Sabtu, 24 Januari 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

    Kekerasan di Kampus

    IMM Ciputat Dorong Peran Mahasiswa Perkuat Sistem Pelaporan Kekerasan di Kampus

    Kekerasan di Kampus

    Peringati Hari Ibu: PSIPP ITB Ahmad Dahlan dan Gen Z Perkuat Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender di Kampus

    KUPI yang

    KUPI Jadi Ruang Konsolidasi Para Ulama Perempuan

    gerakan peradaban

    Peran Ulama Perempuan KUPI dalam Membangun Gerakan Peradaban

    Kemiskinan Perempuan

    KUPI Dorong Peran Ulama Perempuan Merespons Kemiskinan Struktural dan Krisis Lingkungan

  • Kolom
    • All
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    Ocan

    Itu Namanya Apa, Ocan? Berbagi Peran!

    Relasi tidak Sehat

    Memutus Rantai Relasi Tidak Sehat Keluarga

    Pendidikan Perempuan Disabilitas

    Membincang Hak Pendidikan Perempuan Disabilitas yang Terabaikan

    Pejabat Beristri Banyak

    Menyoal Pejabat Beristri Banyak

    Dialog Lintas Iman

    Dialog Lintas Iman dan Spiritualitas Kepemimpinan Katolik (Part 2)

    Literacy for Peace

    Literacy for Peace: Suara Perempuan untuk Keadilan, HAM, dan Perdamaian

    Skincare

    Skincare, Kewajiban Suami atau Investasi Bersama?

    Disabilitas

    Disabilitas dan Hak untuk Hidup Setara

    Sakit

    Sakit Lelaki Bujang dan Bayang-bayang Domestikasi Perempuan

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    reproduksi Manusia

    Kesehatan Reproduksi dalam Siklus Kehidupan Manusia

    Pengetahuan Kesehatan Reproduksi Perempuan

    Minimnya Pengetahuan Membuat Perempuan Rentan dalam Kesehatan Reproduksi

    Kesehatan

    Kesehatan Reproduksi Perempuan Masih Menghadapi Berbagai Persoalan

    Seks

    Seks dan Seksualitas sebagai Bagian dari Kehidupan Manusia

    Seksualitas dalam Islam

    Seksualitas dalam Islam: Dari Fikih hingga Tasawuf

    Seksualitas sebagai

    Seksualitas sebagai Konstruksi Sosial dan Budaya

    Seksualitas

    Bagaimana Agama Mengonstruksikan Seksualitas sebagai Hal yang Tabu?

    Seksualitas

    Ketika Seksualitas Dinilai dari Tubuh Perempuan

    Seksualitas

    Mengapa Seksualitas Sulit Dibicarakan?

    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Kebudayaan

    Pidato Kebudayaan dalam Ulang Tahun Fahmina Institute Ke 25

    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

    Kekerasan di Kampus

    IMM Ciputat Dorong Peran Mahasiswa Perkuat Sistem Pelaporan Kekerasan di Kampus

    Kekerasan di Kampus

    Peringati Hari Ibu: PSIPP ITB Ahmad Dahlan dan Gen Z Perkuat Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender di Kampus

    KUPI yang

    KUPI Jadi Ruang Konsolidasi Para Ulama Perempuan

    gerakan peradaban

    Peran Ulama Perempuan KUPI dalam Membangun Gerakan Peradaban

    Kemiskinan Perempuan

    KUPI Dorong Peran Ulama Perempuan Merespons Kemiskinan Struktural dan Krisis Lingkungan

  • Kolom
    • All
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    Ocan

    Itu Namanya Apa, Ocan? Berbagi Peran!

    Relasi tidak Sehat

    Memutus Rantai Relasi Tidak Sehat Keluarga

    Pendidikan Perempuan Disabilitas

    Membincang Hak Pendidikan Perempuan Disabilitas yang Terabaikan

    Pejabat Beristri Banyak

    Menyoal Pejabat Beristri Banyak

    Dialog Lintas Iman

    Dialog Lintas Iman dan Spiritualitas Kepemimpinan Katolik (Part 2)

    Literacy for Peace

    Literacy for Peace: Suara Perempuan untuk Keadilan, HAM, dan Perdamaian

    Skincare

    Skincare, Kewajiban Suami atau Investasi Bersama?

    Disabilitas

    Disabilitas dan Hak untuk Hidup Setara

    Sakit

    Sakit Lelaki Bujang dan Bayang-bayang Domestikasi Perempuan

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    reproduksi Manusia

    Kesehatan Reproduksi dalam Siklus Kehidupan Manusia

    Pengetahuan Kesehatan Reproduksi Perempuan

    Minimnya Pengetahuan Membuat Perempuan Rentan dalam Kesehatan Reproduksi

    Kesehatan

    Kesehatan Reproduksi Perempuan Masih Menghadapi Berbagai Persoalan

    Seks

    Seks dan Seksualitas sebagai Bagian dari Kehidupan Manusia

    Seksualitas dalam Islam

    Seksualitas dalam Islam: Dari Fikih hingga Tasawuf

    Seksualitas sebagai

    Seksualitas sebagai Konstruksi Sosial dan Budaya

    Seksualitas

    Bagaimana Agama Mengonstruksikan Seksualitas sebagai Hal yang Tabu?

    Seksualitas

    Ketika Seksualitas Dinilai dari Tubuh Perempuan

    Seksualitas

    Mengapa Seksualitas Sulit Dibicarakan?

    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Kebudayaan

    Pidato Kebudayaan dalam Ulang Tahun Fahmina Institute Ke 25

    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom Publik

Di Tengah Bencana, Di Mana Tuhan? Teodise dan Hikmah Kemanusiaan

Aku selalu percaya bahwa Tuhan tidak pergi ketika bencana datang. Tuhan hadir dalam orang-orang yang saling menguatkan.

Nadhira Yahya by Nadhira Yahya
8 Desember 2025
in Publik, Rekomendasi
0
Teodise

Teodise

1.1k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Bencana sering terasa jauh sampai suatu hari hidup kita sendiri retak dari dalam. Aku masih ingat masa ketika kesulitan, kegagalan, dan rasa tak berdaya datang hampir bersamaan, membuatku mempertanyakan banyak hal yang sebelumnya terasa jelas. Setiap malam aku merenung lama, mencoba mencari jalan keluar dari kekacauan batinku sendiri, tetapi justru semakin banyak pertanyaan yang muncul.

Di tengah gejolak itu, aku mulai bertanya lirih, “Kalau Tuhan Maha baik, kenapa semua ini terjadi padaku?” Pertanyaan itu akhirnya membawaku pada satu teori yang kemudian menjadi judul skripsiku: teodise, yaitu usaha manusia memahami bagaimana Tuhan tetap baik ketika hidup terasa tidak baik. Sejak saat itu, teodise bukan lagi konsep akademik bagiku, ia menjadi caraku berbicara kepada Tuhan sekaligus kepada diriku sendiri.

Maka ketika hari ini kita kembali mendengar kabar tentang bencana, tentang rumah runtuh, keluarga yang kehilangan, dan hidup yang retak dalam hitungan detik, perasaan itu seperti membuka kembali folder lama di dalam hati. Aku memahami betul bagaimana sebuah peristiwa yang mengguncang dapat membuat manusia kembali mempertanyakan hal yang sama:

“Kenapa ini terjadi? Di mana Tuhan saat bumi seolah pecah? Bukankah Dia Maha Kuasa?”

Di sanalah teodise hadir, bukan sebagai teori rumit atau konsep abstrak, bukan juga sebagai tanda kurangnya iman, tetapi justru sebagai upaya manusia, kita semua, untuk tetap menemukan Tuhan di tengah puing-puing dan momen paling mengoyak dalam hidup. Ia lahir dari manusia yang sedang mencari pelukan, mencari penjelasan yang tidak menyalahkan siapapun, dan mencari ketenangan yang tidak melukai iman sendiri.

Bencana Bukan Hanya Peristiwa Alam, Bencana juga Peristiwa Rasa

Di balik tragedi bencana, kamera mungkin hanya merekam kerusakan, tetapi  kita tahu hati manusia merekam luka yang jauh lebih dalam. Ada anak yang kehilangan orang tua, keluarga yang seketika tak punya rumah, atau seseorang yang duduk menatap lumpur sambil bertanya bagaimana ia akan memulai hari esok. Semua itu membentuk dimensi kemanusiaan yang sering terlupakan dalam angka-angka kerugian.

Di samping itu, teodise tidak hadir sebagai upaya membela Tuhan. Sebab Tuhan tidak perlu dibela. Aku justru membaca teodise sebagai cara manusia merawat dirinya. Kita ingin merawat iman supaya tidak patah, merawat harapan agar tidak padam, dan merawat kepercayaan bahwa dunia masih menyediakan ruang cahaya.

Tuhan Tidak Pernah Menciptakan Keburukan.

Dalam perjalanan penelilitian skripsi, aku menemukan satu jawaban penting: Tuhan tidak pernah menciptakan keburukan.

Yap, Tuhan memang menciptakan air, tapi bukan banjir. Tuhan memberi gunung, bukan letusan. Tuhan menyediakan api, bukan kebakaran. Air mengalir karena sifatnya, api membakar karena kodratnya, bumi bergerak karena hukum alam menuntunnya. Tidak ada unsur niat menyakiti di sana. Yang sering melukai justru pertemuan antara sifat alam yang konsisten dengan keterbatasan atau pilihan manusia yang kurang bijak. Iya?

Karena itu, kita perlu jujur melihat diri sendiri. Kita sering menilai hujan deras sebagai bencana karena merusak rumah, tetapi juga merayakannya ketika ingin. Api pun demikian: ia tampak sebagai musibah ketika melalap bangunan, tetapi pada saat yang sama ia menjadi sumber hangat, terang, dan kehidupan. Di titik inilah terlihat betapa mudahnya kita mengerdilkan alam, seakan-akan ia hanya untuk menuruti kepentingan manusia, padahal ia bergerak menurut ritme dan keseimbangannya sendiri.

Bencana = Ulah Manusia

Namun, tidak semua bencana murni berasal dari proses alam. Banyak bencana lahir dari pilihan manusia: pembabatan hutan, pembangunan rakus, pembetonan tanah, sistem yang memberi ruang pada korupsi, dan kebijakan yang menomorduakan keselamatan warga.

Ketika semua itu bertemu dengan hukum alam yang pasti, kita lalu menyebut hasilnya “takdir”, padahal sebagian besar lahir dari keputusan kolektif yang sebenarnya bisa kita cegah. Lucu sekali, bukan?

Meski begitu, manusia justru sering menemukan dirinya kembali di saat-saat paling gelap. Kita melihat relawan datang dari berbagai kota, warga bekerja sama membuka bantuan donasi, dan orang asing tiba-tiba berpelukan karena mereka sama-sama kehilangan sesuatu. Ada yang membawa selimut, ada yang membawa makanan, ada yang membawa doa. Dan bentuk-bentuk kecil kemanusiaan itu menggeser persepsi kita tentang kehadiran Tuhan.

Tuhan Hadir Melalui Kesalingan

Aku selalu percaya bahwa Tuhan tidak pergi ketika bencana datang. Tuhan hadir dalam orang-orang yang saling menguatkan. Tuhan hadir melalui kesalingan. Dalam air mata yang jatuh bersama pelukan, dalam langkah relawan di tengah hujan, dalam warga yang membuka rumah untuk pengungsi, semua itu menghadirkan kasih ilahi dalam bentuk yang dapat disentuh.

Setelah bencana berlalu, pekerjaan kita tidak selesai. Kita bisa membangun rumah dalam beberapa bulan, tetapi membangun hati membutuhkan waktu lebih panjang. Trauma, ketakutan, memori kehilangan, semua itu membutuhkan ruang aman. Kita perlu percakapan yang jujur, pelukan yang tidak menghakimi, doa yang tidak tergesa-gesa, serta upaya kolektif untuk memastikan seseorang tidak menanggung lukanya sendiri.

Pada akhirnya, pertanyaan besar tentang bencana dan teodise tidak mencari jawaban final. Pertanyaan itu hanya mengarahkan kita pada cara baru melihat dunia. Hidup selalu menjadi hubungan yang saling menautkan: manusia dengan Tuhan, manusia dengan alam, manusia dengan manusia. Jika salah satu terluka, bagian lain memiliki tugas moral untuk hadir, menyembuhkan, dan memulihkan.

Maka daripada bertanya “Mengapa Tuhan membiarkan bencana terjadi?”, kita bisa menggesernya menjadi “Bagaimana kita menghadirkan kasih Tuhan melalui tindakan kita hari ini?” Perubahan kecil perspektif itu membuka ruang bagi empati yang lebih luas.

Ala kulli hal, bencana memang membawa luka, dan tidak ada satu refleksi filsafat pun yang boleh meremehkannya. Tetapi aku yakin, bencana juga membuka ruang bagi harapan. Kita bisa belajar untuk lebih peka, lebih peduli, lebih sadar bahwa hidup ini saling terhubung. Percayalah, kita tidak pernah diciptakan untuk menghadapi penderitaan sendirian.

Dan mungkin, justru di tengah reruntuhan itulah, Tuhan sedang mengajarkan sesuatu yang sangat manusiawi: dunia akan pulih ketika kita mengulurkan tangan kepada satu sama lain dengan kesalingan, kasih, dan kemanusiaan yang tidak pernah padam. []

 

Tags: Bencana Alamkeadilan tuhanmanusiatakdirteodise

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
Nadhira Yahya

Nadhira Yahya

Gender Equality Enthusiast. Menyimak, menulis, menyuarakan perempuan.

Related Posts

reproduksi Manusia
Pernak-pernik

Kesehatan Reproduksi dalam Siklus Kehidupan Manusia

24 Januari 2026
Seks
Pernak-pernik

Seks dan Seksualitas sebagai Bagian dari Kehidupan Manusia

23 Januari 2026
Menjaga Alam
Publik

Manusia sebagai Khalifah Wajib Menjaga Alam

21 Januari 2026
Manusia dan Alam
Publik

Membangun Relasi Adil antara Manusia dan Alam

19 Januari 2026
Ekosentrisme
Buku

Visi Ekosentrisme Al-Qur’an

13 Januari 2026
Berdamai Dengan Kefanaan: Dari Masa Lalu, Hari Ini, Dan Masa Depan
Buku

Berdamai Dengan Kefanaan: Dari Masa Lalu, Hari Ini, Dan Masa Depan

8 Januari 2026
Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERPOPULER

  • Pejabat Beristri Banyak

    Menyoal Pejabat Beristri Banyak

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kesehatan Reproduksi Perempuan Masih Menghadapi Berbagai Persoalan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seks dan Seksualitas sebagai Bagian dari Kehidupan Manusia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dialog Lintas Iman dan Spiritualitas Kepemimpinan Katolik (Part 2)

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Membincang Hak Pendidikan Perempuan Disabilitas yang Terabaikan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

TERBARU

  • Itu Namanya Apa, Ocan? Berbagi Peran!
  • Memutus Rantai Relasi Tidak Sehat Keluarga
  • Kesehatan Reproduksi dalam Siklus Kehidupan Manusia
  • Membincang Hak Pendidikan Perempuan Disabilitas yang Terabaikan
  • Minimnya Pengetahuan Membuat Perempuan Rentan dalam Kesehatan Reproduksi

Komentar Terbaru

  • dul pada Mitokondria: Kerja Sunyi Perempuan yang Menghidupkan
  • Refleksi Hari Pahlawan: Tiga Rahim Penyangga Dunia pada Menolak Gelar Pahlawan: Catatan Hijroatul Maghfiroh atas Dosa Ekologis Soeharto
  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
redaksi@mubadalah.id

© 2025 MUBADALAH.ID

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Account
  • Home
  • Indeks Artikel
  • Indeks Artikel
  • Khazanah
  • Kirim Tulisan
  • Kolom Buya Husein
  • Kontributor
  • Monumen
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Rujukan
  • Search
  • Tentang Mubadalah
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

© 2025 MUBADALAH.ID