Selasa, 21 Juli 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Spanyol

    Panggung Bola, Air Mata Gaza, dan Trofi Juara Spanyol

    Sepak Bola Dunia

    Perempuan di Balik Layar Bintang Sepak Bola Dunia

    Sejarah Prancis

    Runtuhnya Bastille dan Hipokrisi Egalite: Membaca Sejarah Prancis melalui Lensa Mubadalah

    Kekerasan di Sampang

    Lubang Perlindungan Perempuan; Akar Kekerasan di Sampang dan Pesan Fatwa KUPI

    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Nafkah Skincare

    Nafkah Skincare, Antara Kosmetik Tersier dan Hak Kesehatan Reproduksi Istri

    Anak dengan Down Syndrome

    Memahami Emosi Anak dengan Down Syndrome

    Kehamilan

    Mengapa Kehamilan Perlu Diputuskan Bersama?

    Dimensi Akhlak dalam Talak

    Tadarus Subuh ke 198: Dimensi Akhlak dalam Talak

    Humor Disabilitas

    Ironi Humor Disabilitas di Era Konten Viral

    Zakat

    Bolehkah Zakat Diberikan Kepada Penyintas Kekerasan?

    Kepemimpinan Beragam Gender

    Lebih Beragam, Lebih Hijau: Mengubah Dunia Lewat Kepemimpinan Beragam Gender

    Memahami Islam

    Sudah Saatnya Memahami Islam sebagai Sumber Inspirasi

    Poskolonialisme

    Aroma Poskolonialisme di Final Piala Dunia 2026: Albiceleste Kontra La Roja

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Pasangan HIV

    Pasangan Positif HIV? Ini yang Perlu Anda Ketahui dan Lakukan

    Mengidap HIV

    Tetap Bahagia Meski Mengidap HIV atau AIDS

    Tes HIV

    Apa yang Harus Dilakukan Setelah Hasil Tes HIV Positif?

    Tes HIV

    Kapan Sebaiknya Menjalani Tes HIV?

    Periode Jendela HIV

    Apa Itu Periode Jendela HIV? Ini Penjelasan dan Contohnya

    Virus HIV

    Mengenal Periode Jendela Virus HIV dan Cara Membaca Hasil Tes

    Perempuan HIV

    HIV pada Perempuan: Risiko Lebih Besar dan Enam Cara Mencegahnya

    HIV

    Mengapa Perempuan Lebih Rentan terhadap HIV? Ini Penjelasannya

    HIV Menular

    HIV Menular Melalui Apa Saja? Cek Fakta dan Mitosnya

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Spanyol

    Panggung Bola, Air Mata Gaza, dan Trofi Juara Spanyol

    Sepak Bola Dunia

    Perempuan di Balik Layar Bintang Sepak Bola Dunia

    Sejarah Prancis

    Runtuhnya Bastille dan Hipokrisi Egalite: Membaca Sejarah Prancis melalui Lensa Mubadalah

    Kekerasan di Sampang

    Lubang Perlindungan Perempuan; Akar Kekerasan di Sampang dan Pesan Fatwa KUPI

    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Nafkah Skincare

    Nafkah Skincare, Antara Kosmetik Tersier dan Hak Kesehatan Reproduksi Istri

    Anak dengan Down Syndrome

    Memahami Emosi Anak dengan Down Syndrome

    Kehamilan

    Mengapa Kehamilan Perlu Diputuskan Bersama?

    Dimensi Akhlak dalam Talak

    Tadarus Subuh ke 198: Dimensi Akhlak dalam Talak

    Humor Disabilitas

    Ironi Humor Disabilitas di Era Konten Viral

    Zakat

    Bolehkah Zakat Diberikan Kepada Penyintas Kekerasan?

    Kepemimpinan Beragam Gender

    Lebih Beragam, Lebih Hijau: Mengubah Dunia Lewat Kepemimpinan Beragam Gender

    Memahami Islam

    Sudah Saatnya Memahami Islam sebagai Sumber Inspirasi

    Poskolonialisme

    Aroma Poskolonialisme di Final Piala Dunia 2026: Albiceleste Kontra La Roja

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Pasangan HIV

    Pasangan Positif HIV? Ini yang Perlu Anda Ketahui dan Lakukan

    Mengidap HIV

    Tetap Bahagia Meski Mengidap HIV atau AIDS

    Tes HIV

    Apa yang Harus Dilakukan Setelah Hasil Tes HIV Positif?

    Tes HIV

    Kapan Sebaiknya Menjalani Tes HIV?

    Periode Jendela HIV

    Apa Itu Periode Jendela HIV? Ini Penjelasan dan Contohnya

    Virus HIV

    Mengenal Periode Jendela Virus HIV dan Cara Membaca Hasil Tes

    Perempuan HIV

    HIV pada Perempuan: Risiko Lebih Besar dan Enam Cara Mencegahnya

    HIV

    Mengapa Perempuan Lebih Rentan terhadap HIV? Ini Penjelasannya

    HIV Menular

    HIV Menular Melalui Apa Saja? Cek Fakta dan Mitosnya

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Featured

Aplikasi Metode Mubadalah dalam Memaknai Hadits Bukhari tentang Memerdekakan Perempuan Budak

Hadis ini menaikkan standar moral. Jangan berhenti di pendidikan atau pernikahan, tetapi wujudkan pemerdekaan sebagai puncak etika kemanusiaan.

Faqih Abdul Kodir by Faqih Abdul Kodir
24 Oktober 2025
in Featured, Zawiyah
A A
0
Metode Mubadalah

Metode Mubadalah

38
SHARES
1.9k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Teks Hadits:

عَنْ أَبِي مُوسَى الأشعري رضي الله عنه، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم، قَالَ: أَيُّمَا رَجُلٍ كَانَتْ عِنْدَهُ وَلِيدَةٌ فَعَلَّمَهَا فَأَحْسَنَ تَعْلِيمَهَا، وَأَدَّبَهَا فَأَحْسَنَ تَأْدِيبَهَا، ثُمَّ أَعْتَقَهَا فَتَزَوَّجَهَا، فَلَهُ أَجْرَانِ. (صحيح البخاري، كتاب النكاح، رقم الحديث: 5139).

Terjemah:
Dari Abu Musa, dari Nabi Saw bersabda: “Barang siapa (seorang laki-laki) yang memiliki seorang budak perempuan, lalu ia mengajarinya dengan baik, mendidiknya dengan baik, kemudian  memerdekakannya dan menikahinya, maka baginya dua pahala.” (HR. al-Bukhari, Kitāb an-Nikāḥ, no. 5139).

 Pengantar Awal

Mubadalah.id – Hadits dalam Ṣaḥīḥ al-Bukhārī ini lazim menjadi dalil ulama tentang keutamaan memperlakukan budak—khususnya budak perempuan—secara manusiawi. Mengajarinya, membinanya secara etis, lalu memerdekakannya. Ia juga menjadi dasar kebolehan sekaligus kebaikan menikahi mantan budak setelah dimerdekakan.

Metode Mubadalah memaknai ulang teks ini. Berdialog dengan khazanah klasik dan pembacaan kontemporer—agar pelajarannya lebih berakar pada visi kerahmatan Islam dan misi akhlak mulia, sekaligus relevan bagi konteks kekinian. Judul yang mungkin bisa kita usulkan untuk makna dasar dari teks hadits ini adalah: “Mengajar dan Mendidik untuk Memerdekan Manusia dalam Perspektif Hadits”. Kaidah kunci pendekatan Mubadalah, dalam proses pemaknaan ini, adalah:

العِبْرَةُ بِعُمُومِ الرِّسَالَةِ لَا بِخُصُوصِ الْخِطَابِ وَالْمُخَاطَبِ

Yang dipegang ialah keumuman pesan, bukan kekhususan redaksi atau siapa yang disapa.

Dengan kaidah ini, pesan universal hadis harus kita identifikasi terlebih dahulu, lalu relasi subjek–objeknya kita kenali dan kita kembangkan. Sehingga seluruh pihak—terutama laki-laki dan perempuan—sama-sama tersapa untuk mewujudkan dan merasakan kemaslahatan yang dikandungnya. Selain itu terhindar dari kemudaratan yang dilarangnya, —baik di tingkat individu, keluarga, lembaga, organisasi, negara, maupun hubungan global.

Pesan Utama Hadits

Kerja pokok Metode Mubadalah ialah menemukan makna dasar (predikat etis) dari teks, yang selaras dengan visi kerahmatan dan misi akhlak mulia. Pada aras prinsip, seluruh nash (al-Qur’an dan hadits) berporos pada dua hal: mewujudkan kebaikan (ījād al-maṣāliḥ) dan menghapus keburukan (maḥw al-mafāsid).

Dalam hadits ini, pesan dasar terpetakan melalui empat tindakan:

  1. فَعَلَّمَهَا فَأَحْسَنَ تَعْلِيمَهَا – mengajarinya dengan baik,
  2. وَأَدَّبَهَا فَأَحْسَنَ تَأْدِيبَهَا – mendidiknya (membina adab) dengan baik,
  3. ثُمَّ أَعْتَقَهَا – kemudian memerdekakannya,
  4. فَتَزَوَّجَهَا – lalu menikahinya.

Keempatnya membentuk lintasan etik dari relasi kuasa menuju transformasi kemanusiaan. Dalam bingkai tiga nilai Mubādalah—karāmah (martabat), ‘adālah (keadilan relasional), dan maṣlaḥah (kebaikan bersama. Tindakan ketiga, memerdekakan, adalah inti yang mengikat seluruh rangkaian.

Karena itu, mengajar, mendidik, dan menikahi harus kita pahami sebagai instrumen yang melayani tujuan pemerdekaan. Menumbuhkan kemandirian, menjaga kehormatan, memberi perlindungan dari kezaliman, serta memenuhi kebutuhan dasar pihak yang dibina.

Konsekuensinya, menikahi mantan budak bukan kelanjutan dari pola kepemilikan, melainkan puncak pengakuan kemanusiaan. Yakni memasuki kemitraan (zawāj) yang setara. Maka, mengajar dengan baik dan mendidik dengan baik tidak boleh berorientasi pada penguasaan, pembatasan, atau hegemoni. Demikian pula pernikahan tidak boleh menjadi kanalisasi dominasi. Semua itu bertentangan dengan pesan pemerdekaan (i‘tiq) yang menjadi inti hadits.

Rujukan Qur’ani

Sejalan dengan itu, rujukan Qur’ani tentang tujuan pernikahan—sakinah, mawaddah, wa raḥmah (QS. al-Rūm 30:21)—menegaskan bahwa zawāj adalah kemitraan aktif yang dijalankan dengan mīthāqan ghalīẓan (perjanjian kokoh). Lalu mu‘āsyarah bi al-ma‘rūf (perlakuan yang baik), tashāwur (musyawarah), dan tarāḍī (kerelaan timbal balik).

Dengan menempatkan pemerdekaan sebagai poros, tiga nilai Mubādalah terwujud secara operasional. Karāmah (martabat manusia dijunjung), ‘adālah (yang kuat memberdayakan yang lemah), dan maṣlaḥah (kebaikan menjadi milik bersama, kedua belah pihak menjadi pelaku sekaligus penerima kebaikan). Hal ini selaras dengan misi Islam yang transformatif untuk melindungi dan memberdayakan al-mustaḍ‘afīn (QS. 4:75).

Dengan demikian, memerdekakan di sini bermakna kerja transformasi melalui pengajaran, pembinaan karakter, dan—bila dipilih sebagai istri. Pernikahan yang berlandaskan kemitraan, dari kondisi tak atau kurang bermartabat menjadi bermartabat, dari lemah menjadi kuat, dari tak atau kurang maslahat menjadi berdaya dan berkemaslahatan. Transformasi ini menyiapkan seseorang menjadi subjek yang kapabel mengemban amanah kekhalifahan. Aktif mewujudkan kebaikan (ījād al-maṣāliḥ) dan meniadakan keburukan (maḥw al-mafāsid).

Mengenali Subjek–objek pada Konteks Awal

Dalam teks hadits ini, subjek yang kita sebut adalah rajulun—seorang laki-laki merdeka—yang melakukan serangkaian tindakan etis dan transformatif: mengajar, mendidik karakter, memerdekakan, dan menikahi. Sementara objek dari tindakan tersebut adalah walīdah, budak perempuan, yang dalam konteks sosial Arab abad ke-7 berada dalam posisi sosial paling rentan. Tidak merdeka, terbatas akses pendidikannya, lemah secara ekonomi, dan tanpa jaminan perlindungan masa depan.

Pertanyaan muncul: mengapa yang disebut secara eksplisit adalah laki-laki?

Jawabannya terletak pada realitas sosial saat itu. Laki-laki merdeka memang memiliki otoritas ekonomi, sosial, dan hukum untuk melakukan tindakan-tindakan yang disebutkan hadits. Bahkan, dalam masyarakat tersebut, banyak laki-laki memiliki budak perempuan dan sebagian tertarik menikahinya.

Dalam konteks inilah, Nabi Saw menegaskan orientasi etis dari tindakan itu. Bahwa relasi tersebut harus bertransformasi dari hubungan kepemilikan menuju hubungan kemanusiaan, dari eksploitasi menuju pemberdayaan, dan dari subordinasi menuju kemitraan yang bermartabat.

Dengan demikian, penyebutan laki-laki (rajulun) bukan bentuk pengkhususan ajaran, tetapi strategi komunikatif yang sesuai dengan struktur sosial ketika hadits itu tersampaikan. Nabi Saw mengarahkan para laki-laki agar mempraktikkan prinsip-prinsip etik Islam dalam relasi yang penuh ketimpangan sosial. Yakni menjadikan relasi tersebut sarana pemerdekaan dan pemberdayaan, bukan penguasaan.

Selain itu, redaksi hadits ini juga dapat kita baca sebagai bentuk pendidikan sosial yang progresif. Mendorong transformasi dari tindakan sederhana menuju tindakan etis yang lebih tinggi. Bisa jadi pada masa itu sebagian laki-laki hanya mengajar atau mendidik budak perempuannya, sebagian lain hanya ingin menikahi tanpa memerdekakan.

Hadits ini menaikkan standar moral tersebut. Jangan berhenti di pendidikan atau pernikahan, tetapi wujudkan pemerdekaan sebagai puncak etika kemanusiaan. Dengan demikian, sabda Nabi Saw ini tidak hanya mendidik budak perempuan agar merdeka, tetapi juga mendidik laki-laki agar menjadi subjek etis yang bertanggung jawab terhadap transformasi sosial di sekitarnya.

Meluaskan Subjek–objek

Langkah penting setelah menemukan pesan utama teks dalam Metode Mubadalah adalah meluaskan cakupan subjek dan objek. Prinsip dasarnya, pesan universal dari suatu teks tidak berhenti pada siapa yang kita sebut secara literal, melainkan berlaku bagi semua pihak yang dapat merealisasikan nilai etis yang terkandungnya.

Dalam hadits ini, kata rajulun tidak harus kita pahami sebagai identitas biologis yang eksklusif. Tetapi sebagai simbol bagi siapa pun yang memiliki kapasitas dan posisi sosial untuk melakukan kerja-kerja etis transformatif.

Dengan demikian, rajulun dapat mencakup perempuan merdeka yang mengajarkan, mendidik, dan memberdayakan orang lain hingga merdeka. Fokusnya bukan pada jenis kelamin pelaku, melainkan pada tindakan etis yang dilakukannya. Karena pahala ganda dalam hadits ini diberikan kepada pelaku kebaikan, bukan kepada laki-laki sebagai jenis kelamin tertentu.

Begitu pula dengan walīdah, objek yang disebut dalam teks. Ia tidak harus kita maknai semata-mata sebagai budak perempuan, tetapi juga bisa melambangkan setiap pihak yang berada dalam posisi lemah, tertindas, atau belum berdaya—termasuk laki-laki budak pada masa itu.

Dengan demikian, makna hadits ini meluas menjadi seruan universal agar siapa pun yang memiliki kelebihan pengetahuan, status, atau sumber daya menggunakan kelebihannya untuk mendidik, melindungi, dan memerdekakan pihak lain dari segala bentuk ketergantungan dan penindasan.

Perluasan makna ini tidak hanya menjaga relevansi hadits, tetapi juga menjaga ruh Islam sebagai ajaran yang terus menumbuhkan keadilan dan kemaslahatan dalam setiap ruang dan waktu. Fokusnya bukan pada siapa yang kita sebut, tetapi pada nilai yang diperintahkan untuk diwujudkan.

Kontekstualisasi Makna

Apabila pesan utama hadits ini adalah memerdekakan manusia dalam pengertian sosial, intelektual, dan moral, maka ketika sistem perbudakan telah terhapus secara historis, makna pemerdekaan harus kita terapkan dalam berbagai bentuk relasi sosial kontemporer.

Relasi antara majikan dan buruh, guru dan murid, penguasa dan rakyat, suami dan istri, lembaga dan masyarakat, hingga negara kaya dan negara miskin. Seluruhnya dapat menjadi medan aktualisasi pesan etis hadits ini. Dalam setiap bentuk relasi tersebut, nilai yang harus kita wujudkan adalah pemberdayaan, bukan dominasi; perlindungan, bukan eksploitasi; kemitraan, bukan ketergantungan.

Hadis ini juga dapat kita baca sebagai kritik terhadap struktur sosial modern yang masih menyisakan bentuk-bentuk “perbudakan baru”—seperti eksploitasi ekonomi, ketidakadilan pendidikan, diskriminasi gender, atau ketimpangan global. Dalam semua konteks ini, pihak yang memiliki kekuatan atau sumber daya—baik individu, lembaga, maupun negara—dituntut untuk berperan sebagai subjek etis yang berkomitmen pada pemerdekaan pihak lain.

Dengan demikian, pesan hadis ini dapat kita aplikasikan pada tataran kelembagaan dan global. Lembaga pendidikan yang memberdayakan kelompok marginal, organisasi sosial yang mendidik masyarakat rentan, atau negara yang membantu negara lain mencapai kemandirian dan kesejahteraan. Semua bentuk tindakan tersebut merupakan aktualisasi dari kerja etis “mengajar, mendidik, memerdekakan, dan menikahkan” dalam makna moralnya. Membentuk hubungan yang manusiawi, adil, dan saling menumbuhkan.

Kesimpulan

Hadis tentang laki-laki yang mengajar, mendidik, memerdekakan, dan menikahi budak perempuan bukan semata teks hukum mengenai status perbudakan dan pernikahan, melainkan sebuah teks etis tentang transformasi kemanusiaan. Dengan pembacaan melalui Metode Mubādalah, makna literal hadits ini berkembang menjadi pesan universal tentang pembebasan, pemberdayaan, dan kemitraan yang berkeadilan.

Dalam konteks awal, hadits ini berfungsi sebagai pendidikan moral bagi laki-laki agar menggunakan kekuasaan dan otoritas sosialnya untuk membebaskan. Bukan mengeksploitasi perempuan yang berada dalam posisi lemah. Pada tahap perluasan, pesan etis ini menjangkau seluruh manusia—laki-laki maupun perempuan. Yakni untuk berperan sebagai subjek moral yang memerdekakan sesama dan menumbuhkan kemaslahatan bersama.

Dalam konteks kekinian, makna pemerdekaan dalam hadits ini relevan untuk seluruh bentuk relasi sosial yang menuntut keadilan dan kesalingan. Baik di tingkat individu, keluarga, lembaga, organisasi, negara, maupun hubungan global. Prinsip yang kita tekankan adalah bahwa segala bentuk kelebihan. Baik berupa pengetahuan, kekayaan, kedudukan, maupun otoritas—harus berfungsi untuk memerdekakan, bukan menindas; membangun kemitraan, bukan menciptakan hierarki.

Dengan demikian, hadits ini menegaskan salah satu prinsip mendasar Islam. Bahwa rahmat dan akhlak mulia harus terwujud dalam relasi sosial yang memuliakan manusia. Metode Mubadalah menghidupkan kembali pesan tersebut dengan cara menempatkan setiap relasi manusia sebagai ruang pemerdekaan, kesalingan, dan kemaslahatan bersama. Baik dalam lingkup pribadi, keluarga, kelembagaan, kenegaraan, maupun kemanusiaan global. []

Tags: Hadis MubadalahKontekstualisasi MaknaMemaknai TeksMetode MubadalahRujukan
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Dr. Faqihuddin Abdul Kodir: Fiqh al-Murūnah, Paradigma Baru Keislaman Inklusif bagi Disabilitas

Next Post

Fiqh al-Murunah: Terobosan KUPI untuk Menempatkan Difabel sebagai Subjek Penuh dalam Hukum Islam

Faqih Abdul Kodir

Faqih Abdul Kodir

Founder Mubadalah.id dan Ketua LP2M UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Related Posts

Suara Asma
Keluarga

Suara Asma dan Jalan Kesalingan: Memaknai Ulang Distribusi Amal Perempuan dan Laki-laki

10 April 2026
Kompilasi Hukum Islam
Hukum Syariat

Nusyuz Suami dalam KHI: Tiga Langkah Membaca Kompilasi Hukum Islam dengan Metode Tafsir Mubadalah

26 Maret 2026
Khaulah
Pernak-pernik

Kisah Pengaduan Khaulah Menjadi Rujukan Diskursus Hak Perempuan dalam Islam

21 Februari 2026
Metode Mubadalah
Hikmah

Beda Qiyas dari Metode Mubadalah: Menjembatani Nalar Hukum dan Kesalingan Kemanusiaan

25 April 2025
Fiqh
Hikmah

Kaidah Fiqh dapat Menjadi Rujukan dalam Membaca Realitas

4 Juli 2023
Al-Qur'an
Hikmah

Al-Qur’an Menjadi Rujukan dalam Menjawab Semua Persoalan Sosial

27 Juni 2023
Next Post
Fiqh al-Murunah

Fiqh al-Murunah: Terobosan KUPI untuk Menempatkan Difabel sebagai Subjek Penuh dalam Hukum Islam

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Pasangan Positif HIV? Ini yang Perlu Anda Ketahui dan Lakukan
  • Panggung Bola, Air Mata Gaza, dan Trofi Juara Spanyol
  • Tetap Bahagia Meski Mengidap HIV atau AIDS
  • Nafkah Skincare, Antara Kosmetik Tersier dan Hak Kesehatan Reproduksi Istri
  • Apa yang Harus Dilakukan Setelah Hasil Tes HIV Positif?

Komentar Terbaru

  • Nur Fadiah Anisah pada Memaknai Jargon The Personal is Political: Kecemasan Kita Ternyata Diproduksi Negara!
  • Zikri Alvi Muharam pada Takut Kok Sama “Pesta Babi”
  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0