Mubadalah.id – Tahun 2026 ini terdapat dua momen hari raya yang berlangsung secara berdekatan. Kamis 19 Maret, Umat Hindu merayakan Nyepi. Sementara umat Muslim merayakan Idulfitri. Ada yang ikut 20 Maret seperti teman-teman Muhammadiyah kita. Ada juga yang ikut hasil sidang isbat Pemerintah pada 21 Maret. Perbedaan ini tidak masalah. Karena pada dasarnya, esensi Idulfitri adalah merefleksikan diri dan saling bermaafan.
Di tengah ingar-bingar perayaan dan silaturahmi, dari dua hari raya tersebut, tahun ini saya mencoba untuk memaknai bagaimana esensi dari nyepi bisa saya terapkan untuk memaknai Idulfitri supaya lebih mindful. Sebuah upaya untuk menarik diri sejenak dari kebisingan. Saya mencoba merenung ke dalam dan menyadari satu hal. Bahwa sebelum kita meminta maaf kepada dunia, ada satu entitas yang seringkali lupa kita maafkan: diri kita sendiri.
Memadamkan Api Ego
Dalam Nyepi, terdapat laku spiritual yang disebut Amati Geni (tidak menyalakan api atau cahaya). Secara filosofis, laku ini dapat dipadankan secara indah dengan konsep Tazkiyatun Nafs (menyucikan jiwa) di dalam Islam.
Kita perlu membedah lebih dalam: mengapa “api” yang harus dipadamkan? Dalam banyak literatur spiritual, api seringkali merupakan simbol dari nafsu amarah, keangkuhan, dan sifat destruktif (nafs ammarah bissu’). Ia melambangkan ego yang selalu ingin mendominasi, membakar apa saja yang menghalanginya, dan menuntut untuk selalu dilayani.
Oleh karena itu, Amati Geni bukan sekadar larangan fisik untuk mematikan lampu atau tungku. Melainkan sebuah manifestasi dari Tazkiyatun Nafs itu sendiri. Sebuah upaya aktif untuk memadamkan kobaran ego di dalam dada.
Sebagai seorang laki-laki yang tengah berproses mendekonstruksi diri, saya menyadari betul betapa merusaknya ego ketika ia tak terkendali. Kegagalan memanusiakan orang lain sebagai subjek yang utuh—sebagaimana prinsip kesalingan (Mubadalah)—adalah wujud nyata dari kobaran “api” tersebut. Saya belajar bahwa proses Tazkiyatun Nafs tidak akan pernah paripurna jika benih-benih objektifikasi dan relasi yang timpang masih bersarang di dalam kepala.
Memadamkan “api ego” dalam keheningan Nyepi dan penghujung Ramadhan ini, pada hakikatnya, adalah ikhtiar melatih kembali nalar keadilan relasi kita. Sebuah upaya membasuh jiwa agar kembali fitrah; memandang laki-laki dan perempuan sebagai hamba Allah yang setara dan bermartabat.
Amati Geni dan Tazkiyatun Nafs dalam Keadilan Relasi
Lantas, Tazkiyatun Nafs (penyucian jiwa) seperti apa yang bisa kita lakukan dalam konteks keadilan relasi?
Pertama, penyucian jiwa dimulai dengan memadamkan api arogansi patriarkis. Sebagai laki-laki yang tengah berproses mendekonstruksi diri, saya menyadari betul betapa merusaknya “api” ini ketika ia tak terkendali.
Kegagalan memanusiakan orang lain sebagai subjek yang utuh, menjadikan perempuan sekadar objek pelarian, atau merasa berhak (entitled) atas perasaan orang lain tanpa mau berkomitmen secara adil, adalah wujud nyata dari kobaran ego tersebut. Memadamkan api ini berarti menundukkan arogansi kita, dan menggantinya dengan kacamata kesalingan (mubadalah) yang melihat perempuan sebagai hamba Allah yang setara dan bermartabat.
Kedua, penyucian jiwa diwujudkan melalui puasa validasi dan manipulasi. Tazkiyatun Nafs mengharuskan kita untuk berhenti membakar energi demi mencari pembenaran atas kesalahan kita. Ketika kita menyakiti seseorang, ego kita (api) seringkali menyala untuk membela diri, melakukan gaslighting, atau bahkan memposisikan diri seolah-olah kita adalah korban.
Praktik Amati Geni di sini adalah keberanian untuk mematikan “api pembelaan diri” tersebut. Kita menyucikan jiwa dengan cara menerima kenyataan secara radikal, mengakui seluruh kesalahan secara jantan, dan menelan rasa sakit akibat penolakan tanpa harus menyerang balik.
Melalui perpaduan Amati Geni dan Tazkiyatun Nafs di penghujung Ramadan dan momen Nyepi ini, kita sedang melakukan operasi bedah pada nalar dan hati kita. Kita tidak akan pernah bisa menyalakan “cahaya fitrah” (kesucian Idulfitri) jika kita belum berhasil memadamkan “api ego” yang selama ini membakar dan melukai orang-orang yang kita cintai.
Ruang Sunyi untuk Mengeja Luka
Namun, ada satu rintangan terbesar dalam proses penyucian ini. Di luar api ego yang menyakiti orang lain, ada satu api lagi yang kerap luput dari perhatian, namun masih menyala dan menyiksa diri saya sendiri. Yakni, Api Penyesalan dan Penghukuman Diri.
Menyesali perbuatan buruk di masa lalu adalah sebuah keharusan. Namun, membiarkan diri hangus terbakar oleh kebencian pada diri sendiri justru menghalangi kita untuk benar-benar bertransformasi menjadi manusia yang memanusiakan.
Untuk memadamkan “api penghukuman diri” yang bising di dalam kepala inilah, kita membutuhkan sebuah jeda yang radikal. Di sinilah laku spiritual berikutnya, yakni Amati Karya (tidak bekerja atau menghentikan aktivitas fisik), menjadi relevan jika kita padankan dengan Muhasabah (introspeksi diri). Jika Amati Geni berfungsi mematikan ego, maka Amati Karya adalah ruang kedap suara yang memaksa kita menghentikan segala hiruk-pikuk pelarian.
Di era modern, di mana banyak orang sibuk mencari validasi di media sosial saat Lebaran—seperti memamerkan pakaian baru atau pencapaian demi menutupi rasa insecure—saya justru mengajak pembaca untuk berani “berhenti sejenak”. Jeda ini adalah ruang terbaik untuk Muhasabah. Ia memberi kita waktu untuk menghitung kembali luka apa saja yang telah kita torehkan secara objektif, tanpa terburu-buru mencari pelarian atau validasi ke luar.
Amati Karya dan Muhasabah dalam Keadilan Relasi
Saat sebuah relasi hancur akibat ego yang abai pada prinsip kesalingan, seringkali pihak yang tersakiti akan melakukan cut-off secara total demi melindungi kedaulatan dirinya. Bagi saya, paksaan untuk diam di tengah pemutusan akses komunikasi tersebut adalah bentuk Amati Karya yang paling nyata dan menyadarkan.
Dalam keheningan yang memaksa itulah, proses muhasabah yang paling jujur terjadi. Kita tidak lagi memiliki ruang untuk merajuk, beralibi, atau bahkan menghukum diri secara berlebihan. Kita hanya bisa diam dan menatap tumpukan kesalahan kita dengan objektif, lalu mulai mencari cara untuk memperbaikinya dari akar.
Melalui muhasabah yang mendalam di ruang sunyi ini, kita dipaksa untuk berani membedah satu per satu kesalahan yang pernah menorehkan luka pada orang-orang di masa lalu. Namun, sebuah muhasabah yang sehat tidak boleh berhenti hanya pada ratapan penyesalan semata. Ia harus menjadi titik tolak untuk merekonstruksi isi kepala. Melalui jeda dan evaluasi diri inilah, kita sedang memupuk serta menguatkan kembali prinsip kesalingan (mubadalah) dan keadilan relasi.
Kita melatih nalar dan hati kita untuk benar-benar bisa berlaku adil sudah sejak dalam pikiran. Sebab, hanya dengan keadilan yang telah mengakar kuat di dalam pikiranlah, penghormatan terhadap kemanusiaan dan kedaulatan seseorang itu pada akhirnya akan tercermin secara nyata dalam setiap perbuatan kita.
Memutus Rantai: Memaafkan Diri Sendiri
Fase tersulit dari seluruh rangkaian muhasabah ini, pada akhirnya, bukanlah keberanian untuk menyadari kesalahan, melainkan kelapangan dada untuk menerima diri kita yang pernah salah. Dari perenungan di ruang sunyi ini, sebuah kesadaran menghantam saya. Selama saya masih mengutuk dan memenjarakan diri di masa lalu, saya tidak akan pernah benar-benar melangkah maju menjadi manusia yang baru.
Kita tidak akan pernah bisa menyuguhkan telaga yang menyejukkan bagi orang lain, jika teko di dalam batin kita sendiri masih keruh oleh endapan kebencian dan penyesalan. Saya ingin menjadi seseorang yang mampu menghancurkan pola lama dan membangun masa depan. Di mana kebahagiaan itu mengalir dari dalam diri untuk menular kepada sekitarnya. Jika saya sungguh-sungguh ingin menjadi manusia yang utuh seperti itu, maka langkah pertamanya adalah berdamai dengan bayang-bayang di cermin.
Memaafkan diri sendiri sama sekali bukan berarti lari dari tanggung jawab, apalagi membenarkan kesalahan. Sebaliknya, ia adalah bentuk welas asih yang paling berani untuk memutuskan rantai luka (breaking the cycle). Ini adalah sebuah deklarasi kemerdekaan jiwa; bahwa kita menolak membiarkan trauma dan kebodohan masa lalu terus-menerus menyandera masa depan kita.
Sebab, untuk bisa benar-benar bertransformasi menjadi versi terbaik dari diri ini, kita harus terlebih dahulu memeluk bagian diri kita yang pernah salah, memaafkannya dengan penuh kesadaran, dan menuntunnya untuk tumbuh menjadi manusia yang lebih beradab.
Doa Penyerahan di Ujung Kesunyian
Ketika tangan ini tak lagi mampu menjangkau orang yang pernah kita lukai untuk sekadar mengucapkan kata maaf, maka biarlah kesunyian yang mengantarkan doa-doa kita kepada Sang Pemilik Hati. Di ujung perenungan ini, izinkan saya memanjatkan sebuah doa penyerahan:
“Ya Allah, jika aku pernah menjadi sebab sakit hati seseorang hingga ia mengadu kepada-Mu dengan air mata dalam sholatnya, maka sembuhkanlah hatinya dan ampunilah aku. Jika tanpa kusadari aku pernah menjadi sebab retaknya hati seseorang hingga ia datang kepada-Mu dengan dada yg sesak dan hati yg jatuh di antara sujud-sujudnya, maka ampunilah aku dan terimalah penyesalanku.
Aku tahu, ada luka yg tak sempat kuperbaiki dengan kata, dan ada perih yg terlanjur kupahatkan lewat perilaku. Jika namaku pernah disebut dalam doanya sebagai keluh, naka aku mohon sembuhkanlah hatinya dengan kasih sayang-Mu. Tenangkanlah jiwanya, lapangkanlah dadanya, gantikan pedih itu dengan damai yg menenteramkan hatinya. Biarkan Engkau yg menyembuhkan semua luka-lukanya. Biarlah Engkau yg memeluk lukanya, dan mencabutnya dengan kasih sayang-Mu.
Maka cukupkan Engkau yg menjadi saksi penyesalanku. Aku ingin pulang kepada-Mu dengan hati yg tak lagu melukai, melainkan menjaga, menenangkan, dan tunduk sepenuhnya pada ampunan-Mu, Ya Allah. Amin.”
Akhir kata, untuk saudara dan sahabat umat Hindu, selamat merayakan Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1948. Semoga jeda dan keheningan Amati Geni dan Amati Karya senantiasa membawa kedamaian bagi semesta, serta memadamkan segala riuh dan api ego di dalam jiwa kita.
Dan pada akhirnya, selamat menyambut hari kemenangan Idulfitri 1447 H bagi seluruh umat Muslim. Mari kita rayakan hari yang fitrah ini bukan sekadar dengan saling bermaafan kepada sesama, tetapi juga dengan keberanian untuk memeluk dan memaafkan diri kita sendiri dari segala luka di masa lalu. Taqabbalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum. Mohon maaf lahir dan batin. []








































