Mubadalah.id – Sabtu, 28 Februari 2026 AS-Israel mengebom kediaman Ayatullah Ali Khamenei. Saat itu, otoritas Iran mengabarkan bahwa Rahbar (artinya pemimpin dalam Bahasa Persia, panggilan untuk Ayatullah Ali Khamenei, pemimpin spiritual tertinggi Iran) selamat. Malam itu saya gelisah dengan perasaan yang berkecamuk.
Sebelum tidur, seperti biasa saya mengajak si kecil mendoakan Palestina. Malam itu, saya tambahkan doa untuk keselamatan Rahbar. Sambil kemudian saya jelaskan pada si kecil siapa itu Rahbar dan kenapa kita harus mendoakan keselamatan Rahbar.
Ahad, 1 Maret 2026 kabar itu datang. Seketika tangis saya pecah. Seharian saya menangis sambil beraktivitas, kepala terasa sangat sakit akibat terlalu banyak menangis. Kabar itu telah menggoyahkan seluruh kekuatan tubuh saya, mengakibatkan diri ini terkulai lemah dalam kedukaan.
Kembali pada doa, kenapa kita harus membela Iran dan Rahbar? Kenapa kita harus mendoakan kemenangan Iran? Kebanyakan orang akan menjawab karena Iran membela Palestina. Ini benar. Namun, apakah ini alasan satu-satunya kita membela Iran?
Iran Memutus Hubungan Diplomatik dengan Amerika Serikat
Di saat negara-negara Arab sibuk menjadi budak dan sekutu Amerika Serikat (AS), ketika negara-negara di dunia tunduk patuh terhadap AS, Iran menjadi satu-satunya negara yang memutus hubungan diplomatik dengan AS. Sebelum revolusi, Iran adalah negara sekutu AS di kawasan Asia Barat. Kala itu, masyarakat sangat menderita di bawah diktator Syah Reza Pahlavi.
Revolusi yang dipimpin oleh Ayatullah Khomeini pada tahun 1979 mengubah Iran yang semula monarki menjadi negara teokrasi yang berbentuk Republik Islam. Pasca revolusi, mereka langsung memutus hubungan diplomatik dengan AS dan menutup kantor kedutaan besar AS.
Kenapa hal ini penting? Kita semua tahu bahwa dalang dari semua peperangan di dunia ini adalah AS. Mereka berada di balik semua kekacauan di muka bumi. Bahkan, mereka tetap menjajah negara-negara merdeka dengan mengeruk sumber dayanya. Istilah ini kita sebut dengan imperialisme modern. Mereka tetap mengendalikan tatanan dan kebijakan suatu negara tanpa agresi militer.
Dengan kata lain, AS masih menjajah negara-negara di dunia. Parahnya, mereka tidak segan mengorbankan nyawa manusia demi memenuhi nafsu kekuasaan mereka. Sadisnya, AS memproduksi senjata dan menciptakan perang agar senjata itu terjual. Begitu banyaknya dosa-dosa AS hingga tak bisa menyebutkan satu per satu. Yang jelas, AS adalah dalang dari semua perang di Asia Barat. Tujuannya tak lain adalah menguasai minyak dan mengendalikan Asia Barat, bahkan dunia.
AS selalu ingin menjadi penguasa dengan melancarkan berbagai serangan dan hal keji. Maka, menjalin hubungan dengan AS adalah suatu hal yang haram dilakukan. Iran adalah negara yang berani memutus hubungan dengan AS karena kezaliman yang mereka lakukan. Berunding dengan AS (thaghut) adalah kebodohan. Bersekutu dengan AS sama saja dengan mendukung kezaliman.
Benteng Terakhir Perlawanan terhadap Imperialisme Kuno dan Modern
Imperialisme adalah konsep politik yang merujuk pada upaya suatu negara untuk menguasai wilayah dan sumber daya lainnya, seringkali dengan menggunakan kekuatan militer, serta untuk memengaruhi dan mengendalikan berbagai aspek kehidupan di wilayah yang ditaklukkan. Dengan kata lain, imperialisme adalah penjajahan yang dilakukan dengan kekerasan sebagaimana yang dilakukan Belanda dan Jepang terhadap Indonesia. Sebagaimana yang dilakukan Israel terhadap Palestina. AS terhadap Suku Indian dan Australia terhadap Suku Aborigin.
Setelah Perang Dunia II berakhir, negara imperialis mengubah metode penguasaan dengan cara mengendalikan orang-orang yang berkuasa di sebuah negara. Mereka bukan lagi menjajah dengan militer, namun menjadikan warga lokal sebagai penguasa yang mau menjadi boneka. Selanjutnya, sumber daya akan diserahkan kepada mereka dengan mudah. Istilah ini kita sebut dengan imperialisme modern.
Iran yang memutus segala bentuk kerjasama dengan setan besar AS menunjukkan bahwa mereka memutus rantai imperialisme AS. Mereka memutuskan untuk hidup mandiri dengan kekuatan dan sumber daya yang dimiliki demi kesejahteraan rakyatnya, bukan untuk menyenangkan AS. Iran adalah satu-satunya negara yang berani memutus imperialis AS. Mereka berhasil memukul mundur imperialis kuno dan modern, menjadikannya negara yang berhenti bertekuk lutut pada hegemoni Barat.
Perlawanan terhadap Serangan Militer AS
Tanggal 28 Februari 2026 menjadi hari bersejarah bagi semua manusia di dunia. Pada hari itu, AS-Israel mengebom Iran dengan menargetkan sekolah perempuan serta kantor pemerintahan. Sebanyak 150 anak perempuan syahid dalam serangan itu. Rahbar dan sejumlah petinggi Iran juga turut syahid.
Hari itu adalah hari paling menyakitkan bagi kita semua, namun peristiwa itu menjadi panggilan bagi Iran untuk membalas serangan AS-Israel. Peristiwa itu menjadi titik tolak bagi untuk menghancurkan pelaku kezaliman di dunia ini. Siapa yang berani melawan AS-Israel hari ini? Adakah yang berani melawan AS dan sekutunya yang licik dan keji?
Iran menjadi satu-satunya negara yang berani melawan AS-Israel secara militer di saat semua negara memilih diam dan bersekutu. Ia satu-satunya negara yang mampu menjaga kehormatan dan martabat sebuah negara di hadapan pelaku kezaliman. Ia menjadi satu-satunya negara yang memiliki kekuatan militer terkuat yang mampu melawan kekuatan AS-Israel. Satu-satunya negara yang dipimpin seorang laki-laki tua berusia 86 tahun yang mampu membuat AS-Israel ketakutan hingga mereka membunuhnya.
Hingga hari ini, Iran tak berhenti melancarkan serangan balasan terhadap Israel. Bahwa embargo dan sanksi internasional tidak mampu menghentikan langkah bersahaja dalam membela negara, Islam, dan kebenaran. Iran dilaporkan masih memiliki 2.500 rudal balistik. Mereka menunjukkan pada dunia bahwa keilmuan, teknologi, dan militer tetap bisa berkembang meski dihantam sanksi berkepanjangan.
Tatanan Dunia Baru
Perlawanan yang Iran lakukan menunjukkan bahwa mereka sedang menuju tatanan dunia baru. Dunia tanpa penjajahan, imperialisme, dan perbudakan. Peperangan antara Iran dan AS-Israel bukan hanya peperangan antara Islam dan kafir. Bukan peperangan antara pembela Palestina dan penjajah Palestina saja.
Perang Iran dan AS-Israel adalah peperangan antara haq dan bathil (kebenaran vs kezaliman) yang menyangkut kehidupan seluruh umat manusia di dunia. Perlawanan Iran adalah perlawanan kita semua, ketika kita merindukan kedamaian, maka setan harus musnah. Saat Iran menang (semoga Allah menyegerakannya), maka berakhirlah kekuatan imperialis dunia penyembah Ba’al dan pengikut Dajjal. Berakhirlah seluruh imperialisme kuno dan modern di dunia ini.
Maka dukungan, doa, dan pembelaan terhadap Iran adalah pembelaan terhadap kemanusiaan dan kebenaran. Mendukung Iran berarti kita sedang mendukung terciptanya tatanan dunia baru tanpa kezaliman. Membela mereka berarti kita sedang membela tentara Allah melawan tentara Dajjal. Mendoakan Iran berarti kita sedang mendoakan kekalahan setan bernama Amerika. []










































