Senin, 25 Oktober 2021
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina

Kejantanan dan Kesucian

Baca Juga:

Perubahan cara pandang atas kedirian manusia yang diajarkan Islam berpengaruh pada perubahan cara pandang atas beberapa konsep. Dua di antaranya adalah konsep kejantanan dan kesucian.

Ketika manusia hanya dipandang sebatas makhluk fisik, maka standar dua konsep ini juga sebatas biologis. Kejantanan diukur oleh sekuat apa seseorang bisa menyalurkan syahwat libidonya. Sementara kesucian diukur oleh utuh tidaknya alat kelamin secara fisik.

Dalam cara pandang seperti ini, laki-laki dibuat terobsesi untuk menaklukkan sebanyak mungkin perempuan supaya jantan. Sebaliknya, perempuan dituntut untuk mempunyai selaput dara seutuh mungkin sebagai bukti kesuciannya.

Laki-laki dituntut untuk gas pol dengan libidonya. Sebaliknya, perempuan disalahkan saat selaput dara robek karena terbentur stang ketika belajar naik sepeda atau bahkan saat robek karena dipaksa menjadi sasaran gaspolnya laki-laki.

Islam mengubah cara pandang ini. Berbeda dengan hewan, manusia dikaruniai akal dan hati. Bahkan dimensi non fisik yakni intelektual dan spiritual manusia ini justru menjadi jati diri mereka yang utama.

Nilai kualitas manusia bukan ditentukan oleh jenis kelamin yang bersifat fisik itu, melainkan oleh ketakwaan yang bersifat intelektual sekaligus spiritual.

Takwa adalah menggunakan akal budi semaksimal mungkin dalam setiap tindakan agar memberikan kemaslahatan bagi diri sendiri dan pihak lain seluas-luasnya atas dasar iman kepada Allah.

Kejantanan dengan demikian tidak ditentukan oleh sekuat apa mampu menyalurkan libidonya, melainkan sebaliknya oleh sekuat apa mampu mengendalikannya.

Yakni sekuat apa mampu menyalurkannya tidak hanya secara halal, melainkan juga secara baik (thayyiban) lagi pantas (ma’rufan).

Demikian pula kesucian tidak ditentukan oleh utuh tidaknya alat kelamin secara fisik, melainkan oleh sekuat apa mampu mengendalikannya.

Yakni sekuat apa mampu menggunakannya tidak hanya secara halal, tetapi juga secara baik (thayyiban) lagi pantas (ma’rufan).

Hanya dengan cara yang bermartabat seperti inilah laki-laki dan perempuan mampu memberi kemaslahatan pada diri sendiri dan pihak lain seluas-luasnya dalam melakukan aktifitas secara seksual.

Laki-laki dan perempuan yang beriman sama-sama diminta untuk menjaga alat kelamin atau mengontrol libido (hifdhul furuj) dengan baik. Kapankah? Sepanjang hidup, baik saat jomblo maupun ketika memiliki suami atau istri. Bismillah.[]

Nur Rofiah

Nur Rofiah

Nur Rofi'ah adalah alumni Pesantren Seblak Jombang dan Krapyak Yogyakarta, mengikuti pendidikan tinggi jenjang S1 di UIN Suka Yogyakarta, S2 dan S3 dari Universitas Ankara-Turki. Saat ini, sehari-hari sebagai dosen Tafsir al-Qur'an di Program Paskasarjana Perguruan Tinggi Ilmu al-Qur'an (PTIQ) Jakarta, di samping sebagai narasumber, fasilitator, dan penceramah isu-isu keislaman secara umum, dan isu keadilan relasi laki-laki serta perempuan secara khusus.

Terkait Posts

Discussion about this post

Selamat Datang!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Add New Playlist