Mubadalah.id – Banyak perempuan diajarkan untuk patuh dan melayani kebutuhan seksual suami karena hal itu dianggap sebagai tugas utama seorang istri.
Menurut pandangan yang diajarkan keluarga, perempuan yang “baik-baik” akan selalu bersedia melakukan hubungan seks ketika suami menginginkannya. Sebaliknya, hanya perempuan yang dianggap “nakal” yang memiliki atau mengungkapkan keinginan seksualnya sendiri.
Kepercayaan ini merugikan kesehatan seksual perempuan.
Pertama, apabila Anda percaya bahwa memikirkan seks adalah hal yang tabu bagi perempuan, Anda tidak akan siap menjalani kehidupan seksual secara aman. Anda mungkin tidak memiliki pengetahuan yang memadai tentang keluarga berencana (KB) maupun cara melindungi diri dari penularan penyakit.
Kedua, sekalipun Anda memiliki informasi mengenai hal tersebut, Anda akan kesulitan membicarakannya dengan pasangan sebelum melakukan hubungan seksual. Anda tidak berani mengungkapkan kebutuhan untuk mencegah kehamilan atau penyakit menular seksual.
Anda juga tidak berani meminta pasangan menggunakan kondom, terutama jika itu adalah hubungan seksual pertama Anda dengannya.
Hal ini terjadi karena pasangan Anda mungkin telah lama dididik untuk menuntut keperawanan, meremehkan atau menghina perempuan yang belum menikah tetapi tidak perawan, serta meyakini bahwa tubuh perempuan adalah milik laki-laki.
Akibatnya, ketika Anda berbicara mengenai kesehatan seksual, pasangan bisa saja menganggap Anda “bukan perempuan baik-baik”, tanpa peduli pada keadaan yang sebenarnya.
Menyerahkan Kepada Pasangan
Ketiga, ketika sudah terlibat dalam hubungan seksual, Anda lebih mungkin menyerahkan seluruh keputusan kepada pasangan. Anda membiarkan pasangan menentukan kapan dan bagaimana hubungan seksual ia lakukan. Apakah akan menggunakan alat kontrasepsi atau tidak, serta apakah pasangan akan setia atau justru berhubungan dengan perempuan lain.
Situasi tersebut meningkatkan risiko penularan penyakit melalui hubungan seksual. Sementara Anda wajib melayani setiap keinginan seksual pasangan, Anda justru tidak boleh menikmati hubungan seksual itu sendiri. Anda tidak mendapatkan ruang untuk menyampaikan cara atau bentuk hubungan yang Anda sukai.
Bahkan sebagai istri, Anda masih bisa mereka anggap “bukan perempuan baik-baik” apabila menjadi pihak yang terlebih dahulu mengajak berhubungan seks. []
*)Sumber Tulisan: Buku Bila Perempuan Tidak Ada Dokter karya A. August Bruns dkk hlm 240.





































