“Dan mungkin aku memang sedang tak bisa….”
“Tak bisa jatuh cinta…..”
“Membuka hati tuk apa pun siapa pun…..”
Mubadalah.id – Belakangan ini, petikan refrein tersebut terasa makin akrab di telingan kita. Kadang muncul saat kita sedang menggulir linimasa media sosial, terselip di antara video-video pendek, atau dikirim seorang teman dengan komentas singkat, “Kok, relate?”
Lagu ini memang baru rilis, tetapi refreinnya cepat menemukan momentumnya dengan orang-orang yang sedang kesulitan menjelaskan perasaannya sendiri. Di media sosial, Lagu Teh Hijau banyak dibicarakan sebagai lagu tentang fase hampa atau mati rasa. Ketika hidup tetap berjalan, tetapi hati seperti belum ingin menuju ke mana-mana.
Uniknya, lagu ini tidak terdengar seperti lagu patah hati yang muram. Musiknya justru ringan, hangat, dan cukup riang untuk kita nikmati sambil menjalani aktivitas sehari-hari. Mungkin, kita bisa ikut menganggukkan kepala atau bersenandung kecil sebelum benar-benar menyadari isi pengakuan yang sedang Tulus nyanyikan.
Dari seluruh bagian lagu “Teh Hijau”, refreinnya barangkali menjadi bagian yang paling jujur. Kata “aku” berulang kali mengakui bahwa dirinya sedang tidak mampu jatuh cinta dan belum sanggup memberikan ruang di dalam hati bagi sesuatu maupun seseorang. Pengakuan tersebut tak hanya muncul sekali, tetapi terus kembali. Bahkan setelah berbagai upaya dilakukan dan harapan tentang hari esok mulai terbicarakan.
Ketika Berbagai Saran Belum Menjadi Penawar
Sebelum sampai pada pengakuan tentang ketidakmampuan membuka hati, “Teh Hijau” terlebih dahulu membawa pendengarnya menyusuri hari-hari yang berulang dan rasa senang yang semakin sulit kita temukan. Berbagai saran pun berdatangan. Keluar ke alam, mencari sesuatu yang menantang, menambah gerak tubuh, hingga menambah bacaan baru.
Semua saran tersebut terdengar baik. Akan tetapi, liriknya segera memberikan jarak. Berbagai anjuran itu belum berhasil menjadi penawar. Tubuh mungkin telah bergerak, membaca buku baru, bahkan mengunjungi tempat favorit. Namun, kehampaan tidak selalu pergi mengikuti jadwal yang kita tentukan.
Bagian ini terasa dekat dengan kehidupan masa kini. Ketika seseorang mengeluhkan kesepian atau kelelahan, ia kerap menerima daftar panjang tentang apa yang seharusnya dilakukan. Ketika semuanya belum berhasil, ia kembali dicurigai kurang berusaha atau terlalu menikmati kesedihannya.
Padahal, “Teh Hijau” memperlihatkan bahwa melakukan sesuatu dan belum merasa pulih dapat terjadi secara bersamaan. Di sinilah letak seni yang pertama, berani mengakui bahwa tidak setiap usaha langsung menghasilkan perubahan perasaan. Pengakuan yang jujur bukan bentuk penolakan terhadap pertolongan, melainkan cara agar seseorang tidak perlu memalsukan kebahagiaan hanya untuk memenuhi harapan orang lain.
Ketika Lagu Ini Dibaca Melalui Kacamata Perempuan
“Teh Hijau” memang tidak secara khusus bercerita tentang perempuan. Namun, ketika membacannya melaui pengalaman perempuan dewasa, kehampaan dalam lagu ini terasa lebih berlapis. Hampa bukan hanya keadaan ketika rasa senang sulit kita temukan, melainkan juga pertemuan yang rumit antara hati yang belum siap dan kehidupan yang terus meminta kepastian.
Pada usia tertentu, hidup perempuan seolah memiliki jadwal yang tertulis oleh banyak tangan. Undangan pernikahan datang bergantian, pertanyaan “Kapan menyusul?” mulai menjadi bahan percakapan. Di sisi lain perkenalan dengan calon pasangan dianggap sebagai pertolongan yang semestinya kita terima dengan senang hati. Mula-mula semuanya mungkin terdengan sebagai basa-basi. Namun, ketika terus berulang, kesiapan yang seharusnya menjadi urusanbatin perlahan berubah menjadi urusan orang banyak.
Pada saat yang sama, perempuan sering diharapkan selalu tersedia secara emosional. Ia menjadi tempat keluarga bercerita, memahami perubahan suasana pasangan, menjga percakapan agar tetap nyaman, dan menahan kelelahannya supaya tidak merusak suasana. Oleh sebab itu, saat perempuan menarik diri atau belum sanggup memberikan ruang kepada orang lain, menganggapnya mudah dingin, egois, atau terlalu memikirkan diri sendiri.
Di titik inilah refrein “Teh Hijau” memperoleh kedekatan dengan pengalaman perempuan. Ketidakmampuan menerima cinta tidak selalu berarti membenci hubungan atau menolak masa depan. Kadang-kadang, ia hanyalah pengakuan bahwa ruang batin seseorang sedang penuh, lelah, atau belum selesai memahami dirinya. Hati tidak dapat terbuka sebagai bentuk kepatuhan terhadap usia dan tuntutan lingkungan.
Merayakan Hampa Tanpa Terburu-buru Mengisinya
Setelah begitu banyak suara dari luar, kehampaan justru menjadi satu-satunya ruang yang belum terpenuhi keinginan orang lain. Di dalam ruang itulah perempuan mempunyai kesempatan untuk membedakan mana yang benar-benar ia inginkan dan mana yang selama ini hanya ia jalani karena takut mengecewakan lingkungan.
Refrein “Teh Hijau” tidak memaksa ruang kosong itu segera terisi oleh seseorang yang baru. Ketidakmampuan jatuh cinta diterima sebagai keadaan yang sedang berlangsung, bukan persoalan yang harus terselesaikan dengan mencari pengganti. Bagi perempuan, sikap ini bukan penolakan terhadap cinta, melainkan kehati-hatian agar seseorang tidak menjadi pelarian dari kesepian atau jawaban atas kecemasan karena merasa tertinggal.
Seni merayakan kehampaan itu terletan pada keberanian untuk tidak menyebut setiap ruang kosong sebagai kekurangan. Ada kehampaan yang terkadang menyakitkan, tetapi ada pula yang memberi jarak agar seseorang dapat membaca kembali luka, kebutuhan, dan arah hidupnya. Jeda tersebut memungkinkan perempuan mendengar dirinya sendiri setelah terlalu lama hidup di tengah suara-suara yang menentukan apa yang seharusnya ia rasakan.
Merayakan hampa bukan berarti menetap di dalamnya. Perempuan tetap dapat menjalani kehidupan, membangun pertemanan, dan berjumpa dengan berbagai kemungkinan tanpa memaksa hatinya segera memilih. Ketika kelak ia memberikan ruang kepada seseorang, keputusan itu lahir dari kesadaran dan kesiapan, bukan karena takut kepada usia atau desakan untuk segera menyusul.
Mehamami Alur, Bukan Memaksa Memperoleh Makna Secepatnya
Lirik lagu bagian ini pun tak kalah epik
“Sedang kucoba memahami alurnya”
“Semoga segera kutemukan jawaban”
“Tapi kini kurayakan hampa ini, oh”
Memahami alur mengandaikan kesediaan untuk berjalan tanpa mengetahui seluruh ujungnya. Hidup terkadang juga teka-teki, tetapi setiap bagiannya tidak harus segera menemukan jawabannya. Sesuatu yang hari ini terasa hampa boleh jadi akan terbaca berbeda ketika waktu memberi jarak dan pandangan menjadi lebih jernih.
Keinginan memperoleh makna secepatnya sering muncul karena manusia tidak betah berhadapan dengan ketidakpastian. Padahal, makna yang kita paksakan mudah berubah menjadi kesimpulan tergesa-gesa yang lahir dari ketakutan, bukan kejernihan. Ada pengalaman yang memang harus kita jalani lebih dahulu sebelum dapat dimengerti.
Di tengah ukuran sosial yang kerap membuat perjalanan hidup perempuan seolah harus mudah terpetakan, berbagai pengalaman justru tidak selalu langsung memperlihatkan hubungannya. Semuanya merupakan bagian dari perjalanan yang polanya mungkin baru terlihat setelah terangkai oleh waktu. Dengan memandang hidup sebagai cerita yang masih bergerak, perempuan tidak perlu memaksa diri segera “sampai”. Perempuan cukup mengenali sedang berada di mana dan langkah apa yang dapat ia jalani.
Teh Hijau dan Seni Mengambil Jeda
Secara literal, teh hijau mengandung L-theanine, dan sejumlah penelitian menunjukkan potensi senyawa ini dalam menghadirkan rasa rileks. Alih-alih menjadikan secangkir teh sebagai penyembuh seluruh persoalan batin, lagu ini justru menghadirkannya sebagai jeda kecil bagi seseorang yang masih berusaha memahami alur hidupnya. Teh hijau tidak menghapus kehampaan. Namun memberi ruang bagi seseorang untuk tinggal sejenak bersama diri tanpa terus mendesak “jawaban” agar segera datang.
Barangkali, dari gerak tenang itulah seni merayakan kehampaan dalam “Teh Hijau” perlahan memperoleh bentuknya. Mengakui ketidaksiapan tanpa menganggap diri gagal, menjalani berbagai saran tanpa memaksa semuanya menjadi penawar, memilah apa yang masih dapat kita kendalikan, serta memberika waktu kepada diri tanpa mematikan harapan.
Bagi perempuan, hal tersebut menjadi keberanian untuk merebut kembali tempo hidupnya. Kehampaan tidak kita rayakan karena menyenangkan, tetapi karena perempuan tetap bernilai bahkan ketika diri belum sanggup menjadi apa yang dunia harapkan.
Mengambil jeda, dalam konteks ini, yakni memberi batin kesempatan untuk menyadari kembali keterbatasannya di hadapan Allah. Dalam ruang yang tenang itu, seseorang belajar bahwa tidak semua kegelisahan harus selesai cepat dan tidak semua jawaban berada dalam kuasanya. Jeda pun menjadi laku spiritual. Manusia tetap menjalankan ikhtiar, memelihara kesabaran, dan menyerahkan hasil kepada Allah melalui tawakal tanpa mematikan harapan. Wallahu a’lam bish-shawab. []











































