Mubadalah.id – Menjadi guru di Sekolah Luar Biasa (SLB) Dharma Wicaksana Pasuruan, Jawa Timur, memberi saya kesempatan berharga untuk bertemu, belajar, dan tumbuh bersama anak-anak penyandang disabilitas, termasuk anak autis.
Pengalaman mendampingi mereka mengajarkan satu hal bahwa autisme bukanlah penyakit yang harus disembuhkan, melainkan cara berbeda seseorang mengalami dan memahami hidupnya.
Selama ini masih banyak masyarakat yang memandang autisme sebagai gangguan yang harus diperbaiki. Tidak sedikit pula orang tua yang merasa sedih, khawatir, bahkan menyalahkan diri sendiri ketika mengetahui anaknya berada dalam spektrum autisme.
Padahal, semakin lama mendampingi anak-anak autis, semakin saya memahami bahwa mereka bukan manusia yang rusak atau kurang. Mereka hanya memiliki cara kerja otak yang berbeda.
Sederhananya, jika sebagian besar manusia menggunakan sistem operasi yang sama, anak autis seolah menggunakan sistem operasi yang berbeda.
Mereka bukan komputer yang mengalami kerusakan, bukan pula perangkat yang kekurangan memori. Sistem tersebut bekerja dengan baik, hanya memiliki cara yang berbeda dalam menerima, menyaring, dan memproses informasi dari lingkungan sekitar.
Perbedaan inilah yang sering kali tidak dipahami oleh masyarakat. Banyak orang menganggap anak autis tidak mau mendengar, sulit diatur, atau terlalu sensitif. Padahal yang terjadi sesungguhnya jauh lebih kompleks.
Hidupnya Lebih Ramai
Bagi sebagian anak autis, hidupnya dapat terasa jauh lebih ramai dibandingkan yang dirasakan kebanyakan orang. Suara jam dinding yang berdetak, kipas angin yang berputar, kendaraan yang melintas, kicauan burung, hingga suara petir dapat datang secara bersamaan dan terasa sangat kuat. Belum lagi berbagai rangsangan visual yang terus bergerak di sekitar mereka.
Orang yang berjalan lalu lalang, cicak yang merayap di dinding, nyamuk yang beterbangan, semut yang melintas di lantai, bahkan perubahan cahaya yang sangat kecil dapat menarik perhatian mereka secara intens. Sesuatu yang bagi orang lain tampak biasa saja bisa menjadi rangsangan yang begitu besar bagi anak autis.
Bahkan kontak mata yang sering dianggap sebagai bentuk perhatian dan kesopanan, bagi sebagian anak autis dapat terasa seperti sorotan lampu yang sangat terang. Situasi tersebut membuat mereka membutuhkan energi lebih besar hanya untuk tetap tenang dan fokus.
Karena itu, ketika seorang anak autis menutup telinga, menghindari keramaian, menangis tiba-tiba, atau menunjukkan perilaku tertentu, bukan berarti ia sengaja membuat masalah. Bisa jadi ia sedang berusaha bertahan dari derasnya informasi yang masuk ke dalam sistem sensoriknya.
Di sinilah pentingnya mengubah cara pandang. Selama ini masyarakat sering meminta anak autis untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan. Padahal yang lebih dibutuhkan adalah lingkungan yang juga belajar menyesuaikan diri dengan kebutuhan mereka.
Pengalaman Mendampingi Siswa Autis
Pengalaman mendampingi salah satu siswa autis semakin menguatkan pemahaman tersebut. Saat pertama kali saya mendampinginya, ia belum mampu melakukan komunikasi dua arah secara optimal. Banyak instruksi yang belum dapat dipahami dengan baik.
Namun melalui proses yang panjang, pendampingan yang konsisten, serta pendekatan yang sesuai dengan kebutuhannya, perkembangan mulai terlihat. Sedikit demi sedikit ia mampu memahami instruksi yang diberikan.
Kemajuan itu mungkin tampak kecil bagi sebagian orang, tetapi bagi anak autis dan keluarganya, setiap langkah merupakan pencapaian yang sangat berarti.
Perkembangan anak autis memang tidak bisa kita paksakan berlangsung secara instan. Mereka membutuhkan proses yang bertahap, terukur, dan sistematis. Karena itu, dukungan terapi profesional menjadi sangat penting agar kemampuan komunikasi, interaksi sosial, maupun kemandiriannya dapat berkembang secara optimal.
Sayangnya, akses terhadap layanan terapi yang berkualitas masih menjadi tantangan bagi banyak keluarga. Biaya terapi yang tidak murah membuat sebagian orang tua kesulitan memberikan layanan yang anak mereka butuhkan.
Padahal autisme tidak memandang latar belakang ekonomi. Anak dari keluarga berada maupun keluarga kurang mampu memiliki peluang yang sama untuk berada dalam spektrum autisme.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa isu autisme bukan hanya persoalan keluarga, tetapi juga tanggung jawab bersama. Negara dan masyarakat perlu memastikan layanan terapi yang memadai dapat semua anak akses dengan mudah tanpa terkendala biaya.
Minimnya Fasilitas Publik yang Ramah
Selain layanan terapi, tantangan lain yang masih mereka hadapi adalah minimnya fasilitas publik yang ramah terhadap kebutuhan sensorik anak autis. Banyak ruang publik hanya untuk memenuhi kebutuhan mayoritas masyarakat, tanpa mempertimbangkan pengalaman sensorik yang berbeda.
Padahal di berbagai negara, kesadaran tentang autisme telah melahirkan konsep yang kita kenal sebagai Sensory Accessibility atau aksesibilitas sensorik.
Jika penyandang disabilitas fisik membutuhkan jalur landai, lift, atau pegangan tangan untuk mendukung mobilitas. Maka penyandang autisme membutuhkan lingkungan yang dapat membantu mereka mengelola rangsangan sensorik.
Bentuknya bisa berupa ruang tenang (quiet room), area istirahat sensorik, petunjuk visual yang jelas, pencahayaan yang nyaman, hingga sistem informasi yang mudah mereka pahami. Fasilitas-fasilitas tersebut membantu anak autis merasa lebih aman dan nyaman saat berada di ruang publik.
Di Indonesia, konsep aksesibilitas sensorik masih relatif baru. Beberapa fasilitas publik di kota besar mulai mengadopsinya, namun jumlahnya masih sangat terbatas. Sebagian besar ruang publik belum mempertimbangkan kebutuhan penyandang autisme dan disabilitas nonfisik lainnya.
Karena itu, upaya membangun masyarakat inklusif tidak cukup hanya dengan menyediakan akses fisik. Inklusi juga berarti memastikan setiap orang dapat berpartisipasi secara setara tanpa harus berjuang sendirian menghadapi hambatan lingkungan.
Salah satu langkah yang mulai dikenal secara publik adalah penggunaan lanyard bunga matahari (Sunflower Lanyard). Simbol ini digunakan oleh orang dengan disabilitas yang tidak terlihat (hidden disabilities).
Termasuk sebagian penyandang autisme, untuk memberi sinyal kepada lingkungan bahwa mereka mungkin membutuhkan dukungan, waktu, atau pemahaman tambahan.
Tantangan
Namun, simbol dan fasilitas saja tidak akan cukup jika tidak dengan perubahan cara pandang masyarakat. Tantangan terbesar sesungguhnya bukan terletak pada lingkungan yang belum sepenuhnya memahami keberagaman cara manusia menjalani hidup.
Refleksi penting yang saya pelajari sebagai guru adalah bahwa setiap anak memiliki cara belajar, berkomunikasi, dan berkembang yang berbeda. Anak autis tidak membutuhkan belas kasihan. Mereka membutuhkan kesempatan dan membutuhkan pemahaman kita semua.
Sebab ukuran kemajuan sebuah masyarakat pada seberapa besar kesediaannya menerima dan menghargai perbedaan. Dalam konteks itulah, anak-anak autis tidak sedang meminta perlakuan istimewa. Mereka hanya menginginkan ruang yang sama untuk tumbuh, belajar, dan menjadi diri mereka sendiri. []












































