Mubadalah.id – Perbedaan masih sering menjadi alasan seseorang menerima stigma di tengah masyarakat. Mereka yang memiliki cara berkomunikasi, berpikir, atau berperilaku berbeda kerap diberi cap “aneh”, “nyeleneh“, atau sulit bergaul. Label semacam itu mungkin bagi sebagian orang dapat meninggalkan beban psikologis yang tidak ringan.
Realitas tersebut tergambar dalam buku Mereka Bilang Saya Nyeleneh karya Liane Holliday Willey. Melalui pengalaman hidupnya sebagai penyandang Sindrom Asperger, penulis mengajak pembaca memahami bagaimana rasanya hidup di tengah lingkungan yang menuntut setiap orang tampil sesuai dengan standar sosial yang dianggap “normal”.
Salah satu bagian yang menarik terdapat pada subbab “Kesenjangan Melebar, Mengapa?”. Dalam bagian ini, Liane menceritakan berbagai kesulitan yang ia hadapi sejak kecil hingga dewasa ketika harus berinteraksi dengan lingkungan sosial. Berbagai aktivitas yang bagi orang lain terasa biasa justru menjadi tantangan yang menguras tenaga, emosi, dan pikiran.
Keterbatasan tersebut bukan disebabkan oleh kurangnya kemauan untuk belajar ataupun beradaptasi. Sebaliknya, Liane menunjukkan bahwa ia terus berusaha memahami lingkungan sekitarnya.
Namun, kondisi Sindrom Asperger yang ia alami membuat proses tersebut membutuhkan energi yang jauh lebih besar dibandingkan kebanyakan orang.
Mengenal Sindrom Asperger
Sindrom Asperger merupakan salah satu kondisi dalam spektrum autisme yang memengaruhi kemampuan seseorang dalam berkomunikasi, memahami interaksi sosial, serta menafsirkan berbagai isyarat sosial di sekitarnya.
Dalam artikel “Kemampuan Berbahasa Anak dengan Sindrom Asperger” yang dimuat dalam BIP: Jurnal Bahasa Indonesia Prima Vol. 5 No. 2 Tahun 2023, Lilis Handayani Napitupulu menjelaskan bahwa penyandang Sindrom Asperger umumnya mengalami kesulitan berinteraksi dengan lingkungan sehingga sering kali kurang diterima dalam kehidupan sosial.
Sindrom ini pertama kali diperkenalkan oleh dokter anak asal Austria, Hans Asperger, pada tahun 1944. Namun, keberadaannya baru memperoleh perhatian yang lebih luas dalam dunia medis pada dekade 1980-an.
Meski demikian, penting kita pahami bahwa Sindrom Asperger bukan merupakan penyakit mental. Penyandangnya tetap memiliki kemampuan berpikir, belajar, dan berkembang sebagaimana individu lainnya.
Tantangan utama yang mereka hadapi terletak pada kemampuan memahami komunikasi sosial, bahasa nonverbal, serta menyesuaikan diri dengan situasi sosial yang kompleks.
Karena kesulitan tersebut, tidak sedikit penyandang Asperger yang tampak pendiam, memilih menyendiri, atau mengalami kecanggungan ketika berinteraksi dengan orang lain. Kondisi itu sering mereka salahartikan sebagai sikap tidak ramah atau tidak peduli, padahal mereka sesungguhnya sedang berusaha memahami situasi yang ia hadapi.
Berjuang Menyesuaikan Diri
Dalam buku ini, Liane Holliday Willey menggambarkan besarnya keinginan untuk dapat hidup seperti orang lain. Ia berusaha mengikuti berbagai aktivitas, membangun pertemanan, dan beradaptasi dengan lingkungan sosial meskipun proses tersebut sering kali membuatnya kelelahan secara mental.
Ia menceritakan bagaimana hidupnya dapat mengikuti berbagai kegiatan, mulai dari organisasi, pelatihan renang, menari, hingga berbicara di depan umum.
Semua itu ia lakukan sebagai bagian dari upaya mengembangkan diri sekaligus belajar memahami kehidupan sosial.
Namun, proses tersebut tidak selalu berjalan mudah. Penulis berkisah bahwa teman-temannya beberapa kali mengingatkan mengenai cara berpakaian, penggunaan riasan wajah, hingga kebiasaan yang kurang sesuai dengan norma sosial.
Dalam salah satu bagian buku, Liane menceritakan bagaimana teman-temannya membimbingnya mengenakan make-up, menata rambut, hingga mengingatkan kebiasaan memakai pakaian yang sama berulang kali.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa banyak aturan sosial yang sering kali tidak penyandang Asperger sadari dan harus ia pelajari secara bertahap.
Meski terkadang terasa menyakitkan, perhatian yang teman-temannya berikan juga menjadi bentuk dukungan agar ia dapat beradaptasi lebih baik. Pengalaman itu memperlihatkan bahwa penerimaan sosial dapat tumbuh ketika lingkungan memilih mendampingi daripada menghakimi.
Pentingnya Dukungan dari Sahabat
Salah satu sosok yang memiliki peran besar dalam perjalanan hidup Liane adalah Craig, sahabat yang selalu hadir mendampinginya. Dalam buku tersebut, Craig ia gambarkan sebagai orang yang memahami kondisi Liane tanpa memandangnya sebagai pribadi yang aneh.
Bahkan, Liane menuliskan kalimat, “Craig terjun menyelamatkanku, bahkan sebelum aku paham bahwa aku perlu diselamatkan.”
Kehadiran seorang sahabat yang mampu menerima, mendengarkan, dan memberikan rasa aman menjadi faktor penting dalam membantu penyandang Asperger menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Dukungan semacam ini sering kali jauh lebih berarti daripada penilaian atau kritik yang terus-menerus lingkungannya berikan.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa penyandang Sindrom Asperger memiliki kebutuhan yang sama seperti individu lainnya, yakni diterima sebagai manusia, memiliki teman, serta memperoleh ruang yang aman untuk mengekspresikan diri tanpa rasa takut akan stigma.
Mengubah Stigma Menjadi Dukungan
Alih-alih memberikan label negatif, masyarakat perlu membangun lingkungan yang lebih inklusif bagi penyandang autisme, termasuk mereka yang memiliki Sindrom Asperger. Kesulitan dalam berkomunikasi bukan berarti seseorang tidak mampu belajar ataupun berkontribusi dalam kehidupan sosial.
Berbagai bentuk intervensi juga dapat membantu meningkatkan kualitas hidup penyandang Asperger. Halodoc, misalnya, menjelaskan bahwa penanganan dapat kita lakukan melalui berbagai terapi sesuai kebutuhan individu.
Beberapa di antaranya meliputi terapi bicara dan komunikasi sosial untuk meningkatkan kemampuan berinteraksi, fisioterapi guna melatih kemampuan motorik, terapi okupasi untuk mengembangkan keterampilan sehari-hari. Serta terapi perilaku kognitif yang membantu individu mengelola kecemasan, emosi, maupun respons terhadap berbagai situasi sosial.
Melalui dukungan yang tepat, penyandang Asperger dapat mengembangkan potensi, membangun relasi sosial, serta menjalani kehidupan yang lebih mandiri.
Maka dari itu, dalam buku Mereka Bilang Saya Nyeleneh mengingatkan bahwa kelelahan mental sering kali muncul bukan karena kondisi yang seseorang miliki. Melainkan karena tuntutan untuk terus berpura-pura menjadi “normal” agar dapat lingkungannya terima.
Pengalaman Liane Holliday Willey mengajarkan bahwa setiap orang berhak hidup tanpa stigma dan memperoleh ruang yang aman untuk menjadi hidupnya sendiri.
Masyarakat yang inklusif bukanlah masyarakat yang memaksa setiap orang menjadi sama. Melainkan masyarakat yang mampu menerima keberagaman cara berpikir, berkomunikasi, dan menjalani kehidupan.
Dengan demikian, penyandang Sindrom Asperger tidak lagi dipandang sebagai orang yang “nyeleneh”. Melainkan sebagai manusia yang memiliki hak yang sama untuk dihargai, didengar, dan berpartisipasi secara penuh dalam kehidupan sosial. []












































