Minggu, 19 Juli 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Sejarah Prancis

    Runtuhnya Bastille dan Hipokrisi Egalite: Membaca Sejarah Prancis melalui Lensa Mubadalah

    Kekerasan di Sampang

    Lubang Perlindungan Perempuan; Akar Kekerasan di Sampang dan Pesan Fatwa KUPI

    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

    Pemadaman Listrik

    Pemadaman Listrik Bergilir: Ironi Negara Eksportir Batu Bara

    Suporter Jepang

    Kritik untuk Suporter Jepang di Piala Dunia 2026: Cuitan Warganet, Sentilan Aristoteles

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Zakat

    Bolehkah Zakat Diberikan Kepada Penyintas Kekerasan?

    Kepemimpinan Beragam Gender

    Lebih Beragam, Lebih Hijau: Mengubah Dunia Lewat Kepemimpinan Beragam Gender

    Memahami Islam

    Sudah Saatnya Memahami Islam sebagai Sumber Inspirasi

    Poskolonialisme

    Aroma Poskolonialisme di Final Piala Dunia 2026: Albiceleste Kontra La Roja

    Militerisasi

    Menyoal Militerisasi Tata Kelola Koperasi Desa

    Lagu Teh Hijau

    Lagu Teh Hijau Karya Tulus dan Seni Merayakan Kehampaan bagi Perempuan

    Hukum Adat Bali

    Karang Memadu: Bukti Hukum Adat Bali Melindungi Perempuan

    Pemberian

    Ketika Sebuah Pemberian Menjadi Tanda Kepedulian

    Nikah Sirri

    Enam Langkah Cerai Sirri bagi Perempuan yang Terjebak Nikah Sirri

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    HIV Menular

    HIV Menular Melalui Apa Saja? Cek Fakta dan Mitosnya

    Apa itu AIDS

    Apa itu AIDS?

    Apa itu HIV

    Apa itu HIV?

    Jalan Kebahagiaan

    Menggapai As-Sa’adah: Jalan Kebahagiaan Menurut Imam al-Ghazali

    HIV

    Mengapa Perempuan Lebih Rentan Tertular HIV?

    AIDS

    Jangan Percaya Mitos, Kenali Fakta tentang HIV dan AIDS

    Mencegah Penyakit Menular Seksual

    Membangun Kesadaran Masyarakat untuk Mencegah Penyakit Menular Seksual

    Pengobatan Penyakit Menular

    Tips Menjalani Pengobatan Penyakit Menular Seksual agar Tidak Menulari Pasangan

    Penyakit Menular

    7 Cara Mencegah Penyebaran Penyakit Menular Seksual di Masyarakat

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Sejarah Prancis

    Runtuhnya Bastille dan Hipokrisi Egalite: Membaca Sejarah Prancis melalui Lensa Mubadalah

    Kekerasan di Sampang

    Lubang Perlindungan Perempuan; Akar Kekerasan di Sampang dan Pesan Fatwa KUPI

    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

    Pemadaman Listrik

    Pemadaman Listrik Bergilir: Ironi Negara Eksportir Batu Bara

    Suporter Jepang

    Kritik untuk Suporter Jepang di Piala Dunia 2026: Cuitan Warganet, Sentilan Aristoteles

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Zakat

    Bolehkah Zakat Diberikan Kepada Penyintas Kekerasan?

    Kepemimpinan Beragam Gender

    Lebih Beragam, Lebih Hijau: Mengubah Dunia Lewat Kepemimpinan Beragam Gender

    Memahami Islam

    Sudah Saatnya Memahami Islam sebagai Sumber Inspirasi

    Poskolonialisme

    Aroma Poskolonialisme di Final Piala Dunia 2026: Albiceleste Kontra La Roja

    Militerisasi

    Menyoal Militerisasi Tata Kelola Koperasi Desa

    Lagu Teh Hijau

    Lagu Teh Hijau Karya Tulus dan Seni Merayakan Kehampaan bagi Perempuan

    Hukum Adat Bali

    Karang Memadu: Bukti Hukum Adat Bali Melindungi Perempuan

    Pemberian

    Ketika Sebuah Pemberian Menjadi Tanda Kepedulian

    Nikah Sirri

    Enam Langkah Cerai Sirri bagi Perempuan yang Terjebak Nikah Sirri

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    HIV Menular

    HIV Menular Melalui Apa Saja? Cek Fakta dan Mitosnya

    Apa itu AIDS

    Apa itu AIDS?

    Apa itu HIV

    Apa itu HIV?

    Jalan Kebahagiaan

    Menggapai As-Sa’adah: Jalan Kebahagiaan Menurut Imam al-Ghazali

    HIV

    Mengapa Perempuan Lebih Rentan Tertular HIV?

    AIDS

    Jangan Percaya Mitos, Kenali Fakta tentang HIV dan AIDS

    Mencegah Penyakit Menular Seksual

    Membangun Kesadaran Masyarakat untuk Mencegah Penyakit Menular Seksual

    Pengobatan Penyakit Menular

    Tips Menjalani Pengobatan Penyakit Menular Seksual agar Tidak Menulari Pasangan

    Penyakit Menular

    7 Cara Mencegah Penyebaran Penyakit Menular Seksual di Masyarakat

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Figur

Membicarakan Sosok Rato Ebu dalam Sejarah Perempuan Madura

Rato Ebu adalah perempuan yang bahkan telah mencapai derajat yang dipandang oleh para sufi sebagai wali.

Moh. Rivaldi Abdul by Moh. Rivaldi Abdul
7 Agustus 2025
in Figur, Rekomendasi
A A
0
Sejarah Perempuan Madura

Sejarah Perempuan Madura

45
SHARES
2.2k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Rato Ebu (atau Ebhu) menjadi simbol kekuatan religiusitas perempuan Madura. Begitu kata Hasanatul Jannah dalam buku Ulama Perempuan Madura. Makam sosok perempuan ini bahkan, tidak hanya sekadar menjadi situs cagar budaya di Sampang, lebih dari itu termasuk makam yang masyarakat Madura keramatkan.

Sejauh penelusuran saya, ada beberapa pandangan, yang bahkan saling bertentangan, perihal sosok Rato Ebu.

Ada yang bilang, Rato Ebu adalah istri dari Pangeran Praseno (Cakraningrat I). Dalam versi ini, sosok Rato Ebu merujuk pada Syarifah Ambami, yang merupakan seorang perempuan keturunan Sunan Giri.

Versi lain justru mengatakan, Rato Ebu adalah ibu dari Pangeran Praseno. Dalam versi ini, sosok Rato Ebu merujuk pada Nyai Ageng Mamah, istri dari penguasa Kerajaan Arosbaya (Madura Barat) yang bernama Raden Koro.

Meski ada perbedaan pandangan sejarah terkait sosok Rato Ebu, namun semua mengarah pada dirinya sebagai leluhur yang orang Madura muliakan dan keramatkan. Sosok perempuan, yang sebagaimana Jannah, menjadi simbol religiusitas perempuan Madura.

Rato Ebu sendiri pada dasarnya bukan nama seorang perempuan. Ini merupakan gelar untuk seorang perempuan. Rato dalam makna lokal berarti raja atau ratu, dan ebu merupakan peringkasan dari ebunda yang berarti ibu. Jadi, Rato Ebu dapat berarti ibu ratu atau ibu raja. Dapat pula berarti raja ibu di mana kata ibu merujuk pada sosok perempuan.

Pengertian yang pertama bermakna seorang perempuan yang menjadi ibu (pendidik) para penguasa Madura. Dan, yang kedua bermakna seorang perempuan yang memiliki peran sebagai penguasa Madura. Dua makna Rato Ebu ini sama-sama memiliki jejak historis dalam sejarah Madura.

Derajat Spiritualitas Rato Ebu

Berbagai sumber sejarah perempuan Madura menggambarkan Syarifah Ambami sebagai sosok perempuan dengan kematangan spiritual yang tinggi. Perempuan yang takwa dan tekun beribadah pada Tuhan-nya. Yang selalu setia pada suaminya. Yang tidak henti zikir dan doanya kepada Allah SWT siang dan malam. Penggambaran ini tidak lepas dari sosoknya, yang menjadi simbol kekuatan religiusitas perempuan Madura.

Banyak cerita menarik tentangnya. Di antaranya, sebagaimana cerita yang Khoirotun Nisa tuliskan dalam artikel berjudul “Pemerintahan Pangeran Cakraningrat I di Sampang Tahun 1624-1648.”

Sewaktu Pangeran Praseno berada di Mataram, Syarifah Ambami sering melakukan halwat berupa tirakat, menahan lapar, dan kantuk. Ia senantiasa berzikir kepada Allah SWT. Cerita ini merupakan penggambaran Rato Ebu sebagai perempuan yang menjaga kesucian dirinya.

Sebagaimana kita tahu, sebab intervensi Sultan Agung atas Madura yang begitu kuat, Pangeran Praseno harus menetap di Mataram, meski statusnya adalah penguasa Madura. Dalam kondisi ini, Rato Ebu digambarkan sebagai perempuan yang menjaga kesucian dirinya sebagai istri Cakraningrat.

Rato Ebu yang senantiasa melakukan tirakat kemudian mengalami mimpi bertemu Nabi Khidir AS. Di kalangan orang-orang sufi, pertemuan dengan Khidir merupakan bagian dari gambaran ketinggian derajat kesufian. Ini berarti, adanya cerita Rato Ebu bermimpi bertemu Nabi Khidir, pada dasarnya ingin menjelaskan bahwa ia bukan perempuan Muslim biasa.

Rato Ebu adalah perempuan yang bahkan telah mencapai derajat yang oleh para sufi pandang sebagai wali. Derajat kesufian yang tidak semua sufi, baik laki-laki maupun perempuan, mampu mencapainya.

Ibu bagi Generasi Pemimpin Madura

Dalam mimpi itu, Nabi Khidir bertanya perihal keinginan Syarifah Ambami. Ia pun menjawab bahwa, ia ingin Allah SWT memperkenankan anak-anaknya menjadi pemimpin kerajaan sampai tujuh turunan.

Di sini, cerita Rato Ebu bermimpi bertemu Nabi Khidir menjelaskan dirinya sebagai sosok yang mampu membesarkan para pemimpin Madura. Keinginannya bukan pada kemewahan dunia, tapi pada kehidupan yang baik bagi generasi penerusnya. Hal ini menjadikan dirinya memang pantas untuk gelar Rato Ebu, yang secara luas dapat bermakna ibu bagi para raja dan masyarakat Madura.

Jika pendapat umum menjelaskan Raden Praseno sebagai awal lahirnya klan Cakraningrat, yang menjadi penguasa Pulau Madura. Dalam konteks penyiapan generasi selanjutnya, cerita di atas menggambarkan peran penting Rato Ebu. Tanpanya, tidak akan ada sosok Pangeran Undagan (Cakraningrat II), Demang Melakusuma (kakak Cakraningrat II dan ayah dari Trunojoyo), dan generasi-generasi Cakraningrat selanjutnya hingga Cakra Dininggrat.

Dalam hal ini, Rato Ebu adalah ibu bagi para pemimpin Madura. Kelampauannya menjelaskan betapa penting posisi perempuan dalam menyiapkan generasi penerus yang baik.

Peran sebagai Penguasa Madura

Rato Ebu dalam makna perempuan yang punya peran sebagai penguasa Madura, juga menarik untuk kita diskusikan.

Pasca perang Mataram tahun 1624, Sultan Agung dapat kita katakan telah berhasil menguasai Madura. Untuk menjalankan pemerintahan di wilayah ini, penguasa Mataram itu menunjuk Pangeran Praseno sebagai Raja Madura dengan gelar Cakraningrat.

Penunjukan Pangeran Praseno hanya taktik politis Sultan Agung. Penguasa Mataram itu tidak ingin Cakraningrat berlama-lama di Madura. Mungkin takut, jangan-jangan dapat memantik kembali semangat perjuangan masyarakat Madura. Oleh karena itu, Sultan Agung memanggil Cakraningrat untuk tetap berada di ibu kota Mataram.

Pada titik ini, kita menemukan dua narasi sejarah yang berbeda perihal posisi Rato Ebu tatkala Cakraningrat tidak berada di Madura. Ada yang bilang ia larut dalam kesedihan. Versi sejarah lain mengatakan, ia mengambil peran sebagai penguasa menggantikan posisi suaminya yang kosong.

Versi sejarah yang pertama mengatakan bahwa, paman Cakraningrat (Pangeran Sentomerto) yang mendapat amanah untuk menjadi wakilnya selama ia bertugas di Mataram. Lantas, di mana Rato Ebu ketika itu?

Dalam versi ini, sebagaimana Mas Gagah Prama Wibawa dalam “Kepurbakalaan Makam Raja-raja Islam di Arosbaya, Bangkalan, Madura,” Rato Ebu memilih bertapa di Desa Buduran. Ia larut dalam kesedihan. Menjadi pendiam. Meratapi nasib. Hingga, menutup mata di tempat pertapaannya.

Jannah dalam bukunya memberi narasi sejarah yang berbeda. Dalam buku yang fokus membahas ulama perempuan Madura itu, dengan penjelasan yang terbatas, ia memberi interpretasi sejarah yang tidak menjelaskan Rato Ebu sebagai perempuan yang larut dalam kesedihan. Sebaliknya, Rato Ebu mengambil peran Cakraningrat di Madura hingga wafatnya. Ia menjadi perempuan yang mengisi jalannya sejarah penguasa Madura.

Rato Ebu di antara Tafsir Sejarah

Versi sejarah bahwa Rato Ebu menetap dan menjalankan peran Cakraningrat di Madura, merupakan interpretasi historis dengan pendekatan yang tidak meminggirkan peran perempuan. Memang tanpa dukungan data sejarah yang memadai, kita akan sulit menyatakan tafsir sejarah ini sebagai yang lebih benar.

Namun versi yang mengatakan Rato Ebu larut dalam kesedihan hingga wafat, juga tidak sepenuhnya benar. Pandangan itu sangat lekat dengan paradigma yang memandang perempuan sebagai makhluk lemah, yang tidak mampu menjalankan peran sebagai penguasa.

Pandangan itu juga tidak sepenuhnya salah, sebab sebagai manusia yang berstatus istri Cakraningrat, bagaimanapun Rato Ebu punya kesedihan ketika ia tidak bisa bersama suaminya di Madura. Namun begitu, selarut-larutnya Rato Ebu dalam kesedihan, ia adalah istri penguasa Madura.

Perempuan keturunan Sunan Giri, yang diceritakan punya kematangan spiritual yang tinggi. Mengatakan ia hanya terlelap dalam kesedihan hingga wafat dan tanpa berbuat apa-apa, jelas sangat bertentangan dengan penggambaran karakter dirinya.

Rato Ebu boleh jadi sedih mengingat Cakraningrat tertawan di Mataram, dan dalam kesedihan itu ia tetap memiliki peran dalam masyarakat. Peran-peran moral sebagai istri penguasa Madura di tengah masyarakat. Peran-peran yang membuat dirinya terkenang sebagai simbol kekuatan religiusitas perempuan Madura. Bahkan, hingga hari ini, petilasannya masih menjadi simbol keramat bagi masyarakat Madura. []

Tags: HerstoryPenulisan Sejarah PerempuanPerempuan MaduraRato EbuSejarah PerempuanSyarifah Ambami
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Tragedi Perkosaan Massal 1998 dalam Empat Novel

Next Post

Ingin Anak Saleh dan Salehah? Ayah dan Ibu Berdoa Sejak dalam Kandungan

Moh. Rivaldi Abdul

Moh. Rivaldi Abdul

S1 PAI IAIN Sultan Amai Gorontalo pada tahun 2019. S2 Prodi Interdisciplinary Islamic Studies Konsentrasi Islam Nusantara di Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Sekarang, menempuh pendidikan Doktoral (S3) Prodi Studi Islam Konsentrasi Sejarah Kebudayaan Islam di Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Related Posts

Sejarah Penyebaran Islam
Publik

Histori yang Minim Her-story: Membaca Ulang Sejarah Penyebaran Islam di Nusantara Melalui Jalur Perkawinan

24 Februari 2026
Sejarah Ulama Perempuan
Personal

Membongkar Sejarah Ulama Perempuan, Dekolonialisme, dan Ingatan yang Terpinggirkan

15 Agustus 2025
Melawan Lupa
Publik

Perempuan Melawan Lupa terhadap Upaya Penghapusan Sejarah

29 Juli 2025
Sejarah Ulama Perempuan
Publik

Menguatkan Peran Ibu Nyai Pesantren dengan Penulisan Ulang Sejarah Ulama Perempuan

20 Juli 2025
Sejarah Ulama Perempuan
Pernak-pernik

Sejarah Ulama Perempuan yang Membisu dalam Bayang-bayang Kolonialisme Ekonomi

8 Juli 2025
Sejarah Indonesia
Publik

Dari Androsentris ke Bisentris Histori: Membicarakan Sejarah Perempuan dalam Penulisan Ulang Sejarah Indonesia

27 Juni 2025
Next Post
Ibu Berdoa

Ingin Anak Saleh dan Salehah? Ayah dan Ibu Berdoa Sejak dalam Kandungan

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • HIV Menular Melalui Apa Saja? Cek Fakta dan Mitosnya
  • Apa itu AIDS?
  • Runtuhnya Bastille dan Hipokrisi Egalite: Membaca Sejarah Prancis melalui Lensa Mubadalah
  • Bolehkah Zakat Diberikan Kepada Penyintas Kekerasan?
  • Apa itu HIV?

Komentar Terbaru

  • Nur Fadiah Anisah pada Memaknai Jargon The Personal is Political: Kecemasan Kita Ternyata Diproduksi Negara!
  • Zikri Alvi Muharam pada Takut Kok Sama “Pesta Babi”
  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0