Senin, 15 Juni 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Kekerasan Seksual di Pesantren

    Dari Dalam Pesantren: Saatnya Membangun Sistem Perlindungan Santri dari Kekerasan Seksual

    Nilai-nilai Luhur Pesantren

    Ketika Nilai-nilai Luhur Pesantren Berhadapan dengan Kasus Kekerasan Seksual

    Seren Taun Cigugur

    Seren Taun Cigugur Teguhkan Pelestarian Budaya sebagai Prasasti Peradaban Bangsa

    Merawat Pesantren

    MERAWAT Pesantren, Upaya Pesantren Luhur Manhajiy Fahmina Membangun Kesehatan Mental Para Mahasantri

    Pendamping Pekerja Migran dan Guru Honorer Sampaikan Keluh Kesah dalam Halaqah Pra-Mubes Warga NU Cirebon Raya

    Pendamping Pekerja Migran dan Guru Honorer Sampaikan Keluh Kesah dalam Halaqah Pra-Mubes Warga NU Cirebon Raya

    Dengarkan Suara Petani hingga Buruh Migran, Warga NU Cirebon Raya Gelar Halaqah Pra-Mubes

    Dengarkan Suara Petani hingga Buruh Migran, Warga NU Cirebon Raya Gelar Halaqah Pra-Mubes

    Iduladha

    Semesta Raya Iduladha: Semarang, Pasuruan, Aceh, hingga Bangladesh

    Lukman

    Di BuKUPI 2026, KH. Lukman Hakim Saifuddin Dorong KUPI Fokus pada Isu Prioritas

    Cut Nyak Dien

    Ulama Perempuan Serukan Indonesia Tanpa Kekerasan Melalui Risalah Cut Nyak Dien

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Hak Untuk Bosan

    Hak untuk Bosan: Mengapa Difabel Tidak Harus Selalu Menginspirasi?

    Qana'ah

    Qana’ah, Kelas Menengah dan Fantasi Menjadi Orang Kaya

    Kesetaraan Anak laki-laki dan Perempuan

    Mengajarkan Kesetaraan Pada Anak Laki-laki dan Perempuan Sejak Dini

    Kampung idiot

    Mengubah Stigma Kampung Idiot di Karangpatihan Menjadi Berdaya secara Ekonomi

    Korupsi

    Korupsi di Meja Makan Anak Sekolah

    Simpul Iman Community

    Dialog, Harapan, dan Persaudaraan: Refleksi 19 Tahun Simpul Iman Community (SIM-C)

    Bulan Suro

    Membongkar Mitos Pernikahan Bulan Suro dan Beban Perempuan Jawa

    Invisible Disability

    Invisible Disability dan Stigma yang Masih Terjadi

    Kekerasan Seksual di Pesantren

    Dari Dalam Pesantren: Saatnya Membangun Sistem Perlindungan Santri dari Kekerasan Seksual

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    KB

    Hak Perempuan Memilih KB: Kenali 5 Metode dan 9 Pertimbangannya

    Ber-KB

    Cara Meyakinkan Suami tentang Pentingnya Ber-KB

    Menuju Muharram

    Menuju Muharram dan Panggilan untuk Introspeksi Jejak Spiritual

    KB

    Keluarga Berencana (KB) dan Hak Perempuan atas Tubuh

    Kehamilan dan

    Mengapa Menunda Kehamilan Dapat Meningkatkan Kualitas Hidup Keluarga?

    KB dan

    4 Risiko Kehamilan yang Bisa Dicegah dengan Program KB

    Gairah Seksual

    Mengapa Gairah Seksual dapat Berkurang atau Hilang?

    rangsangan seksual

    Mengenali Respons Tubuh terhadap Rangsangan Seksual

    Seks

    Mengapa Membicarakan Seks dengan Pasangan itu Penting?

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Kekerasan Seksual di Pesantren

    Dari Dalam Pesantren: Saatnya Membangun Sistem Perlindungan Santri dari Kekerasan Seksual

    Nilai-nilai Luhur Pesantren

    Ketika Nilai-nilai Luhur Pesantren Berhadapan dengan Kasus Kekerasan Seksual

    Seren Taun Cigugur

    Seren Taun Cigugur Teguhkan Pelestarian Budaya sebagai Prasasti Peradaban Bangsa

    Merawat Pesantren

    MERAWAT Pesantren, Upaya Pesantren Luhur Manhajiy Fahmina Membangun Kesehatan Mental Para Mahasantri

    Pendamping Pekerja Migran dan Guru Honorer Sampaikan Keluh Kesah dalam Halaqah Pra-Mubes Warga NU Cirebon Raya

    Pendamping Pekerja Migran dan Guru Honorer Sampaikan Keluh Kesah dalam Halaqah Pra-Mubes Warga NU Cirebon Raya

    Dengarkan Suara Petani hingga Buruh Migran, Warga NU Cirebon Raya Gelar Halaqah Pra-Mubes

    Dengarkan Suara Petani hingga Buruh Migran, Warga NU Cirebon Raya Gelar Halaqah Pra-Mubes

    Iduladha

    Semesta Raya Iduladha: Semarang, Pasuruan, Aceh, hingga Bangladesh

    Lukman

    Di BuKUPI 2026, KH. Lukman Hakim Saifuddin Dorong KUPI Fokus pada Isu Prioritas

    Cut Nyak Dien

    Ulama Perempuan Serukan Indonesia Tanpa Kekerasan Melalui Risalah Cut Nyak Dien

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Hak Untuk Bosan

    Hak untuk Bosan: Mengapa Difabel Tidak Harus Selalu Menginspirasi?

    Qana'ah

    Qana’ah, Kelas Menengah dan Fantasi Menjadi Orang Kaya

    Kesetaraan Anak laki-laki dan Perempuan

    Mengajarkan Kesetaraan Pada Anak Laki-laki dan Perempuan Sejak Dini

    Kampung idiot

    Mengubah Stigma Kampung Idiot di Karangpatihan Menjadi Berdaya secara Ekonomi

    Korupsi

    Korupsi di Meja Makan Anak Sekolah

    Simpul Iman Community

    Dialog, Harapan, dan Persaudaraan: Refleksi 19 Tahun Simpul Iman Community (SIM-C)

    Bulan Suro

    Membongkar Mitos Pernikahan Bulan Suro dan Beban Perempuan Jawa

    Invisible Disability

    Invisible Disability dan Stigma yang Masih Terjadi

    Kekerasan Seksual di Pesantren

    Dari Dalam Pesantren: Saatnya Membangun Sistem Perlindungan Santri dari Kekerasan Seksual

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    KB

    Hak Perempuan Memilih KB: Kenali 5 Metode dan 9 Pertimbangannya

    Ber-KB

    Cara Meyakinkan Suami tentang Pentingnya Ber-KB

    Menuju Muharram

    Menuju Muharram dan Panggilan untuk Introspeksi Jejak Spiritual

    KB

    Keluarga Berencana (KB) dan Hak Perempuan atas Tubuh

    Kehamilan dan

    Mengapa Menunda Kehamilan Dapat Meningkatkan Kualitas Hidup Keluarga?

    KB dan

    4 Risiko Kehamilan yang Bisa Dicegah dengan Program KB

    Gairah Seksual

    Mengapa Gairah Seksual dapat Berkurang atau Hilang?

    rangsangan seksual

    Mengenali Respons Tubuh terhadap Rangsangan Seksual

    Seks

    Mengapa Membicarakan Seks dengan Pasangan itu Penting?

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom Personal

Menjadi Perempuan Berdaya: Belajar dari Kisah Hidup Inggit Garnasih

Seperti 20 tahun perjalanan hidup Bung Karno dan Bu Inggit yang atas dasar cinta, sehingga menciptakan sebuah kehidupan yang jatuh bangun bersama tanpa kalah karena susah

Indi Ardila by Indi Ardila
23 Oktober 2022
in Personal
A A
0
Perempuan Berdaya

Perempuan Berdaya

12
SHARES
587
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Perempuan berhadapan dengan banyak sekali stigma dan label negatif. Padahal sejatinya dari dulu sampai sekarang hakikat perempuan berdaya tetaplah sama, yaitu cantik bermartabat dan hebat. Tetapi dari masa ke masa kata cantik dan bermartabat banyak distandardisasikan. Sehingga perlahan-lahan kata cantik seolah-olah tidak lagi terdapat dalam diri perempuan dan lebur akar kealamiannya.

Begitu juga untuk martabat perempuan berdaya, telah ternomor duakan dan banyak terdefinisikan. Seolah-olah kecantkan dan martabat perempuan berdaya mampu diindrai.

Standarisasi Kecantikan

Di era modernisasi, dan banyaknya definisi cantik untuk perempuan, telah membuat banyak perempuan berdaya yang merasa kepuasannya hanya terpaku kepaa kemampuan mengejar perputaran jaman. Seperti memenuhi gaya hidup sesuai trend, atau memenuhi standarisasi yang orang lain berikan. Sehingga tak jarang perempuan yang mengubah diri dari segi fisik maupun penampilan hanya karena ingin memenuhi standar yang orang lain berikan.

Tentu akar utamanya adalah orang-orang yang memberikan standar tersebut. Mereka yang telah termakan oleh kemajuan jaman dan melupakan hakikat nyata perempuan. Hingga sekarang semua kalangan masyarakat mulai terbius sama standar tersebut. Salah satunya yakni maraknya pasar kecantkan. Di mana setiap marketing pemasaran menampilkan wajah atau fisik perempuan sebegitu sempurna mungkin.

Ini terkadang membuat diri terprovokasi pada satu bentuk kepatenan definisi cantik itu. Di mana hal ini bisa merusak tatanan berpikir, bahwa kecantkan bagi kita berhenti pada satu bentuk standar. Yaitu “menurut paras dan fisik” dan juga faktor penyebab timbulnya perasaan insecure jikalau kita tidak mampu mengikuti trend atau memenuhi standar tersebut.

Tetapi kenyataan bahwa standar cantik juga tak melulu orang terapkan dan pedulikan. Sehingga menjadi diri sendiri sesuai yang kita inginkan dan hidup sesuai kebutuhan tidak akan menjadi masalah besar bagi siapapun. Tidak akan mengurangi nilai diri kita, justru hal ini akan membuat diri kita masih berada dalam hakikat yang nyata.

Tentu pilihan mereka juga tidak salah apalagi pilihannya membahagiakan. Tetapi mereka perlahan meleburkan hakikat diri yang sebenarnya. Terperangkap dalam sudut pandang yang meleburkan kesakralan. Menurut perspektif pribadi, kecantkan paras dan fisik tidak melulu menjadi landasan utama sebuah keberhasilan. Tetapi kekuatan dari dalam diri kitalah yang mampu menciptakannya. Seperti sosok tangguh perempuan berdaya, pendorong bangsa, Ibu Inggit Garnasih.

Emansipasi Perempuan

Kemajuan suatu usaha, daerah, bahkan negara tidak lepas dari keterlibatan peran perempuan di dalamnya. Baik perempuan yang berperan sebagai pendidik, dokter, pakar ekonomi dll

Untuknya, penyediaan ruang pendidikan dan pekerjaan terhadap perempuan memberikan sebuah peluang keberhasilan, juga sebagai bentuk emansipasi perempuan. Karena perempuan berdaya mampu berperan dan memberikan kontribusi yang setara dengan laki-laki.

Seperti peran perempuan dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, di balik layar kemerdekaan ada banyak perempuan-perempuan pemberani dan tangguh yang terlibat dan ikut andil berjuang. Hal ini membuktikan, bahwa peranan perempuan sejak awal sudah terbukti adanya, baik di garis depan maupun garis belakang, baik yang ikut perang maupun yang hanya mendo’akan.

Inggit Garnasih

Dan salah satu sosok perempuan yang bisa kita teladani dari kesederhanaan dan keberaniannya dalam menyongsong kemerdekaan Indonesia itu, Ibu Inggit Garnasih. Di ambil dari kisahnya semasa ia menjadi istri dari Bung Karno. Ibu Inggit seorang perempuan yang sangat setia kepada Bung Karno ia berasal dari bumi Pasundan, lahir pada 17 Februari 1888 di Kabupaten Bandung.

Ketika Ibu Inggit terlahir, ia di beri nama Garnasih, merupakan singkatan dari kesatuan Hegar dan Asih, yang mana Hegar berarti segar menghidupkan dan Asih berarti kasih sayang. Kata Inggit yang kemudian menyertai di depan namanya berasal dari kisahnya di masa kecil.

Ibu Inggit dan Bung Karno menikah pada 24 Maret 1923 dan bercerai pada tahun 1942. Dari kisah Ibu Inggit dan Bung Karno kita bisa memetik banyak pelajaran hidup, salah satunya menjadi perempuan berdaya, pendukung setia cita-cita mulia.

Seperti apa itu perempuan pendukung cita-cita? Dan apa saja yang merupakan cita-cita mulia itu? Menurut perspektif pribadi, cita-cita mulia adalah setiap harapan manusia atau sebuah tujuan yang mampu membawa pengaruh, atau perubahan yang lebih baik, dalam setiap aspek kehidupan dalam tanah keluarga, bertetangga, maupun bernegara.

Menjadi perempuan pendukung artinya, selalu mendukung atas cita-cita tersebut. Tidak menjadi hambatan, justru menjadi salah satu penyukses cita-cita tersebut. Baik mendukung dengan pikiran dan pemikiran, do’a, ataupun secara langsung mendukung dengan kiprahnya. Yang mana hal ini mampu menciptakan kehidupan yang penuh kesalingan.

Kembali kepada kisah Ibu Inggit. Menurut sejarah, mungkin Ibu Inggit seorang yang tidak terdidik. Namun keberhargaan dirinya tidak lah hilang, karena ada yang jauh lebih berharga dalam diri di balik sebutan perempuan terdidik. Yaitu jiwa yang penuh kemanusiaan serta kesetiaan dan cinta kasih yang tak terdefinisikan. Sehingga semua itu menjadikannya sosok perempuan yang tangguh pemberani dan berjiwa keibuan yang hangat dan penuh kasih.

Kekuatan Cinta

Di balik kesuksesan Bung Karno menjabat sebagai Presiden RI pertama, dan dalam masa perjuangannya menyongsong kemerdekaan Indonesia, ada tangan penuh kasih yang selalu menepuk pundaknya dengan kehangatan dan kekuatan. Ada tangan yang terampil menyajikannya minuman dan makanan yang menenangkan dan mengenyangkan. Ada diri yang penuh keberanian yang tidak bisa terbayangkan, dan ada jiwa penuh kecintaan dan kesetiaan yang begitu dalam.

Ya, sosok itu ialah Ibu Inggit, ia selalu menguatkan suaminya di kala ia merasa kelelahan, selalu menyajikannya minuman dan makanan di kala suaminya habis berpikir dan bekerja. Dan ketika Bung Karno dalam masa kesusahan yakni di penjara, Ibu Inggit dengan berani berjalan kaki berpuluh-puluh kilometer hanya demi menjenguk sang suami, dan mengantarkannya makanan.

Serta kesetiaannya sangat teruji ketika mereka dihadapkan dalam kesusahan yang amat memprihatinkan. Banyak sekali dukungan yang Ibu Inggit berikan kepada Bung Karno, lewat pemikirannya, doa, bahkan perjuangan yang mengorbankan jiwa raga.

Diantaranya, Ibu Inggit rela membiayai kuliah Bung Karno dari hasil berjualan, dan menjadi penerjemahnya. Saat Bung Karno di penjara Ibu Inggit rela berpuasa berhari-hari demi menyelundupkan buku-buku ke penjara, dan ia juga rela menemani Bung Karno ke pengasingan. Maka, dari perjuangan dan keterlibatan Ibu Inggit ini sangatlah berpengaruh terhadap kemerdekaan Indonesia, tak hanya menjadi sosok inspiratif tetapi Ibu Inggit adalah sosok perempuan berdaya yang merdeka dan sederhana.

Dari dia kita bisa belajar, bahwa kesadaran diri dan kecintaan diri adalah hal yang sangat penting. Kesetaraan tidak akan kita dapatkan tanpa keberanian dan kesadaran. Kita juga bisa melihat bahwa pengaruh cinta ternyata sangatlah luar biasa, karena bagi mereka cinta adalah kekuatan. Terutama kecintaan mereka terhadap rakyat yang menjadikan landasan perjuangan mereka tak tersurutkan.

Kesusahan dan keterpurukan tidak menjadi alasan untuk berpisah, tetapi menjadikan sebuah jembatan untuk mencapai kebersihan dan keteguhan hati.

Juga kesederhanaan tidak menjadi acuan untuk tidak bisa bersinergi, karena keberanian dan kemerdekaan tidak terbatas dan tidak sebatas karena kemewahan. Karena itu, untuk setiap perempuan di manapun kalian berada, dari manapun kalian berasal, apapun jenjang pendidikan yang kalian dapatkan. Bagaimanapun latar belakang kalian. Jangan pernah malu, jangan pernah ragu untuk memulai perubahan. Jangan pernah merasa rendah ataupun lemah karena setiap perempuan mempunyai skill dan kemampuan.

Perempuan Manifestasi Kasih Sayang Tuhan

Pada dasarnya laki-laki yang menyadari dan mengetahui struktur kosmos perempuan, mereka memetik kebahagiaan dari perempuan bukan hanya dari putih kulit, bibir merona, atau standar cantik yang tidak masuk akal lainnya. Tapi perempuan yang menjadikan jiwa laki-laki tersebut semakin dekat dan mengenal Tuhan, menjadi sumber kekuatan dan dari terurainya wajah, dan diri perempuan yang sesungguhnya, apa adanya.

Dan sesungguhnya laki-laki akan sulit mengetahui wajah asli perempuan, jika ia masih terpenjara dengan penilaian terhadap fisik perempuan. Hanya perempuan yang dapat menyulutkan api cinta pada jiwa laki-laki.

Seperti 20 tahun perjalanan hidup Bung Karno dan Bu Inggit yang atas dasar cinta, sehingga menciptakan sebuah kehidupan yang jatuh bangun bersama tanpa kalah karena susah. Tanpa pergi meninggalkan karena di pisahkan tapi selalu terpaut atas cinta kasih dan doa yang di panjatkan. Cinta kasih mereka mampu menumbuhkan buah keberhasilan.

Menjadi perempuan yang mendukung cita-cita mulia sangatlah tidak mudah memang, ada hal yang harus dikorbankan. Seperti halnya tenaga, dan perasaan. Tetapi Ibu Inggit mengajarkan kita bahwa satu hal yang membuatnya ikhlas atas apa yang ia berikan kepada Bung Karno, yaitu kekuatan cinta. Kesabaran, kesetiaan dan pengorbanan Ibu Inggit yang lainnya tidak pernah meminta balasan dari Bung Karno.

Sampai di titik tersakiti hatinya pun Ibu Inggit tidak pernah merasakan sakitnya itu, karena tidak ada kesuksesan tanpa pengorbanan. Cinta Ibu Inggit kepada Bung Karno sangatlah besar, begitupun cinta Bung Karno. Ibu Inggit tak hanya menjadi istri tetapi partner perjuangan yang begitu banyak memberikan kontribusi terhadap negara.

Seperti hakikatnya perempuan sebagai lokus manifestasi kasih sayang Tuhan, dalam jiwa perempuan kasih sayang dan cinta tidak pernah mengering. Sebagaimana kasih sayang Tuhan. Semoga dari kisah ini dapat menumbuhkan rasa percaya diri dan keberanian pada kita, apapun latar belakang kita. Dan kesederhanaan bukan sebuah halangan untuk mencapai kemerdekaan jiwa. []

Tags: BerdayaCintaInggit GarnasihperempuanSoekarno
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Kartini Masa Kini dan Kesetaraan Perempuan di Indonesia

Next Post

Ketika Pernikahan Menjadi Ajang Lomba Generasi Z

Indi Ardila

Indi Ardila

Bukan apa dan siapa tidak sekedar apalagi sebagai. Satu yang nyata, aku cuma seseorang yang suka melahap.

Related Posts

KB
Pernak-pernik

Hak Perempuan Memilih KB: Kenali 5 Metode dan 9 Pertimbangannya

14 Juni 2026
KB
Pernak-pernik

Keluarga Berencana (KB) dan Hak Perempuan atas Tubuh

13 Juni 2026
Kampung idiot
Disabilitas

Mengubah Stigma Kampung Idiot di Karangpatihan Menjadi Berdaya secara Ekonomi

13 Juni 2026
Hasrat Seksual
Pernak-pernik

Mengakui Hasrat Seksual Perempuan sebagai Bagian dari Kesehatan Reproduksi

10 Juni 2026
Seksual Perempuan
Pernak-pernik

Ketika Hasrat Seksual Perempuan Dianggap Tabu

9 Juni 2026
Tubuh Perempuan
Pernak-pernik

Benarkah Tubuh Perempuan adalah Milik Laki-laki?

9 Juni 2026
Next Post
Pernikahan

Ketika Pernikahan Menjadi Ajang Lomba Generasi Z

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Hak Perempuan Memilih KB: Kenali 5 Metode dan 9 Pertimbangannya
  • Hak untuk Bosan: Mengapa Difabel Tidak Harus Selalu Menginspirasi?
  • Kisah Perempuan Pekerja Sekaligus Fandom K-Pop dalam Serial Netflix Night Shift for Cuties
  • Cara Meyakinkan Suami tentang Pentingnya Ber-KB
  • Menuju Muharram dan Panggilan untuk Introspeksi Jejak Spiritual

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0