Kamis, 2 Juli 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

    Pemadaman Listrik

    Pemadaman Listrik Bergilir: Ironi Negara Eksportir Batu Bara

    Suporter Jepang

    Kritik untuk Suporter Jepang di Piala Dunia 2026: Cuitan Warganet, Sentilan Aristoteles

    Slut Shaming

    Slut Shaming: Ruang Digital tidak Ramah Terhadap Perempuan Kritis

    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Feminisme: Kala Perempuan Tak Melulu Menjadi Penghibur

    Aliansi Perempuan Indonesia

    Aliansi Perempuan Indonesia Turun ke Jalan Tolak Kenaikan Harga

    In This Economy

    In This Economy, Perempuan dengan Satu Penghasilan Adalah Kemewahan

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Memaknai Mahar

    Memaknai Mahar sebagai Penghormatan, Bukan Pembelian

    ToT KUPI

    ToT KUPI: Memahami Jejak Keulamaan Perempuan hingga Anatomi Gerakan KUPI

    Budaya FOMO

    Bahaya Budaya FOMO dalam Meningkatkan Sampah

    Quiet Quitting

    Quiet Quitting dalam Pernikahan: Ketika Pasangan Masih Serumah, tetapi Berhenti Saling Mengusahakan

    Ensiklik Magnifica Humanitas

    AI dan Martabat: Refleksi atas Ensiklik Magnifica Humanitas

    Hukum Transaksi Finansial bagi Disabilitas

    Bagaimana Hukum Transaksi Finansial bagi Disabilitas dalam Islam

    Kehamilan yang Terencana

    Kehamilan yang Terencana Dimulai dari Kerja Sama Suami-Istri Bersama Aplikasi Flo

    Normalitas dan Disabilitas

    Normalitas dan Disabilitas: Privilege yang Sementara

    Kursi Roda

    Kursi Roda: Tanda Pengenal untuk Sebagian Penyandang Disabilitas

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Aborsi legal

    Sulitnya Akses Aborsi Legal dan Bahaya Praktik Aborsi Ilegal

    Aborsi

    Kapan Aborsi Diperbolehkan? Memahami Ketentuan di Berbagai Negara

    Aborsi

    Aborsi Tidak Aman Mengancam Nyawa: Hindari Cara-cara Berbahaya Ini

    Aborsi Aman

    Aborsi Aman dan Tidak Aman: Memahami Perbedaannya Demi Keselamatan Perempuan

    Aborsi

    Aborsi Bukan Keputusan yang Mudah: Memahami Alasan dan Risikonya

    Keguguran ini

    Mengalami Keguguran? Ini Langkah-langkah yang Perlu Dilakukan Sebelum Program Hamil Lagi

    Rumah Tangga yang

    Membangun Relasi Ekonomi Rumah Tangga yang Adil dan Setara

    Keguguran

    Mengapa Terjadi Keguguran? Kenali Penyebab, Gejala, dan Penanganannya

    Sehat

    Belum Juga Hamil? Perbaiki Pola Hidup Sehat dan Lakukan Pemeriksaan

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

    Pemadaman Listrik

    Pemadaman Listrik Bergilir: Ironi Negara Eksportir Batu Bara

    Suporter Jepang

    Kritik untuk Suporter Jepang di Piala Dunia 2026: Cuitan Warganet, Sentilan Aristoteles

    Slut Shaming

    Slut Shaming: Ruang Digital tidak Ramah Terhadap Perempuan Kritis

    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Feminisme: Kala Perempuan Tak Melulu Menjadi Penghibur

    Aliansi Perempuan Indonesia

    Aliansi Perempuan Indonesia Turun ke Jalan Tolak Kenaikan Harga

    In This Economy

    In This Economy, Perempuan dengan Satu Penghasilan Adalah Kemewahan

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Memaknai Mahar

    Memaknai Mahar sebagai Penghormatan, Bukan Pembelian

    ToT KUPI

    ToT KUPI: Memahami Jejak Keulamaan Perempuan hingga Anatomi Gerakan KUPI

    Budaya FOMO

    Bahaya Budaya FOMO dalam Meningkatkan Sampah

    Quiet Quitting

    Quiet Quitting dalam Pernikahan: Ketika Pasangan Masih Serumah, tetapi Berhenti Saling Mengusahakan

    Ensiklik Magnifica Humanitas

    AI dan Martabat: Refleksi atas Ensiklik Magnifica Humanitas

    Hukum Transaksi Finansial bagi Disabilitas

    Bagaimana Hukum Transaksi Finansial bagi Disabilitas dalam Islam

    Kehamilan yang Terencana

    Kehamilan yang Terencana Dimulai dari Kerja Sama Suami-Istri Bersama Aplikasi Flo

    Normalitas dan Disabilitas

    Normalitas dan Disabilitas: Privilege yang Sementara

    Kursi Roda

    Kursi Roda: Tanda Pengenal untuk Sebagian Penyandang Disabilitas

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Aborsi legal

    Sulitnya Akses Aborsi Legal dan Bahaya Praktik Aborsi Ilegal

    Aborsi

    Kapan Aborsi Diperbolehkan? Memahami Ketentuan di Berbagai Negara

    Aborsi

    Aborsi Tidak Aman Mengancam Nyawa: Hindari Cara-cara Berbahaya Ini

    Aborsi Aman

    Aborsi Aman dan Tidak Aman: Memahami Perbedaannya Demi Keselamatan Perempuan

    Aborsi

    Aborsi Bukan Keputusan yang Mudah: Memahami Alasan dan Risikonya

    Keguguran ini

    Mengalami Keguguran? Ini Langkah-langkah yang Perlu Dilakukan Sebelum Program Hamil Lagi

    Rumah Tangga yang

    Membangun Relasi Ekonomi Rumah Tangga yang Adil dan Setara

    Keguguran

    Mengapa Terjadi Keguguran? Kenali Penyebab, Gejala, dan Penanganannya

    Sehat

    Belum Juga Hamil? Perbaiki Pola Hidup Sehat dan Lakukan Pemeriksaan

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Khazanah Pernak-pernik

Menelusuri Pengaruh Putri Dwarawati dalam Penyebaran Islam di Jawa

Pernikahan Brawijaya V dan Putri Dwarawati tidak hanya membawa langkah sang putri Champa masuk dalam Keraton Majapahit, namun itu juga membawa Islam ke dalam kerajaan yang sangat berpengaruh di Jawa kala itu

Moh. Rivaldi Abdul by Moh. Rivaldi Abdul
13 Juni 2023
in Figur
A A
0
Putri Dwarawati

Putri Dwarawati

29
SHARES
1.4k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Belum banyak yang tahu tentang sosok Putri Dwarawati. Perempuan yang dapat kita katakan sebagai salah seorang pembawa Islam dalam Keraton Majapahit. Kehadiran Putri Dwarawati di tanah Jawa, bahkan mendahului dakwah Sunan Ampel yang merupakan Wali Songo generasi awal.

Tulisan ini tidak bermaksud membandingkan Putri Dwarawati dengan Wali Songo. Perbandingan demikian agak kurang tepat. Sebab, Putri Dwarawati dapat kita katakan merupakan bagian dari jejaring Wali Songo itu sendiri.

Sayangnya, layaknya sosok-sosok perempuan lain yang sebenarnya memiliki andil dalam kesuksesan dakwah Wali Songo, namun nama mereka masih buram dalam panggung sejarah Islam Nusantara, demikian nasib dari sosok yang satu ini.

Selama ini, dalam membaca kiprah jejaring Wali Songo, kita memang lebih fokus menyorot eksistensi para wali dari kalangan laki-laki, dan kurang melek dengan eksistensi para perempuan yang sebenarnya tanpa kehadiran mereka bisa jadi dakwah Wali Songo tidak akan sesukses yang kita ketahui saat ini.

Oleh karena itu, tulisan ini coba mengulas, bagaimana pengaruh Putri Dwarawati dalam progres penyebaran Islam di Nusantara pada masanya?

Keluarga Kerajaan Champa Menerima Islam

Menurut Babad Ngampeldenta, sebagaimana penjelasan Agus Sunyoto dalam Atlas Wali Songo, Syaikh Ibrahim Samarkandi, atau Syaikh Molana, mendakwahkan Islam di negeri Champa (bagian wilayah Vietnam), tepatnya di Gunung Sukasari.

Wali ini berhasil mengislamkan Raja Champa, bahkan juga menjadi mantu dari raja tersebut. Dia menikah dengan anak Raja Champa yang bernama Dewi Candrawulan, dan memperoleh dua putra, yaitu Ali Murtolo (Ali Murtadho) dan Ali Rahmatullah atau Raden Rahmat (Sunan Ampel).

Selain Putri Candrawulan, Raja Champa juga memiliki seorang putri lagi yang bernama Putri Dwarawati. Dan, sebagaimana keluarganya yang telah menerima Islam, putri Champa ini juga telah memeluk Islam.

Kerajaan Champa sendiri memiliki hubungan baik dengan kerajaan-kerajaan di Nusantara. Hubungan baik ini sudah berlangsung sejak lama, dari masa Singasari dan terus berlanjut hingga masa Majapahit.

Oleh karena itu, sebagaimana penjelasan Agus Sunyoto, tidak mengherankan ketika Kerajaan Champa mengalami krisis akibat serangan dari Raja Vietnam bernama Le Nanh-ton dan Tanh-ton, sekitar rentang waktu 1446-1471 M, banyak penduduk Champa yang telah beragama Islam berbondong-bondong datang ke Nusantara.

Adanya hubungan baik antardua kerajaan, Champa dan Majapahit, memungkinkan terjadinya pernikahan antarelit kerajaan. Prabu Brawijaya V yang merupakan Raja Majapahit, menikah dengan Putri Dwarawati yang merupakan anak Raja Champa yang telah memeluk Islam.

Saya tidak tahu pasti kapan pernikahan ini terjadi. Namun, yang jelas pernikahan Brawijaya V dan Putri Dwarawati terjadi sebelum Champa mengalami krisis akibat peperangan, dan juga sebelum Sunan Ampel datang ke tanah Jawa.

Membawa Islam Masuk ke Keraton Majapahit

Pernikahan Brawijaya V dan Putri Dwarawati tidak hanya membawa langkah sang putri Champa masuk dalam Keraton Majapahit, namun itu juga membawa Islam ke dalam kerajaan yang sangat berpengaruh di Jawa kala itu.

Putri Dwarawati tetap memeluk Islam, meski menikah dengan Brawijaya V yang bukan seorang Muslim. Komitmen keislaman Putri Champa ini tentu berdampak pada kemajuan dakwah Islam di tanah Jawa saat itu, apalagi mengingat statusnya bukan sekadar selir melainkan permaisuri dari Raja Majapahit.

Ada penelitian menarik yang meneliti naskah-naskah babad perihal ini. Penelusuran Nur Khalik Ridwan tentang “Melacak Jejak Politik Persebaran Islam antara Elit Kerajaan Majapahit dan Wali Sanga (Konsolidasi Hukum Islam di Jawa),” mendedahkan bahwa penyebaran Islam pada masa awal di Jawa, tidak luput dari jaringan anak-anak Raja Majapahit, Brawijaya V, yang memiliki istri yang beragama Islam.

Jadi dari istri-istri Brawijaya V lahir anak-anak bangsawan trah Majapahit yang telah beragama Islam. Di antaranya, dari Putri Dwarawati lahir Ratu Pembayun dan Lembu Peteng (Adipati Mandura). Ratu Pembayun ini menikah dengan Handayaningrat, yang kelak cucu mereka bernama Jaka Tingkir (Mas Krebet) mendirikan Kerajaan Pajang (salah satu kerajaan Islam masa awal di Jawa).

Ada lagi anak-anak dari dua istri (selir) Brawijaya V lainnya, yaitu dari Putri China lahir Raden Patah yang kelak mendirikan Kerajaan Demak Bintoro (kerajaan Islam masa awal di Jawa), dan dari Putri Wandan lahir Raden Bondan Kejawen.

Melahirkan Trah Kerajaan Majapahit yang Beragama Islam

Melalui kehadiran Putri Dwarawati, termasuk Putri China, dan Putri Wandan, lahir trah Kerajaan Majapahit yang beragama Islam. Dampaknya, semakin terterimanya orang Islam di lingkaran Keraton Majapahit. Sementara, kala itu, di luar keraton juga makin banyak orang Islam. Sehingga, anak-anak Brawijaya V yang beragama Islam kemudian menjadi pemimpin di berbagai daerah, dan menjadi sosok yang melambangkan kekuasaan orang-orang Islam di Jawa. Ini turut memasifkan perkembangan Islam kala itu.

Mengingat alur sejarah ini, maka menjadi tidak mengherankan jika penerimaan Islam di Jawa tidak membawa dampak resistensi yang besar. Sebab, selain karena para wali menyebarkan Islam di level akar rumput secara kultural (damai), di level elit juga Islam sudah masuk ke dalam keraton.

Tidak heran jika menurut cerita, Brawijaya V memuksakan diri (melenyapkan diri secara gaib) bersama para punggawanya. Seakan sang raja telah menerima keadaan untuk masyarakat Jawa menerima agama baru, dan munculnya kerajaan-kerajaan yang bercorak agama baru (Islam) yang didirikan oleh keturunannya sendiri.

Membuka Ruang Dakwah Wali Songo

Sebagaimana berdasarkan penjelasan M. Abdul Karim dalam Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam, bahwa pada masa penyebaran Islam di Jawa, sebab para wali menampakkan dan mengajarkan akhlak yang baik dalam menyebarkan agama, membuat penguasa kala itu menilai ajaran Islam tidak mengganggu stabilitas pemerintahan. Sehingga, dalam prosesnya, para wali mampu menjalin hubungan yang baik dengan penguasa, dan menarik hati masyarakat untuk memeluk Islam.

Hal ini nampak, misalnya, sebab adanya relasi yang baik antara Sunan Ampel dan Raja Majapahit, membuat Sunan Ampel mendapat izin dari raja untuk menetap di Ampel. Sebuah momentum penting yang membuat Sunan Ampel dapat mengembangkan Islam di wilayah pesisir utara Jawa, hingga kemudian ke berbagai penjuru Jawa.

Namun demikian, terjalinnya hubungan baik antara para wali dan penguasa Majapahit, tidak hanya sebab dari konsolidasi para wali itu sendiri. Melainkan, juga tidak lepas dari pengaruh istri Raja Majapahit, dalam hal ini Putri Dwarawati, yang telah beragama Islam. Kita dapat melihat pentingnya posisi Putri Dwarawati, dalam penyebaran Islam di Jawa, dari motif rombongan Sunan Ampel yang datang dari Champa ke Majapahit.

Mengapa target mereka harus pergi ke Kutaraja Majapahit? Sebab, di situ telah ada Putri Dwarawati. Sehingga, pengaruh sang putri Champa di keraton dapat membuka ruang dakwah para wali di tanah Jawa. Itulah sebabnya salah satu motif kedatangan rombongan Sunan Ampel adalah untuk menemui bibinya, Putri Dwarawati.

Momentum Para Wali Mengembangkan Dakwah Islam

Agus Sunyoto menjelaskan bahwa, ketika berlabuh di Jawa, rombongan Syaikh Ibrahim Samarkandi (termasuk di dalamnya Sunan Ampel) memilih berlabuh di Gesik (sekarang Gesikharjo, Kec. Palang, Kab. Tuban), yang merupakan wilayah sebelah timur Bandar Tuban. Hal ini mereka lakukan sebagai bentuk kehati-hatian, mengingat Bandar Tuban saat itu adalah pelabuhan utama Majapahit.

Rombongan Syaikh Ibrahim Samarkandi memilih tinggal agak jauh dari pelabuhan utama Majapahit, sebab mereka ingin menyebarkan Islam kepada penduduk sekitar. Sembari mencari kesempatan ke Kutaraja Majapahit untuk bertemu Putri Dwarawati. Namun, sebelum sempat pergi ke kutaraja, Syaikh Ibrahim Samarkandi wafat di Gesik. Dan, perjalanan dilanjutkan oleh Raden Rahmat (Sunan Ampel) beserta rombongan lainnya.

Pasca dari Kutaraja Majapahit ruang dakwah Sunan Ampel, dan wali lainnya, terbuka lebar. Mereka tidak perlu lagi sembunyi-sembunyi sebagaimana sewaktu di Gesik. Sebab, Raden Rahmat (Sunan Ampel) sendiri telah mendapatkan izin dari Raja Majapahit untuk menetap di wilayah Ampel, dan saudaranya mendapat izin tinggal di Gresik.

Ini menjadi momentum emas para wali dalam mengembangkan dakwah Islam di tanah Jawa. Dan tentu, kesempatan itu tidak serta merta mereka dapatkan. Ada faktor yang melatar-belakanginya, salah satunya adalah pengaruh sang putri Champa dalam Keraton Majapahit.

Dari sini nampak, bahwa sosok Putri Dwarawati memiliki andil yang penting dalam jejaring Wali Songo. Sebab, terbukanya ruang dakwah Sunan Ampel beserta rombongannya, yang menjadi salah satu batu loncatan penting bagi kesuksesan dakwah Wali Songo di tanah Jawa, itu tidak lepas dari peran Putri Dwarawati. []

Tags: Dakwah Wali SongoHer StoryIslam NusantaraRatu MajapahitSejarah NusantaraSejarah PerempuanWali Songo
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Halaqah-halaqah Pra-Musyawarah Keagamaan KUPI

Next Post

Akhlak Karimah Menjadi Bagian Misi Kenabian

Moh. Rivaldi Abdul

Moh. Rivaldi Abdul

S1 PAI IAIN Sultan Amai Gorontalo pada tahun 2019. S2 Prodi Interdisciplinary Islamic Studies Konsentrasi Islam Nusantara di Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Sekarang, menempuh pendidikan Doktoral (S3) Prodi Studi Islam Konsentrasi Sejarah Kebudayaan Islam di Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Related Posts

Nabilah Lubis
Figur

Ummul Azhariyat: Menyelami Kiprah Prof. Nabilah Lubis dalam Menyelamatkan Manuskrip Islam Nusantara

22 Mei 2026
Meneladani Gus Dur
Figur

Meneladani Gus Dur dalam Membela Perempuan dan Kemanusiaan

21 Mei 2026
Siti Maryam Salahuddin
Figur

Siti Maryam Salahuddin: Ulama Organik, Merawat Ingatan Aksara Bima

19 Mei 2026
Hj. Ida Fatimah
Figur

Perempuan Menguatkan Tradisi Keilmuan: Lebih Dekat dengan Hj. Ida Fatimah Krapyak

14 Mei 2026
Perempuan dan Pesantren
Publik

Perempuan dan Nalar Pesantren: Dialektika Teks, Tradisi, dan Transformasi

3 April 2026
Curu Pa'dong
Keluarga

Tradisi Curu Pa’dong: Mengikat Cinta, Keluarga, dan Kehidupan

5 Maret 2026
Next Post
Akhlak Karimah

Akhlak Karimah Menjadi Bagian Misi Kenabian

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Memaknai Mahar sebagai Penghormatan, Bukan Pembelian
  • Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan
  • ToT KUPI: Memahami Jejak Keulamaan Perempuan hingga Anatomi Gerakan KUPI
  • Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan
  • Bahaya Budaya FOMO dalam Meningkatkan Sampah

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0