Rabu, 22 Juli 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Spanyol

    Panggung Bola, Air Mata Gaza, dan Trofi Juara Spanyol

    Sepak Bola Dunia

    Perempuan di Balik Layar Bintang Sepak Bola Dunia

    Sejarah Prancis

    Runtuhnya Bastille dan Hipokrisi Egalite: Membaca Sejarah Prancis melalui Lensa Mubadalah

    Kekerasan di Sampang

    Lubang Perlindungan Perempuan; Akar Kekerasan di Sampang dan Pesan Fatwa KUPI

    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Nafkah Skincare

    Nafkah Skincare, Antara Kosmetik Tersier dan Hak Kesehatan Reproduksi Istri

    Anak dengan Down Syndrome

    Memahami Emosi Anak dengan Down Syndrome

    Kehamilan

    Mengapa Kehamilan Perlu Diputuskan Bersama?

    Dimensi Akhlak dalam Talak

    Tadarus Subuh ke 198: Dimensi Akhlak dalam Talak

    Humor Disabilitas

    Ironi Humor Disabilitas di Era Konten Viral

    Zakat

    Bolehkah Zakat Diberikan Kepada Penyintas Kekerasan?

    Kepemimpinan Beragam Gender

    Lebih Beragam, Lebih Hijau: Mengubah Dunia Lewat Kepemimpinan Beragam Gender

    Memahami Islam

    Sudah Saatnya Memahami Islam sebagai Sumber Inspirasi

    Poskolonialisme

    Aroma Poskolonialisme di Final Piala Dunia 2026: Albiceleste Kontra La Roja

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Pasangan HIV

    Pasangan Positif HIV? Ini yang Perlu Anda Ketahui dan Lakukan

    Mengidap HIV

    Tetap Bahagia Meski Mengidap HIV atau AIDS

    Tes HIV

    Apa yang Harus Dilakukan Setelah Hasil Tes HIV Positif?

    Tes HIV

    Kapan Sebaiknya Menjalani Tes HIV?

    Periode Jendela HIV

    Apa Itu Periode Jendela HIV? Ini Penjelasan dan Contohnya

    Virus HIV

    Mengenal Periode Jendela Virus HIV dan Cara Membaca Hasil Tes

    Perempuan HIV

    HIV pada Perempuan: Risiko Lebih Besar dan Enam Cara Mencegahnya

    HIV

    Mengapa Perempuan Lebih Rentan terhadap HIV? Ini Penjelasannya

    HIV Menular

    HIV Menular Melalui Apa Saja? Cek Fakta dan Mitosnya

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Spanyol

    Panggung Bola, Air Mata Gaza, dan Trofi Juara Spanyol

    Sepak Bola Dunia

    Perempuan di Balik Layar Bintang Sepak Bola Dunia

    Sejarah Prancis

    Runtuhnya Bastille dan Hipokrisi Egalite: Membaca Sejarah Prancis melalui Lensa Mubadalah

    Kekerasan di Sampang

    Lubang Perlindungan Perempuan; Akar Kekerasan di Sampang dan Pesan Fatwa KUPI

    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Nafkah Skincare

    Nafkah Skincare, Antara Kosmetik Tersier dan Hak Kesehatan Reproduksi Istri

    Anak dengan Down Syndrome

    Memahami Emosi Anak dengan Down Syndrome

    Kehamilan

    Mengapa Kehamilan Perlu Diputuskan Bersama?

    Dimensi Akhlak dalam Talak

    Tadarus Subuh ke 198: Dimensi Akhlak dalam Talak

    Humor Disabilitas

    Ironi Humor Disabilitas di Era Konten Viral

    Zakat

    Bolehkah Zakat Diberikan Kepada Penyintas Kekerasan?

    Kepemimpinan Beragam Gender

    Lebih Beragam, Lebih Hijau: Mengubah Dunia Lewat Kepemimpinan Beragam Gender

    Memahami Islam

    Sudah Saatnya Memahami Islam sebagai Sumber Inspirasi

    Poskolonialisme

    Aroma Poskolonialisme di Final Piala Dunia 2026: Albiceleste Kontra La Roja

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Pasangan HIV

    Pasangan Positif HIV? Ini yang Perlu Anda Ketahui dan Lakukan

    Mengidap HIV

    Tetap Bahagia Meski Mengidap HIV atau AIDS

    Tes HIV

    Apa yang Harus Dilakukan Setelah Hasil Tes HIV Positif?

    Tes HIV

    Kapan Sebaiknya Menjalani Tes HIV?

    Periode Jendela HIV

    Apa Itu Periode Jendela HIV? Ini Penjelasan dan Contohnya

    Virus HIV

    Mengenal Periode Jendela Virus HIV dan Cara Membaca Hasil Tes

    Perempuan HIV

    HIV pada Perempuan: Risiko Lebih Besar dan Enam Cara Mencegahnya

    HIV

    Mengapa Perempuan Lebih Rentan terhadap HIV? Ini Penjelasannya

    HIV Menular

    HIV Menular Melalui Apa Saja? Cek Fakta dan Mitosnya

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Aktual

100 Hari Kepemimpinan Prabowo Gibran, 100.000 Kali Pemiskinan terhadap Perempuan

SP mencatat bahwa proses pembangunan yang bersifat patriarkal, penuh penindasan, dan berujung pada pemiskinan telah berdampak serius terhadap perempuan, yakni mencapai 3.624 jiwa (47,7%) di 57 desa di seluruh Indonesia.

Redaksi by Redaksi
8 Maret 2025
in Aktual
A A
0
Pemiskinan Perempuan

Pemiskinan Perempuan

25
SHARES
1.2k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Peringatan Hari Perempuan Internasional (International Women’s Day) setiap tanggal 8 Maret merupakan tonggak perjuangan perempuan untuk menyoroti berbagai isu yang dihadapi, sekaligus menjadi refleksi bersama bagi gerakan perempuan atas segala penindasan dan pemiskinan yang mereka alami serta berbagai inisiatif yang telah digulirkan.

Hingga 100 hari kepemimpinan Prabowo-Gibran, Solidaritas Perempuan (SP) menilai bahwa kepemimpinan tersebut masih belum berpihak kepada perempuan. Karena masih melanjutkan praktik-praktik masa pemerintahan Jokowi melalui proyek investasi dan kebijakan diskriminatif serta pembungkaman gerakan sipil dengan modus militerisme.

SP mencatat bahwa proses pembangunan yang bersifat patriarkal, penuh penindasan, dan berujung pada pemiskinan telah berdampak serius terhadap perempuan, yakni mencapai 3.624 jiwa (47,7%) di 57 desa di seluruh Indonesia.

UU Cipta Kerja, yang dijadikan payung hukum bagi kebijakan diskriminatif, dinilai terus memiskinkan perempuan. Hal ini terlihat dari munculnya konflik antara masyarakat dengan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) PT. Perkebunan Nusantara (PTPN) di Takalar, Sulawesi Selatan dan Kabupaten Ogan Ilir di Palembang, konflik di Taman Nasional Lore Lindu di Palu, Sulawesi Tengah.

Serta isu terkait Rencana Pembangunan Bendungan Kolhua di Nusa Tenggara Timur, PT. Sawit Jaya Abadi di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, dan Perusahaan Industri Smelter Nikel di Sulawesi Tenggara.

Konflik lingkungan juga terjadi di Aceh, di mana perusahaan semen PT. Solusi Bangun Andalas melakukan penggalian di kawasan karst yang berimbas pada rusaknya lingkungan di Kecamatan Lhoknga, Aceh Besar.

Aceh

Rahmil Izza, Ketua BEK SP Bungoeng Jeumpa Aceh, menjelaskan bahwa “PT. SBA memonopoli sumber mata air Pucok Krueng sebagai cadangan air baku untuk pembuatan semen. Ia menyoroti kondisi Desa Naga Umbang yang memiliki distribusi air bersih sangat terbatas, di mana dari total 432 jiwa, setiap orang hanya mendapatkan 13 liter air bersih per pendistribusian—jauh dari standar minimum 60 liter per orang per hari sesuai Permendagri nomor 23 Tahun 2006.”

Rangkaian kejahatan sistemik seperti perampasan lahan, eksploitasi hutan, pengancaman terhadap tata kelola lahan masyarakat adat. Serta hilangnya sumber penghidupan perempuan semakin memperkuat pemiskinan struktural yang dilakukan oleh negara.

Dalam konteks konflik agraria berkepanjangan di Sumatera Selatan, perempuan menuntut agar Pemerintah Kabupaten Ogan Ilir segera menyelesaikan konflik tersebut. Sebagaimana disuarakan oleh Mutia Maharani, Ketua BEK SP Palembang. “Tinjau ulang HGU PTPN VII Cinta Manis dan libatkan perempuan di desa yang terdampak konflik dalam penyelesaian konflik,” ucap Mutia.

Proyek Strategis Nasional (PSN), yang merupakan kebijakan turunan dari UU Cipta Kerja, tersebar di berbagai wilayah Indonesia, mulai dari pembangunan Bendungan Meninting di Nusa Tenggara Barat, Pertambangan Batuan Andesit di Wadas, Industri Ekstraktif PT. IMIP di Morowali, Sulawesi Tengah, hingga Proyek Food Estate—yang kini berganti nama menjadi Cetak Sawah Rakyat di Kalimantan Tengah.

Di Sulawesi Selatan, Suryani, Ketua BEK SP Anging Mammiri, menyampaikan, “pesisir Kota Makassar – pembangunan pelabuhan Makassar New Port telah menghilangkan akses dan kontrol perempuan nelayan atas ruang kelola sumber daya alam laut akibat proyek strategis nasional. Sudah saatnya UU Cipta Kerja ini di-review oleh pemerintah dengan mengedepankan kepentingan rakyat, sebagaimana mandat konstitusi UUD 1945.”

Kalimantan Tengah

Sementara itu, di Kalimantan Tengah, Irene Natalia, Ketua BEK SP Mamut Menteng, mengungkapkan bahwa masyarakat setempat menuntut dicabutnya perda No.1 Tahun 2020 tentang pengendalian kebakaran lahan. Menurutnya, perempuan dan masyarakat telah kehilangan sistem kelola pertanian tradisional, dan mereka mendesak dihentikannya PSN Cetak Sawah Rakyat serta pembukaan lahan sawit.

Perampasan lahan atas nama pembangunan juga terjadi di Yogyakarta. Ari Surida, Ketua BEK SP Kinasih Yogyakarta, menyatakan, “UU Cipta Kerja dan PP Nomor 42 Tahun 2021 telah mendukung kemudahan PSN. Pembangunan hotel dan proyek atas nama kepentingan umum berdampak pada ketersediaan air bersih dan menyebabkan perempuan kehilangan ruang terbuka hijau. Seperti yang telah banyak perempuan rasakan di Desa Ledok Timoho dan Semaki, Kecamatan Umbulharjo, Kota Yogyakarta.”

Sementara proyek investasi lain terus tumbuh, seperti proyek transisi energi yang diklaim sebagai solusi iklim melalui pembangunan geothermal Rajabasa di Lampung dan Geothermal Poco Leok di Nusa Tenggara Timur, serta PLTA Poso Energy yang telah terbukti gagal mengatasi krisis iklim di Indonesia.

Kurnia Widyawati, Ketua BEK SP Sintuwu Raya Poso, menambahkan, “pemerintah pusat harus meninjau kembali kebijakan transisi energi yang diklaim efektif untuk perubahan iklim, karena proyek PLTA Poso telah mengakibatkan situasi berlapis bagi perempuan. Pemerintah harus mencari solusi yang tidak merugikan masyarakat dengan melihat akar penyebab krisis iklim secara mendalam.”

Lampung

Berbagai program prioritas Prabowo-Gibran untuk mencapai swasembada pangan dan energi berpotensi menghancurkan kedaulatan perempuan atas ruang hidup.

Reni Yuliana Meutia, Ketua BEK SP Sebay Lampung, menegaskan, “proyek energi geothermal Rajabasa di Lampung Selatan dan Bendungan Margatiga di Lampung Timur tanpa pelibatan bermakna perempuan dan masyarakat adat. Hal ini mengakibatkan masyarakat kehilangan lahan, sumber air menjadi kering dan tercemar, serta berpotensi memperluas bencana ekologi.”

Begitu pula, perempuan yang berhadapan dengan Bank Tanah (BT) di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, menghadapi penguasaan lahan produktif secara sepihak. BT telah menguasai lahan seluas 3.213,05 ha untuk mendukung Program Minum Susu Presiden Prabowo Subianto dengan target 3-5 tahun dan produksi 1,8 juta ton.

Fitriani, Ketua BEK SP Palu, menegaskan, “lahan yang kini telah menjadi hak kuasa Bank Tanah adalah padang lambara yang selama ini dimanfaatkan perempuan untuk beternak dan menanam sayur seperti cabe, tomat, dan kacang panjang.”

Pola pembangunan ekstraktif dan eksploitatif yang pemiskinan perempuan juga menciptakan berbagai situasi sistemik, seperti feminisasi migrasi. Namun, pemerintah dinilai belum optimal dalam melakukan kebijakan perlindungan bagi buruh migran. Malah melakukan revisi secara tertutup terhadap UU Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (PPMI).

NTT

Di Nusa Tenggara Timur, Linda Tagie, Ketua BEK Flobamoratas, menegaskan, “NTT merupakan kantong buruh migran dan kantong jenazah di Indonesia. Belum terimplementasinya UU PPMI dan Perda No.14 tentang Pencegahan dan Penanganan Korban TPPO. Lalu bertambah dengan efisiensi anggaran yang memperparah situasi, membuat pemulangan jenazah buruh migran yang meninggal di luar negeri memerlukan biaya besar. Sementara Prabowo-Gibran lebih fokus pada penggemukan kabinet dan munculnya Danantara yang tidak transparan.”

Selain itu, Kepmenaker No. 260 Tahun 2015 tentang Penghentian dan Pelarangan Penempatan Tenaga Kerja Indonesia pada Pengguna Perseorangan di Negara-negara Kawasan Timur Tengah mereka anggap sebagai kebijakan diskriminatif terhadap perempuan. Karena justru membatasi ruang perempuan untuk bekerja di saat negara abai memenuhi kewajibannya dalam menyediakan lapangan pekerjaan.

Solidaritas Perempuan mencatat bahwa pada 2024, 54,5% kasus perempuan korban perdagangan manusia berasal dari Timur Tengah dan Arab Saudi.

Di Nusa Tenggara Barat, Hadiatul, Ketua BEK SP Sumbawa, menyampaikan, “perempuan buruh migran rentan mengalami kekerasan dan pelanggaran hak. Eksploitasi hingga trafficking masih sulit mendapatkan perlindungan dan keadilan. Salah satunya, korban asal Sumbawa yang berdasarkan informasi berangkat ke Arab Saudi pasca Kepmenaker 260/2015.”

Sementara itu, negara seringkali juga menjadi pelaku kekerasan terhadap perempuan. Dalam pola perampasan ruang hidup, berbagai upaya negara lakukan untuk membungkam perlawanan masyarakat. Dengan melibatkan militer dan aparat kepolisian serta menggunakan instrumen hukum untuk mengkriminalisasi perempuan pejuang.

Ida Hidayati, Ketua BEK SP Mataram, menyatakan, “rancangan Revisi UU TNI membuka peluang untuk menghidupkan kembali masa orde Baru. Yang artinya semakin besar pula peluang TNI untuk mengintervensi keterlibatan perempuan dalam proses pembangunan di daerah.” (rilis)

Tags: 100 Hari Kepemimpinan Prabowo-GibranPemiskinanperempuan
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Adil Pada Difabel Adalah Indikator Takwa

Next Post

Efisiensi Anggaran dari Kabinet Obesitas: Zalim Kepada Rakyat

Redaksi

Redaksi

Related Posts

HIV
Pernak-pernik

Mengapa Perempuan Lebih Rentan terhadap HIV? Ini Penjelasannya

20 Juli 2026
Sepak Bola Dunia
Aktual

Perempuan di Balik Layar Bintang Sepak Bola Dunia

20 Juli 2026
HIV
Pernak-pernik

Mengapa Perempuan Lebih Rentan Tertular HIV?

18 Juli 2026
Lagu Teh Hijau
Personal

Lagu Teh Hijau Karya Tulus dan Seni Merayakan Kehampaan bagi Perempuan

17 Juli 2026
Nikah Sirri
Keluarga

Enam Langkah Cerai Sirri bagi Perempuan yang Terjebak Nikah Sirri

16 Juli 2026
Penyakit yang Menular
Pernak-pernik

Mengapa Perempuan Lebih Rentan Terkena Penyakit Menular Seksual?

12 Juli 2026
Next Post
Efisiensi Anggaran

Efisiensi Anggaran dari Kabinet Obesitas: Zalim Kepada Rakyat

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Pasangan Positif HIV? Ini yang Perlu Anda Ketahui dan Lakukan
  • Panggung Bola, Air Mata Gaza, dan Trofi Juara Spanyol
  • Tetap Bahagia Meski Mengidap HIV atau AIDS
  • Nafkah Skincare, Antara Kosmetik Tersier dan Hak Kesehatan Reproduksi Istri
  • Apa yang Harus Dilakukan Setelah Hasil Tes HIV Positif?

Komentar Terbaru

  • Nur Fadiah Anisah pada Memaknai Jargon The Personal is Political: Kecemasan Kita Ternyata Diproduksi Negara!
  • Zikri Alvi Muharam pada Takut Kok Sama “Pesta Babi”
  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0