Mubadalah.id – Beberapa waktu yang lalu sempat viral berita tentang perceraian komedian yang baru dua bulan melangsungkan pernikahan. Netizen sangat menyayangkan perceraian tersebut. Namun, kuat atau tidaknya pasangan mengarungi kehidupan rumah tangga, tentu tidak bisa diukur dari jajak pendapat netizen.
Pernikahan yang terkesan dan mengundang euforia di kalangan masyarakat sampai berhari-hari ternyata tidak menjamin akan berakhir bahagia. Banyak spekulasi terkait alasan putusnya ikatan pernikahan antara keduanya.
Banyak yang beranggapan perceraian terjadi lantaran sang suami terlibat kasus investasi bodong. Namun, kuasa hukum sang istri hanya memberikan penjelasan jika penyebabnya adalah perbedaan prinsip. Memang kerap kali para pihak mengajukan gugatan perceraian ke Pengadilan, tidak semua pasangan mau menuliskan alasan yang sebenarnya pada posita gugatan.
Para pihak biasanya hanya menuliskan alasan secara umum karena berusaha menutup aib satu sama lain. Hanya saja pada beberapa kasus memang terdapat pihak yang secara terang-terangan menyudutkan dan membuka seluruh aib pasangan.
Penggalan Kisah yang Penuh Hikmah
Sepenggal kisah di atas bisa menjadi pelajaran bagaimana harusnya mengenali pasangan sebelum menikah. Meskipun masing-masing pihak sudah berkawan lama hingga akhirnya memutuskan menikah. Alangkah baiknya jika sebelum menikah masing-masing bisa terbuka perihal keuangan.
Mengetahui jika pasangan masih memiliki masalah keuangan atau berposisi sebagai sandwich generation tentu akan berdampak besar pada keputusan yang dipilih. Banyak pasangan yang bisa membuat planning keuangan dengan baik sebelum melangsungkan pernikahan. Misalnya, masing-masing sama-sama menabung untuk biaya resepsi dan kebutuhan lain saat pernikahan.
Pasangan yang tidak terbuka masalah keuangan, di kemudian hari akan mengalami guncangan saat bom waktunya sudah meledak. Aneh memang, ketika seseorang berusaha menutupi problem yang besar dan bahkan tega menyeret pasangannya dalam pusaran kesulitan. Membincangkan keanehan ini, saya kemudian teringat dengan cletukan kawan saya.
Sebuah Keanehan yang Tidak Sengaja Diciptakan
Saat itu saya sedang ingin membeli sesuatu. Namun karena harga barang yang ingin saya beli masih mahal, saya harus menabung terlebih dahulu. Hari-hari saya pakai barang butut sebelum uang saya cukup untuk membeli yang baru. Saya tetap bersabar karena butuh waktu bertahun-tahun untuk membeli barang itu.
Singkat cerita, kawan saya yang laki-laki malah nyeletuk “Hai, kamu kan perempuan, gampang saja. Kalau pengen sesuatu kamu bisa hutang ke Bank. Nanti kalau sudah menikah suami yang menanggung.” Celetuknya sambil tertawa tanpa rasa berdosa.
Entah dia berniat bercanda atau tidak, tapi saya menimpalinya dengan berbeda. “Waduh, ya tidak mungkin lah, mana mungkin saya menyeret seseorang ke kesulitan yang saya buat.”
Selama perjalanan pulang, saya terus terngiang dengan apa yang kawan saya tadi katakan. Di satu sisi saya terheran-heran, apa benar dia berkata seperti itu karena dia punya mindset provider? Atau dia berkata begitu karena dia menganggap bahwa punya pasangan berarti bisa menjadi tameng. Bahkan bisa jadi pelarian ketika menghadapi kesulitan. Aah entahlah.
Keterbukaan dan kerjasama sebagai Kunci
Namun, jauh dari itu semua, saya yakin untuk tidak mengikuti saran kawan saya. Saya tetap beranggapan bahwa sebaiknya kita tidak membawa hutang bawaan ke dalam pernikahan. Hutang yang dibawa sebelum pernikahan, dan tidak dikomunikasikan akan menjadi masalah baru saat menjalani bahtera rumah tangga.
Sedikit cerita yang pernah dialami oleh kawan saya yang lain. Di mana ia harus merawat ibu dan bapak mertuanya yang sudah tua. Saat awal-awal pernikahan, dia langsung hamil. Dengan gaji suami yang masih UMR dan harus menanggung hidup suaminya sendiri. Dia sebagai istri, anak dalam kandungan dan ibu serta bapak mertua membuatnya harus berusaha keras untuk bertahan.
Pada saat ayah mertuanya sakit, suami kawan saya meminjam uang di Bank untuk berobat. Akhirnya teman saya juga ikut menanggung cicilannya. Awal perjalanan pernikahan sedikit goyah dengan permasalahan ini.
Memang dalam relasi rumah tangga masing-masing akan terdampak dengan keputusan yang dibuat oleh salah satu pihak. Terlebih jika keputusan tersebut hanya sepihak tanpa adanya komunikasi dan keterbukaan. Problem demikian tentu akan berdampak serius jika masing-masing tidak saling pengertian dan bekerjasama untuk mencari solusi bersama. []







































