Kamis, 15 Januari 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

    Kekerasan di Kampus

    IMM Ciputat Dorong Peran Mahasiswa Perkuat Sistem Pelaporan Kekerasan di Kampus

    Kekerasan di Kampus

    Peringati Hari Ibu: PSIPP ITB Ahmad Dahlan dan Gen Z Perkuat Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender di Kampus

    KUPI yang

    KUPI Jadi Ruang Konsolidasi Para Ulama Perempuan

    gerakan peradaban

    Peran Ulama Perempuan KUPI dalam Membangun Gerakan Peradaban

    Kemiskinan Perempuan

    KUPI Dorong Peran Ulama Perempuan Merespons Kemiskinan Struktural dan Krisis Lingkungan

  • Kolom
    • All
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    Pemerintah

    Pemerintah dan Masyarakat Didorong Berkolaborasi Jaga Kelestarian Lingkungan

    sahabat tuli

    Sahabat Tuli Salatiga: Representasi Gerakan Kelompok Disabilitas

    Kerusakan Lingkungan

    Kerusakan Lingkungan Berdampak Luas pada Ekonomi, Sosial, dan Budaya Masyarakat

    Qawwam

    Memaknai Qawwam dalam Relasi Pernikahan: Refleksi Kewajiban Suami untuk Menafkahi Istri

    Kerusakan Lingkungan

    Indonesia Hadapi Tantangan Serius Akibat Kerusakan Lingkungan

    Real Food

    Real Food, Krisis Ekologi, dan Ancaman di Meja Makan Kita

    Dampak Polusi Udara

    PBB Soroti Dampak Polusi Udara terhadap Kesehatan dan Ekonomi Global

    Broken Strings

    Broken Strings, Kisah Aurelie Moeremans dan Realitas Child Grooming yang Kerap Tak Disadari

    Lingkungan jadi

    Kerusakan Alam Jadi Ancaman Nyata bagi Masa Depan

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Kitab Ta'limul Muta'allim

    Relevansi Pemikiran Syaikh Az-Zarnuji dalam Kitab Ta’limul Muta’allim

    Penciptaan Manusia

    Logika Penciptaan Manusia dari Tanah: Bumi adalah Saudara “Kita” yang Seharusnya Dijaga dan Dirawat

    Mimi Monalisa

    Aku, Mama, dan Mimi Monalisa

    Romantika Asmara

    Romantika Asmara dalam Al-Qur’an: Jalan Hidup dan Menjaga Fitrah

    Binatang

    Animal Stories From The Qur’an: Menyelami Bagaimana Al-Qur’an Merayakan Biodiversitas Binatang

    Ujung Sajadah

    Tangis di Ujung Sajadah

    Surga

    Menyingkap Lemahnya Hadis-hadis Seksualitas tentang Kenikmatan Surga

    Surga

    Surga dalam Logika Mubadalah

    Kenikmatan Surga

    Kenikmatan Surga adalah Azwāj Muṭahharah

    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Kebudayaan

    Pidato Kebudayaan dalam Ulang Tahun Fahmina Institute Ke 25

    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

    Kekerasan di Kampus

    IMM Ciputat Dorong Peran Mahasiswa Perkuat Sistem Pelaporan Kekerasan di Kampus

    Kekerasan di Kampus

    Peringati Hari Ibu: PSIPP ITB Ahmad Dahlan dan Gen Z Perkuat Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender di Kampus

    KUPI yang

    KUPI Jadi Ruang Konsolidasi Para Ulama Perempuan

    gerakan peradaban

    Peran Ulama Perempuan KUPI dalam Membangun Gerakan Peradaban

    Kemiskinan Perempuan

    KUPI Dorong Peran Ulama Perempuan Merespons Kemiskinan Struktural dan Krisis Lingkungan

  • Kolom
    • All
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    Pemerintah

    Pemerintah dan Masyarakat Didorong Berkolaborasi Jaga Kelestarian Lingkungan

    sahabat tuli

    Sahabat Tuli Salatiga: Representasi Gerakan Kelompok Disabilitas

    Kerusakan Lingkungan

    Kerusakan Lingkungan Berdampak Luas pada Ekonomi, Sosial, dan Budaya Masyarakat

    Qawwam

    Memaknai Qawwam dalam Relasi Pernikahan: Refleksi Kewajiban Suami untuk Menafkahi Istri

    Kerusakan Lingkungan

    Indonesia Hadapi Tantangan Serius Akibat Kerusakan Lingkungan

    Real Food

    Real Food, Krisis Ekologi, dan Ancaman di Meja Makan Kita

    Dampak Polusi Udara

    PBB Soroti Dampak Polusi Udara terhadap Kesehatan dan Ekonomi Global

    Broken Strings

    Broken Strings, Kisah Aurelie Moeremans dan Realitas Child Grooming yang Kerap Tak Disadari

    Lingkungan jadi

    Kerusakan Alam Jadi Ancaman Nyata bagi Masa Depan

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Kitab Ta'limul Muta'allim

    Relevansi Pemikiran Syaikh Az-Zarnuji dalam Kitab Ta’limul Muta’allim

    Penciptaan Manusia

    Logika Penciptaan Manusia dari Tanah: Bumi adalah Saudara “Kita” yang Seharusnya Dijaga dan Dirawat

    Mimi Monalisa

    Aku, Mama, dan Mimi Monalisa

    Romantika Asmara

    Romantika Asmara dalam Al-Qur’an: Jalan Hidup dan Menjaga Fitrah

    Binatang

    Animal Stories From The Qur’an: Menyelami Bagaimana Al-Qur’an Merayakan Biodiversitas Binatang

    Ujung Sajadah

    Tangis di Ujung Sajadah

    Surga

    Menyingkap Lemahnya Hadis-hadis Seksualitas tentang Kenikmatan Surga

    Surga

    Surga dalam Logika Mubadalah

    Kenikmatan Surga

    Kenikmatan Surga adalah Azwāj Muṭahharah

    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Kebudayaan

    Pidato Kebudayaan dalam Ulang Tahun Fahmina Institute Ke 25

    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Featured

RA Kartini dan Emansipasi Pemerdekaan Manusia

Melalui refleksi 21 April ini, kita dapat merenungkan ulang cita humanitas besar R.A. Kartini yang memimpikan sebuah keadilan dan kesetaraan antar umat manusia, bukan hanya kesetaraan gender.

Yulia Nasrul Latifi Yulia Nasrul Latifi
12 April 2024
in Featured, Figur
0
Kartini

Kartini

314
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Hari ini, 21 April 2021, adalah hari momentum yang sangat bersejarah bagi Bangsa Indonesia. Tanggal 21 April 1879 Kartini terlahir di Jepara. Pahlawan nasional ini dikenal sebagai tokoh bangsa yang gigih memperjuangkan nasib kaum perempuan Indonesia agar bisa maju dan terbebas dari belenggu tradisi.

Pada umumnya, sosok R.A. Kartini hanya dikaitkan dengan sosok pejuang kemajuan perempuan Indonesia yang telah merintis pendidikan bagi perempuan. Persepsi yang sebenarnya reduksionis ini kemudian semakin terreduksi dengan citra kontra-produktif ketika peringatan Hari Kartini (khususnya selama masa Orde Baru) diberikan bentuk domestikasi perempuan. Peringatan Hari Kartini di sekolah-sekolah selalu identik dengan keharusan berpakaian kebaya dan lomba masak bagi para pelajar perempuan.

Warna yang sama juga terjadi untuk organisasi ibu-ibu PKK, satu-satunya organisasi perempuan Indonesia yang secara kelembagaan didukung penuh oleh pemerintah masa Orde Baru. Pewacanaan perempuan Indonesia yang hegemonik selama masa Orde Baru tersebut akhirnya mampu mengonstruksi wacana perempuan Indonesia yang reduksionis.

Bentuk lain hegemonik-reduksionistik ini adalah dalam lagu nasional yang berjudul “Ibu Kita Kartini”, yang salah satu liriknya berbunyi “Putri Sejati”. Lagu ini dijadikan sebuah wacana hegemonik dengan penafsiran citra domestik perempuan Indonesia untuk pelanggengan patriarki. Tafsir ideologis patriarkis tersebut otomatis menjadi kontra-produktif dengan lirik selanjutnya yang berbunyi “Ibu kita Kartini pembela kaumnya untuk Merdeka”. R.A. Kartini memberikan kemerdekaan perempuan, namun momentum hegemonik peringatan Hari Kartini justru memenjarakan perempuan.  Bagaimanakah fenomena ini dapat kita baca?

Sebenarnya, fenomena yang menarik sekaligus penting untuk direnungkan dan direfleksikan kembali adalah pemikiran dan sepak terjang R.A Kartini itu sendiri sebagaimana tertuang dalam surat-suratnya. Pertanyaan yang kemudian muncul, Benarkah perjuangan R.A Kartini hanya terfokus pada upayanya untuk memajukan perempuan Indonesia melalui sekolah perempuan yang dia buka? Ataukah dia juga telah merintis berbagai jejak dan pemikiran revolusioner-emansipatoris untuk memajukan bangsa Indonesia?

Sangat menarik bila kita mencermati kembali pemikiran dan perjuangan R.A. Kartini yang dia tulis lebih dari satu abad yang lalu melalui kumpulan surat yang dia kirim ke teman-temannya di Belanda. Dalam kumpulan suratnya tersebut tergambar jelas daya kritis dan ketajaman pemikiran R.A. Kartini. Sebagai seorang humanis sejati, R.A. Kartini selalu digelisahkan oleh sejumlah fenomena dan fakta sosial yang masih terus membelenggu kemerdekaan manusia. Penindasan, ketidakadilan, dan ketidaksetaraan manusia adalah sumber kegelisahan panjang R.A. Kartini.

Dalam surat-surat R.A. Kartini, patriarki bukanlah satu-satunya ideologi yang dia kritik. Namun, ada setidaknya, ada empat poin penting yang menjadi sumber utama kegelisahannya. Semua perjuangan emansipatoris R.A. Kartini selalu dia arahkan pada upayanya untuk membebaskan umat manusia dari segala bentuk perbudakan dan penindasan dalam bungkus yang bermacam-macam, yaitu:

Pertama, patriarki. Patriarki adalah budaya dan tradisi yang sangat dibenci oleh R.A. Kartini. Ketika masa bersekolah, R.A. Kartini merasakan kemerdekaannya sebagai manusia. Namun, sejak dia berumur 12 tahun, R.A. Kartini dipenjara dalam empat dinding (dipingit) atas nama kesucian tradisi yang sangat patriarkis, padahal dia sangat mencinta ilmu.

Sementara, saudaranya dibiarkan sekolah keluar negeri dikarenakan dia laki-laki.  Akal R.A. Kartinipun semakin terluka ketika doktrin yang harus dia terima adalah sebagai seorang manusia perempuan yang tidak bereksistensi, sebab tujuan hidup perempuan haruslah satu saja, yaitu untuk menikah; melayani laki-laki (suami) dan mengurus anak.

Semua diskriminasi, ketidakadilan, dan kungkungan tradisi yang memenjarakan tubuh, akal, dan perasaan perempuan dirasakan dan disaksikan oleh R.A. Kartini. Kritik dan penolakan R.A. Kartini atas budaya patriarki sangat tajam. Baginya, patriarki yang kemudian menjadi ideologi telah merenggut hak dan martabat kemanusiaan perempuan.

Agar perempuan dapat menjadi sadar, berkualitas, dan punya keberanian untuk menolak  patriarki, R.A. Kartini bertekad membuka sekolah untuk perempuan. Dengan segala pengorbanan dan perjuangannya yang gigih untuk konteks saat itu, R.A. Kartinipun akhirnya berhasil merintis pendidikan perempuan Indonesia.

Kedua, feodalisme. Ia adalah sumber ketidakadilan dan ketidaksetaraan manusia. R.A. Kartini mengkritik berbagai praktik feodalisme. Dia mengawali dari dirinya sendiri dengan menegaskan “Panggil aku Kartini saja”, meskipun dia keturunan bangsawan dan menyandang gelar Raden Ajeng. Dia juga menghilangkan praktik-praktik penghormatan berlebihan dan indoktrinasi pada saudara yang lebih tua.

Dalam tembok pingitan, R.A. Kartini menyerukan kesetaraan pada semua adiknya dan melarang mereka berprilaku feodalis-hierarkis padanyanya. Hierarki-dominatif yang ada di masyarakat yang disebabkan keturunan ditolak oleh R.A. Kartini sebab menjadi salah satu akar perbudakan manusia atas manusia lain.

Kritik R.A. Kartini pada feodalisme yang mengagungkan keturunan bangsawan juga terlihat sangat jelas. Hal ini disebabkan keyakinannya bahwa kemuliaan manusia ada pada ilmu dan budinya. R.A. Kartini mengatakan: Bagi saya hanya ada dua macam bangsawan; bangsawan pikiran dan budi. Tiada yang lebih gila dan bodoh pada pemandangan saya daripada melihat orang yang membanggakan asal keturunanmya itu (R.A. Kartini, 2009: 27-28).

Ketiga, adalah praktik destruktif agama. Bagi R.A. Kartini, pandangan sempit atau skripturalis agama seringkali menjadi salah satu sumber utama atas munculnya dehumanisme, yaitu prilaku atau tindakan menyimpang yang menyakiti orang lain yang diatasnamakan agama. Menarik untuk dicermati disini, bahwa R.A. Kartini ketika memahami agama ternyata sekaligus memahaminya secara filosofis.

Artinya, misi utama agama pastilah rahmat bagi manusia dan inilah yang diyakini R.A. Kartini sehingga dia meyakini agama. Bila ada praktik sosial atau tindakan yang mengatasnamakan agama namun bertentangan dengan misi utama agama, maka pastilah ada kekeliruan dalam memahami agama.

Fenomena justifikasi agama inilah yang kemudian disaksikan dan dirasakan secara langsung oleh R.A. Kartini. Dalam fenomena poligami, penderitaan perempuan dengan kompleksitas problem poligami dijustifikasi sebagai ajaran Islam. Berbagai pergolakan batin dan kegelisahannya R.A. Kartini terkait kesenjangan jauh antara misi utama agama yang profetik dan praksis sosial destruktif-ahumanis yang mengatasnamakan agama terlihat dalam surat-suratnya sebagai berikut:

 “Agama itu maksudnya akan menurunkan rahmat kepada manusia supaya ada penghubung silaturahmi segala makhluk Allah. Ya Tuhanku, ada kalanya aku berharap, alangkah baiknya jika tidak ada agama itu, karena agama itu, yang sebenarnya harus mempersatukan semua hamba Allah, sejak dari dahulu-dahulu menjadi pangkal perselisihan dan perpecahan. Jadi sebab perkelahian berbunuh-bunuhan yang sangat ngeri dan bengisnya. Orang yang seibu-sebapak berlawanan, karena berlainan cara mengabdi kepada Tuhan yang esa itu. Orang yang berkasih-kasihan dengan amat sangatnya, dengan amat sedihnya bercerai-berai. Karena berlainan tempat menyeru Tuhan, Tuhan yang itu juga.” (R.A. Kartini, 2009: 31).

“Benarkah agama itu restu bagi manusia? tanyaku kerap kali kepada diriku sendiri dengan bimbang hati. Agama harus menjaga kita daripada berbuat dosa, tetapi berapa banyaknya dosa diperbuat orang atas nama agama itu!” (R.A. Kartini, 2010: 31).

Keempat adalah kolonialisme. Kepiawaian R.A. Kartini juga terlihat dari pandangan dia yang proporsional  dalam mensikapi orang Barat. Dia memiliki banyak teman dari Eropa atau Belanda. Merekalah yang ikut memberikan warna kuat dalam perjalanan hidup dan pemikiran R.A. Kartini sehingga dia memiliki pemikiran yang sangat progresif dan revolusioner. Sebab itulah, dalam banyak suratnya, R.A. Kartini seringkali memberikan pujian dan apresiasi pada budaya Barat, terutama terkait ide modernitas, rasionalitas, dan pencerahan.

Namun demikian, R.A. Kartini tetap menyatakan tegas dalam suratnya untuk teman-teman Eropa bahwa orang Barat memiliki kekurangan dan ambivalensi sehingga dikritik olehnya. Di satu sisi, mereka menjunjung tinggi kemerdekaan manusia. Namun, di sisi lain dalam waktu yang bersamaan, mereka melanggengkan penindasan manusia itu sendiri dalam kolonialisasinya yang terus digencarkan dengan menindas orang Timur.

Melalui refleksi 21 April ini, kita dapat merenungkan ulang cita humanitas besar R.A. Kartini yang memimpikan sebuah keadilan dan kesetaraan antar umat manusia, bukan hanya kesetaraan gender. Patriarki, feodalisme, praktik destruktif agama, dan kolonialisme adalah sejumlah ideologi yang tiranik; membelenggu, memperbudak, dan menghancurkan kemanusiaan manusia. Itulah upaya emansipatoris pemikiran R.A. Kartini yang tergambar dalam surat-suratnya.

Impian besar Kartini dan jalan pembebasan kemanusiaan yang telah dia rintis dan dia perjuangkan, masih terus membutuhkan upaya bersama untuk tujuan emansipatoris manusia. Selamat Hari Kartini! []

 

 

Tags: emansipasihumanismekartinikeadilanKesetaraanKolonialismepahlawan nasionalPahlawan Perempuan
Yulia Nasrul Latifi

Yulia Nasrul Latifi

Dosen Jurusan Bahasa dan Sastra Arab Fak. Adab UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Terkait Posts

Masak Bukan Kodrat
Personal

Masak Bukan Kodrat: Kampanye Kesetaraan Gender

12 Januari 2026
Pendidikan Tinggi Perempuan
Publik

Membuka Akses dan Meruntuhkan Bias Pendidikan Tinggi Perempuan

7 Januari 2026
Disabilitas Rentan Kekerasan
Publik

Disabilitas Rentan Kekerasan Namun Sulit Akses Keadilan

3 Januari 2026
Ulama Perempuan pada
Publik

Komitmen Ulama Perempuan pada Keadilan dan Kemaslahatan

2 Januari 2026
Pembangunan
Publik

Pembangunan yang Melukai Perempuan

2 Januari 2026
Keadilan Hakiki Bagi Perempuan
Publik

Pentingnya Perspektif Keadilan Hakiki bagi Perempuan

25 Desember 2025

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No Result
View All Result

TERPOPULER

  • Real Food

    Real Food, Krisis Ekologi, dan Ancaman di Meja Makan Kita

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Antara SNBP dan Nikah Muda: Siapa yang Paling Menanggung Risiko?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menyusun Ulang Harapan: Kisah Istri di Titik Nol Kehidupan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sahabat Tuli Salatiga: Representasi Gerakan Kelompok Disabilitas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kerusakan Alam Jadi Ancaman Nyata bagi Masa Depan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

TERBARU

  • Pemerintah dan Masyarakat Didorong Berkolaborasi Jaga Kelestarian Lingkungan
  • Sahabat Tuli Salatiga: Representasi Gerakan Kelompok Disabilitas
  • Kerusakan Lingkungan Berdampak Luas pada Ekonomi, Sosial, dan Budaya Masyarakat
  • Memaknai Qawwam dalam Relasi Pernikahan: Refleksi Kewajiban Suami untuk Menafkahi Istri
  • Indonesia Hadapi Tantangan Serius Akibat Kerusakan Lingkungan

Komentar Terbaru

  • dul pada Mitokondria: Kerja Sunyi Perempuan yang Menghidupkan
  • Refleksi Hari Pahlawan: Tiga Rahim Penyangga Dunia pada Menolak Gelar Pahlawan: Catatan Hijroatul Maghfiroh atas Dosa Ekologis Soeharto
  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
redaksi@mubadalah.id

© 2025 MUBADALAH.ID

Selamat Datang!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Account
  • Home
  • Khazanah
  • Kirim Tulisan
  • Kolom Buya Husein
  • Kontributor
  • Monumen
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Rujukan
  • Tentang Mubadalah
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

© 2025 MUBADALAH.ID