Mubadalah.id – Tidak ada keraguan dalam aktivitas berpikir, dan tidak ada keraguan untuk mendedahkan kebenarannya. Oleh karena itu berpikir merupakan aktivitas universal, yang dalam kata Hans Albert secara fungsional dapat memecahkan segala problem dengan bijak.
Namun, makin hari makin resah saja rasanya karena selalu dikeroyok sama berita-berita “buruk” yang orientasinya dehumanisatif. Jujur, akhir pekan ini jika informasi yang kita konsumsi berupa hal yang melanggengkan nir-produktifitas, sepertinya pikiran juga akan mandek seketika.
Mulai dari kebijakan pemerintah yang agaknya “cacat” logika, kekerasan seksual oleh oknum yang digadang-gadang pemuka agama, fomo bunuh diri, angka dan biaya hidup makin naik dan krisis ekonomi, nekat melawan kereta api, dan banyak yang lainnya jika saya sebutkan takut tambah resah.
Fenomena-fenomena itu kebanyakan dilakukan dengan sadar baik oleh personal maupun komunal. Sangatlah ironis, tindakan yang merugikan diri sendiri ataupun orang lain bukan terjadi karena tidak tahu, tapi mungkin tidak mau tahu. Mungkin saja sudah lama berhenti bertanya.
Maka saya kembali ke pertanyaan yang sederhana tapi terasa makin mendesak, mengapa Al-Qur’an begitu gigih memerintahkan manusia untuk berpikir? Bukan hanya untuk merenung dan merasa saja, namun berpikir dengan logika.
Bagaimana Jika Manusia Tanpa Logika?
Mungkinkah kita membayangkan jika manusia sendiri tanpa logika? Ya, mungkin saja pikiran itu terbenak karena banyak tindak tanduk manusia sudah menyerupai hewan. Namun, salah satu previlige manusia adalah memiliki akal, berlogika, dan beraktifitas melampaui sifat kebinatangan.
Apakah berbahaya jika manusia tanpa logika? Justru logika hadir untuk menumpas sesuatu yang membahayakan bagi siapa saja. Ibarat pisau tajam yang tanpa pegangan. Ia dapat melukai siapapun bukan karena tumpul, tapi tajam karena tanpa kendali.
Bagi Ibnu Sina logika adalah ilmu tentang alat (instrumen) fundamental yang menjaga pikiran agar tetap sistematis, runtut, dan benar dalam mencerna informasi serta mencapai kebenaran. Ia menegaskan bahwa logika berfungsi sebagai pengantar bagi seluruh ilmu pengetahuan, memastikan validitas penalaran, dan membedakan antara konsepsi (taṣawwur) dan pernyataan (taṣdīq) dalam argumen.
Sementara bagi Imam Ghazali, daya Imajinatif dan analisis menjadi unsur pendorong logika manusia dalam berpikir. Daya imajinatif ia sebut dengan sebagai al-ruh al khayali, sedangkan daya analisis sebagai al-ruh al-fikri. Dua daya berpikir ini menjadikan manusia sebagai manggala di antara semua mahluk.
Berdasarkan beberapa pandangan tersebut, maka menjadi semakin cerah bahwa logika tidak terkurung dalam ruang dan waktu, ia bersifat bebas, namun berkoridor etis dan ia melekat pada diri manusia, sehingga menjadi fondasi hidup kemanusiaan itu sendiri.
Bahkan Al-Qur’an sudah jauh sebelumnya melontarkan pertanyaan yang tegas perihal berpikir, Afalaa Ta’qiluun? Pertanyaan retoris ini mungkin tanda jika manusia tidak bisa hidup tanpa logika, kecuali hilang akalnya.
Nalar Kritis Qur’ani
Islam mengasosiasikan nalar kritis tidak hanya sekedar kemampuan kognitif biasa. Ia adalah ‘aql yang bekerja secara aktif, produktif, sistematis, dan etis. Ibnu Rushd seringkali mengaitkan akal dan wahyu dalam tradisi Islam. Tuturnya, akal dan wahyu bukanlah hal yang bertentanagn, akan tetapi saling berjabat tangan yang bermuara pada kebenaran yang sama.
Dalam konteks ini, perlu digaris bawahi maksud nalar kritis Qur’an yaitu akal yang bergerak dalam koridor etis wahyu, bukan akal yang liar tanpa pijakan, dan bukan pula akal yang dipasung dogma tanpa ruang gerak.
Jamak kita temui diksi-diksi tegas Qur’an yang menyentil moral manusia dengan kata Afalaa Ta’qiluun, dan Afalaa Tatafakkaruun. Kedua diksi ini berakhir selalu berupa pertanyaan yang kalimat sebelumnya menunjukkan sebuah kekuasaan Allah, dan iman kepada kitab-kitab Allah.
Yang paling mencuri perhatian adalah diksi Afalaa Ta’qiluun, ia lebih mendominasi daripada Afalaa Tatafakkaruun. Afala Ta’qilun disebut sebanyak 13 kali, ada yang menyebutnya 24 kali. Sedangkan Afala Tatafakkarun kurang lebih hanya sebanyak 4 kali penyebutan.
Contoh ayat Al-Qur’an yang familiar perihal berpikir adalah Al-Baqarah ayat 44 “Apakah kamu menyuruh orang lain berbuat kebaikan, sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca Kitab? Tidakkah kamu berakal?” Di sini Al-Qur’an menyentil bukan sekadar soal iman, melainkan soal konsistensi antara pikiran dan tindakan.
Begitu pula dalam QS. Yasin: 68 dan QS. Al-Anbiya: 10, nalar manusia selalu berhadapan pada kenyataan alam dan sejarah sebagai bahan berpikir. Seolah Al-Qur’an ingin menegaskan: alam semesta ini adalah laboratorium berpikir terbuka yang paling luas.
Maka bisa dipahami, mengapa Al-Qur’an begitu gigih mendorong manusia untuk ber-ta’aqqul dan ber-tafakkur. Sebab berhentinya akal bukan hanya soal kebodohan intelektual, melainkan juga krisis moral. Al-Qur’an seolah ingin berbisik, bahkan berteriak: berpikirlah, karena itulah cara paling jujur untuk menjadi manusia.
Ketika Pertanyaan Qur’an Tak Kunjung Terjawab
Barangkali problem terbesar manusia modern hari ini bukanlah kekurangan informasi, melainkan kehilangan kemampuan untuk mengolah informasi dengan jernih. Tantangan yang cukup serius ketika akal dibenturkan dengan kecepatan informasi karena teknologi. Jika akal hanya beroperasi untuk bereaksi cepat, akibatnya manusia mudah terseret arus emosi, propaganda, bahkan kebencian yang muncul terus-menerus.
Mungkin, saat itulah pertanyaan Afalaa Ta’qiluun? menemukan relevansinya. Pertanyaan ini bukan sembarang pertanyaan, ia wujud teguran epistemologis dan moral. Al-Qur’an seolah mengingatkan bahwa manusia yang berhenti dan salah berpikir perlahan akan kehilangan arah hidupnya. Ketika pikiran hanya untuk menghakimi kebenaran sepihak, manusia akan mudah terjebak dalam fanatisme, perilaku impulsive, hoaks, dan tindakan deskruktif.
Karena itu, Al-Qur’an akan selalu menjemput akal sehat manusia dengan pertanyaan retorisnya, Afalaa Ta’qiluun?. Hanya saja apakah manusia menjawabnya dengan bijak? Kemudian menghasikan kebenaran sekaligus menjaga martabat kemanusiaan.
Karena, hingga saat ini kekerasan terjadi bukan pada kuasa orang yang tidak tahu. Pelaku kekerasan seksual bukan orang yang tak pernah mendengar kata “dosa”. Pengambil kebijakan yang menyengsarakan rakyat bukan orang yang tak pernah belajar etika. Mereka tahu, namun akalnya memilih diam. Di sinilah letak tragedinya, bukan kebodohan yang melahirkan kekerasan, melainkan akal sehat yang sengaja diistirahatkan.
Maka, menjawab pertanyaan Al-Qur’an itu bukan dengan kata-kata saja, seharusnya dengan pilihan untuk terus berpikir, setiap hari dalam setiap tindakan. []












































