Mubadalah.id – “Minta tolong suami belanja daun jeruk, eh, dia beli sekilo” atau “Minta tolong suami ngepel lantai, eh, yang ia ambil malah sabun cuci piring.” Dan masih cerita sejenisnya barangkali pernah lewat di beranda media sosial kita. Awalnya kita mungkin mengira ini konten parodi atau lelucon saja. Tapi waktu buka kolom komentar kok ternyata banyak yang merasa relate, ya? Apa yang sebenarnya terjadi?
Konten-konten sejenis, terlebih jika terinspirasi dari realita, sebenarnya sedang menunjukkan kepada kita tentang kegagapan laki-laki di ruang domestik dan ruang kerja perawatan yang sayangnya telah menjadi gejala umum. Hal ini berakar dari sistem yang telah lama meminggirkan laki-laki dari peran domestik serta kerja perawatan
Betapa sering kita melihat, mendengar atau mengalami sendiri di tengah acara kumpul keluarga, para laki-laki asik berbincang di ruang keluarga. Sementara para perempuan sibuk memperiapkan segala hidangan di dapur. Kita juga kerap melihat bagaimana pendidikan keluarga kepada anak perempuan untuk lekas belajar mengurus keperluan domestik. Tujuannya demi anggapan ia layak mendampingi seorang laki-laki. Sedangkan tuntutan kepada laki-laki tak lebih dari menjadi sosok ‘bertanggung jawab’, yang tafsirnya bisa semena-mena.
Anggapan bahwa ruang domestik adalah ruang konsumsi bagi laki-laki, sehingga ia tak perlu melakukan pekerjaan di dalamnya. Ini adalah bagian dari segregasi gagasan dari sistem kapitalis. Sebab dalam sistem kapitalis, tenaga kerja adalah komoditas. Dalam hal ini, tenaga laki-laki merupakan komoditas yang harus dapat bekerja produktif supaya laku di pasar.
Untuk itu, ia butuh “kita reproduksi” setiap hari dengan kita beri makan, pakaian bersih, dan ketenangan mental. Langkah ini semata untuk menjamin supaya ketenangan dapat memperkaya pemodal kembali esok hari. Oleh karenanya, kerja yang kita anggap tak secara langsung relevan dengan kebutuhan industri, seperti kerja perawatan, dianggap bukan pekerjaan yang penting untuk laki-laki lakukan.
Institusi Asimetris
Kondisi ini kemudian menciptakan apa yang disebut oleh Irene van Staveren, seorang pemikir pluralis ekonomi, sebagai institusi asimetris. Di mana kondisi ini menguntungkan satu pihak daripada dengan pihak lain.
Dalam institusi rumah tangga, hal ini kerap terjadi karena kerja domestik dan perawatan tidak terhitung sebagai pekerjaan, atau dianggap tidak ada. Padahal, jika kita masukkan dalam perhitungan PDB, nilai ekonomi kerja domestik dan perawatan dapat menyentuh angka 45-75% dari total PDB. (Sumber: Economics after the Crisis: An Introduction to Economics from a Pluralist Perspective. 2015.)
Ketidakadilan sistemik di atas kemudian juga turut termanfaatkan oleh sebagian besar (untuk tidak mengatakan semua) laki-laki melalui “weaponized incompetence” atau menggunakan inkompetensi sebagai senjata. Kalimat-kalimat seperti “aku nggak bisa masak” atau “aku nggak bisa bersih kalau cuci baju” atau “aku nggak paham urusan anak” dan lain-lain. Mereka gunakan kalimat itu untuk menghindarkan diri mereka dari kerja perawatan dan domestik.
Sebuah studi menunjukkan bahwa laki-laki dari berbagai kelas sosial menggunakan cara ini sebagai strategi untuk menghindar dari tanggung jawab rumah tangga (Journal of Marriage and Family – Wiley Online Library).
Perubahan struktural dari kondisi ini dapat kita mulai dengan menyadari dan secara aktif mendefinisikan segala hal yang dapat kita delegasikan kepada orang ketiga sebagai kerja (Irene Van Staveren, 2015). Dengan demikian, kita jadi (terpaksa) mengakui bahwa memasak, merawat anak/lansia, mencuci, termasuk berbelanja sayur di pasar adalah bentuk pekerjaan. Bukan pengorbanan tanpa pamrih.
Konsekuensi dari pengakuan ini bisa sangat radikal, sebab jika hal-hal tersebut di atas adalah ‘kerja’, maka kegagapan laki-laki di dalamnya bukan lagi sekadar bumbu komedi rumah tangga, atau kondisi normal yang biasa terjadi di mana-mana. Akan tetapi bentuk inkompetensi profesional yang perlu diperbaiki.
Maka selanjutnya, kita dapat menghentikan siklus inkompetensi tersebut melalui hal-hal kecil. Seperti mendelegasikan pekerjaan secara adil, hingga melakukan training untuk meningkatkan skill demi mengupgrade kemampuan penghuni rumah yang memiliki tanggung jawab bersama. Persis seperti yang kita lakukan di kantor saat ada kebutuhan peningkatan skill pekerja. []










































