“Mbak Zahra, 25-27 Juni 2026 sibuk kah?”
Mubadalah.id – Sebuah pesan singkat dari Mbak Alif, staff Fahmina, masuk ke gawai, siang itu satu hari sebelum kegiatan berlangsung. Tanpa pikir panjang aku langsung membalas, tidak ada kegiatan penting, hanya rutinitas biasa mengelola media. Lantas, pesan tersebut bersambung dengan ajakan untuk mengikuti kegiatan Training of Trainer (ToT) KUPI, untuk Penguatan Kepemimpinan Ulama Perempuan. Kegiatan berlangsung selama tiga hari di Ponpes Kebon Jambu Al-Islamy Babakan Cirebon.
Hari H pun tiba, sayang aku datang terlambat satu jam dari jadwal dalam Kerangka Acuan Kegiatan (KAK) ToT KUPI yang sudah Mbak Alif kirimkan. Dalam jadwal tertulis pukul 08.30 wib, sementara aku baru sampai di Ponpes Kebon Jambu Al-Islamy pukul 09.30 wib. Di sini aku tidak ingin menceritakan alasan keterlambatan, karena nanti hanya menjadi pembelaan diri.
Intinya, karena keterlambatan itu, aku jadi tidak bisa mengikuti sesi pembukaan, perkenalan, harapan dan kekhawatiran. Padahal, di setiap kegiatan atau pelatihan yang digelar oleh Majelis Musyawarah (MM) KUPI dan atau lembaga penyangganya, selalu ada hal menarik yang bisa kita adopsi kembali di pelatihan atau kegiatan yang ingin kita agendakan.
Hilang kesempatan mengikuti satu sesi kegiatan itu, tidak menyurutkan semangatku untuk bisa terlibat aktif di sesi-sesi berikutnya. Dan ini catatan rangkuman selama aku mengikuti kegiatan tersebut. Oh iya, selama berkegiatan kami difasilitasi oleh Mbak Tati Krisnawaty dari MM KUPI.
Diorama Jejak Ulama Perempuan
Sesi selanjutnya kami mulai dengan diorama jejak ulama perempuan atau bermain peran dengan kisah sejarah ulama perempuan yang sudah panitia pilihkan. Ada tiga cerita yang masuk dalam diorama jejak ulama perempuan saat itu.
Pertama, kisah tentang Teungku Fakinah dari Aceh dengan latar di masa penjajahan Belanda. Kedua, Nyai Siti Walidah Ahmad Dahlan dari Yogyakarta, yang diceritakan ulang oleh mahasiswa di masa kini. Terakhir, kisah tentang Nenek Guru Muna (Hj Maemunah) dari Maluku Tengah.
Peserta secara sukarela menawarkan diri terlibat dalam sesi bermain peran ini. Aku ikut ambil bagian dalam kisah Nyai Siti Walidah dan berperan sebagai mahasiswa. Di kelompok ini ada lima orang, yang terdiri dari empat orang mahasiswa, Kak Aida, Pak Satori, aku dan Adin. Sedangkan Ricky berperan sebagai Pekerja Rumah Tangga yang menyediakan kudapan saat mahasiswa berdiskusi.
Dari penampilan diorama jejak ulama perempuan tiga tokoh yang aku sebutkan di atas, secara tidak langsung kita menjadi bisa melihat kembali sejarah dengan cara yang berbeda. Bahwa ada banyak sekali tantangan serta hambatan yang dialami oleh para ulama perempuan tersebut, namun tidak menyurutkan semangat mereka dalam berjuang, berdakwah, berkarya dan berkiprah di masyarakat.
Anjangsana ke Warung-warung KUPI
Setelah melihat penampilan dan merefleksikan diorama jejak ulama perempuan, fasilitator membagi peserta menjadi tiga kelompok untuk melakukan kunjungan atau anjangsana ke tiga warung KUPI yang terdiri dari Visi Misi, Ikrar Kebon Jambu dan Ikrar Bangsri Jepara.
Kami dipandu oleh Co Fasilitator yang sudah bertugas di masing-masing warung. Aku berkesempatan mengunjungi ke warung Ikrar Kebon Jambu terlebih dulu, lalu ke warung Ikrar Bangsri Jepara dan terakhir di warung Visi Misi KUPI.
Ada beberapa pertanyaan yang aku ingat, dan ada juga yang samar-samar masih mengendap dalam ingatan. Di warung Ikrar Kebon Jambu, Mbak Nanda yang bertugas sebagai fasilitator saat itu mengajukan tanya, Ikrar Kebon Jambu secara spesifik menyampaikan pesan tentang apa?
Siapa ulama perempuan? Dan, apakah ulama perempuan di komunitas atau lembaga masing-masing peserta sudah boleh menafsirkan teks-teks otoritatif? Jawaban peserta beragam, sangat banyak, dan biarlah itu menjadi arsip dari panitia kegiatan, sehingga tidak saya tuliskan di sini.
Bergeser pada kunjungan ke warung KUPI berikutnya di Ikrar Bangsri Jepara, sudah menunggu Kang Rosidin yang bertindak sebagai fasilitator. Dalam kesempatan tersebut, fasilitator mengajukan pertanyaan, apa kegiatan ulama perempuan di komunitas yang dianggap sebagai keberhasilan atau hal baik? Dan apa yang dianggap merupakan inovasi gerakan ulama perempuan?
Sebagai orang yang bekerja di balik meja redaksi Media Mubadalah, aku banyak bercerita soal keberhasilan merebut kata kunci ulama perempuan, gerakan keulamaan perempuan, Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) dan Mubadalah di ruang digital.
Kedua, meneguhkan otoritas ulama perempuan di media digital, di mana selama ini ruang digital lebih banyak disesaki oleh ulama berjenis kelamin laki-laki atau belum berperspektif perempuan. Kehadiran ulama perempuan di media digital, terutama setiap Ramadan tiba, menjadi penting, terutama di era pandemi Covid-19, di mana ruang jumpa umat manusia di seluruh dunia beralih dari luring menjadi daring.
Terakhir warung yang aku kunjungi adalah visi misi KUPI, dengan dipandu Mbak Filla sebagai fasilitator kami membaca kembali arti dari visi misi KUPI. Meski tidak setiap hari aku melihatnya, minimal aku pernah membacanya sesekali, entah dalam artikel atau laporan kegiatan. Namun, jujurly baru di kesempatan itu aku memperhatikan setiap kata demi katanya.
Membedah Anatomi Gerakan KUPI
Melihat poster Anatomi Gerakan KUPI, patut kita akui, keren dan luar biasa. Sedetail itu membincang gerakan keulamaan perempuan yang diibaratkan dengan tubuh manusia. Di hari kedua ToT Penguatan Kepemimpinan Ulama Perempuan, kami diajak oleh fasilitator untuk membedah Anatomi Gerakan KUPI.
Adapun yang kami bedah, antara lain sistem panca indra, sistem pencernaan manusia. Lalu sistem reproduksi manusia, sistem peredaran darah manusia dan sistem otot kaki dan tangan. Setiap bagan sistem Anatomi Gerakan ini punya penjelasan, dan saat itu aku mendapatkan kelompok sistem pencernaan manusia bersama Mbak Nanda, Mbak Filla dan Kak Aida Milasari.
Adapun penjelasan dari masing-masing Anatomi Gerakan KUPI ini antara lain:
Sistem Panca Indra
Gerakan KUPI melihat, mendengar, memantau dan merasakan dengan panca indra yang tajam dan bersikap menggunakan otak yang kritis, peka dan responsif dalam kerangka paradigma KUPI di setiap ruang khidmah yang beragam.
Sistem Pencernaan Manusia
Forum-forum kajian dan musyawarah KUPI merupakan fungsi pencernaan dalam gerakan, di mana proses mengolah, menganalisis dan menyimpulkan segala amatan yang terperoleh menjadi sumber daya baru yang berguna bagi peningkatan kapasitas segenap elemen gerakan. Gizi dan energi yang dibutuhkan untuk pencernaan ini dapat berupa dukungan dan pendanaan.
Sistem Reproduksi Manusia
Gerakan KUPI punya rahim di mana generasi penerus terlahirkan dan diwarisi dengan pengetahuan dalam paradigma KUPI. Pada situs-situs rahim gerakan ini, proses produksi pengetahuan berlangsung seksama dan anak muda memainkan peran kunci.
Sistem Peredaran Darah Manusia
Dalam gerakan KUPI mengalir dalam sistem urat nadi yang menyambungkan kader-kader dan jejaring gerakan dalam sebuah sistem yang transparan, independen, partisipatif, akuntabel dan berpihak pada korban.
Sistem Otot Kaki dan Tangan
Ulama perempuan dalam gerakan KUPI berkiprah melalui tangan yang handal dan kaki yang menapak ajeg di ranah kultural maupun struktural.
Mengaji dan Mengkaji Kembali Trilogi KUPI
Beranjak siang hari, setelah sesi pagi para peserta dan fasilitator seperti tenaga medis yang membedah anatomi tubuh manusia, kami mengaji dan mengkaji kembali Trilogi KUPI, Konsep Makruf, Mubadalah dan Keadilan Hakiki.
Aku sengaja menggunakan mengaji, karena kami mendengar langsung atau mendapatkan pengetahuan ini dari sumber yang paling otoritatif, yaitu Kiai Faqihuddin Abdul Kodir sebagai penggagas Perspektif Mubadalah, dan Nyai Nur Rofiah sebagai peramu ide Keadilan Hakiki.
Secara sederhana Kiai Faqih menjelaskan Trilogi KUPI itu adalah, “Pendekatan untuk menggali dan mengimplemetasikan kemakrufan yang sesuai syariat dan akal sehat. Sehingga harus menjadi tanggung jawab bersama bagi laki-laki dan perempuan sebagai sama-sama subjek aktif dan penerima manfaatnya, dengan mempertimbangkan perbedaan biologis dan sosial perempuan dari laki-laki, sehingga perempuan tidak semakin rentan, melainkan benar-benar merasakan manfaat dan kebaikan tersebut, sebagaimana juga laki-laki.”
Meski berkali-kali membaca, mendengar dan melihat langsung penjelasan dari para maha guru ini, selalu saja ada kebaruan informasi yang kami dapatkan. Ketika mendengar atau membaca, seakan mudah saja, tetapi begitu menerima tantangan untuk mendeliver atau menyampaikan pada orang lain, kami jadi gugup dan gagap. Harus mulai dari mana penjelasannya?
Nah strategi penyampaian ini yang aku istilahkan dengan mengkaji, karena setiap orang punya batasan pemahaman yang berbeda. Sebagaimana penjelasan Nyai Nur Rofiah tentang tahapan seseorang menerima dan memahami pengetahuan.
Dalam teori Women’s Ways of Knowing yang dikembangkan oleh Mary Field Belenky dan koleganya, proses seseorang memahami dan menerima pengetahuan tergambarkan melalui lima tahapan perkembangan cara mengetahui (ways of knowing).
Tahapan ini menunjukkan perubahan dari posisi pasif dalam menerima pengetahuan menuju kemampuan membangun pengetahuan secara kritis dan mandiri.
Pertama, Silenced Knowing (Keheningan dalam Mengetahui)
Pada tahap ini, seseorang merasa tidak memiliki suara, kapasitas, atau otoritas untuk menyampaikan pendapatnya sendiri. Pengetahuan ia anggap berasal sepenuhnya dari pihak yang lebih berkuasa, sehingga individu cenderung diam dan hanya menerima.
Kedua, Received Knowing (Menerima Pengetahuan)
Individu mulai melihat pengetahuan sebagai sesuatu yang berasal dari sumber luar, seperti guru, tokoh, atau otoritas tertentu. Kebenaran ia anggap sudah tersedia dan tugas seseorang adalah menerima serta memahami apa yang telah diberikan.
Ketiga, Subjective Knowing (Pengetahuan Subjektif)
Pada tahap ini, seseorang mulai menemukan suara dan keyakinannya sendiri. Pengalaman pribadi, intuisi, dan perasaan mulai dianggap sebagai sumber pengetahuan yang penting, meskipun masih bersifat personal.
Keempat, Procedural Knowing (Pengetahuan Prosedural)
Individu mulai menggunakan cara atau metode tertentu untuk memahami dan menilai pengetahuan. Tahap ini mencakup kemampuan berpikir kritis, mendengar berbagai perspektif, menganalisis bukti, serta menggunakan pendekatan yang sistematis dalam mencari kebenaran.
Kelima, Constructed Knowing (Pengetahuan Konstruktif)
Tahap tertinggi dalam perkembangan cara mengetahui, ketika seseorang memahami bahwa pengetahuan tidak selalu bersifat mutlak, tetapi terbangun melalui proses dialog, pengalaman, konteks, dan refleksi. Individu mampu mengintegrasikan berbagai perspektif dan menciptakan pemahaman baru secara kritis.
Secara sederhana, perjalanan lima tahap ini menggambarkan pergeseran dari menerima pengetahuan secara pasif menuju kemampuan membangun pengetahuan secara aktif, reflektif, dan kritis.
Konsep Kepemimpinan KUPI
Sebelum sesi berakhir di hari kedua, peserta terbagi ke masing-masing kelompok lima lembaga penyangga KUPI, yaitu Alimat, Aman Indonesia, Fahmina, Gusdurian dan Rahima. Aku secara otomatis masuk di kelompok Fahmina. Kami diberi tugas untuk membuat pameran dengan mengacu pada Ikrar Kebon Jambu.
Dalam proses pembuatan materi pameran, aku dan teman-teman perwakilan dari Fahmina berdiskusi untuk membuat alur materi. Lalu kita susun dengan berdasarkan Ikrar Kebon Jambu, yang di masa itu masih berupaya merekognisi makna ulama perempuan.
Sebelum itu, aku usulkan untuk membuat peta jalan Kebangkitan Ulama Perempuan, sejak zaman Nabi Muhamamd Saw, masa-masa tragis perempuan dalam sejarah, hingga kebangkitan ulama perempuan melalui gelaran KUPI I dan lahirnya Ikrar Kebon Jambu di tahun 2017.
Ada tiga point penting konsep kepemimpinan KUPI yang kami dapatkan dari Ikrar Kebon Jambu ini, yaitu Konsep Ketauhidan, Konsep Kemanusiaan dan Konsep Kebangsaan.
Sementara itu, Nyai Masruchah dalam beberapa penyampaiannya di forum ToT KUPI kemarin, juga menambahkan penjelasan terkait level kepemimpinan ulama perempuan KUPI, yaitu;
Penebar, adalah mereka, anak-anak muda yang menjadi embrio gerakan, serta media yang berperan untuk menyebarluaskan nilai dan gagasan KUPI.
Penguat, adalah mereka, ulama perempuan di basis komunitas di berbagai ruang khidmah. Ulama perempuan yang menemani, mendampingi, dan mengadvokasi masyarakat di akar rumput.
Pemacu, adalah ulama perempuan yang sudah fasih bicara tentang KUPI, dan nanti yang akan terlibat dalam proses menyiapkan draft fatwa KUPI.
Meskipun penjelasan terkait level kepemimpinan ulama perempuan KUPI ini belum final, dan akan terus dimatangkan di internal Majelis Musyawarah (MM) KUPI, sebelum nanti akhirnya ToT Penguatan Kepemimpinan Ulama Perempuan ini akan terlaksana di berbagai kota dan daerah di seluruh Indonesia.
Terpilih sebagai peserta pelatihan ini, dan mendapatkan sertifikatnya secara resmi, jujurly aku sangat senang sekali. Kita tidak hanya mendapatkan banyak pengetahuan, tapi juga skill memfasilitasi dan mengelola forum pelatihan atau kegiatan. Yaitu, bagaimana agar selalu menarik dan tidak membosankan. Tentu aku berharap, Anda yang membaca tulisan ini juga berkesempatan untuk bisa mengikuti Pelatihan Kepemimpinan Ulama Perempuan KUPI. Tunggu saja jadwalnya! []












































