Minggu, 22 Maret 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Zakat untuk MBG

    Mendedah Dalil Keharaman Zakat untuk MBG

    Menjadi Aktivis

    Di Indonesia, Menjadi Aktivis Berarti Bertaruh Nyawa

    Jaringan Cirebon untuk Kemanusiaan

    Peringati Hari Perempuan Internasional, Jaringan Cirebon untuk Kemanusiaan Desak Penguatan Perlindungan Perempuan

    Vidi Aldiano

    Vidi Aldiano dalam Kenangan: Suara, Persahabatan, dan Kebaikan

    Pernikahan

    Pernikahan Harus Menjadi Ruang Kesalingan, Bukan Ketimpangan

    Laki-laki dan Perempuan dalam Al-Qur'an

    Kiai Faqih: Kesetaraan Laki-laki dan Perempuan adalah Amanat Al-Qur’an

    Kesetaraan

    Dialog Ramadan UGM: Dr. Faqih Tekankan Kesetaraan sebagai Mandat Peradaban

    Keluarga Berencana

    Mengawal Keluarga Berencana Saat Angka Kelahiran Turun

    Ali Khamenei

    Ali Khamenei; Menjaga Agama, Melawan Kezaliman, Menutup Hidup dengan Kehormatan

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Nyepi dan Idulfitri

    Nyepi dan Idulfitri: Memaknai Sunyi dan Memaafkan Diri Sendiri demi Keadilan Relasi

    Refleksi Lebaran

    Refleksi Lebaran: Bolehkah Kita Bersuka Cita saat Saudara Kita Masih Berduka?

    Lebaran Core

    Lebaran Core dan Standar Sosial Menjelang Idulfitri

    Hari Raya

    Desakralisasi Hari Raya Idulfitri Sebagai Hari Kemenangan

    Lebaran

    Berlebaran dengan Baju Lama dan Kaleng Biskuit Isi Rengginang

    Kaffarat

    Dipaksa Berhubungan Saat Puasa: Haruskah Istri Menanggung Kaffarat?

    Makna Idulfitri

    Mengembalikan Makna Idulfitri sebagai Milik Perempuan

    Pengasuhan Anak

    Kemiskinan dan Ketidakhadiran Ayah dalam Pengasuhan Anak

    Disabilitas di Purwokerto

    Ruang-ruang Ramah Disabilitas di Purwokerto

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Hak Perempuan

    Pembatasan Hak Perempuan

    Ketimpangan Gender

    Preferensi Anak Laki-laki Perkuat Ketimpangan Gender Sejak Dini

    Status Perempuan

    Status Perempuan yang Rendah Berdampak pada Kesejahteraan Keluarga dan Masyarakat

    Kemiskinan yang

    Kemiskinan Persempit Ruang Perempuan dalam Mengambil Keputusan Hidup

    Kesehatan Perempuan yang

    Kondisi Hidup Perempuan Miskin Berisiko Tinggi terhadap Kesehatan

    Kemiskinan Perempuan

    Kemiskinan Perempuan Dimulai Sejak Dini dan Berlangsung Sepanjang Siklus Hidup

    Kemiskinan

    Kemiskinan Jadi Akar Masalah Kesehatan Perempuan

    Kesehatan Perempuan

    Beragam Penyebab Medis Perburuk Kondisi Kesehatan Perempuan

    Gizi

    Faktor Gizi, Kehamilan, dan Beban Kerja Picu Kerentanan Kesehatan Perempuan

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Zakat untuk MBG

    Mendedah Dalil Keharaman Zakat untuk MBG

    Menjadi Aktivis

    Di Indonesia, Menjadi Aktivis Berarti Bertaruh Nyawa

    Jaringan Cirebon untuk Kemanusiaan

    Peringati Hari Perempuan Internasional, Jaringan Cirebon untuk Kemanusiaan Desak Penguatan Perlindungan Perempuan

    Vidi Aldiano

    Vidi Aldiano dalam Kenangan: Suara, Persahabatan, dan Kebaikan

    Pernikahan

    Pernikahan Harus Menjadi Ruang Kesalingan, Bukan Ketimpangan

    Laki-laki dan Perempuan dalam Al-Qur'an

    Kiai Faqih: Kesetaraan Laki-laki dan Perempuan adalah Amanat Al-Qur’an

    Kesetaraan

    Dialog Ramadan UGM: Dr. Faqih Tekankan Kesetaraan sebagai Mandat Peradaban

    Keluarga Berencana

    Mengawal Keluarga Berencana Saat Angka Kelahiran Turun

    Ali Khamenei

    Ali Khamenei; Menjaga Agama, Melawan Kezaliman, Menutup Hidup dengan Kehormatan

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Nyepi dan Idulfitri

    Nyepi dan Idulfitri: Memaknai Sunyi dan Memaafkan Diri Sendiri demi Keadilan Relasi

    Refleksi Lebaran

    Refleksi Lebaran: Bolehkah Kita Bersuka Cita saat Saudara Kita Masih Berduka?

    Lebaran Core

    Lebaran Core dan Standar Sosial Menjelang Idulfitri

    Hari Raya

    Desakralisasi Hari Raya Idulfitri Sebagai Hari Kemenangan

    Lebaran

    Berlebaran dengan Baju Lama dan Kaleng Biskuit Isi Rengginang

    Kaffarat

    Dipaksa Berhubungan Saat Puasa: Haruskah Istri Menanggung Kaffarat?

    Makna Idulfitri

    Mengembalikan Makna Idulfitri sebagai Milik Perempuan

    Pengasuhan Anak

    Kemiskinan dan Ketidakhadiran Ayah dalam Pengasuhan Anak

    Disabilitas di Purwokerto

    Ruang-ruang Ramah Disabilitas di Purwokerto

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Hak Perempuan

    Pembatasan Hak Perempuan

    Ketimpangan Gender

    Preferensi Anak Laki-laki Perkuat Ketimpangan Gender Sejak Dini

    Status Perempuan

    Status Perempuan yang Rendah Berdampak pada Kesejahteraan Keluarga dan Masyarakat

    Kemiskinan yang

    Kemiskinan Persempit Ruang Perempuan dalam Mengambil Keputusan Hidup

    Kesehatan Perempuan yang

    Kondisi Hidup Perempuan Miskin Berisiko Tinggi terhadap Kesehatan

    Kemiskinan Perempuan

    Kemiskinan Perempuan Dimulai Sejak Dini dan Berlangsung Sepanjang Siklus Hidup

    Kemiskinan

    Kemiskinan Jadi Akar Masalah Kesehatan Perempuan

    Kesehatan Perempuan

    Beragam Penyebab Medis Perburuk Kondisi Kesehatan Perempuan

    Gizi

    Faktor Gizi, Kehamilan, dan Beban Kerja Picu Kerentanan Kesehatan Perempuan

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom Publik

Nyepi dan Idulfitri: Memaknai Sunyi dan Memaafkan Diri Sendiri demi Keadilan Relasi

Secara filosofis, laku Amati Geni ini dapat dipadankan secara indah dengan konsep Tazkiyatun Nafs (menyucikan jiwa) di dalam Islam. 

Fisco Moedjito by Fisco Moedjito
22 Maret 2026
in Publik, Rekomendasi
A A
0
Nyepi dan Idulfitri

Nyepi dan Idulfitri

6
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Tahun 2026 ini terdapat dua momen hari raya yang berlangsung secara berdekatan. Kamis 19 Maret, Umat Hindu merayakan Nyepi. Sementara umat Muslim merayakan Idulfitri. Ada yang ikut 20 Maret seperti teman-teman Muhammadiyah kita. Ada juga yang ikut hasil sidang isbat Pemerintah pada 21 Maret. Perbedaan ini tidak masalah. Karena pada dasarnya, esensi Idulfitri adalah merefleksikan diri dan saling bermaafan.

Di tengah ingar-bingar perayaan dan silaturahmi, dari dua hari raya tersebut, tahun ini saya mencoba untuk memaknai bagaimana esensi dari nyepi bisa saya terapkan untuk memaknai Idulfitri supaya lebih mindful. Sebuah upaya untuk menarik diri sejenak dari kebisingan. Saya mencoba merenung ke dalam dan menyadari satu hal. Bahwa sebelum kita meminta maaf kepada dunia, ada satu entitas yang seringkali lupa kita maafkan: diri kita sendiri.

Memadamkan Api Ego

Dalam Nyepi, terdapat laku spiritual yang disebut Amati Geni (tidak menyalakan api atau cahaya). Secara filosofis, laku ini dapat dipadankan secara indah dengan konsep Tazkiyatun Nafs (menyucikan jiwa) di dalam Islam.

Kita perlu membedah lebih dalam: mengapa “api” yang harus dipadamkan? Dalam banyak literatur spiritual, api seringkali merupakan simbol dari nafsu amarah, keangkuhan, dan sifat destruktif (nafs ammarah bissu’). Ia melambangkan ego yang selalu ingin mendominasi, membakar apa saja yang menghalanginya, dan menuntut untuk selalu dilayani.

Oleh karena itu, Amati Geni bukan sekadar larangan fisik untuk mematikan lampu atau tungku. Melainkan sebuah manifestasi dari Tazkiyatun Nafs itu sendiri. Sebuah upaya aktif untuk memadamkan kobaran ego di dalam dada.

Sebagai seorang laki-laki yang tengah berproses mendekonstruksi diri, saya menyadari betul betapa merusaknya ego ketika ia tak terkendali. Kegagalan memanusiakan orang lain sebagai subjek yang utuh—sebagaimana prinsip kesalingan (Mubadalah)—adalah wujud nyata dari kobaran “api” tersebut. Saya belajar bahwa proses Tazkiyatun Nafs tidak akan pernah paripurna jika benih-benih objektifikasi dan relasi yang timpang masih bersarang di dalam kepala.

Memadamkan “api ego” dalam keheningan Nyepi dan penghujung Ramadhan ini, pada hakikatnya, adalah ikhtiar melatih kembali nalar keadilan relasi kita. Sebuah upaya membasuh jiwa agar kembali fitrah; memandang laki-laki dan perempuan sebagai hamba Allah yang setara dan bermartabat.

Amati Geni dan Tazkiyatun Nafs dalam Keadilan Relasi

Lantas, Tazkiyatun Nafs (penyucian jiwa) seperti apa yang bisa kita lakukan dalam konteks keadilan relasi?

Pertama, penyucian jiwa dimulai dengan memadamkan api arogansi patriarkis. Sebagai laki-laki yang tengah berproses mendekonstruksi diri, saya menyadari betul betapa merusaknya “api” ini ketika ia tak terkendali.

Kegagalan memanusiakan orang lain sebagai subjek yang utuh, menjadikan perempuan sekadar objek pelarian, atau merasa berhak (entitled) atas perasaan orang lain tanpa mau berkomitmen secara adil, adalah wujud nyata dari kobaran ego tersebut. Memadamkan api ini berarti menundukkan arogansi kita, dan menggantinya dengan kacamata kesalingan (mubadalah) yang melihat perempuan sebagai hamba Allah yang setara dan bermartabat.

Kedua, penyucian jiwa diwujudkan melalui puasa validasi dan manipulasi. Tazkiyatun Nafs mengharuskan kita untuk berhenti membakar energi demi mencari pembenaran atas kesalahan kita. Ketika kita menyakiti seseorang, ego kita (api) seringkali menyala untuk membela diri, melakukan gaslighting, atau bahkan memposisikan diri seolah-olah kita adalah korban.

Praktik Amati Geni di sini adalah keberanian untuk mematikan “api pembelaan diri” tersebut. Kita menyucikan jiwa dengan cara menerima kenyataan secara radikal, mengakui seluruh kesalahan secara jantan, dan menelan rasa sakit akibat penolakan tanpa harus menyerang balik.

Melalui perpaduan Amati Geni dan Tazkiyatun Nafs di penghujung Ramadan dan momen Nyepi ini, kita sedang melakukan operasi bedah pada nalar dan hati kita. Kita tidak akan pernah bisa menyalakan “cahaya fitrah” (kesucian Idulfitri) jika kita belum berhasil memadamkan “api ego” yang selama ini membakar dan melukai orang-orang yang kita cintai.

Ruang Sunyi untuk Mengeja Luka

Namun, ada satu rintangan terbesar dalam proses penyucian ini. Di luar api ego yang menyakiti orang lain, ada satu api lagi yang kerap luput dari perhatian, namun masih menyala dan menyiksa diri saya sendiri. Yakni, Api Penyesalan dan Penghukuman Diri.

Menyesali perbuatan buruk di masa lalu adalah sebuah keharusan. Namun, membiarkan diri hangus terbakar oleh kebencian pada diri sendiri justru menghalangi kita untuk benar-benar bertransformasi menjadi manusia yang memanusiakan.

Untuk memadamkan “api penghukuman diri” yang bising di dalam kepala inilah, kita membutuhkan sebuah jeda yang radikal. Di sinilah laku spiritual berikutnya, yakni Amati Karya (tidak bekerja atau menghentikan aktivitas fisik), menjadi relevan jika kita padankan dengan Muhasabah (introspeksi diri). Jika Amati Geni berfungsi mematikan ego, maka Amati Karya adalah ruang kedap suara yang memaksa kita menghentikan segala hiruk-pikuk pelarian.

Di era modern, di mana banyak orang sibuk mencari validasi di media sosial saat Lebaran—seperti memamerkan pakaian baru atau pencapaian demi menutupi rasa insecure—saya justru mengajak pembaca untuk berani “berhenti sejenak”. Jeda ini adalah ruang terbaik untuk Muhasabah. Ia memberi kita waktu untuk menghitung kembali luka apa saja yang telah kita torehkan secara objektif, tanpa terburu-buru mencari pelarian atau validasi ke luar.

Amati Karya dan Muhasabah dalam Keadilan Relasi

Saat sebuah relasi hancur akibat ego yang abai pada prinsip kesalingan, seringkali pihak yang tersakiti akan melakukan cut-off secara total demi melindungi kedaulatan dirinya. Bagi saya, paksaan untuk diam di tengah pemutusan akses komunikasi tersebut adalah bentuk Amati Karya yang paling nyata dan menyadarkan.

Dalam keheningan yang memaksa itulah, proses muhasabah yang paling jujur terjadi. Kita tidak lagi memiliki ruang untuk merajuk, beralibi, atau bahkan menghukum diri secara berlebihan. Kita hanya bisa diam dan menatap tumpukan kesalahan kita dengan objektif, lalu mulai mencari cara untuk memperbaikinya dari akar.

Melalui muhasabah yang mendalam di ruang sunyi ini, kita dipaksa untuk berani membedah satu per satu kesalahan yang pernah menorehkan luka pada orang-orang di masa lalu. Namun, sebuah muhasabah yang sehat tidak boleh berhenti hanya pada ratapan penyesalan semata. Ia harus menjadi titik tolak untuk merekonstruksi isi kepala. Melalui jeda dan evaluasi diri inilah, kita sedang memupuk serta menguatkan kembali prinsip kesalingan (mubadalah) dan keadilan relasi.

Kita melatih nalar dan hati kita untuk benar-benar bisa berlaku adil sudah sejak dalam pikiran. Sebab, hanya dengan keadilan yang telah mengakar kuat di dalam pikiranlah, penghormatan terhadap kemanusiaan dan kedaulatan seseorang itu pada akhirnya akan tercermin secara nyata dalam setiap perbuatan kita.

Memutus Rantai: Memaafkan Diri Sendiri

Fase tersulit dari seluruh rangkaian muhasabah ini, pada akhirnya, bukanlah keberanian untuk menyadari kesalahan, melainkan kelapangan dada untuk menerima diri kita yang pernah salah. Dari perenungan di ruang sunyi ini, sebuah kesadaran menghantam saya. Selama saya masih mengutuk dan memenjarakan diri di masa lalu, saya tidak akan pernah benar-benar melangkah maju menjadi manusia yang baru.

Kita tidak akan pernah bisa menyuguhkan telaga yang menyejukkan bagi orang lain, jika teko di dalam batin kita sendiri masih keruh oleh endapan kebencian dan penyesalan.  Saya ingin menjadi seseorang yang mampu menghancurkan pola lama dan membangun masa depan. Di mana kebahagiaan itu mengalir dari dalam diri untuk menular kepada sekitarnya. Jika saya sungguh-sungguh ingin menjadi manusia yang utuh seperti itu, maka langkah pertamanya adalah berdamai dengan bayang-bayang di cermin.

Memaafkan diri sendiri sama sekali bukan berarti lari dari tanggung jawab, apalagi membenarkan kesalahan. Sebaliknya, ia adalah bentuk welas asih yang paling berani untuk memutuskan rantai luka (breaking the cycle). Ini adalah sebuah deklarasi kemerdekaan jiwa; bahwa kita menolak membiarkan trauma dan kebodohan masa lalu terus-menerus menyandera masa depan kita.

Sebab, untuk bisa benar-benar bertransformasi menjadi versi terbaik dari diri ini, kita harus terlebih dahulu memeluk bagian diri kita yang pernah salah, memaafkannya dengan penuh kesadaran, dan menuntunnya untuk tumbuh menjadi manusia yang lebih beradab.

Doa Penyerahan di Ujung Kesunyian

Ketika tangan ini tak lagi mampu menjangkau orang yang pernah kita lukai untuk sekadar mengucapkan kata maaf, maka biarlah kesunyian yang mengantarkan doa-doa kita kepada Sang Pemilik Hati. Di ujung perenungan ini, izinkan saya memanjatkan sebuah doa penyerahan:

“Ya Allah, jika aku pernah menjadi sebab sakit hati seseorang hingga ia mengadu kepada-Mu dengan air mata dalam sholatnya, maka sembuhkanlah hatinya dan ampunilah aku. Jika tanpa kusadari aku pernah menjadi sebab retaknya hati seseorang hingga ia datang kepada-Mu dengan dada yg sesak dan hati yg jatuh di antara sujud-sujudnya, maka ampunilah aku dan terimalah penyesalanku.

Aku tahu, ada luka yg tak sempat kuperbaiki dengan kata, dan ada perih yg terlanjur kupahatkan lewat perilaku. Jika namaku pernah disebut dalam doanya sebagai keluh, naka aku mohon sembuhkanlah hatinya dengan kasih sayang-Mu. Tenangkanlah jiwanya, lapangkanlah dadanya, gantikan pedih itu dengan damai yg menenteramkan hatinya. Biarkan Engkau yg menyembuhkan semua luka-lukanya. Biarlah Engkau yg memeluk lukanya, dan mencabutnya dengan kasih sayang-Mu.

Maka cukupkan Engkau yg menjadi saksi penyesalanku. Aku ingin pulang kepada-Mu dengan hati yg tak lagu melukai, melainkan menjaga, menenangkan, dan tunduk sepenuhnya pada ampunan-Mu, Ya Allah. Amin.”

Akhir kata, untuk saudara dan sahabat umat Hindu, selamat merayakan Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1948. Semoga jeda dan keheningan Amati Geni dan Amati Karya senantiasa membawa kedamaian bagi semesta, serta memadamkan segala riuh dan api ego di dalam jiwa kita.

Dan pada akhirnya, selamat menyambut hari kemenangan Idulfitri 1447 H bagi seluruh umat Muslim. Mari kita rayakan hari yang fitrah ini bukan sekadar dengan saling bermaafan kepada sesama, tetapi juga dengan keberanian untuk memeluk dan memaafkan diri kita sendiri dari segala luka di masa lalu. Taqabbalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum. Mohon maaf lahir dan batin. []

Tags: Amati GenijiwamanusiaNyepi dan IdulfitriRelasiTazkiyatunnafs
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Refleksi Lebaran: Bolehkah Kita Bersuka Cita saat Saudara Kita Masih Berduka?

Next Post

Pembatasan Hak Perempuan

Fisco Moedjito

Fisco Moedjito

Part-time student and worker. Full-time learner. Bachelor of Law from Universitas Gadjah Mada.

Related Posts

Kaffarat
Keluarga

Dipaksa Berhubungan Saat Puasa: Haruskah Istri Menanggung Kaffarat?

19 Maret 2026
Makna Idulfitri
Personal

Mengembalikan Makna Idulfitri sebagai Milik Perempuan

19 Maret 2026
Pengasuhan Anak
Keluarga

Kemiskinan dan Ketidakhadiran Ayah dalam Pengasuhan Anak

18 Maret 2026
Khairunnas Anfa’uhum Linnas
Personal

Jargon “Khairunnas Anfa’uhum Linnas” dan Perihal Tuntutan untuk Selalu Produktif

16 Maret 2026
Konflik Keluarga
Keluarga

Sembilan Langkah Menengahi Konflik Keluarga dalam Perspektif Mubadalah

16 Maret 2026
Keadilan
Pernak-pernik

Relasi Perempuan dan Laki-laki dalam Prinsip Keadilan

14 Maret 2026
Next Post
Hak Perempuan

Pembatasan Hak Perempuan

No Result
View All Result

TERBARU

  • Pembatasan Hak Perempuan
  • Nyepi dan Idulfitri: Memaknai Sunyi dan Memaafkan Diri Sendiri demi Keadilan Relasi
  • Refleksi Lebaran: Bolehkah Kita Bersuka Cita saat Saudara Kita Masih Berduka?
  • Preferensi Anak Laki-laki Perkuat Ketimpangan Gender Sejak Dini
  • Status Perempuan yang Rendah Berdampak pada Kesejahteraan Keluarga dan Masyarakat

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0