Mubadalah.id – Saya sebagai orang yang hidup di relung desa, setiap hari selalu berjumpa dengan difabel dengan senyum yang sama, akan tetapi suasana itu berbeda ketika hari Raya Idulfitri tiba
Mengapa demikian? Pertama, saya berpikir barangkali tentu berbeda vibes hari biasa dengan hari yang ada saat bulan Ramadan. Kedua, secara psikologis, pengaruh puasa berimplikasi kepada tindakan seseorang. Ketiga, setelah hari Raya tiba, semua orang menyambutnya dengan penuh kasih sayang dan kehangatan.
Namun, di bulan Ramadan hari ini, nuansa hari raya tersebut berbeda, mulanya sebagai hari kemenangan dan kebahagiaan kini ia telah bergeser pada hari kesejahteraan. Kesejahteraan itu berbentuk pelbagai macam acara seremonial yang mulai melibatkan penyandang disabilitas saat bulan Ramadan.
Saya kira, bulan puasa hari ini adalah satu langkah cerah untuk mulai mewujudkan nilai sosial berkepedulian, saling mendukung, dan mengutamakan kesejahteraan manusia. Maka, cuitan ini mengajak untuk melihat hari raya dengan paradigma difabel, bukan sebagai objek belas kasihan, melainkan sebagai subjek yang setara, bermartabat, dan berhak atas kebahagiaan yang sama.
Difabel dan Makna Kemenangan yang Setara
Hari raya kerap terasosiasikan sebagai kemenangan spiritual. Setelah menanggalkan keinginan perut dan hawa nafsu, kita merayakannya dengan latihan pengendalian diri. Namun berbeda dengan penyandang disabilitas. Mungkin bagi mereka kemenangan tidak berhenti pada dimensi spiritual semata.
Hari kemenangan juga berarti diakuinya martabat, akses terpenuhi, dan terhapusnya hambatan sosial yang selama ini menjadi satir ruang gerak mereka. Salah satu problem lama tapi masih terasa segar (karena harus ditekankan) adalah cara pandang lama yang peyoratif ketika memandang difabel.
Padahal dalam perspektif kemanusiaan dan keimanan, setiap manusia memiliki nilai yang sama di hadapan Tuhan. Dalam tradisi Islam, spirit kesetaraan itu sejalan dengan pesan Al-Qur’an tentang kemuliaan manusia dan keadilan sosial.
Bahkan dalam konteks kenabian, kita mengenal kisah Abdullah bin Ummi Maktum, sahabat Nabi yang tunanetra namun terpercaya memegang peran penting dalam masyarakat Madinah. Kisah ini bukan sekadar cerita sejarah, tetapi pengingat bahwa keterbatasan fisik tidak pernah menjadi penghalang kontribusi.
Dalam aspek aksesibilitas, kemenangan bagi difabel saat hari Raya berarti dapat hadir di masjid tanpa harus memikirkan keterbatasan fasilitas dan perspektif masyarakat terhadapnya. Misalkan, lantai tidak licin, kursi roda dan jalurnya selalu ada, dan khutbah disertai bahasa isyarat.
Ini selanjutnya saya sebut sebagai hari kemenangan sejati. Hari raya yang inklusif tanpa kecuali merasakan kehangatan yang sama. Apabila masih ada yang tertinggal karena hambatan struktural dan stigma sosial, maka cara merayakan hari kemenagan itu belum sepenuhnya sempurna.
Mendambakan Kesejahteraan: Dari Empati ke Aksi Nyata
Selanjutnya, empati merupakan awal, tetapi tidak boleh berhenti sebagai perasaan. Sudah kewajiban bagi insan berakal memikirkan etika dan lisannya ketika bertemu sesama manusia.
Terkadang saat hari Raya yang penuh dengan supremasi diksi “mohon maaf lahir batin”, masih terselubung dalam hati dan pikiran yang menganggap diri sendri suci dari kekurangan ketika berjumpa dengan penyandang disabilitas.
Padahal, Mubadalah telah mendeklarasikan cara memandang manusia adalah memandangnya sebagai makhluk mulia dan bermartabat. Gus Dur juga demikian kiranya, baginya cara paling sederhana memuliakan manusia adalah memandangnya sebagai manusia.
Tentu kesejahteraan perlu direkonstruksi demi berbagai lini. Mendambakan kesejahteraan bagi difabel berarti membangun budaya inklusi yang berkelanjutan dan berkeadilan serta berkemanusiaan. Masjid dapat menjadi pelopor ruang ibadah yang ramah difabel. Sekolah dan kampus dapat mengembangkan kurikulum yang sensitif terhadap kebutuhan khusus. Media dapat menghadirkan narasi difabel sebagai inspirasi tanpa mengeksploitasi penderitaan.
Nah, dalam konteks demikian, banyak difabel yang tumbuh dengan dukungan keluarga yang kuat, tetapi tidak sedikit pula yang mengalami pengabaian karena stigma. Hari raya sendiri memiliki doktrin ritual sebagai momen memperkuat solidaritas keluarga, mengakui bahwa setiap anggota memiliki keunikan dan potensi yang patut dirayakan.
Mungkin benar, Hari Raya kini perlahan bergeser maknanya menuju kesejahteraan. Karena berbagai acara mulai melibatkan penyandang disabilitas sebagai simpatisan, lapangan pekerjaan juga sebagian mulai inklusif, hanya saja PR terbesar adalah mencerahkan stigma negatif tentangnya.
Akhirnya, hari kemenangan bukan hanya tentang kembali pada fitrah secara spiritual, tetapi juga tentang kembali pada kemanusiaan yang adil dan setara. Difabel tidak meminta dikasihani; mereka mendambakan kesempatan. Mereka tidak sekadar ingin menerima pemberian; mereka ingin masyarakat melibatkan mereka secara aktif. []









































