Jumat, 30 Januari 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

    Kekerasan di Kampus

    IMM Ciputat Dorong Peran Mahasiswa Perkuat Sistem Pelaporan Kekerasan di Kampus

    Kekerasan di Kampus

    Peringati Hari Ibu: PSIPP ITB Ahmad Dahlan dan Gen Z Perkuat Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender di Kampus

    KUPI yang

    KUPI Jadi Ruang Konsolidasi Para Ulama Perempuan

    gerakan peradaban

    Peran Ulama Perempuan KUPI dalam Membangun Gerakan Peradaban

    Kemiskinan Perempuan

    KUPI Dorong Peran Ulama Perempuan Merespons Kemiskinan Struktural dan Krisis Lingkungan

  • Kolom
    • All
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    Humor

    Humor yang Melanggengkan Stereotip Gender

    Perkawinan Beda Agama

    Masalah Pelik Pencatatan Perkawinan Beda Agama

    Pegawai MBG

    Nasib Pegawai MBG Lebih Baik daripada Guru: Di Mana Letak Keadilan Negara?

    Perempuan Haid

    Ketika Perempuan sedang Haid: Ibadah Apa yang Boleh, Apa yang Gugur?

    Sejarah Disabilitas

    Sejarah Gerakan Disabilitas dan Kebijakannya

    KUPI 2027

    KUPI 2027 Wajib Mengangkat Tema Disabilitas, Mengapa? 

    Nyadran Perdamaian

    Nyadran Perdamaian: Belajar Hidup Bersama dalam Perbedaan

    WKRI

    WKRI dan Semangat dalam Melayani Gereja dan Bangsa

    Teologi Tubuh Disabilitas

    Tuhan Tidak Sedang Bereksperimen: Estetika Keilahian dalam Teologi Tubuh Disabilitas

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    ibu susuan

    Teladan Nabi dalam Menghormati Ibu Susuan

    peran menyusui

    Menghormati Peran Ibu Menyusui

    perlindungan diri perempuan

    Hak Perlindungan Diri Perempuan

    Hadis Ummu Sulaim

    Hadis Ummu Sulaim dan Hak Perempuan Melindungi Diri

    Ekonomi Keluarga

    Tanggung Jawab Ekonomi Keluarga dalam Perspektif Mubadalah

    Ekonomi Keluarga

    Pahala Ganda bagi Perempuan yang Menanggung Ekonomi Keluarga

    Nafkah Keluarga

    Nafkah Keluarga sebagai Tanggung Jawab Bersama

    Nafkah Keluarga

    Nafkah Keluarga dan Preseden Perempuan Bekerja pada Masa Nabi

    Ummu Syuraik

    Ummu Syuraik, Perempuan Kaya yang Diakui dalam Hadis Nabi

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Kebudayaan

    Pidato Kebudayaan dalam Ulang Tahun Fahmina Institute Ke 25

    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

    Kekerasan di Kampus

    IMM Ciputat Dorong Peran Mahasiswa Perkuat Sistem Pelaporan Kekerasan di Kampus

    Kekerasan di Kampus

    Peringati Hari Ibu: PSIPP ITB Ahmad Dahlan dan Gen Z Perkuat Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender di Kampus

    KUPI yang

    KUPI Jadi Ruang Konsolidasi Para Ulama Perempuan

    gerakan peradaban

    Peran Ulama Perempuan KUPI dalam Membangun Gerakan Peradaban

    Kemiskinan Perempuan

    KUPI Dorong Peran Ulama Perempuan Merespons Kemiskinan Struktural dan Krisis Lingkungan

  • Kolom
    • All
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    Humor

    Humor yang Melanggengkan Stereotip Gender

    Perkawinan Beda Agama

    Masalah Pelik Pencatatan Perkawinan Beda Agama

    Pegawai MBG

    Nasib Pegawai MBG Lebih Baik daripada Guru: Di Mana Letak Keadilan Negara?

    Perempuan Haid

    Ketika Perempuan sedang Haid: Ibadah Apa yang Boleh, Apa yang Gugur?

    Sejarah Disabilitas

    Sejarah Gerakan Disabilitas dan Kebijakannya

    KUPI 2027

    KUPI 2027 Wajib Mengangkat Tema Disabilitas, Mengapa? 

    Nyadran Perdamaian

    Nyadran Perdamaian: Belajar Hidup Bersama dalam Perbedaan

    WKRI

    WKRI dan Semangat dalam Melayani Gereja dan Bangsa

    Teologi Tubuh Disabilitas

    Tuhan Tidak Sedang Bereksperimen: Estetika Keilahian dalam Teologi Tubuh Disabilitas

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    ibu susuan

    Teladan Nabi dalam Menghormati Ibu Susuan

    peran menyusui

    Menghormati Peran Ibu Menyusui

    perlindungan diri perempuan

    Hak Perlindungan Diri Perempuan

    Hadis Ummu Sulaim

    Hadis Ummu Sulaim dan Hak Perempuan Melindungi Diri

    Ekonomi Keluarga

    Tanggung Jawab Ekonomi Keluarga dalam Perspektif Mubadalah

    Ekonomi Keluarga

    Pahala Ganda bagi Perempuan yang Menanggung Ekonomi Keluarga

    Nafkah Keluarga

    Nafkah Keluarga sebagai Tanggung Jawab Bersama

    Nafkah Keluarga

    Nafkah Keluarga dan Preseden Perempuan Bekerja pada Masa Nabi

    Ummu Syuraik

    Ummu Syuraik, Perempuan Kaya yang Diakui dalam Hadis Nabi

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Kebudayaan

    Pidato Kebudayaan dalam Ulang Tahun Fahmina Institute Ke 25

    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Buku

Novel Katri: Bertahan dalam Luka dari Penjara ke Penjara

Berlatar tahun 1965, novel ini berpusat pada kehidupan Katri, sesorang gadis yang di masa itu berusia 18 tahun dan tengah hamil 7 bulan.

Firda Imah Suryani by Firda Imah Suryani
30 Januari 2026
in Buku
A A
0
Novel Katri

Novel Katri

4
SHARES
422
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Judul: Katri

Penulis: Adeste Adipriyanti

Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia

Cetakan Pertama,  4 Juni 2025

Tebal: 260 halaman

Ukuran: 13,5 x 20 cm

ISBN: 978-623-1343-83-3

“Jadi manusia harus terampil menderita, terlebih lagi perempuan.” (halaman. 117)

Mubadalah.id – Kalimat itu menghantam pembaca setiap kali mereka menutup halaman demi halaman Novel Katri karya Adeste Adipriyanti.  Novel ini tidak sekadar mengigatkan kisah sejarah berlatar tragedi 65. Sebagai buku debut, Adeste berhasil meracik dengan bahasa yang menyesakkan bagi pembaca.

Berlatar tahun 1965, berpusat pada kehidupan Katri, sesorang gadis yang di masa itu berusia 18 tahun dan tengah hamil 7 bulan. Dari situlah kisahnya bergulir, bagaimana Katri kemudian masuk penjara, tersiksa selama 11 tahun dari penjara ke penjara dan kemudian memulai hidupnya kembali.

Novel ini juga terilustrasikan oleh Audrey Murty. Gambar-gambar yang tersisipkan bukan sekadar pelengkap, tetapi mempertebal mempertegas bayangan situasi pada cerita. Visual itu membuat pembaca seakan terpaksa berhenti sejenak, menarik napas, dan menyadari bahwa apa yang terbaca bukan sekadar fiksi.

Mengajak dan mengikat imajinasi pembaca pada tubuh-tubuh yang tersiksa. Pada ruang-ruang sempit penjara, pada wajah-wajah yang kehilangan harapan. Visual tersebut justru memperlambat bacaan karena rasa sakit yang terhadirkan tidak memungkinkan kita melaju begitu saja.

Adeste menujukan penyiksaan tertulis apa adanya, tanpa efek dramatis berlebihan. Justru karena itu, kisah Katri terasa menyakitkan. Tubuh perempuan dalam novel ini bukan metafora, justru menjadi medan kekuasaan. Terpukul, terpenjara, dilabeli, dan terlupakan. Trauma tidak diberi jeda manis, dibiarkan tinggal, menua bersama waktu, dan hidup berdampingan dengan keseharian.

Keluarga Katri

Luka itu kian dalam ketika Adeste menghadirkan keluarga Katri. Penderitaan di penjara tidak berdiri sendiri, merembes hingga ke rumah, ke orang tua, ke cinta yang tak pernah benar-benar bisa menolong. Dalam dialog keluarga, Adeste kerap menyelipkan bahasa lisan dan ungkapan bahasa Jawa yang menghadirkan keintiman sekaligus kepedihan.

Ada adegan ketika bapak Katri menyambangi penjara. adegan di mana bagi saya menjadi salah satu titik paling emosional. ”Waktu menjemur satu per satu pakaianmu, aku ngomong neng kusti Allah, duk, tak ewangi nyonggo lorangmu, Nduk!.” Dalam percakapan sederhana itu, sang ayah menuturkan bagaimana ia mencuci satu per satu bekas pakaian anak perempuannya yang berlumur darah dan nanah menyayat.

Sebagai pembaca, kami tidak hanya melihat penderitaan Katri, tetapi juga merasakan kepedihan seorang keluarga yang ikut memikul sakit atas kekejaman di dalam penjara. Meski tak mampu berbuat apa-apa selain membersihkan pakaian dan berdoa.

Di titik ini, relasi orang tua dan anak tidak lagi sekadar dialog, melainkan jembatan empati yang kuat antara teks dan pembaca. Kalimat itu menghantam pecahnya tangisan yang menunjukkan keterbatasan seorang bapak yang hanya bisa ikut memikul derita anaknya lewat doa dan kasih yang tak bersuara.

Maka, di titik inilah Katri menunjukkan kekuatannya, Adeste tidak sekadar menceritakan kekerasan, tetapi membuat pembaca merasakannya. Air mata tidak jatuh karena dramatisasi berlebihan, melainkan karena kejujuran luka yang tersampaikan apa adanya. 

Penderitaan Katri

Rasa sakit Katri menjadi rasa sakit pembaca. Dari situasi sunyi, kejam, dan tak mudah terlupakan. Detail Penderitaan, kesakitan, dan kekejian hadir melalui sudut-sudut kecil yang sering luput dari catatan sejarah. Lorong penjara yang pengap, lantai yang dingin dan lembap, bau darah dan nanah yang menempel di pakaian tahanan, hingga tubuh-tubuh yang bergerak bukan oleh kehendak, melainkan oleh ketakutan.

Semua itu tersusun dengan alur yang mengalir, luwes, tanpa terasa terpaksakan, seolah mengajak pembaca berjalan perlahan menyusuri ruang-ruang gelap, sekaligus merasakan kemarahan yang membara pada sosok-sosok yang selama ini menyiksa, menahan, dan bahkan membunuh kejahatan yang tersembunyikan di balik tirai kekuasaan.

Menceritakan penyiksaan demi penyiksaan secara apa adanya. Penyetruman, pembakaran bagian-bagian tubuh, interogasi yang merendahkan martabat, serta kekerasan yang teralami bukan hanya oleh Katri, tetapi juga para tahanan politik lainnya. 

Hidup Katri berubah bukan oleh satu peristiwa besar, melainkan oleh rangkaian kejadian yang datang beruntun, nyaris tanpa jeda. Ia lahir di Desa Trunuh, Klaten, sebagai anak bungsu dari enam bersaudara lima di antaranya laki-laki yang menjadikannya pusat kasih dalam keluarga petani sederhana.

Oktober 1965 sebagai Titik Balik

Kakak sulungnya, Suwasno, aktif di organisasi Pemoeda Rakjat dan bercita-cita mengangkat martabat petani desa. Dari Wasno-lah Katri mengenal dunia baca-tulis, kelas rakyat, dan pelan-pelan juga kesadaran sosial. Katri membantu kakaknya, menyimak, belajar, tanpa pernah membayangkan bahwa keterlibatan yang tampak sepele itu kelak menyeret hidupnya ke pusaran penderitaan dalam balik gelapnya penjara.

Pertemuan Katri dengan Agus, pemimpin Paduan Suara Lembah Merapi mula-mula tertulis sebagai kisah romansa. Namun ketegangan mulai terasa ketika pernikahan mereka ditentang keluarga Katri. Agus telah beristri. Pernikahan pun berlangsung dalam situasi serba terpaksa, Setelah menikah, Katri berhenti sekolah. Hidupnya seolah dipercepat, terpadatkan, sebelum sempat benar-benar memilih.

Lima bulan kemudian, Oktober 1965 datang sebagai titik balik. Klaten memanas. Kantor partai terbakar. Kakak-kakak Katri menghilang satu per satu. Agus ikut menyingkir. Katri, hamil tujuh bulan, tertinggalkan bersama orang tua dan satu kakak yang tidak terlibat organisasi apa pun.

Tentara datang ke rumah. Katri ditembak di kepala dalam kondisi hamil 7 bulan hingga peluru menembus pipinya, menghancurkan rahang, tetapi menyisakan lidahnya tetap utuh detail yang tertulis dengan dingin, nyaris tanpa efek dramatik, namun justru itulah yang membuat adegan ini terasa begitu kejam.

Dari Penjara ke Penjara

Selepas dirawat di RS Panti Rapih dan melahirkan, Katri tidak pulang ke rumah. Ia dijemput tentara. Ia memulai perjalanan panjang dari satu penjara ke penjara lain. Interogasi demi interogasi, tanpa penjelasan yang pernah tuntas. Anehnya, Katri dianggap “orang penting”. Tahun 1968, ia sempat terbebaskan, hanya untuk kembali tertangkap setelah diam-diam menemui kakaknya, Wasno. Di sela-sela penjara, Katri bahkan pernah ditempatkan di rumah sakit jiwa sebuah ruang yang dalam novel ini terasa tak kalah represif dari sel tahanan.

Kekerasan mencapai titik paling bringas ketika Katri diperkosa oleh penjaga penjara di Jakarta hingga hamil anak ke dua. Adeste menuliskan peristiwa ini sangat jelas dan telanjang. Justru karena itu, pembaca terpaksa menatap kekerasan itu apa adanya sebagai praktik yang banal, berulang, dan terbiarkan.

Di tengah penyiksaan, Katri menulis sebuah kalimat di secarik kertas:

“Aku pasti selamat. Usiaku bakal lewat 70 tahun dan sehat…” (hlm. 238)

Kalimat ini bukan afirmasi heroik, melainkan pegangan paling minimal agar ia tidak runtuh. Seperti Adeste tuliskan, keyakinan Katri bekerja sunyi, nyaris tak terdengar, tetapi terus bertahan.

Korban Tahanan Politik

Gaya penulisan Adeste Adipriyanti tegas, bernyawa, bergerak spontan, dan  jujur nyaris tak memberi ruang bagi pembaca untuk bernapas lega. Jujur pada kenyataan pahit yang ia tuturkan. Selama 11 tahun, penulis meriset dan merekap setiap pengalaman ibu Katri di dunia nyata, gerak tubuh di penjara dan cara perempuan menahan lapar. Selain itu ingatan yang tersimpan diam-diam menjadi kekayaan yang membentuk tokohnya dari pakaian tahanan, lorong penjara, doa lirih, ingatan keluarga dan lainnya.

Meski kisahnya berkelindan dengan penderitaan dan kekerasan korban tahanan politik, Adeste menuturkannya tanpa efek sentimentil. Sehingga luka terasa lebih nyata justru karena tersampaikan apa adanya.

Setelah tiba di titik terakhir Katri, kita turut mengamini semacam kesaksian sunyi yang terajut sepanjang novel ini. Bahasa yang Adeste Adipriyanti pilih begitu tajam dan jujur, niscaya mengharuskan pembaca menundukkan pandangan saat membacanya. Bukan karena silau oleh keindahan, melainkan oleh sakit dan kepedihan yang membuat air mata turut jatuh tanpa kita minta.

Pada pokok yang lebih utama, Katri mengingatkan kita bahwa tragedi 1965 bukan semata peristiwa sejarah yang telah usai, melainkan luka kemanusiaan yang terus bekerja dalam kehidupan sehari-hari para penyintas dan keluarganya.

Melalui kisah Katri, mengajak pembaca memahami bahwa bertahan hidup sering kali bukan soal keberanian besar, melainkan kesanggupan menerima luka, merawat ingatan, dan tetap memilih hidup di tengah ketidakadilan.

Novel ini menegaskan bahwa pemulihan tidak selalu hadir sebagai kemarahan atau perlawanan terbuka, tetapi bisa berupa ketabahan yang sunyi, kasih yang diam-diam bekerja, serta upaya menjaga kemanusiaan di tengah sistem yang pernah dan masih gemar membungkam. []

 

 

 

 

Tags: IndonesiaNovel KatripenjaraSastra IndonesiasejarahstigmaTragedi 1965

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Firda Imah Suryani

Firda Imah Suryani

Saya perempuan bukan aib masyarakat, bukan juga orang kriminal.  Pengemar musik indie dan pemakan sayuran.

Related Posts

Humor
Personal

Humor yang Melanggengkan Stereotip Gender

30 Januari 2026
Aku Jalak Bukan Jablay
Buku

Refleksi Buku Aku Jalak, Bukan Jablay; Janda, Stigma, dan Komitmen

28 Januari 2026
Spiritual Ekologi
Hikmah

Kiat Spiritual Ekologi Rasulullah dalam Merawat Alam

27 Januari 2026
Joko Pinurbo
Publik

Menyelami Puisi Kritis Joko Pinurbo Bersama Anak-anak

27 Januari 2026
Kerusakan Lingkungan
Pernak-pernik

Kerusakan Lingkungan di Indonesia

25 Januari 2026
Isra' Mi'raj
Hikmah

Isra’ Mi’raj dan Pesan Keadilan Hakiki, Membaca Ulang Dimensi Sosial dalam Salat

18 Januari 2026
No Result
View All Result

TERPOPULER

  • Perkawinan Beda Agama

    Masalah Pelik Pencatatan Perkawinan Beda Agama

    8 shares
    Share 3 Tweet 2
  • Tanggung Jawab Ekonomi Keluarga dalam Perspektif Mubadalah

    6 shares
    Share 2 Tweet 2
  • Ketika Perempuan sedang Haid: Ibadah Apa yang Boleh, Apa yang Gugur?

    6 shares
    Share 2 Tweet 2
  • Novel Katri: Bertahan dalam Luka dari Penjara ke Penjara

    4 shares
    Share 2 Tweet 1
  • Broken Strings: Bersuara Tak Selalu Menyembuhkan, Tapi Diam-diam Menyakitkan

    13 shares
    Share 5 Tweet 3

TERBARU

  • Teladan Nabi dalam Menghormati Ibu Susuan
  • Humor yang Melanggengkan Stereotip Gender
  • Menghormati Peran Ibu Menyusui
  • Novel Katri: Bertahan dalam Luka dari Penjara ke Penjara
  • Hak Perlindungan Diri Perempuan

Komentar Terbaru

  • dul pada Mitokondria: Kerja Sunyi Perempuan yang Menghidupkan
  • Refleksi Hari Pahlawan: Tiga Rahim Penyangga Dunia pada Menolak Gelar Pahlawan: Catatan Hijroatul Maghfiroh atas Dosa Ekologis Soeharto
  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
redaksi@mubadalah.id

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0