Mubadalah.id – Hari Raya Iduladha seringkali identik dengan deretan hewan ternak, aroma daging panggang, dan kemeriahan penyembelihan. Namun, dibalik ritualitas fisik tersebut, tersembunyi sebuah pemaknaan yang cukup mengakar dan mendalam, yaitu dekontruksi ego manusia.
Jika ribuan tahun lalu Nabi Ibrahim AS mendapat ujian harus menyembelih keterikatan emosionalnya dengan putra tercinta, Nabi Ismail AS, maka di era hari ini kita mendapat ujian untuk menyembelih sesuatu yang lebih halus namun tidak kalah mematikan, yaitu stigma.
Dekontruksi Rasa ke-AKU-an: Dari Kepemilikan menuju Kepedulian
Esensi kurban adalah kerelaan melepaskan atas apa yang kita anggap sebagai milik kita. Dalam konteks sosial, kepemilikkan ini bukan sekedar berbicara harta, melainkan label dan perspektif subjektif yang kita lekatkan pada orang lain.
Seringkali, masyarakat merasa memiliki otoritas untuk menentukan “normal” atau “tidak normal,” lalu melabeli kawan-kawan difabel sebagai individu yang kurang atau terbatas.
Dalam kacamata Mubadalah, labeling seperti ini adalah bentuk ketidakadilan relasi. Tidak sedikit masyarakat yang masih menempatkan difabel sebagai objek yang pasif, pihak yang hanya menunggu uluran tangan.
Seharusnya relasi individu non-difabel dan difabel memiliki relasi dalam posisi subjek ke subjek. Tidak ada yang lebih tinggi hanya karena fungsi tubuhnya lebih lengkap, dan tidak ada yang lebih rendah hanya karena kondisi fisiknya berbeda.
Dalam konteks sosial, perayaan dan spirit kurban ini seharusnya menjadi momentum bagi kita mengasah pisau kesadaran untuk menyembelih stigma yang selama ini masih banyak kita jumpai. Membangun spirit kurban menjadi energi nyata demi mewujudkan kesetaraan bagi difabel.
Dengan menyembelih stigma, kita sebenarnya sedang membebaskan diri kita dari belenggu prasangka.
Menyembelih Rasa Kasihan, Menumbuhkan Keadilan
Salah satu tantangan terbesar dalam isu difabel adalah rasa kasihan (charity based approach). Kedengarannya mungkin sedikit aneh, bukankah kasihan itu baik?
Secara sekilas, kasihan nampak mulia. Namun, dalam kacamata sosiologis, rasa kasihan sering kali menjadi tembok pemisah lapisan sosial.
Saat merasa kasihan, secara tidak sadar kita sedang membangun tangga, dimana posisi kita ada di tempat yang lebih tinggi sebagai pemberi yang berdaya. Sementara pihak difabel diposisikan lebih rendah sebagai objek yang pasif, penerima yang lemah.
Spirit kurban sejatinya adalah tentang memberikan persembahan terbaik. Jika kita ingin memberikan kurban terbaik bagi sesama, maka persembahan itu bukanlah rasa iba. Melainkan pemenuhan hal aksebilitas dan ruang yang setara.
Menciptakan lingkungan yang inklusif, seperti menyediakan ram (jalan miring) di tempat ibadah, menyediakan kitab suci braille, atau menghadirkan layanan bahasa isyarat bukanlah suatu bentuk kebaikan hati kaum mayoritas. Melainkan kewajiban bersama untuk memastikan martabat kemanusiaan setiap orang terjaga.
Inilah esensi penyembelihan ego, kita mengurbankan kenyamanan pandangan kita yang sempit demi keadilan yang lebih luas.
Transformasi Kesalehan Sosial: Menyembelih Hambatan Sosial
Kesalehan dalam Islam tidak pernah berhenti pada ritual peribadatan vertikal dengan Tuhan semata. Ia harus bertransformasi menjadi kesalehan sosial.
Dalam perspektif sosiologis, hambatan bagi difabel bukanlah terletak pada kondisi fisiknya. Melainkan pada struktur sosial yang tidak supportif, tidak akomodatif, atau lingkungan yang tidak memberikan ruang akses. Inilah yang kita definisikan hambatan sosial.
Ketika kita enggan mengalokasikan anggaran untuk fasilitas umum yang aksesibel, atau enggan meluangkan waktu untuk memahami cara komunikasi dengan teman yang memiliki hambatan pendengaran, kita sedang mempertahankan kenyamanan pribadi di atas kesulitan orang lain.
Inklusivitas merupakan kebutuhan bersama, tidak sebatas berbicara difabel, tetapi juga lansia, ibu hamil, anak-anak, dan bahkan bisa jadi diri kita sendiri.
Saat kita mengurbankan ego untuk membantu orang lain, pada saat yang sama kita sedang membangun kualitas hidup masyarakat yang lebih baik bagi semua orang.
Menyembelih hewan kurban adalah simbol, sementara menyembelih stigma adalah aksi nyata. Mari kita jadikan momen Iduladha ini sebagai titik balik untuk tidak lagi melihat difabel sebagai objek yang perlu disantuni, melainkan sebagai mitra setara yang memiliki hak, tanggung jawab dan martabat yang sama.
Pada akhirnya, kita kembali tersadarkan, bahwa di hadapan Tuhan, yang paling mulia bukanlah mereka yang memiliki fisik paling sempurna. Tetapi mereka yang mampu menghadirkan keadilan dan kemaslahatan bagi semesta. []
*)Artikel ini merupakan hasil dari Mubadalah Goes to Community Garut, kerjasama media Mubadalah dengan Universitas Garut.









































