Mubadalah.id – Hari Mahabbah selalu membawaku kembali pada satu pertanyaan yang sangat mendasar: sebenarnya, apa yang membuat dua manusia layak berjalan bersama seumur hidup?
Hari Mahabbah (Hari Kasih Sayang) merujuk pada peringatan hari pernikahan suci antara Imam Ali bin Abi Thalib dan Sayyidah Fatimah az-Zahra. Peristiwa sakral yang terjadi pada 1 atau 3 Dzulhijjah tahun ke-2 Hijriah ini sering diperingati sebagai lambang cinta kasih sejati dalam Islam.
Di tengah dunia yang sibuk mengukur cinta lewat status sosial, penghasilan, gelar, bahkan “level kehidupan”, kisah Ali bin Abi Thalib dan Fatimah az-Zahra datang seperti cahaya yang pelan-pelan meruntuhkan cara pandang tentang hubungan.
Hanya Ali yang “Setara” untuk Fatimah
“Kalau Ali tidak diciptakan, maka tidak akan ada yang sekufu bagi Fatimah.”
Rasulullah SAW
Saya selalu tertegun setiap kali membaca perkataan Rasulullah terkait hari mahabbah. Sebab Rasulullah SAW tidak berkata bahwa Fatimah membutuhkan laki-laki terkaya. Rasulullah SAW juga tidak berkata bahwa Fatimah harus menikah dengan lelaki paling terpandang secara dunia. Beliau justru menunjuk Ali. Ali yang hidup sederhana. Yang tidak datang membawa istana. Dia yang bahkan harus menjual baju besinya untuk mahar pernikahan.
Namun anehnya, justru laki-laki itulah yang Rasul anggap paling pantas mendampingi perempuan semulia Fatimah. Mengapa? Karena Rasulullah SAW melihat sesuatu yang sering gagal manusia lihat: kualitas jiwa.
Hari ini, manusia terlalu mudah kagum pada pencapaian luar. Kita terpukau pada jabatan, gelar, penghasilan, dan citra sosial. Padahal semua itu bisa hilang dalam satu malam. Karena dunia sangat pandai mengubah keadaan manusia dalam hitungan detik. Tetapi jiwa yang baik akan tetap tinggal.
Dan Ali memiliki itu.
Fatimah Tidak Mencari Dunia dari Ali
Banyak orang mengira cinta besar lahir dari hidup yang mewah. Padahal, rumah Ali dan Fatimah justru penuh dengan keterbatasan. Fatimah menggiling gandum sampai tangannya kasar. Ali bekerja keras dengan hidup yang tidak selalu mudah. Mereka tidak hidup di rumah megah dengan pelayanan berlimpah. Tapi di rumah itulah tumbuh mahabbah.
Namun anehnya, justru dunia terus menangisi cinta mereka sampai hari ini. Karena ternyata, manusia diam-diam tahu: kemewahan tidak selalu melahirkan ketenangan. Sebaliknya, banyak rumah besar berdiri megah sambil menyimpan tangisan yang tidak pernah selesai.
Ali dan Fatimah tidak membangun hubungan di atas gengsi. Mereka membangun rumah dengan iman, kesabaran, dan rasa saling menjaga yang sangat dalam. Tidak pernah sibuk membuktikan siapa yang paling dominan. Mereka juga tidak mengubah pasangan menjadi alat pelampiasan luka hidup. Sebaliknya, mereka saling melindungi dari kerasnya dunia. Dan bukankah itu yang sebenarnya kita cari dari cinta?
Tempat pulang.
Kufu yang Terlalu Sering Disalahpahami
Kini, banyak orang memakai istilah kufu untuk menolak seseorang atas nama “tidak selevel”. Padahal, semakin saya membaca kisah Ali dan Fatimah, semakin saya sadar bahwa kufu bukan tentang kesamaan level hidup. Kufu berbicara tentang arah jiwa. Tentang dua manusia yang sama-sama ingin bertumbuh menuju Allah. Tentang dua orang yang saling menjaga martabat satu sama lain ketika dunia sedang buruk-buruknya.
Sebab apa gunanya pasangan kaya jika lisannya menghancurkan mental kita setiap hari? Apa gunanya pasangan terpandang jika kehadirannya justru membuat rumah terasa seperti ruang perang? Apa gunanya terlihat serasi di mata manusia kalau setiap malam hati kita perlahan mati?
Dan Al-Qur’an menggambarkan hal ini dengan sangat indah:
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan hidup dari jenismu sendiri supaya kamu merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang.”
(QS. Ar-Rum: 21)
Makna Mahabbah: Ketika Cinta Tidak Lagi Tentang “Aku”
Mungkin inilah bagian paling menyakitkan dari kisah mereka: Ali dan Fatimah bukan hanya saling mencintai, mereka saling memahami kedalaman luka masing-masing.
Fatimah tumbuh sebagai putri Rasulullah SAW yang menyaksikan begitu banyak penderitaan dakwah. Ia bukan perempuan yang hanya mengenal kenyamanan hidup. Sementara Ali tumbuh sebagai lelaki yang sejak kecil membersamai perjuangan Nabi dalam kerasnya penolakan manusia.
Mereka sama-sama merasakan luka. Karena itu, mereka tidak datang untuk saling menambah beban. Mereka datang untuk saling menguatkan. Dan mungkin, memang hanya jiwa tertentu yang mampu memahami lelah kita tanpa banyak penjelasan.
Rumah Itu Bernama “Saling”
Aku sangat tersentuh ketika membaca riwayat-riwayat kecil tentang Ali membantu pekerjaan rumah, atau tentang Fatimah yang tetap membersamai suaminya dalam kesederhanaan.
Hubungan mereka terasa sangat manusiawi. Tidak penuh ego, perlombaan kuasa, atau obsesi untuk menjadi lebih tinggi dari pasangan. Mereka berjalan berdampingan. Dan mungkin, di situlah rahasia mengapa cinta mereka terasa begitu abadi. Karena cinta tidak bertahan oleh rasa kagum semata. Cinta bertahan karena dua orang terus memilih untuk saling menjaga, bahkan saat hidup terasa melelahkan.
Barangkali, itulah mengapa dunia terus mengenang kisah mereka. Karena sejatinya, manusia selalu rindu pada cinta yang bukan di atas kepentingan. Cinta yang tidak sibuk menghitung untung-rugi. Cinta yang tidak menjadikan pasangan sebagai proyek kesempurnaan. Melainkan cinta yang membuat seseorang tetap merasakannya bahkan ketika sedang rapuh.
Dan mungkin, di situlah makna kufu yang sesungguhnya. Bukan tentang dua manusia yang terlihat paling sempurna di mata dunia. Melainkan dua jiwa yang sama-sama tahu cara menenangkan luka satu sama lain sambil berjalan menuju Allah bersama-sama. []












































