Kamis, 9 Juli 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

    Pemadaman Listrik

    Pemadaman Listrik Bergilir: Ironi Negara Eksportir Batu Bara

    Suporter Jepang

    Kritik untuk Suporter Jepang di Piala Dunia 2026: Cuitan Warganet, Sentilan Aristoteles

    Slut Shaming

    Slut Shaming: Ruang Digital tidak Ramah Terhadap Perempuan Kritis

    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Feminisme: Kala Perempuan Tak Melulu Menjadi Penghibur

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Kemandirian Manusia

    Kemandirian Manusia: Mitos yang Dibongkar Difabel

    Anak Muda

    Anak Muda dan Krisis Kecukupan di Era Digital

    There's a Man

    “There’s a Man”: Saat Media Sosial Mengajak Kita Mengkritisi Cara Pandang Patriarkal

    Koruptor

    Mengapa Koruptor Lebih Mudah Dimaafkan daripada Pencuri Singkong?

    Mitos Disabilitas

    Meruntuhkan Mitos, yang Perlu Disembuhkan Bukan Disabilitas

    Nyeleneh

    Mereka Bilang Saya Nyeleneh: Memahami Kelelahan Mental Penyandang Sindrom Asperger

    Tradisi Pesantren

    Al-Ma’arifiyah: Menuju Persenyawaan Pengetahuan dalam Tradisi Pesantren

    Merantau

    Di Balik Tradisi Merantau Minangkabau, Ada Beban Ganda yang Dipikul Para Istri

    Pendidikan Perempuan

    Benarkah Perempuan Tidak Perlu Sekolah Tinggi? Menepis Stigma tentang Pendidikan Perempuan

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Pasca Aborsi

    Pendarahan Pasca Aborsi yang Mengancam Nyawa, Ini 5 Langkah Penanganan Lanjutannya

    Pasca Aborsi

    7 Langkah Darurat Menangani Pendarahan Pasca Aborsi sebelum Dirujuk ke Rumah Sakit

    Pendarahan pasca aborsi

    Cara Menghentikan Pendarahan yang Berlebihan Pasca Aborsi

    Aborsi

    Pendarahan Pasca Aborsi: Kenali Tanda Bahaya dan Langkah Pertolongan Pertama

    KB Setelah Aborsi

    Keluarga Berencana (KB) Setelah Aborsi

    Bahaya Aborsi

    Tanda-tanda Bahaya Setelah Aborsi

    Setelah Aborsi

    Perawatan Setelah Aborsi: Kenali Tanda Normal dan Gejala yang Harus Diwaspadai

    Aborsi

    Begini Ciri-ciri Layanan Aborsi yang Aman Menurut Standar Kesehatan

    Layanan Aborsi

    Bagaimana Mengetahui Layanan Aborsi Aman atau Tidak? Ini 9 Tandanya

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

    Pemadaman Listrik

    Pemadaman Listrik Bergilir: Ironi Negara Eksportir Batu Bara

    Suporter Jepang

    Kritik untuk Suporter Jepang di Piala Dunia 2026: Cuitan Warganet, Sentilan Aristoteles

    Slut Shaming

    Slut Shaming: Ruang Digital tidak Ramah Terhadap Perempuan Kritis

    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Feminisme: Kala Perempuan Tak Melulu Menjadi Penghibur

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Kemandirian Manusia

    Kemandirian Manusia: Mitos yang Dibongkar Difabel

    Anak Muda

    Anak Muda dan Krisis Kecukupan di Era Digital

    There's a Man

    “There’s a Man”: Saat Media Sosial Mengajak Kita Mengkritisi Cara Pandang Patriarkal

    Koruptor

    Mengapa Koruptor Lebih Mudah Dimaafkan daripada Pencuri Singkong?

    Mitos Disabilitas

    Meruntuhkan Mitos, yang Perlu Disembuhkan Bukan Disabilitas

    Nyeleneh

    Mereka Bilang Saya Nyeleneh: Memahami Kelelahan Mental Penyandang Sindrom Asperger

    Tradisi Pesantren

    Al-Ma’arifiyah: Menuju Persenyawaan Pengetahuan dalam Tradisi Pesantren

    Merantau

    Di Balik Tradisi Merantau Minangkabau, Ada Beban Ganda yang Dipikul Para Istri

    Pendidikan Perempuan

    Benarkah Perempuan Tidak Perlu Sekolah Tinggi? Menepis Stigma tentang Pendidikan Perempuan

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Pasca Aborsi

    Pendarahan Pasca Aborsi yang Mengancam Nyawa, Ini 5 Langkah Penanganan Lanjutannya

    Pasca Aborsi

    7 Langkah Darurat Menangani Pendarahan Pasca Aborsi sebelum Dirujuk ke Rumah Sakit

    Pendarahan pasca aborsi

    Cara Menghentikan Pendarahan yang Berlebihan Pasca Aborsi

    Aborsi

    Pendarahan Pasca Aborsi: Kenali Tanda Bahaya dan Langkah Pertolongan Pertama

    KB Setelah Aborsi

    Keluarga Berencana (KB) Setelah Aborsi

    Bahaya Aborsi

    Tanda-tanda Bahaya Setelah Aborsi

    Setelah Aborsi

    Perawatan Setelah Aborsi: Kenali Tanda Normal dan Gejala yang Harus Diwaspadai

    Aborsi

    Begini Ciri-ciri Layanan Aborsi yang Aman Menurut Standar Kesehatan

    Layanan Aborsi

    Bagaimana Mengetahui Layanan Aborsi Aman atau Tidak? Ini 9 Tandanya

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom Publik

Mengapa Koruptor Lebih Mudah Dimaafkan daripada Pencuri Singkong?

Dalam kehidupan masyarakat, ukuran benar dan salah ternyata tidak selalu ditentukan oleh hukum. Tidak jarang, kebenaran justru dibentuk oleh siapa yang memiliki kekuasaan, uang, pengaruh, atau jumlah pendukung yang lebih besar.

Sifa Paoziah by Sifa Paoziah
8 Juli 2026
in Publik
A A
0
Koruptor

Koruptor

3
SHARES
125
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Mengapa seorang koruptor yang menggelapkan uang negara hingga miliaran rupiah masih bisa tersenyum. Sementara seorang nenek yang mencuri singkong karena lapar justru diberikan hukuman berat Padahal, keduanya sama-sama melakukan pelanggaran hukum.

Perbedaan cara masyarakat memandang dua peristiwa tersebut memperlihatkan satu kenyataan yang sering luput kita sadari. Dalam kehidupan masyarakat, ukuran benar dan salah ternyata tidak selalu ditentukan oleh hukum. Tidak jarang, kebenaran justru dibentuk oleh siapa yang memiliki kekuasaan, uang, pengaruh, atau jumlah pendukung yang lebih besar.

Fenomena inilah yang menarik ketika saya membaca Menapak Jalan Revolusi. Buku tersebut mengajak pembaca melihat bahwa relasi kuasa memiliki peran besar dalam membentuk cara masyarakat memahami keadilan.

Pelanggaran yang dilakukan kelompok yang memiliki kekuasaan sering kali dianggap lumrah. Sedangkan kesalahan yang dilakukan kelompok yang berada di posisi lemah jauh lebih mudah memperoleh hukuman yang lebih berat.

Realitas semacam itu tidak sulit ditemukan. Dalam berbagai kasus korupsi, misalnya, pelaku yang berasal dari kalangan elite sering kali masih memperoleh ruang pembelaan. Tidak sedikit yang berusaha memaklumi tindakan mereka dengan berbagai alasan, mulai dari jasa yang pernah diberikan hingga anggapan bahwa korupsi sudah menjadi budaya birokrasi.

Sebaliknya, masyarakat sering kali menunjukkan kemarahan yang jauh lebih besar kepada pelaku kejahatan kecil. Seorang warga yang mencuri makanan karena terdesak kebutuhan ekonomi dapat dengan mudah menjadi sasaran perundungan, kekerasan massa, bahkan penghakiman sebelum menjalani proses hukum.

Bukan dari Jenis Pelanggaran

Perbedaan perlakuan tersebut menunjukkan bahwa respons publik sering kali terpengaruhi oleh posisi sosial pelaku, bukan oleh jenis pelanggaran yang ia lakukan.

Kondisi ini menunjukkan bahwa kelompok mayoritas mampu membentuk persepsi masyarakat mengenai apa yang ia anggap benar dan salah. Ketika sebuah pandangan mendapat dukungan oleh kelompok yang besar, pandangan tersebut lebih mudah mereka terima sebagai kebenaran. Meskipun belum tentu berdiri di atas fakta maupun prinsip keadilan.

Akibatnya, mereka yang memiliki pandangan berbeda sering kali memilih diam. Bukan karena tidak memiliki argumentasi, tetapi karena khawatir dianggap melawan arus, diserang, atau dikucilkan dari lingkungan sosialnya.

Pada titik inilah suara mayoritas perlahan berubah menjadi alat legitimasi yang menentukan siapa yang boleh kita dengar dan siapa yang harus tersingkirkan.

Dalam buku Menapak Jalan Revolusi, menjelaskan bahwa kelompok minoritas tidak selalu memiliki posisi yang sama. Ada kelompok minoritas yang masih memiliki dukungan politik maupun identitas sosial yang kuat sehingga tetap memperoleh perlindungan dalam kehidupan publik.

Namun, ada pula kelompok minoritas yang tidak memiliki perlindungan semacam itu. Mereka harus membangun ruang sosialnya sendiri di tengah keterbatasan pengakuan negara maupun masyarakat.

Perbedaan posisi tersebut membuat sebagian kelompok minoritas lebih rentan mengalami diskriminasi. Kesalahan kecil yang mereka lakukan lebih mudah menjadi besar. Sementara ketika menjadi korban ketidakadilan, suara mereka justru sering tidak memperoleh perhatian yang memadai.

Buku ini secara tegas mengingatkan bahwa memandang minoritas hanya berdasarkan jumlah, kekuatan politik, ataupun posisi ekonomi merupakan bentuk ketidakadilan.

Selama ukuran kebenaran masih ditentukan oleh banyaknya pendukung dan besarnya kekuasaan. Maka selama itu pula relasi sosial akan terus melahirkan kelompok yang diuntungkan dan kelompok yang dikorbankan.

Dalam Ajran Islam

Pandangan tersebut sejalan dengan nilai dengan Al-Qur’an. Dalam Surah An-Nisa ayat 135, Allah SWT memerintahkan setiap orang beriman untuk menjadi penegak keadilan, sekalipun keadilan itu harus kita tegakkan terhadap diri sendiri, keluarga, maupun orang-orang yang berbeda dengan kita.

Ayat ini menunjukkan bahwa keberpihakan kepada kebenaran tidak boleh bergantung pada identitas kelompok, kedekatan hubungan, ataupun jumlah pendukung.

Sayangnya, dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering kali lebih mudah mengikuti suara yang paling keras daripada mencari fakta yang sebenarnya. Informasi yang berulang-ulang banyak orang sampaikan, perlahan akan menjadi sebuah kebenaran, meskipun belum tentu memiliki dasar yang kuat.

Media sosial mempercepat proses tersebut. Algoritma membuat seseorang lebih sering bertemu dengan pendapat yang sejalan dengan keyakinannya sehingga ruang untuk mendengar perspektif lain menjadi semakin sempit.

Di sinilah pentingnya membangun cara berpikir yang kritis. Keadilan tidak lahir dari banyaknya orang yang setuju terhadap suatu pendapat. Melainkan dari keberanian menempatkan fakta dan nilai kemanusiaan di atas kepentingan kelompok.

Sebab sejarah telah berkali-kali memperlihatkan bahwa suara mayoritas tidak selalu berada di pihak yang benar.

Karena itu, kita perlu berhati-hati ketika menilai seseorang hanya berdasarkan opini publik. Ramainya dukungan tidak otomatis menunjukkan kebenaran, sebagaimana sedikitnya jumlah pendukung tidak serta-merta menunjukkan kesalahan.

Yang semestinya menjadi ukuran adalah apakah tindakan tersebut menjunjung keadilan, menghormati martabat manusia, dan tidak merugikan hak orang lain.

Oleh karena itu, masyarakat yang demokratis bukanlah masyarakat yang selalu mengikuti suara terbanyak. Melainkan masyarakat yang berani membela keadilan meskipun datang dari kelompok yang paling sedikit jumlahnya.

Sebab hanya dengan cara itulah setiap orang dapat memperoleh perlakuan yang setara sebagai manusia, tanpa membedakan dari kekuasaan, identitas, maupun jumlah orang yang berdiri di belakangnya. []

Tags: DimaafkanKoruiptorMengapaPencuriSingkong
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Meruntuhkan Mitos, yang Perlu Disembuhkan Bukan Disabilitas

Next Post

“There’s a Man”: Saat Media Sosial Mengajak Kita Mengkritisi Cara Pandang Patriarkal

Sifa Paoziah

Sifa Paoziah

Saya adalah Mahasantriwa Sarjana Ulama Perempuan Indonesia (SUPI) ISIF Cirebon

Related Posts

Kekerasan Seksual
Aktual

Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

1 Juli 2026
Memiliki Anak
Pernak-pernik

Mengapa Perempuan Selalu Disalahkan saat Pasangan Sulit Memiliki Anak?

26 Juni 2026
program KB
Pernak-pernik

Mengapa sebagian Perempuan Masih Sulit Mengakses Program KB?

26 Juni 2026
Kehamilan dan
Pernak-pernik

Mengapa Menunda Kehamilan Dapat Meningkatkan Kualitas Hidup Keluarga?

13 Juni 2026
Gairah Seksual
Pernak-pernik

Mengapa Gairah Seksual dapat Berkurang atau Hilang?

12 Juni 2026
Seks
Pernak-pernik

Mengapa Membicarakan Seks dengan Pasangan itu Penting?

12 Juni 2026
Next Post
There's a Man

"There's a Man": Saat Media Sosial Mengajak Kita Mengkritisi Cara Pandang Patriarkal

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Kemandirian Manusia: Mitos yang Dibongkar Difabel
  • Anak Muda dan Krisis Kecukupan di Era Digital
  • “There’s a Man”: Saat Media Sosial Mengajak Kita Mengkritisi Cara Pandang Patriarkal
  • Mengapa Koruptor Lebih Mudah Dimaafkan daripada Pencuri Singkong?
  • Meruntuhkan Mitos, yang Perlu Disembuhkan Bukan Disabilitas

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0