implementasi Nilai Kesemestaan KUPI dalam Pengelolaan Sampah Pondok Pesantren
  • 3 Jenis Obat yang Aman Digunakan untuk Aborsi

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0