Mubadalah.id – Seorang mahasiswa boleh berkata, “Aku capek kuliah.” Seorang pekerja boleh mengeluh karena jenuh dengan rutinitas kantor. Kita juga sering memilih rebahan seharian, menunda pekerjaan, atau mengambil jeda ketika energi terkuras. Tidak banyak orang mempertanyakan nilai diri kita karena hal-hal itu. Namun, izin untuk merasa lelah dan bosan tampaknya belum sepenuhnya dimiliki oleh penyandang disabilitas.
Coba perhatikan kolom komentar di media sosial seorang difabel. Ketika mereka mengunggah foto saat bekerja, kuliah, nongkrong di kafe, atau sekadar menikmati sore sambil membaca buku, komentar yang muncul sering kali bernada serupa. “Masyaallah, semangat banget.” “Keren, Kak. Jadi inspirasi.” “Kalau dia saja bisa, masa kita enggak?”
Sekilas, tidak ada yang salah. Orang-orang ingin memberi apresiasi. Namun, di balik pujian itu, tersimpan pertanyaan yang jarang kita ajukan: mengapa aktivitas sehari-hari tampak luar biasa ketika dilakukan oleh difabel?
Pergi ke kampus kita sebut heroik. Pekerjaan biasa kita anggap prestasi yang melampaui batas. Kehidupan difabel seolah harus selalu menghadirkan pelajaran moral bagi orang lain. Tanpa sadar, kita lebih sering menempatkan mereka sebagai objek belas kasihan atau sumber inspirasi ketimbang melihat mereka sebagai manusia biasa dengan seluruh kerumitan hidupnya.
Padahal, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan sekitar 1,3 miliar orang atau satu dari enam penduduk dunia hidup dengan disabilitas. WHO juga menegaskan bahwa disabilitas merupakan bagian dari pengalaman manusia. Hambatan terbesar yang mereka hadapi sering kali bukan kondisi tubuh, melainkan stigma, diskriminasi, dan lingkungan yang tidak aksesibel.
Indonesia pun menghadapi persoalan serupa. Data Potret Penyandang Disabilitas di Indonesia: Hasil Long Form SP2020 dari Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa penyandang disabilitas masih menghadapi kesenjangan dalam pendidikan, partisipasi kerja, dan mobilitas sosial. Dengan kata lain, tantangan yang mereka hadapi tidak lahir dari tubuh semata, tetapi juga dari cara masyarakat menyusun relasi sosial yang belum sepenuhnya inklusif.
Inspirasi yang Menutupi Kerentanan
Dalam perspektif Mubadalah, kondisi ini perlu kita baca sejak awal melalui nilai makruf, keadilan, dan ketersalingan. Sebab, persoalannya bukan sekadar tentang cara kita memuji difabel, melainkan tentang relasi seperti apa yang sedang kita bangun. Apakah relasi itu memuliakan martabat manusia atau justru membebani salah satu pihak dengan ekspektasi yang tidak adil?
Aktivis disabilitas asal Australia, Stella Young, menyebut fenomena ini sebagai inspiration porn. Dalam pidato TED-nya, ia mengkritik kebiasaan masyarakat yang menjadikan kehidupan difabel sebagai sumber inspirasi bagi orang nondifabel. Stella berkata:
“We’re not here for your inspiration.” Kami tidak hadir untuk menjadi inspirasi bagi Anda.
Pernyataan itu bukan bentuk penolakan terhadap apresiasi. Stella mengajak kita memeriksa alasan di balik kekaguman tersebut. Mengapa seseorang kita sebut menginspirasi hanya karena ia menjalani hidupnya? Mengapa kita begitu mudah merayakan ketangguhan difabel, tetapi canggung ketika mereka menunjukkan kerentanan?
Kita memberi tepuk tangan atas pencapaian mereka, tetapi sering kali kehilangan empati ketika mereka mengeluh, kehilangan motivasi, atau memilih berhenti sejenak. Padahal, difabel juga dapat bosan menjalani terapi, jenuh menghadapi pertanyaan yang terus-menerus menyinggung disabilitasnya, marah ketika berhadapan dengan fasilitas yang tidak aksesibel, atau kecewa karena harus berjuang lebih keras untuk mendapatkan hak yang seharusnya setara. Semua emosi itu tidak mengurangi martabat mereka sebagai manusia.
Stella Young bahkan mengingatkan bahwa, “No amount of smiling at a flight of stairs has ever made it turn into a ramp.” Tidak ada senyum sebanyak apa pun yang dapat mengubah tangga menjadi jalur landai. Semangat memang penting, tetapi semangat tidak memperbaiki trotoar yang rusak. Motivasi tidak mengubah gedung bertangga menjadi ramah kursi roda. Optimisme pribadi tidak dapat menggantikan tanggung jawab sosial.
Hak untuk Bosan adalah Hak atas Keadilan
Di sinilah kita perlu membicarakan hak untuk bosan sebagai persoalan keadilan. Banyak orang dapat mengeluh tentang pekerjaan, kehilangan semangat, atau beristirahat tanpa takut dianggap gagal. Mereka tetap diterima sebagai manusia yang utuh. Sebaliknya, banyak difabel terus memikul tuntutan untuk membuktikan bahwa mereka tangguh, mandiri, produktif, dan pantas dihargai. Kesempatan untuk menjadi biasa seolah berubah menjadi kemewahan.
Ketidakadilan muncul ketika masyarakat memberi ruang bagi kerentanan dirinya sendiri, tetapi menolak kerentanan yang sama pada orang lain. Kita menerima kegagalan sebagai bagian dari proses hidup, tetapi berharap difabel selalu tampil dalam versi terbaiknya. Kita mengizinkan diri untuk lelah, sementara mereka harus terus tampak kuat.
Hak untuk menjalani hari-hari biasa tidak semestinya bergantung pada kemampuan seseorang untuk menginspirasi orang lain. Hak untuk bosan juga merupakan hak untuk menjadi manusia.
Membaca dengan Lensa Makruf dan Mubadalah
Dalam kerangka makruf, situasi ini patut kita kritisi. Makruf bukan sekadar niat baik atau ungkapan positif. Makruf menuntut kebaikan yang benar-benar menjaga martabat manusia dan tidak melahirkan mudarat. Pujian kehilangan maknanya ketika berubah menjadi tekanan. Kekaguman tidak lagi menghadirkan kebaikan apabila membuat seseorang merasa harus menyembunyikan lelah demi memenuhi harapan orang lain.
Keadilan pun tidak cukup kita pahami sebagai perlakuan yang seragam. Keadilan berarti memberikan ruang yang setara bagi setiap orang untuk menjadi manusia seutuhnya. Jika kita mengakui bahwa bosan, lelah, dan tidak produktif merupakan bagian dari pengalaman hidup kita sendiri, maka kita juga perlu mengakui hak yang sama bagi difabel. Mereka tidak perlu membayar pengakuan sosial dengan menunjukkan ketangguhan tanpa henti.
Sementara itu, mubadalah mengajak kita membangun relasi yang setara dan saling menguatkan. Difabel bukan objek belas kasihan. Mereka juga bukan mesin inspirasi yang terus bekerja demi memenuhi kebutuhan emosional orang lain. Mereka adalah subjek yang memiliki pengalaman hidup, kemampuan, harapan, serta kerentanan yang sama berharganya dengan siapa pun.
Adakalanya mereka memberi dukungan. Pada kesempatan lain, mereka membutuhkan dukungan. Kadang mereka tampak kuat. Pada waktu yang berbeda, mereka berhak merasa rapuh. Ketersalingan menuntut kita hadir sebagai sesama manusia, bukan sebagai penonton yang hanya datang untuk bertepuk tangan.
Duduk Sejajar sebagai Sesama Manusia
Barangkali, persoalannya bukan karena kita terlalu sedikit menghargai difabel. Bisa jadi, kita terlalu sibuk mengagumi mereka hingga lupa memperlakukan mereka sebagai manusia biasa. Kita menyediakan panggung, tetapi lupa menyediakan tempat duduk di samping kita.
Padahal, penghormatan yang paling tulus tidak selalu hadir dalam bentuk pujian. Terkadang, penghormatan hadir ketika kita membiarkan seseorang berkata, “Aku sedang lelah,” lalu menjawabnya dengan empati, bukan tuntutan untuk tetap kuat.
Menyandang disabilitas tidak harus menjadi luar biasa untuk dianggap berharga. Mereka berhak merasa bosan, lelah, kehilangan semangat, dan menjalani hari-hari yang biasa saja tanpa harus membuktikan nilainya kepada siapa pun.
Sebab, hak untuk bosan bukan sekadar hak untuk beristirahat. Hak itu merupakan pengakuan paling mendasar bahwa difabel, seperti kita semua, berhak menjadi manusia seutuhnya. []
*)Artikel ini merupakan hasil dari kegiatan mubadalah goes to community kerjasama media mubadalah dengan UIN kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo pada 11-12 Juni 2025









































