Rabu, 1 Juli 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Pemadaman Listrik

    Pemadaman Listrik Bergilir: Ironi Negara Eksportir Batu Bara

    Suporter Jepang

    Kritik untuk Suporter Jepang di Piala Dunia 2026: Cuitan Warganet, Sentilan Aristoteles

    Slut Shaming

    Slut Shaming: Ruang Digital tidak Ramah Terhadap Perempuan Kritis

    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Feminisme: Kala Perempuan Tak Melulu Menjadi Penghibur

    Aliansi Perempuan Indonesia

    Aliansi Perempuan Indonesia Turun ke Jalan Tolak Kenaikan Harga

    In This Economy

    In This Economy, Perempuan dengan Satu Penghasilan Adalah Kemewahan

    Warga NU

    Di Mubes NU Cirebon Raya, Maria Ulfah Anshor: Abad Kedua NU Harus Berpihak pada Kelompok Rentan

    Mubes Warga NU

    Mubes Warga NU Cirebon Raya: Dorong NU Kembali Menjadi Kekuatan Masyarakat Sipil

    Muharram

    Muharram dan Keberanian Membela Kebenaran: Belajar dari Tragedi Karbala

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Kehamilan yang Terencana

    Kehamilan yang Terencana Dimulai dari Kerja Sama Suami-Istri Bersama Aplikasi Flo

    Normalitas dan Disabilitas

    Normalitas dan Disabilitas: Privilege yang Sementara

    Kursi Roda

    Kursi Roda: Tanda Pengenal untuk Sebagian Penyandang Disabilitas

    Fikih Penguatan Disabilitas

    Hening yang Berbicara: Ketika Fikih Penguatan Disabilitas Melupakan Perempuan

    Penganiayaan Yuvita

    Kasus Penganiayaan Yuvita: Alarm Bahaya Jebakan Relasi Kuasa

    Anak Autis

    Menjadi Guru bagi Anak Autis, Belajar Menjadi Manusia yang Lebih Peka

    Trotoar Disabilitas

    Ketika Trotoar Disabilitas Beralih Fungsi Menjadi Lahan Parkir dan Area Perdagangan

    Film Taare Zameen Par

    Film Taare Zameen Par: Apakah Ishaan Masih Ada di Sekolah Kita?

    Sakinah

    Mengupayakan Sakinah, Mawaddah dan Warahmah dalam Hubungan Pernikahan

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Aborsi

    Aborsi Tidak Aman Mengancam Nyawa: Hindari Cara-cara Berbahaya Ini

    Aborsi Aman

    Aborsi Aman dan Tidak Aman: Memahami Perbedaannya Demi Keselamatan Perempuan

    Aborsi

    Aborsi Bukan Keputusan yang Mudah: Memahami Alasan dan Risikonya

    Keguguran ini

    Mengalami Keguguran? Ini Langkah-langkah yang Perlu Dilakukan Sebelum Program Hamil Lagi

    Rumah Tangga yang

    Membangun Relasi Ekonomi Rumah Tangga yang Adil dan Setara

    Keguguran

    Mengapa Terjadi Keguguran? Kenali Penyebab, Gejala, dan Penanganannya

    Sehat

    Belum Juga Hamil? Perbaiki Pola Hidup Sehat dan Lakukan Pemeriksaan

    peluang hamil

    6 Cara Meningkatkan Peluang Hamil bagi Pasangan Suami Istri

    Masa Subur

    Cara Mengetahui Masa Subur melalui Perubahan Lendir Vagina

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Pemadaman Listrik

    Pemadaman Listrik Bergilir: Ironi Negara Eksportir Batu Bara

    Suporter Jepang

    Kritik untuk Suporter Jepang di Piala Dunia 2026: Cuitan Warganet, Sentilan Aristoteles

    Slut Shaming

    Slut Shaming: Ruang Digital tidak Ramah Terhadap Perempuan Kritis

    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Feminisme: Kala Perempuan Tak Melulu Menjadi Penghibur

    Aliansi Perempuan Indonesia

    Aliansi Perempuan Indonesia Turun ke Jalan Tolak Kenaikan Harga

    In This Economy

    In This Economy, Perempuan dengan Satu Penghasilan Adalah Kemewahan

    Warga NU

    Di Mubes NU Cirebon Raya, Maria Ulfah Anshor: Abad Kedua NU Harus Berpihak pada Kelompok Rentan

    Mubes Warga NU

    Mubes Warga NU Cirebon Raya: Dorong NU Kembali Menjadi Kekuatan Masyarakat Sipil

    Muharram

    Muharram dan Keberanian Membela Kebenaran: Belajar dari Tragedi Karbala

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Kehamilan yang Terencana

    Kehamilan yang Terencana Dimulai dari Kerja Sama Suami-Istri Bersama Aplikasi Flo

    Normalitas dan Disabilitas

    Normalitas dan Disabilitas: Privilege yang Sementara

    Kursi Roda

    Kursi Roda: Tanda Pengenal untuk Sebagian Penyandang Disabilitas

    Fikih Penguatan Disabilitas

    Hening yang Berbicara: Ketika Fikih Penguatan Disabilitas Melupakan Perempuan

    Penganiayaan Yuvita

    Kasus Penganiayaan Yuvita: Alarm Bahaya Jebakan Relasi Kuasa

    Anak Autis

    Menjadi Guru bagi Anak Autis, Belajar Menjadi Manusia yang Lebih Peka

    Trotoar Disabilitas

    Ketika Trotoar Disabilitas Beralih Fungsi Menjadi Lahan Parkir dan Area Perdagangan

    Film Taare Zameen Par

    Film Taare Zameen Par: Apakah Ishaan Masih Ada di Sekolah Kita?

    Sakinah

    Mengupayakan Sakinah, Mawaddah dan Warahmah dalam Hubungan Pernikahan

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Aborsi

    Aborsi Tidak Aman Mengancam Nyawa: Hindari Cara-cara Berbahaya Ini

    Aborsi Aman

    Aborsi Aman dan Tidak Aman: Memahami Perbedaannya Demi Keselamatan Perempuan

    Aborsi

    Aborsi Bukan Keputusan yang Mudah: Memahami Alasan dan Risikonya

    Keguguran ini

    Mengalami Keguguran? Ini Langkah-langkah yang Perlu Dilakukan Sebelum Program Hamil Lagi

    Rumah Tangga yang

    Membangun Relasi Ekonomi Rumah Tangga yang Adil dan Setara

    Keguguran

    Mengapa Terjadi Keguguran? Kenali Penyebab, Gejala, dan Penanganannya

    Sehat

    Belum Juga Hamil? Perbaiki Pola Hidup Sehat dan Lakukan Pemeriksaan

    peluang hamil

    6 Cara Meningkatkan Peluang Hamil bagi Pasangan Suami Istri

    Masa Subur

    Cara Mengetahui Masa Subur melalui Perubahan Lendir Vagina

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Featured

Spiritualitas Perempuan dan Pencarian Lailatul Qadar: Perspektif Mubadalah

Lailatul Qadar bukan hanya tentang doa yang lantang, tetapi juga tentang bisikan lembut seorang ibu di tengah malam.

Lailatuz Zuhriyah by Lailatuz Zuhriyah
25 Maret 2025
in Featured, Personal
A A
0
Spiritualitas Perempuan

Spiritualitas Perempuan

18
SHARES
891
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Ramadan selalu membawa suasana yang berbeda. Ada kehangatan dalam setiap ritual sahur, ada harapan dalam setiap salat tarawih, dan ada kerinduan dalam doa-doa yang terpanjat. Namun, bagi banyak perempuan, ada satu pertanyaan yang kerap kali muncul di benak, “Apakah aku punya kesempatan yang sama untuk menemukan Lailatul Qadar?”

Sejak kecil, kita sering kali mendengar bahwa Lailatul Qadar adalah malam yang lebih baik dari seribu bulan. Sebuah malam yang penuh dengan keberkahan, di mana langit menjadi lebih teduh, malaikat turun, dan takdir setahun ke depan ditentukan. Tapi, apakah mendapatkan malam itu hanya oleh mereka yang beri’tikaf di masjid, yang menghabiskan malamnya dengan tahajud tanpa gangguan dunia?

Bayangkan ada seorang ibu yang terjaga di tengah malam, bukan untuk i’tikaf di masjid, melainkan untuk menenangkan anaknya yang terbangun dari tidurnya. Di sela-sela dekapannya, si ibu berbisik pelan, “Ya Allah, terimalah kelelahan ini sebagai ibadah.”

Atau seorang perempuan yang tak bisa menunaikan salat karena siklus biologisnya, tetapi tetap melantunkan doa dalam hatinya, merapal istighfar dengan keyakinan penuh bahwa Allah Maha Mendengar setiap doa. Dalam hening, dalam tugas-tugas sederhana seorang perempuan, ada doa yang tak kalah dalam ketulusan.

Sejatinya, Lailatul Qadar tidak hanya sekedar peristiwa kosmis yang harus kita rayakan dengan ritual yang kaku. Malam ini merupakan malam perjumpaan antara hamba dengan Tuhan dalam bentuk yang paling personal. Malam yang hadir di setiap helaan nafas seorang perempuan yang menata niatnya, di setiap langkah yang diambil dengan ketulusan, di setiap kelelahan yang diikhlaskan demi orang-orang tercintanya.

Dalam hal ini, sebenarnya Lailatul Qadar tidak harus kita temukan di atas sajadah, tetapi bisa jadi tersembunyi dalam kelembutan hati seorang perempuan yang tak henti berharap.

Oleh karena itu, di sepuluh malam terakhir ini, mari kita renungkan: di mana kita menemukan kehadiran Tuhan? Bagi perempuan, jawabannya bisa jadi berbeda-beda. Bisa di atas sajadah, bisa di kamar bayi, bisa di dapur yang menyimpan harapan. Yang pasti, Lailatul Qadar tidak pernah eksklusif. Lailatul Qadar adalah milik semua yang mencarinya, dengan cara mereka masing-masing.

Lailatul Qadar: Melampaui Ritualitas

Jika kita melihat kembali pada inti dari Lailatul Qadar, maka kita akan menemukan bahwa malam ini bukan hanya tentang jumlah rakaat salat atau panjangnya doa yang dipanjatkan. Malam ini adalah tentang keterhubungan hamba dengan Allah, tentang refleksi diri, tentang merasakan kehadiran-Nya dalam setiap helaan nafas.

Allah dengan Maha Rahman dan Rahim-Nya tidak membatasi keistimewaan malam ini hanya untuk mereka yang menghabiskan malam ini dalam ibadah lahiriah saja. Sebaliknya, Lailatul Qadar adalah ruang spiritual yang terbuka bagi siapa saja, baik bagi ibu yang tengah meninabobokan anaknya sambil berdzikir, bagi perempuan yang tengah beristirahat karena kondisi tubuhnya, juga bagi siapa pun yang mencari Tuhan dalam keheningan malam.

Fenomena ini mengingatkan kita pada kisah Rabiah al-Adawiyah, seorang sufi perempuan yang menjadikan cintanya kepada Allah sebagai pusat kehidupan. Baginya, ibadah bukan hanya tentang ritual, tetapi tentang bagaimana hati tersambung dengan-Nya. Dalam konteks ini, pencarian Lailatul Qadar menjadi lebih luas, tidak hanya tentang tempat dan waktu, melainkan juga tentang kesadaran batin.

Perspektif Mubadalah: Kesalingan dalam Ibadah

Dalam metodologi fatwa KUPI, terdapat salah satu pendekatan yang relevan yang dapat digunakan dalam menganalisis fenomena ini, yakni pendekatan mubadalah. Pendekatan ini menekankan kesalingan dalam hubungan, termasuk dalam hubungan spiritual.

Kesalingan ini berarti bahwa pencapaian spiritual seorang hamba tidak hanya bergantung pada ruang yang diklaim oleh satu gender saja. Tetapi, laki-laki dan perempuan memiliki peluang yang sama dalam mendekat kepada Allah, meskipun cara (epistemologi) mereka mungkin berbeda.

Banyak narasi klasik yang menggambarkan perempuan sebagai “pendukung” dalam ibadah, bukan sebagai subjek yang aktif. Perempuan yang mengurus rumah, menyediakan sahur, menidurkan anak, sering kali dianggap tidak sedang beribadah, padahal jika dikaji dengan menggunakan perspektif mubadalah, justru inilah bentuk ibadah itu sendiri.

Aisyah r.a., istri Nabi, memberikan contoh bagaimana perempuan memiliki peran aktif dalam ibadah. Asiyah r.a.. meriwayatkan banyak hadis tentang bagaimana Rasulullah SAW memperlakukan ibadah secara inklusif, termasuk bagi perempuan. Salah satu hadisnya yang penulis lansir dalam portal NU Online.

وَعَنْ عائشة رضي الله عنها: قالت: «قلت: يا رسولَ الله إِنْ وَافَقْتُ ليلةَ القَدْرِ ، ما أَدْعُو به؟ قال: قُولي: اللهم إنك عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُ الْعَفْوَ فاعْفُ عَنِّي» أخرجه الترمذي

Artinya, “Dari sayyidah Aisyah ra, ia bercerita, ia pernah bertanya, ‘Wahai Rasulullah, jika aku kedapatan menjumpai Lailatul Qadar, bagaimana doa yang harus kubaca?’ Rasulullah saw menjawab, ‘Bacalah, ‘Allāhumma innaka afuwwun karīmun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annī,’” (HR At-Tirmidzi).

Makna Lain Spiritualitas Perempuan

Hadis ini menunjukkan bahwa pencarian Lailatul Qadar tidak terbatas pada laki-laki di masjid. Seorang perempuan, di ruang manapun mereka berada, tetap bisa meraih keberkahan malam tersebut dengan doa dan kesadaran spiritualnya.

Lebih dari itu, kesalingan dalam ibadah juga mencakup bagaimana kita memahami tugas-tugas domestik dalam perspektif ibadah. Islam tidak pernah memandang rendah pekerjaan rumah tangga atau peran pengasuhan anak.

Justru, dalam pendekatan mubadalah, tugas-tugas ini memiliki nilai spiritualitas perempuan yang setara dengan ibadah lainnya. Kesalingan dalam ibadah berarti setiap individu, baik laki-laki maupun perempuan, memiliki peran unik dalam membangun spiritualitas keluarga maupun komunitasnya.

Pada sepuluh malam terakhir Ramadan, pendekatan mubadalah mengajak kita untuk melihat ibadah secara lebih luas lagi. Bagi perempuan yang tidak dapat melaksanakan shalat karena haid, mereka tetap dapat mencari Lailatul Qadar melalui doa, dzikir, dan refleksi diri.

Bagi ibu yang sibuk mengurus anak, setiap dekapan dan kasih sayang yang diberikan adalah bentuk pengabdian kepada Allah. Dengan memahami prinsip mubadalah, kita dapat menjauh dari standar ibadah yang eksklusif dan menuju pemaknaan yang lebih adil dan menyeluruh.

Mencari Lailatul Qadar dengan Cara Perempuan: Ritual atau Makna?

Ada banyak cara yang bisa ditempuh perempuan untuk mencari Lailatul Qadar. Tidak semua harus berbentuk ibadah formal seperti salat malam atau i’tikaf di masjid. Tetapi, seorang perempuan yang mencurahkan waktu untuk keluarganya, yang membangun empati dengan sesama, yang merenungi dirinya sendiri, sejatinya juga sedang dalam pencarian spiritual.

Jika kita kembali ke makna dasar dari malam ini, maka kita akan menemukan bahwa sejatinya Lailatul Qadar adalah tentang transformasi. Lailatul Qadar adalah malam perubahan, malam di mana kita melakukan refleksi ontologis tentang siapa kita selama ini dan siapa yang ingin kita capai di hadapan Allah?

Jadi, apakah perempuan bisa mendapatkan Lailatul Qadar di sela-sela tugas domestiknya? Jawabannya: tentu saja! Karena Allah melihat hati, bukan hanya tempat ibadah kita.

Dari seluruh penjelasan di atas, dapat dipahami bahwa Lailatul Qadar adalah peristiwa spiritual yang tak mengenal batas ruang dan bentuk. Lailatul Qadar bukan hanya tentang doa yang lantang, tetapi juga tentang bisikan lembut seorang ibu di tengah malam. Bukan hanya tentang sujud di masjid, tetapi juga tentang langkah kecil menuju kebaikan. Malam ini adalah milik mereka yang mencari-Nya dengan hati yang penuh harap, di mana pun mereka berada.

Untuk para perempuan, jangan pernah merasa kurang dalam ibadah hanya karena keadaanmu berbeda. Allah Maha Melihat setiap lelahmu, mendengar setiap doamu, dan mencatat setiap niat baikmu. Lailatul Qadar bukan hanya milik mereka yang berdiri lama dalam salat dan berdiam diri lama dengan i’tikaf, tetapi juga milikmu, yang mencintai, merawat, dan memberi dengan tulus.

Jangan berhenti berharap, karena keberkahan-Nya tak berbatas bagi siapa pun yang mau mencari-Nya dengan hati yang ikhlas dan penuh harap. Semoga Allah senantiasa merahmati dan memberkahi hidup kita. Aamiin. []

 

Tags: DoaHak PerempuanHikmahibadahLailatul Qadarramadan
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Kata Nyai Badriyah: Banyak Para Sahabiat Belajar Langsung kepada Rasulullah Saw

Next Post

5 Dasar Toleransi Menurut Wahbah Az-Zuhaili

Lailatuz Zuhriyah

Lailatuz Zuhriyah

Dosen Filsafat dan Kepala Pusat Penelitian LP2M UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung

Related Posts

Dawuh Nyai Noor Chodijah
Personal

Membaca Dawuh Mbah Nyai Noor Chodijah tentang Laku Batin Perempuan

19 Juni 2026
Suara Disabilitas
Disabilitas

Dari Dialog Ibrahim-Ismail ke Meja Kebijakan: Refleksi Keterlibatan Suara Disabilitas

3 Juni 2026
Siti Hajar
Pernak-pernik

Siti Hajar, Simbol Kemuliaan Manusia dalam Ritual Haji

27 Mei 2026
Berkurban
Hikmah

Berkurban Tidak Harus dengan Hewan

26 Mei 2026
Baru Menikah
Hikmah

Enam Dimensi Mubadalah dalam Doa bagi yang Baru Menikah

9 April 2026
Akhir Ramadan
Hikmah

Menutup Akhir Ramadan dengan Cara Terbaik

18 Maret 2026
Next Post
Toleransi

5 Dasar Toleransi Menurut Wahbah Az-Zuhaili

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Aborsi Tidak Aman Mengancam Nyawa: Hindari Cara-cara Berbahaya Ini
  • Kehamilan yang Terencana Dimulai dari Kerja Sama Suami-Istri Bersama Aplikasi Flo
  • Aborsi Aman dan Tidak Aman: Memahami Perbedaannya Demi Keselamatan Perempuan
  • Film Jangan Buang Ibu: Mengingatkan Pentingnya Berbakti kepada Orang Tua
  • Aborsi Bukan Keputusan yang Mudah: Memahami Alasan dan Risikonya

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0