Selasa, 7 Juli 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

    Pemadaman Listrik

    Pemadaman Listrik Bergilir: Ironi Negara Eksportir Batu Bara

    Suporter Jepang

    Kritik untuk Suporter Jepang di Piala Dunia 2026: Cuitan Warganet, Sentilan Aristoteles

    Slut Shaming

    Slut Shaming: Ruang Digital tidak Ramah Terhadap Perempuan Kritis

    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Feminisme: Kala Perempuan Tak Melulu Menjadi Penghibur

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Gajah Sumatera

    Rusaknya Habitat Gajah Sumatera Akibat Deforestasi dan Alih Fungsi Lahan

    TPA Pakusari

    Perempuan di Tengah Gundukan Sampah: Tinjauan Kritis Ekofeminisme di TPA Pakusari

    Nawal El Saadawi

    Nawal El Saadawi: Dokter, Penulis, dan Aktivis yang Gigih Memperjuangkan Hak-Hak Perempuan

    Kesepiaan

    Mengapa Kesepian Bisa Hadir dalam Pernikahan?

    Maskulinitas Mubadalah

    Dari Maskulinitas Mubadalah Menuju Epistemologi Ulama Perempuan

    Surah 'Abasa

    Membaca Ulang Hikmah Inklusivitas Surah ‘Abasa 1-10

    Lagu Om Zein

    Ketika Candaan Melanggengkan Seksisme: Membaca Polemik Lagu Om Zein

    Demonstrasi

    Mengapa Demonstrasi Tetap Penting?

    Makna Iddah

    Menakar Ulang Makna Iddah dalam Relasi Perkawinan

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Pasca Aborsi

    Pendarahan Pasca Aborsi yang Mengancam Nyawa, Ini 5 Langkah Penanganan Lanjutannya

    Pasca Aborsi

    7 Langkah Darurat Menangani Pendarahan Pasca Aborsi sebelum Dirujuk ke Rumah Sakit

    Pendarahan pasca aborsi

    Cara Menghentikan Pendarahan yang Berlebihan Pasca Aborsi

    Aborsi

    Pendarahan Pasca Aborsi: Kenali Tanda Bahaya dan Langkah Pertolongan Pertama

    KB Setelah Aborsi

    Keluarga Berencana (KB) Setelah Aborsi

    Bahaya Aborsi

    Tanda-tanda Bahaya Setelah Aborsi

    Setelah Aborsi

    Perawatan Setelah Aborsi: Kenali Tanda Normal dan Gejala yang Harus Diwaspadai

    Aborsi

    Begini Ciri-ciri Layanan Aborsi yang Aman Menurut Standar Kesehatan

    Layanan Aborsi

    Bagaimana Mengetahui Layanan Aborsi Aman atau Tidak? Ini 9 Tandanya

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

    Pemadaman Listrik

    Pemadaman Listrik Bergilir: Ironi Negara Eksportir Batu Bara

    Suporter Jepang

    Kritik untuk Suporter Jepang di Piala Dunia 2026: Cuitan Warganet, Sentilan Aristoteles

    Slut Shaming

    Slut Shaming: Ruang Digital tidak Ramah Terhadap Perempuan Kritis

    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Feminisme: Kala Perempuan Tak Melulu Menjadi Penghibur

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Gajah Sumatera

    Rusaknya Habitat Gajah Sumatera Akibat Deforestasi dan Alih Fungsi Lahan

    TPA Pakusari

    Perempuan di Tengah Gundukan Sampah: Tinjauan Kritis Ekofeminisme di TPA Pakusari

    Nawal El Saadawi

    Nawal El Saadawi: Dokter, Penulis, dan Aktivis yang Gigih Memperjuangkan Hak-Hak Perempuan

    Kesepiaan

    Mengapa Kesepian Bisa Hadir dalam Pernikahan?

    Maskulinitas Mubadalah

    Dari Maskulinitas Mubadalah Menuju Epistemologi Ulama Perempuan

    Surah 'Abasa

    Membaca Ulang Hikmah Inklusivitas Surah ‘Abasa 1-10

    Lagu Om Zein

    Ketika Candaan Melanggengkan Seksisme: Membaca Polemik Lagu Om Zein

    Demonstrasi

    Mengapa Demonstrasi Tetap Penting?

    Makna Iddah

    Menakar Ulang Makna Iddah dalam Relasi Perkawinan

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Pasca Aborsi

    Pendarahan Pasca Aborsi yang Mengancam Nyawa, Ini 5 Langkah Penanganan Lanjutannya

    Pasca Aborsi

    7 Langkah Darurat Menangani Pendarahan Pasca Aborsi sebelum Dirujuk ke Rumah Sakit

    Pendarahan pasca aborsi

    Cara Menghentikan Pendarahan yang Berlebihan Pasca Aborsi

    Aborsi

    Pendarahan Pasca Aborsi: Kenali Tanda Bahaya dan Langkah Pertolongan Pertama

    KB Setelah Aborsi

    Keluarga Berencana (KB) Setelah Aborsi

    Bahaya Aborsi

    Tanda-tanda Bahaya Setelah Aborsi

    Setelah Aborsi

    Perawatan Setelah Aborsi: Kenali Tanda Normal dan Gejala yang Harus Diwaspadai

    Aborsi

    Begini Ciri-ciri Layanan Aborsi yang Aman Menurut Standar Kesehatan

    Layanan Aborsi

    Bagaimana Mengetahui Layanan Aborsi Aman atau Tidak? Ini 9 Tandanya

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom Personal

Standarisasi Perempuan melalui Narasi Feminine Energy di Media Sosial

Dalam praktik yang marak di media sosial, Feminine Energy direduksi menjadi seperangkat aturan perilaku bagi perempuan

Firda Imah Suryani by Firda Imah Suryani
19 Januari 2026
in Personal
A A
0
Feminine Energy

Feminine Energy

22
SHARES
1.1k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Ruang digital terpenuhi oleh narasi tentang Feminine Energy. Di Instagram, jutaan unggahan menggunakan tagar ini. Di TikTok, tayangannya mencapai miliaran kali.

Konsep ini terpromosikan sebagai kunci kebahagiaan perempuan cukup “mengaktifkan energi feminin”, maka relasi akan membaik, pasangan akan lebih bertanggung jawab, dan hidup terasa lebih ringan. Namun, di balik bahasa yang terdengar lembut dan menenangkan, tersimpan persoalan serius yang jarang dibicarakan secara jujur.

Kritik yang tajam terhadap tren ini tersampaikan oleh Kalis Mardiasih melalui kanal YouTube-nya dalam video berjudul “Feminine Energy: Mitos, Fakta, Bahayanya”. Dalam pemaparannya, Kalis menunjukkan bahwa Feminine Energy bukan sekadar konsep spiritual, melainkan telah berubah menjadi narasi populer yang berpotensi merugikan perempuan secara sosial, psikologis, dan struktural.

Pada awalnya, gagasan tentang energi feminin dan maskulin dapat kita temukan dalam berbagai tradisi filsafat dan psikologi. Filsafat Tao dengan konsep Yin dan Yang, misalnya, berbicara tentang keseimbangan semesta. Carl Jung juga mengenalkan konsep anima dan animus untuk menjelaskan bahwa setiap manusia baik laki-laki maupun perempuan memiliki sisi feminin dan maskulin dalam dirinya.

Budaya Populer

Masalah muncul ketika konsep-konsep ini mereka persempit dan terpelintir dalam budaya populer. Dalam praktik yang marak di media sosial, Feminine Energy tereduksi menjadi seperangkat aturan perilaku bagi perempuan. Harus lembut, pasif, tidak terlalu mandiri, selalu tampil cantik, dan tidak banyak berpendapat.

Perempuan terdorong untuk “menerima” alih-alih “menentukan”, “menunggu” alih-alih “mengambil keputusan”. Sebagaimana kritik Kalis Mardiasih, Feminine Energy dalam versi populer hari ini berfungsi sebagai pendisiplinan tubuh, ekspresi, dan karakter perempuan. Ia mengajarkan bagaimana perempuan harus berpakaian, berjalan, tersenyum, bahkan bagaimana cara merajuk atau berpura-pura tidak tahu agar laki-laki merasa “dibutuhkan”.

Salah satu klaim paling sering muncul dalam konten Feminine Energy adalah suami yang tidak menafkahi terjadi karena istri terlalu mandiri. Klaim ini terdengar sederhana, bahkan terasa logis bagi sebagian orang. Namun, kalimat yang justru bermasalah. Dalam video Kalis Mardiasih tersebut, ia jelaskan bahwa berbagai penelitian menunjukkan fakta yang berbeda.

Banyak kasus penelantaran ekonomi dalam rumah tangga terjadi karena faktor struktural  kehilangan pekerjaan, krisis ekonomi, konflik keluarga besar, atau perselingkuhan. Dalam kondisi ini, perempuan justru terpaksa menjadi mandiri agar keluarga tetap bisa bertahan hidup.

Dengan kata lain, kemandirian perempuan bukan penyebab penelantaran, melainkan akibat dari ketidakbertanggungjawaban atau situasi krisis yang keluarga hadapi. Ketika narasi Feminine Energy membalik logika ini, yang terjadi adalah perempuan kembali disalahkan atas penderitaan yang mereka alami.

Menilik Feminine Energy versi Budaya Populer

Feminine Energy versi populer mendorong perempuan untuk menggantungkan hidupnya pada laki-laki. Ketergantungan ini terkemas dalam bahasa spiritual dan romantis,  perempuan “cukup percaya”, “cukup menerima”, dan “cukup lembut”. Padahal, ketergantungan ekonomi dan emosional justru membuat perempuan lebih rentan terhadap kekerasan dan penelantaran.

Kutipan praktisi psikologi dalam pemaparan Kalis Mardiasih menegaskan bahwa budaya patriarki yang kuat yang menempatkan perempuan sebagai pihak yang bergantung membuat perempuan kehilangan daya tawar dalam relasi.

Dalam situasi krisis, perempuan yang tidak mandiri secara ekonomi cenderung terjebak dalam hubungan yang tidak sehat karena tidak memiliki pilihan lain. Alih-alih membebaskan, Feminine Energy versi ini justru menormalisasi kerentanan perempuan dan menyebutnya sebagai “kodrat”.

Relasi yang sehat membutuhkan komunikasi yang setara dan asertif. Penelitian dalam psikologi sosial menunjukkan bahwa pasangan yang mampu menyampaikan kebutuhan, perasaan, dan batasan secara jelas cenderung memiliki hubungan yang lebih stabil dan adil.

Namun, ajaran Feminine Energy sering kali mendorong perempuan untuk menahan pendapat, berpura-pura tidak tahu, atau memanipulasi emosi demi menjaga “energi feminin”. Ini bertentangan dengan prinsip komunikasi asertif yang justru membantu menyelesaikan konflik tanpa kekerasan dan tanpa pengorbanan sepihak.

Kritik Kalis Mardiasih

Salah satu kritik paling penting yang disampaikan Kalis Mardiasih adalah bahwa Feminine Energy bekerja dengan cara mengalihkan masalah struktural menjadi masalah individu. Ketidakbahagiaan perempuan dianggap sebagai akibat dari “energi yang tidak seimbang”, bukan karena sistem kerja yang eksploitatif, krisis ekonomi, atau relasi kuasa yang timpang.

Dalam kondisi ekonomi yang tidak pasti, lapangan kerja yang sempit, dan beban hidup yang tinggi, wajar jika banyak orang merasa lelah dan kehilangan arah. Feminine Energy menawarkan pelarian instan. Tidak perlu mempersoalkan sistem, cukup “memperbaiki diri”.

Ironisnya, narasi ini sering terpasarkan oleh para kreator yang menjual kelas, coaching, dan produk berbayar dengan harga tinggi. Spiritualitas pun berubah menjadi komoditas.

Esai ini tidak menolak kelembutan, intuisi, atau ekspresi feminin. Yang kita kritik adalah ketika nilai-nilai tersebut dipaksakan sebagai satu-satunya jalan hidup perempuan, sambil menutup mata terhadap realitas sosial yang kompleks. Seperti yang Kalis Mardiasih tegaskan dalam videonya, tidak ada yang salah dengan diri perempuan.

Ketidakbahagiaan yang banyak perempuan alami hari ini bukan semata-mata persoalan personal, melainkan persoalan kolektif yang berakar pada sistem sosial, ekonomi, dan budaya. Perempuan tidak membutuhkan “aktivasi energi” untuk layak kita hargai. Justru yang perempuan butuhkan adalah relasi yang setara, struktur yang adil, dan ruang aman. Terutama sebagai ruang untuk bertumbuh tanpa harus mengorbankan diri sendiri. []

Tags: Budaya PopulerFeminine Energykalis mardiasihkontenmedia sosialviral
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

PBB: Polusi Udara Perparah Krisis Lingkungan Global

Next Post

Kerusakan Lingkungan di Indonesia

Firda Imah Suryani

Firda Imah Suryani

Saya perempuan bukan aib masyarakat, bukan juga orang kriminal.  Pengemar musik indie dan pemakan sayuran.

Related Posts

Seni Memahami Kekasih
Film

Seni Memahami Kekasih: Antara Agus, Kalis, dan Kisah Cinta Ugal-ugalan yang Memberikan Banyak Pelajaran

3 Juli 2026
Host Live Perempuan
Publik

Host Live Perempuan Rentan Mengalami KBGO

26 Juni 2026
Disabilitas bukan lelucon
Disabilitas

Disabilitas Bukan Lelucon: Menimbang Etika Konten Kreator di Media Sosial

15 Juni 2026
Qana'ah
Personal

Qana’ah, Kelas Menengah dan Fantasi Menjadi Orang Kaya

13 Juni 2026
Ableisme Jokes
Disabilitas

Ableisme Jokes, Nirempati Konten Kreator pada Penyandang Disabilitas

5 Juni 2026
Konten Disabilitas
Disabilitas

Lelucon Konten Disabilitas demi Viewers

4 Juni 2026
Next Post
Kerusakan Lingkungan

Kerusakan Lingkungan di Indonesia

No Result
View All Result

TERBARU

  • Rusaknya Habitat Gajah Sumatera Akibat Deforestasi dan Alih Fungsi Lahan
  • Perempuan di Tengah Gundukan Sampah: Tinjauan Kritis Ekofeminisme di TPA Pakusari
  • Nawal El Saadawi: Dokter, Penulis, dan Aktivis yang Gigih Memperjuangkan Hak-Hak Perempuan
  • Mengapa Kesepian Bisa Hadir dalam Pernikahan?
  • Pendarahan Pasca Aborsi yang Mengancam Nyawa, Ini 5 Langkah Penanganan Lanjutannya

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0