Mubadalah.id – Bagi Anda yang aktif mengikuti pembahasan di media sosial X, mungkin tidak jarang menemukan postingan-postingan bernada sinis terhadap ibadah puasa yang kita lakukan sebagai muslim. Ada yang menilai puasa yang kita lakukan tidak lebih dari sekedar tidak makan siang. Ada pula yang menilai bulan Ramadan tidak lebih sebagai bulan di mana umat muslim semakin rakus dengan melakukan “pembalasan” di malam hari saat berbuka puasa.
Sebagai seorang muslim, sudah pasti kita akan merasa terganggu bahkan mungkin tersinggung dengan komentar-komentar tersebut. Namun pada sisi lain sinyalemen sinis tersebut perlu untuk kita renungkan.
Saya dan mungkin banyak muslim lainnya tidak jarang memang berperilaku sebagaimana tersebutkan dalam komentar tersebut. Mengawali hari dengan sahur sebanyak-banyaknya, ketika siang tidur dan bermalas-malasan sepuasnya, kemudian berbuka puasa dengan berbagai macam jenis makanan sebagai bentuk pembalasan.
Sampah Makanan
Melambungnya harga bahan makan dan barang kiranya merupakan suatu pengalaman kolektif yang kita alami nyaris di setiap momen Ramadan dan menjelang lebaran. Tidak jarang menjelang maghrib hingga malam, kedai dan restoran telihat lebih ramai dari hari-hari biasa. Kondisi ini sedikit banyak mencerminkan meningkatnya permintaan dan konsumsi masyarakat. Serta mencerminkan terjadinya perputaran ekonomi yang tentunya kita harapkan menjadi media pemerataan kesejahteraan.
Namun demikian, di balik bergeliatnya ekonomi masyarakat, ada problem yang menanti jika kondisi ini tidak terkelola dengan baik. Pola produksi dan konsumsi secara berlebih dapat berujung pada timbulnya sampah sisa makanan yang akan sangat merugikan. Merujuk pada Peraturan Presiden No. 97 Tahun 2017, pada tahun 2025 timbulan sampah di Indonesia diperkirakan mencapai 70 juta ton.
Menggunakan mode AI pada google, Saya mencoba mencari luas lahan yang kita butuhkan untuk menampung lahan tersebut. Hasilnya, jika timbunan sampah setinggi 5 meter, maka kita membutuhkan lahan kurang lebih seluas 23 kilometer persegi, ini setara dengan 3000-an lapangan sepak bola berstandar fifa. Sebagai perbandingan, Kota Mojokerto memiliki luas kurang lebih 20 kilometer persegi.
Kajian food loss and waste di Indonesia tahun 2021 menemukan bahwa 44% sampah di Indonesia merupakan sampah makanan.[1] Pada tahun 2022, Kementerian Bappenas mencatat data yang serupa, 41% sampah ialah sampah sisa makanan.[2] Sampah sisa makanan tersebut diperkirakan setara dengan makanan untuk 61-125 juta orang.
Sampah sisa makanan menjadi salah satu penyumbang emisi gas rumah kaca yang tentunya berdampak buruk bagi kelestarian lingkungan. Selain itu sampah jenis ini juga berdampak pada kehilangan ekonomi sebesar 213-551 triliun rupiah/tahun. Indonesia sendiri ditengarai merupakan negara penghasil sampah sisa makanan (food loss and waste) terbesar kedua di dunia.
Sampah sisa makanan tersebut tentu tidak muncul begitu saja, ada banyak hal yang menjadi sebab. Misalnya, sampah sisa makanan yang busuk karena kualitas penyimpanan yang kurang optimal. Atau disebabkan produksi yang berlebih hingga tidak terserap oleh pasar. Atau juga karena pembelian berlebih oleh konsumen yang berujung pada tidak terkonsumsinya makanan yang diperoleh. Kiranya patut kita akui sebab-sebab tersebut mungkin makin sering terjadi di bulan Ramadan.
Tingkatan Puasa
Telah masyhur dalam Ihya Ulumuddin, Imam Ghazali membagi puasa menjadi tiga tingkatan. Puasa umum atau puasanya orang-orang awam, puasa khusus yaitu puasanya orang-orang shalih dan puasa khusus yang lebih khusus atau khawasil khawas yakni puasanya nabi-nabi, orang-orang shiddiq dan muqarribin. Kebanyakan dari kita rasanya masih berada pada tingkat puasa umum, yaitu puasa yang sekedar menahan perut dan kemaluan untuk memenuhi keinginannya.
Pada tingkat puasa khusus, selain menahan untuk memenuhi keinginan perut dan kemaluan, puasa juga dimaknai menahan dan mengontrol seluruh anggota badan. Salah satu bentuk kesempurnaan dari puasa tingkat khusus ialah tidak memakan terlalu banyak saat berbuka puasa.
Imam Ghazali menyatakan agar kuantitas dan kualitas makanan saat malam atau berbuka puasa, sama seperti kuantitas dan kualitas makan malam saat sedang tidak berpuasa. Puasa tidak menjadi alasan untuk memindahkan porsi makanan siang dan menambahkannya dengan porsi makan malam.
Dianjurkan untuk tidak mengumpulkan kuantitas dan kualitas makanan di pagi atau siang hari menjadi satu saat berbuka puasa di malam hari. Menurut Imam Ghazali, hal ini akan membantu dalam pelaksanaan Ibadah. Serta melemahkan diri untuk melakukan perbuatan dosa dan jahat.
Sampah Ramadan
Lapar yang telah seharian kita rasakan, perihnya perut bila tidak memperoleh makan, seharusnya mendorong kita untuk semakin berempati kepada sesama. Sebagian dari kita mungkin merasakan lapar hanya di bulan Ramadan. Tidak sedikit orang yang terpaksa menjadikan kelaparan sebagai keseharian.
Tidak sedikit orang yang kebingungan bagaimana caranya memperoleh makanan untuk berbuka puasa. Ada sedikitnya 15 juta penduduk Indonesia yang tergolong sebagai miskin ekstrem.[3] Ada anak yang harus meninggal berjualan tisu untuk memperoleh biaya makan, ada pula anak yang gantung diri karena putus asa tidak bisa memperoleh biaya sekolah.
Sementara itu ada sebagian dari kita yang mungkin justru kebingungan memilih menu untuk berbuka puasa, bingung akan melaksanakan berbuka puasa di restoran mana. Ada pula yang berlebihan saat menyiapkan menu berbuka puasa, menimbulkan makanan sisa yang tidak terkonsumsi. Pada akhirnya makanan tersebut menjadi sampah yang sedikit banyak berkontribusi pada makin rusaknya kondisi lingkungan.
Memperbaiki Puasa
Sudah saatnya kita mulai beranjak dari puasa orang awam yang sebatas menahan lapar dan dahaga, menuju puasa orang-orang salih yang mampu menahan seluruh organ tubuh dari perbuatan dosa. Hal ini dapat kita mulai dengan tindakan kecil, sesederhana menyantap menu berbuka puasa secukupnya. Meminimalisir sampah sisa makanan yang mencemari lingkungan.
Kemudian kita mulai menahan mata, mulut dan telinga dari kemaksiatan. Menahan diri dari berbuat zalim kepada diri sendiri maupun orang lain. Melalui puasa ini kita latih diri agar tidak menjadi seperti pejabat korup yang mengambil hak rakyat banyak, agar tidak seperti oknum aparat yang berulang kali menyakiti, memfitnah dan menganiaya rakyat yang tidak berpunya.
Melalui puasa kita berharap diri ini terjaga dari menjadi sekutu penjahat perang yang dengan mudah membunuh anak-anak tak berdaya. Agar kita terhindar menjadi orang tua zalim yang merasa biasa melakukan kekerasan terhadap anak-anaknya. Semoga puasa kita menjadi jalan menuju keshalihan, mencegah kita menjadi sampah peradaban. []
[1] Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Laporan Kajian Food Loss And Waste di Indonesia (Jakarta: Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, 2021) Hlm. 7
[2] Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Laporan Kajian Lingkungan Hidup Strategis Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2025-2045 (Jakarta: Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, 2023) Hlm. 44
[3] https://www.tempo.co/ekonomi/apa-itu-kemiskinan-ekstrem-yang-jadi-target-pemerintah-0-0-5-persen-pada-2026-2053285 diakses pada 24 Februari 2026









































