Mubadalah.id – Abdurrahman Wahid, atau biasa kita menyebutnya dengan panggilan akrab Gus Dur, merupakan tokoh yang kita kagumi, kita anut nilai, teladan pemikiran, dan gerakannya akan terus relevan sepanjang waktu.
Sosok Gus Dur lantas menyertai dari 30 tokoh ulama perempuan dalam agenda Diskusi Serial Biografi Ulama Perempuan Indonesia #16 pada Mei ini. Kegiatan tersebut dalam rangka menyambut rangkaian peringatan Bulan Kebangkitan Ulama Perempuan Indonesia (BuKUPI) tahun 2026. Biografi Gus Dur dibacakan oleh sahabat Gus Dur, Marzuki Wahid, pada 17 Mei 2026.
Dari 30 tokoh ulama perempuan, mengingat Gus Dur menjadi salah satu tokoh yang sangat menarik kisahnya untuk kita simak. Marzuki Wahid mengungkapkan bahwa kemenarikan dari diskusi ini bukan melulu menyoal biografi sosial, politik, dan intelektual Gus Dur saja. Tetapi, poin penting lainnya dari BuKUPI ini adalah bagaimana melihat pemikiran dan perjuangan kemanusiaan Gus Dur yang berpihak pada gerakan perempuan dan isu kesetaraan gender.
Kita bukan hanya meneladani Gus Dur sebagai tokoh penting yang menghiasi keberagaman identitas Islam dan Indonesia. Tetapi karena Gus Dur merupakan ulama perempuan yang dalam pemikiran dan gerakannya berpihak kepada perempuan, kesetaraan, dan keadilan.
Kilas Hidup Gus Dur
Gus Dur memiliki dua momentum peringatan kelahiran karena tanggal lahir beliau yang sebetulnya masih misteri. Beberapa kalangan memperingati bulan lahir Gus Dur pada 7 September 1940. Beberapa kalangan lainnya ada yang memperingati pada 4 Agustus 1940. Meski, jika membaca Greg Barton dalam Biografi Gus Dur mempercayai tanggal kelahirannya adalah 4 Sya’ban 1940, yakni 7 September.
Gus Dur berasal dari keturunan keluarga pesantren dan pendiri NU. Beliau dilahirkan di Denanyar, Jombang, Jawa Timur, dalam rumah pesantren milik kakek dari pihak ibunya, Kiai Bisri Syansuri. Kedua kakek Gus Dur, yakni Kiai Bisri Syansuri dan Kiai Hasyim Asy’ari, sangat dihormati oleh kalangan NU karena peran mereka sebagai pendiri NU maupun sebagai ulama.
Ayah Gus Dur, Kiai Wahid Hasyim juga berperan menjadi menteri agama saat pemerintahan Soekarno. Ibu Gus Dur yakni Nyai Solichah Wahid Hasyim berkecimpung dalam organisasi perempuan NU maupun vokal dalam kajian Fikih Pesantren.
Perjalanan proses belajar Gus Dur terbentuk saat beliau dibawa ayahnya, Kiai Wahid Hasyim Ke Jakarta saat menjadi menteri agama. Tahun 1945 Gus Dur masuk Sekolah Dasar Kristen yang membuatnya banyak berinteraksi dengan banyak agama lain. Persinggungan dengan lingkar perbedaan ini yang seakan menjadi titik mula Gus Dur berdampingan dengan yang berbeda. Selain itu, Gus Dur juga banyak belajar beberapa bahasa, di antaranya bahasa Inggris, Arab, Belanda bersama ayahnya.
Minat belajar Gus Dur yang tinggi membuatnya menjadi sosok intelektual yang cerdas. Persinggungan dengan banyak orang membuatnya dapat hidup berdampingan dan berbincang dengan siapapun. Hingga perannya di banyak posisi tetap menjadikannya sosok kiai nyentrik, seorang presiden, bahkan pengakuan banyak orang bahwa beliau adalah wali.
Intelektualisme dan Periodisasi Gerakan Gus Dur
Di berbagai gerakan, Gus Dur merupakan tokoh yang menekuni banyak bidang. Wacana pengetahuan dan pemikirannya yang berlatar belakang pesantren telah membuatnya banyak bersentuhan dengan berbagai tradisi keilmuan.
Menurut Marzuki Wahid, luasnya kiprah Gus Dur membuatnya sulit dipahami hanya satu sisi saja. “Saya ingin mengatakan bahwa Gus Dur adalah tokoh multidimensi. Banyak orang mengenalnya sebagai budayawan karena keterlibatannya dalam dunia kebudayaan dan gaya berpikirnya yang humanis. Selain itu, Gus Dur juga menjadi politikus, tokoh NU, Kiai, pembela demokrasi, pejuang gender, serta membela kaum minoritas,” ujarnya.
Syaiful Arif dalam bukunya berjudul Humanisme Gus Dur, memiliki penyebutan “Gus Dur muda” dan “Gus Dur sepuh”. Penyebutan ini merupakan pemilahan bahwa “Gus Dur muda” adalah Gus Dur yang masih memiliki banyak energi untuk merumuskan pemikiran berdasarkan refleksi dan teori yang ketat. Marzuki Wahid dalam serial diskusi menyebut bahwa selama tiga puluh tahun pertama, Gus Dur berada dalam fase pembentukan intelektualisme yang sangat kuat.
Pemikiran Gus Dur juga banyak tercurah dalam kumpulan tulisannya, seperti Jurnal Prisma (LP3ES) dan Jurnal Pesantren (P3M), kolom dan esai Tempo, koran, maupun makalah seminar di dalam dan luar negeri. Gus Dur telah belajar banyak bahasa, membaca karya-karya filsafat dan sosiologi Barat, dan menempuh pendidikan di Mesir dan Baghdad. Pengalaman intelektualisme Gus Dur membentuk cara pandang Gus Dur yang terbuka, kosmopolit, dan mampu menjembatani tradisi Islam dengan nilai-nilai kemanusiaan universal.
Sedangkan sebutan “Gus Dur Sepuh” adalah era di mana Gus Dur menempatkan diri di berbagai posisi di pemerintahan. Sebagaimana Marzuki Wahid menyebut bahwa selama 13 tahun (1985-1998) yakni periode Gerakan sosial Budaya Gus Dur.
Saat beliau menjabat ketua umum PBNU, ketua DKJ, ketua Fordem, MUI, Anggota MPR, dan Presiden WCRP. Masa-masa terakhir selama 11 tahun kemudian (1998-2009), Gus Dur menapaki gerakan sosial politik saat ia menjabat ketua umum PKB, presiden, dan guru bangsa. Saat menduduki berbagai jabatan, hingga saat menjadi presiden, beliau banyak menciptakan kebijakan demokratis dan membela misi kemanusiaan di dalam kepemimpinannya.
Gus Dur dan Keberpihakan terhadap Perempuan
Kemanusiaan Gus Dur juga menyasar pada konteks perempuan, kesetaraan, dan keadilan gender. Marzuki Wahid menuturkan bahwa Gus Dur memiliki kontribusi yang sangat besar. Gus Dur membawa isu gender untuk dapat masuk di tataran pemerintahan nasional dan tata kelola negara.
Misalnya saat beliau mengubah paradigma dari “peranan wanita” menjadi “pemberdayaan perempuan”. Munculnya Kementerian Pemberdayaan Perempuan yang mengubah ideologi negara dari domestifikasi perempuan, menuju pengakuan perempuan sebagai subjek, hak, dan kewajiban.
Kemudian, terbitnya Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2000 tentang pengarusutamaan gender. Inpres ini menjadi tonggak institusionalisasi gender dalam negara Indonesia terbentuk. Di sini mengindikasikan bahwa Gus Dur sangat peduli dengan isu-isu kemanusiaan yang memperhatikan kemaslahatan perempuan juga untuk seluruh masyarakat tanpa membedakan. Baik dalam ranah institusi negara, lingkup sosial masyarakat, hingga individu.
Di ranah yang lebih kecil, Gus Dur mempraktikkan relasi keluarga yang egaliter. Gus Dur membantu kerja-kerja domestik, menghormati intelektualitas istrinya, dan mewujudkan kerja sama yang adil dan setara di lingkup keluarga.
Begitu pula didikan Gus Dur kepada keempat putrinya yang semuanya memiliki andil di berbagai bidang: demokrasi, isu kemanusiaan, perdamaian, pendidikan, hingga politik. Dalam konteks KUPI, Marzuki Wahid juga memvalidasi bahwa Gus Dur merupakan salah satu ulama perempuan yang memiliki keberpihakan kepada kesetaraan laki-laki dan perempuan.
Sembilan Nilai Gus Dur
Praktik juang Gus Dur dalam keberagamaan dan keindonesiaan yang kemudian membentuk nilai-nilai yang mendasari dan sekaligus diperjuangkan Gus Dur. Sembilan nilai tersebut di antaranya ketauhidan, kemanusiaan, keadilan, kesetaraan, pembebasan, kesederhanaan, persaudaraan, kekesatriaan, dan kearifan lokal.
Nilai utama Gus Dur ini menjadi dasar bagi sosok Gus Dur dalam berfikir, bersikap, dan berjuang. Sembilan nilai utama ini pula yang dapat kita pelajari dan teladani dari sosok guru bangsa. Dan sembilan nilai utama ini memiliki keselarasan dalam sembilan formula paradigma KUPI. Keselarasan ini sama-sama penting yang bertujuan untuk dapat mengimplementasikan praktik dari cita-cita kemaslahatan semesta yang terhimpun dalam ma’ruf, mubadalah, dan keadilan hakiki. []










































