Mubadalah.id – Stres merupakan bagian dari kehidupan yang hampir pernah dialami setiap orang. Tekanan pekerjaan, tugas kuliah, persoalan keluarga, kondisi ekonomi, hingga berbagai tuntutan sosial dapat memengaruhi kesehatan mental seseorang. Hal yang membedakan adalah bagaimana setiap seseorang dalam mengelola tekanan tersebut agar tidak berkembang menjadi stres yang berkepanjangan.
Bagi Generasi Z (Gen Z), kehidupan sehari-hari sering kali diwarnai oleh berbagai tantangan. Selain menghadapi tuntutan akademik maupun pekerjaan, mereka juga hidup di tengah perkembangan teknologi digital yang membuat arus informasi berjalan sangat cepat.
Di sisi lain, budaya media sosial kerap memunculkan tekanan untuk selalu tampil sempurna, produktif, dan mengikuti berbagai tren yang sedang berkembang.
Kondisi tersebut tidak jarang menimbulkan rasa cemas, overthinking, hingga perasaan tidak percaya diri (insecure). Ekspektasi terhadap masa depan, persaingan di dunia pendidikan maupun pekerjaan, serta rutinitas yang padat juga menjadi faktor yang membuat banyak anak muda rentan mengalami stres.
Meski demikian, banyak Gen Z memiliki cara tersendiri untuk menjaga kesehatan mental. Menariknya, berbagai cara tersebut tidak selalu membutuhkan biaya besar ataupun aktivitas yang rumit. Hal-hal sederhana justru sering menjadi pilihan untuk membantu mengembalikan suasana hati dan mengurangi tekanan yang ia rasakan.
Menikmati Makanan
Salah satu cara yang cukup populer adalah menikmati makanan favorit. Bagi sebagian anak muda, mencicipi seblak, minuman dingin, atau jajanan kaki lima dengan harga yang terjangkau dapat menjadi bentuk self-reward setelah menjalani hari yang melelahkan.
Aktivitas tersebut mampu memberikan rasa nyaman sekaligus memperbaiki suasana hati, meskipun hanya untuk sementara waktu.
Selain berburu kuliner, menghabiskan waktu di ruang terbuka juga menjadi pilihan yang banyak diminati. Istilah healing yang populer di kalangan Gen Z tidak selalu identik dengan liburan mahal ke luar kota.
Banyak di antara mereka memilih mengunjungi pantai, taman kota, kebun, atau sekadar duduk di bawah pepohonan untuk menikmati udara segar dan suasana yang lebih tenang.
Berada di alam terbuka dinilai mampu membantu mengurangi kejenuhan setelah berjam-jam beraktivitas di ruang kelas, kantor, maupun di depan layar gawai. Suasana yang lebih tenang membuat pikiran menjadi lebih rileks sehingga dapat membantu menurunkan tingkat stres.
Aktivitas lain yang juga banyak dilakukan adalah bereksperimen di dapur. Memasak tidak lagi dipandang sekadar memenuhi kebutuhan makan, tetapi juga menjadi sarana mengekspresikan diri.
Tidak sedikit anak muda yang mencoba berbagai resep yang sedang viral di media sosial. Mulai dari makanan ringan hingga menu sederhana seperti mi instan dengan berbagai variasi topping.
Proses memasak, mulai dari menyiapkan bahan, memotong sayuran, menumis, hingga menyajikan makanan, dapat membantu seseorang lebih fokus pada aktivitas yang sedang dilakukan.
Dengan demikian, pikiran untuk sementara waktu teralihkan dari berbagai persoalan yang sedang dihadapi. Hasil masakan mungkin tidak selalu sempurna, tetapi prosesnya sering kali menjadi pengalaman yang menyenangkan.
Self Reward
Selain itu, memberikan penghargaan kepada diri sendiri (self-reward) juga menjadi cara yang cukup umum Gen Z lakukan dalam menjaga kesehatan mental. Bentuknya tidak selalu berupa barang yang mahal.
Membeli buku, pakaian, aksesori sederhana, atau barang yang telah lama diinginkan ketika memiliki rezeki lebih dapat menjadi bentuk apresiasi atas usaha yang telah dilakukan.
Praktik tersebut menunjukkan bahwa menghargai diri sendiri tidak selalu identik dengan gaya hidup konsumtif. Yang terpenting adalah kemampuan mengenali kebutuhan diri serta memberikan penghargaan secara bijaksana setelah melalui berbagai tantangan.
Cara lain yang tidak kalah sederhana adalah beristirahat dengan cukup. Ketika tubuh dan pikiran mulai merasa lelah, tidur menjadi salah satu pilihan terbaik untuk memulihkan energi. Banyak anak muda memilih mematikan gawai lebih awal, meredupkan lampu kamar, kemudian tidur lebih cepat agar tubuh memperoleh waktu istirahat yang optimal.
Tidur yang cukup tidak hanya membantu memulihkan kondisi fisik, tetapi juga berperan penting dalam menjaga kesehatan mental. Setelah beristirahat dengan baik, seseorang biasanya akan bangun dengan pikiran yang lebih segar, emosi yang lebih stabil. Serta energi yang kembali pulih untuk menjalani aktivitas keesokan harinya.
Meski berbagai cara tersebut dapat membantu mengurangi stres, para ahli kesehatan mental mengingatkan bahwa stres yang berlangsung dalam waktu lama dan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari tidak boleh ia abaikan.
Jika tekanan yang ia rasakan semakin berat, termasuk gangguan tidur, kehilangan minat beraktivitas, atau kesulitan mengendalikan emosi, berkonsultasi dengan psikolog maupun tenaga kesehatan mental merupakan langkah yang tepat.
Dengan begitu, mengalami stres bukanlah sesuatu yang lemah. Setiap orang memiliki tantangan hidup yang berbeda-beda. Yang terpenting adalah mengenali batas kemampuan diri, memberikan waktu untuk beristirahat. Serta memilih cara-cara yang sehat dan positif untuk menjaga kesehatan mental.
Dengan mengenali kebutuhan diri dan menerapkan kebiasaan yang menenangkan. Maka Gen Z dapat menghadapi berbagai tekanan kehidupan secara lebih bijaksana tanpa harus mengorbankan kesehatan fisik maupun mental. []










































