Rabu, 22 Juli 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Spanyol

    Panggung Bola, Air Mata Gaza, dan Trofi Juara Spanyol

    Sepak Bola Dunia

    Perempuan di Balik Layar Bintang Sepak Bola Dunia

    Sejarah Prancis

    Runtuhnya Bastille dan Hipokrisi Egalite: Membaca Sejarah Prancis melalui Lensa Mubadalah

    Kekerasan di Sampang

    Lubang Perlindungan Perempuan; Akar Kekerasan di Sampang dan Pesan Fatwa KUPI

    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Nafkah Skincare

    Nafkah Skincare, Antara Kosmetik Tersier dan Hak Kesehatan Reproduksi Istri

    Anak dengan Down Syndrome

    Memahami Emosi Anak dengan Down Syndrome

    Kehamilan

    Mengapa Kehamilan Perlu Diputuskan Bersama?

    Dimensi Akhlak dalam Talak

    Tadarus Subuh ke 198: Dimensi Akhlak dalam Talak

    Humor Disabilitas

    Ironi Humor Disabilitas di Era Konten Viral

    Zakat

    Bolehkah Zakat Diberikan Kepada Penyintas Kekerasan?

    Kepemimpinan Beragam Gender

    Lebih Beragam, Lebih Hijau: Mengubah Dunia Lewat Kepemimpinan Beragam Gender

    Memahami Islam

    Sudah Saatnya Memahami Islam sebagai Sumber Inspirasi

    Poskolonialisme

    Aroma Poskolonialisme di Final Piala Dunia 2026: Albiceleste Kontra La Roja

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Pasangan HIV

    Pasangan Positif HIV? Ini yang Perlu Anda Ketahui dan Lakukan

    Mengidap HIV

    Tetap Bahagia Meski Mengidap HIV atau AIDS

    Tes HIV

    Apa yang Harus Dilakukan Setelah Hasil Tes HIV Positif?

    Tes HIV

    Kapan Sebaiknya Menjalani Tes HIV?

    Periode Jendela HIV

    Apa Itu Periode Jendela HIV? Ini Penjelasan dan Contohnya

    Virus HIV

    Mengenal Periode Jendela Virus HIV dan Cara Membaca Hasil Tes

    Perempuan HIV

    HIV pada Perempuan: Risiko Lebih Besar dan Enam Cara Mencegahnya

    HIV

    Mengapa Perempuan Lebih Rentan terhadap HIV? Ini Penjelasannya

    HIV Menular

    HIV Menular Melalui Apa Saja? Cek Fakta dan Mitosnya

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Spanyol

    Panggung Bola, Air Mata Gaza, dan Trofi Juara Spanyol

    Sepak Bola Dunia

    Perempuan di Balik Layar Bintang Sepak Bola Dunia

    Sejarah Prancis

    Runtuhnya Bastille dan Hipokrisi Egalite: Membaca Sejarah Prancis melalui Lensa Mubadalah

    Kekerasan di Sampang

    Lubang Perlindungan Perempuan; Akar Kekerasan di Sampang dan Pesan Fatwa KUPI

    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Nafkah Skincare

    Nafkah Skincare, Antara Kosmetik Tersier dan Hak Kesehatan Reproduksi Istri

    Anak dengan Down Syndrome

    Memahami Emosi Anak dengan Down Syndrome

    Kehamilan

    Mengapa Kehamilan Perlu Diputuskan Bersama?

    Dimensi Akhlak dalam Talak

    Tadarus Subuh ke 198: Dimensi Akhlak dalam Talak

    Humor Disabilitas

    Ironi Humor Disabilitas di Era Konten Viral

    Zakat

    Bolehkah Zakat Diberikan Kepada Penyintas Kekerasan?

    Kepemimpinan Beragam Gender

    Lebih Beragam, Lebih Hijau: Mengubah Dunia Lewat Kepemimpinan Beragam Gender

    Memahami Islam

    Sudah Saatnya Memahami Islam sebagai Sumber Inspirasi

    Poskolonialisme

    Aroma Poskolonialisme di Final Piala Dunia 2026: Albiceleste Kontra La Roja

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Pasangan HIV

    Pasangan Positif HIV? Ini yang Perlu Anda Ketahui dan Lakukan

    Mengidap HIV

    Tetap Bahagia Meski Mengidap HIV atau AIDS

    Tes HIV

    Apa yang Harus Dilakukan Setelah Hasil Tes HIV Positif?

    Tes HIV

    Kapan Sebaiknya Menjalani Tes HIV?

    Periode Jendela HIV

    Apa Itu Periode Jendela HIV? Ini Penjelasan dan Contohnya

    Virus HIV

    Mengenal Periode Jendela Virus HIV dan Cara Membaca Hasil Tes

    Perempuan HIV

    HIV pada Perempuan: Risiko Lebih Besar dan Enam Cara Mencegahnya

    HIV

    Mengapa Perempuan Lebih Rentan terhadap HIV? Ini Penjelasannya

    HIV Menular

    HIV Menular Melalui Apa Saja? Cek Fakta dan Mitosnya

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Rekomendasi

Di Tengah Hati Zahid, Di Jantung Maqbarah

Zahid membayangkan di Maqbarah itu semua makamnya di sepuh dengan keramik dan nisan yang indah, bersih, sunyi dan hawanya adem.

Shella Carissa by Shella Carissa
29 Maret 2026
in Rekomendasi, Sastra
A A
0
Maqbarah

Maqbarah

30
SHARES
1.5k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – “Tidak ada murid yang paling bodoh atau paling pintar. Tetapi yang ada itu murid sudah paham dan belum paham. Keduanya sama-sama mencari ilmu. Tidak ada perbedaan.” Begitu kiranya, yang Zahid dengar dari Ustadz Muhammad.

Namun entah mengapa teman seangkatannya, ada yang secara gamblang menyebut Zahid bodoh. Hanya karena Zahid lebih lambat dalam memahami, dan lebih banyak merenung daripada bergaul.

Seorang Anak yang Lebih Banyak Merenung

Tidak aneh sebetulnya jika teman seangkatannya menganggap Zahid begitu. Sebab orang-orang melihat Zahid seperti sosok dengan pandangan yang kosong. Zahid juga sangat abai terhadap penampilannya. Sarung yang ia kenakan melintir tak rapih. Kemejanya ia masukkan ke dalam sarung menambah kesan jenaka. Pecinya miring dengan corak luntur yang mengelilingi sudut bawahnya. Senyum cangung dan kikuk tanpa dosa selalu muncul meski ia baru saja di hukum berdiri lantaran lupa membawa Kitab Jurumiyah-nya.

Mereka juga melihat bahwa tidak ada hal yang seakan-akan menakutkan, menarik ataupun mengejutkan bagi Zahid. Sebab di setiap kondisi apapun, rautnya selalu sama. Wajah yang selalu menyiratkan kebingungan abadi itu membuat mereka tak tertarik mengajaknya bicara. Salah satu alasan, mengapa kemudian Zahid lebih suka dengan dunianya sendiri. Lebih suka berbicara, dengan hati dan pikirannya.

Sayangnya keramaian dalam hati dan pikirannya, membuat Zahid lupa kapan harus berhenti berbicara dengan dirinya. Karena setiap kali Kiai Nur memberikan penjelasan kitab yang mendalam, ia hanya menatap kosong ke arah langit-langit aula, matanya berkedip lambat seperti kumbang yang terbang tanpa arah.

Seorang Anak Yang Selalu Dilihat Kurang

Zahid sendiri, tak pernah tahu mengapa orang lain tampak terburu-buru, antusias, atau ambisius terhadap sesuatu. Sedangkan baginya, dunia ini tak lebih dari rangkaian kejadian dan waktu yang berjalan. Yang seharusnya bisa dinikmati perlahan. Meski banyak orang mengira kepalanya kosong, sebenarnya hanya ada satu niat sederhana, ia tidak ingin mengusik atau mengganggu siapapun.

“Wajahnya memang tak ada prasangka, tak ada niat buruk, namun sayangnya, sering kali tak ada isinya juga,” ucap seorang Senior di kamar Zahid. Mereka tertawa terbahak-bahak, dan selalu seperti itu jika sedang membicarakan Zahid.

Ada saja hal menarik jika membicarakan Zahid. Entah karena hafalan yang selalu tertinggal dan tergagap, membaca kitab yang selalu terbata, atau kesulitan Zahid dalam membedakan antara Ba’ dan Nun. Setiap kali mengikuti pengajian bandongan pun, matanya tak pernah fokus dan gelagatnya nampak tak berminat. Selalu asyik dengan dunianya sendiri.

Mereka tak tahu bahwa di luar pandangan, Zahid selalu mencoba menghafal dalam keremangan. Sayangnya, sekeras apapun dia mencoba, membaca ulang, memahami kalimat demi kalimat, hafalannya tak juga masuk.

Seorang Anak Yang Mendengar Cerita Kiainya

Hanya saja, suatu kisah yang Kiai Nur ceritakan malam itu, membuatnya, entah mengapa begitu tertarik. Leher panjangnya yang biasanya layu lantaran terlihat tak semangat, sekarang nampak  menjulur tinggi. Memperhatikan dengan betul.

“Maqbarah Gede. Makam para Kiai Sepuh dan Leluhur Desa Babakan. Merupakan salah satu tempat mistis. Tempat mistis yang menenangkan. Entah karena dukungan suasana yang sepi, atau karena memang ruh-ruh terikat dengan kedamaian lantaran Karomah Kiai Zaman dahulu. Yang meskipun meninggal, tetap memancarkan cahayanya dengan menentramkan setiap hati yang berdoa dengan sungguh di sana.

Ini bukanlah motivasi untuk menyembah kuburan. Bukan, anakku. Ini adalah soal jiwa yang lelah, menemukan tempat berkeluh kesah di persinggahan yang tenang. Berdoa di makam orang-orang salih, sembari mendoakan mereka, juga bagian dari mendoakan kita. Sebab tempat yang tenang dan sunyi, membantu setiap hamba yang gusar berbicara lebih dalam dengan nuraninya dan Tuhan-Nya. Membantu ia lebih jujur akan apa yang ia inginkan, atau membantu ia belajar menerima sesuatu yang membuatnya menderita.”

Tuturan Kiai Nur bukanlah hal baru bagi santri lama. Sebab mereka sudah tahu dan hafal akan tempat itu. Tempat yang melarang siapapun berlaku tak elok selain untuk shalat, ngaji dan berdoa. Makan, minum, tiduran pun terlarang. Suara harus pelan, jangan membuat gaduh.

Seorang Anak Yang Mendengar Legenda

“Ya. Kudengar Rayhan pun dicakar macan ghaib karena dia tertidur di Maqbarah. Namun anehnya keesokan pagi, ia menjawab soal ujian Alfiyah dengan benar dan menadhomkannya dengan lancar,” ucap Abu, santri tingkat 4.

“Tetap saja itu tidak boleh. Tidur di makam sangat tidak beradab. Bayangkan saja jika kau tidur di hadapan Kiaimu, apakah itu elok?” sanggah Qadir. Segera mendapat persetujuan dari yang lain.

Semua Kiai dan Santri di Desa percaya jika Macan Putih yang sering dikisahkan adalah perwujudan dari Khodim salah seorang Kiai besar, bernama KH. Ainurrohman. Namun ini tidak mendapat konfirmasi secara ilmiah sebab hanya legenda semata. Hanya saja beberapa kisah mistis dan ghaib yang pernah menimpa santri, seperti halnya kisah Rayhan tadi, menguatkan eksistensi Macan Putih tersebut.

Bagi mereka itu hanya cerita selingan di Pesantren karena memang ada beberapa hal-hal ghaib dan mistis yang terjadi di Pesantren. Namun bagi Zahid, cerita itu amat menakjubkan dan melekat di ingatannya. Saat Kiai menjelaskan tentang kitab kuning yang begitu dalam maknanya, ia justru mengangguk-angguk mantap bukan karena paham, melainkan karena teringat bahwa ada seorang Ustadz yang mengatakan bahwa di Maqbarah Gede ada lukisan Macan Putih dan ia ingin sekali melihatnya.

Seorang Anak Dengan Mimpi Dalam Tidurnya

Zahid membayangkan di Maqbarah itu semua makamnya di sepuh dengan keramik dan nisan yang indah, bersih, sunyi dan hawanya adem. Banyak orang membaca Al-Qur’an di sana dan mengaji di sana. Siang-malam tak pernah sepi. Seperti yang pernah ia dengar. Ia merasa dirinya sedang berada di Maqbarah Gede. Berjejer rapih bersama orang-orang saleh yang duduk dengan nyaman di sampingnya, yang ketika datang mereka menyalaminya. Ia terkesan, sebab kebanyakan para santri di Pondok menghindarinya.

Mereka membaca Al-Qur’an, sedangkan Zahid menghafal Tashrifan-nya, yang ajaib, sudah mau khatam…

“Zahid!”

Zahid terbelalak. Mengerjap mata dan sadar bahwa dia bukan di Maqbaroh Gede, melainkan masih duduk di forum pengajian. Ustadz Muhammad baru saja membangunkannya. Semua mata memandangnya, sementara Zahid memandang mereka untuk mencocokkan wajah dengan wajah-wajah yang baru saja hadir di mimpinya. Berharap yang ia alami tadi bukan mimpi, melainkan kenyataan yang indah.

“Zahid! Usap ilermu!” bisik kawannya yang di depan. Meskipun jelas sekali tidak terdengar seperti bisikan. Melainkan suara lirih yang sengaja di kencangkan.

Semua orang tertawa. Ia menduduk malu dan mengusap lendir itu dengan sembuny-sembunyi di balik Kitab Kasyifatus Saja-nya. Sekaligus menyembunyikan kegetiran saat hati kecilnya merasa terasingkan. Sekaligus kesedihan menghadapi bahwa ia hanya bermimpi.

Seorang Anak Dengan Kesendiriannya

Saat subuh datang terkadang tidak ada yang membangunkannya sehingga saat yang lain mengambil wudlu, dia masih tertidur sendirian di pojok Masjid. Bahkan saat bubar mengaji pun, dia yang sering ketiduran ditinggalkan. Tak ada yang membangunkannya sampai ia sendirian di aula yang besar. Menatap kosong keheningan sekitar. Memandang linglung suasana sepi yang menyedihkan.

Ia tak pernah minder atau merasa kerdil, tatkala saat kunjungan, temannya dibawakan Ayam Goreng yang sedang viral, berplastik-plastik stok camilan, stok laukan, minuman-minuman energik, hingga buah-buahan yang terlihat mahal.

Ia tetap merasa senang, meski Ibu selalu membawakan urab kangkung, telor balado, mie goreng atau orek tempe andalannya.

Saat ia sakit pun tak ada yang sadar akan wajah pucatnya. Ia tak tega mengatakan ia sakit kepada kepala kamarnya yang baik hati. Ia pasti sudah kewalahan menggobrek anak yang lainnya agar lekas berangkat madrasah, jika ada anak yang sakit, kerepotannya pasti bertambah dengan mengantarnya ke Pos Kesehatan, membeli surat izin lalu mengkonfirmasikan sakitnya ke Keamanan. Maka setiap kali ia sakit, ia tetap pergi Madrasah dengan tubuh lemas kurang tenaga dan nutrisi.

Seorang Anak Dengan Deritanya

Pernah suatu ketika Kitabnya disembunyikan, sehingga dia tidak bisa menderes untuk setoran kepada Ustadz Muhammad. Begitu namanya dipanggil pertama untuk setoran, ia tergagap hingga lama-lama membuat Ustadz Muhammad menarik nafas menahan kesal. Maka, Ustadz hanya bertanya apa hukum Mubtada, ia tak bisa menjawabnya sebab ia lupa hukumnya antara Isim, Fi’il atau Huruf.

Karena lama menjawab Ustadz akhirnya memberi pilihan, antara Rofa, Nashab, Jer atau Jazm, namun otak Zahid sudah penuh dengan Isim, Fi’il atau Huruf sehingga mengabaikan keempat pilihan itu. Keempat pilihan tadi juga sulit ia ucapkan, maka ia menjawab asal, tetap dengan ingatannya yang tiga tadi, memilih satu di antaranta, Huruf. Seketika tawa temannya meledak. Di tengah gelegar tawa itu, ia mendengar temannya menyeletuk, “Rofa’ bodoh!”

Ada juga kejadian yang mengujinya saat mandi. Seseorang dengan sengaja menyembunyikan sarungnya. Sehingga dia harus menunggu pengajian bubar untuk meminta tolong dan memohon kepada orang yang berkenan membantunya. 6 kali ia tak digubris, beruntung, seorang Kepala Kamar dari Komplek lain berbaik hati membantu dan meminjamkan sarungnya.

Dalam acara besar seperti marhabanan, ia terpinggirkan. Sendirian di barisan paling belakang. Saat berkelompok tak ada yang memilihnya jika bukan Ustadz yang membagi, sehingga terkadang ia pasti satu kelompok dengan Nurdin, santri bertubuh besar yang sering dijuluki Bombom. Nurdin atau Bombom memang pernah sesekali dibully, namun ia hanya memasang wajah cuek.

Banyak sekali orang-orang tidak beruntung di dunia ini hanya karena tubuh mereka, pola pikir mereka, atau bahkan kesabaran mereka. Begitu kira-kira yang dialami Zahid dan Nurdin.

Seorang Anak Dengan Keistimewannya

Sering diperlakukan berbeda dengan hati yang selalu merasa tak enakan untuk mengelak, membalas, atau lebih baik menerima, lama-lama Zahid lelah. Ia ingin seperti kawannya yang lain. Ia ingin label ‘Bodoh’ lepas darinya sebab seperti yang diucapkan Kiai Nur, tidak ada yang bodoh, yang ada hanyalah mereka yang belum paham. Ia akan lebih senang jika di sebut dengan ‘Belum Paham’ alih-alih bodoh.

Zahid ingat sekali, saat baru pertama kali Mesantren dengan Ibu yang mengantarnya bersama Ustadz Kampung, ia mendengar sang Ibu berbincang dengan pengurus menyebut-nyebut kata dalam Bahasa Inggris. Sebuah kata yang sulit disebutkan bagi Zahid. Pengurus, yang tidak mengerti membuat ibu menyederhanakannya dengan kata Lambat dalam Berpikir. Saat pengurus tersebut mengernyitkan dahi, Ibu menjelaskan bahwa Zahid merupakan salah satu anak terbelakang dengan keterbatasan dalam menerima respon yang lambat.

Mungkin itulah yang menjadikannya selalu tertinggal oleh teman-temannya sehingga dianggap bodoh. Bahkan saat ada yang mengetahui fakta itu, mereka dengan tega menyebutnya secara kasar dengan IQ rendah.

Seorang Anak Dengan Ibunya

Namun Zahid tak memusingkannya sebab ia tak paham betul sebab-akibat dari lambat berpikir itu. Ia tak ingin memikirkan atau merasa sedih atasnya. Sebab jika ia merasa sedih, artinya ia secara tak langsung menyalahkan pola asuh Ibunya atau saat mengandungnya.  Ia justru merasa berterima kasih dan beruntung sekali memiliki Ibu yang selalu menyayanginya meski ia berjuang sendirian menghidupi Zahid. Tanpa seorang suami.

Ibunya adalah kasih abadi yang selalu memperjuangkan kebutuhannya. Ibu yang selalu mengusahakan agar keperluan mondok Zahid terpenuhi dan tercukupi. Walaupun ia terpinggirkan, anehnya ketika Ibunya membawakan bekal saat sambangan, ada saja yang mendekitanya. Ia tak keberatan. Mengajak mereka mencicip telur dadar dan urab kangkung masakan ibunya.

Sayangnya kejadian mengenakan seolah ada saja. Pernah saat sambangan sebelum bulan Ramadan tiba, ia dibawakan mie goreng sisa tumpengan di desanya, ia tak tahu jika mie itu sudah bau. Ibu pun mungkin tidak sadar jika mie itu sudah tak layak makan.

Burhan, salah seorang senior yang mencicipnya duluan dengan tak sabaran, melepeh mie itu di atas nasinya sambil mengumpat-ngumpat, membuat Zahid dan yang lainnya tak jadi makan lantaran jijik. Hatinya sedih dan jiwanya perih. Namun tak terpikir sedikitpun ia untuk marah. Ketiga rekannya yang lain pergi mengikuti Burhan memandang remeh sambangan Zahid. Sedang ia membereskan tumpahan-tumpahan tersebut sambil berlinang.

Seorang Anak Dengan Ramadan Pertamanya

Saat ini Ramadan datang dan itu adalah Ramadan pertama Zahid di Pondok. Buka bersama pasti dilaksanakan setiap maghrib. Saat seperti itu, ia terpaksa menahan kegelisahan saat duduk berdempet dan berhimpit dengan rekan sekamarnya yang selalu menjauhinya. Atau malah mereka yang menahan jengkel sebab duduk berdekatan dengan Zahid. Entahlah. Zahid hanya merasa tak enak jika harus duduk di dekat orang yang tak nyaman duduk di dekatnya.

Ia mendapat jadwal menyiapkan buka di hari Ke-3 Ramadan. Maka sebelum adzan maghrib berkumandang dia diizinkan untuk keluar duluan dari masjid saar wiridan untuk mengambil nasi. Saat mengantri mengambil nasi ia didorong-dorong begitu keras seolah mereka sengaja mendorongnya hingga ia menepi.

“Minggir, Bau!” umpat santri itu sambil menutup hidungnya rapat-rapat.

Zahid pun mengalah. Menunggu antrian mulai sepi. Namun begitu antrian sepi, nasi tinggal sedikit sekali. Tak ayal, anak-anak kamar jengkel padanya karena hanya emndapat sedikit nasi. Beruntung, kepala kamar yang bijaksana mengatakan tak apa-apa dan ia akan berkeliling kamar mencari lebihan nasi.

Ada hari di mana kepala kamarnya pulang. Saat sahur tak ada yang membangunkannya. Saat berbuka nasi jatahnya selalu disambar temannya sehingga ia tak kebagian cukup makan. Padahal mereka duduk berdekatan namun tetap saja Zahid tak enak menjangkau nasi yang jelas sudah berada di depan temannya.

Seorang Anak Dengan Perlakuan Buruk Temannya

Begitu ngaji pasaran tiba, salah seorang temannya meminjam pulpennya. Padahal itu miliknya satu-satunya, namun tetap saja ia memberikan pulpen itu karena merasa kasihan dengan temannya. Akhirnya ia tak memaknai Kitabul Adab-nya.

Saat pengajian bubar, temannya malah tidak mengembalikannya. Sedangkan Zahid tak lagi memiliki pulpen dan ingin membeli pun ia tak punya uang. Maka dengan sedikit keberanian dan rasa malu, ia mendatangi temannya di kerumuman halaman Pondok. Mereka sedang memakan gorengan bersama-sama. Seketika perutnya berbunyi. Ia ingin jajan. Ingin bergabung bersama dan berharap mereka menawarinya gorengan…

Zahid menggeleng. Segera memanggil nama temannya. Dengan sopan ia meminta kembali pulpennya yang dipinjam. Namun temannya itu malah melempar pulpen itu hingga mengenai wajah Zahid.

“Tuh!”

Kesabaran bagi Zahid, jelas, tak ada batasnya. Namun malam itu, entah mengapa ia merasa lelah. Ia kurang makan, ia tidak kebagian sahur dan berbuka sedikit. Tidurnya tidak nyenyak karena sudah dua hari makannya sedikit. Ingin membeli jajan atau takjilpun ia tidak memiliki uang. Barusan Di surat, Ibu berjanji akan memberinya saat 9 ramadhan sementara sekarang baru 4 ramadhan. Berarti 5 hari lagi. Terlebih, barusan bertambah seseorang yang menyakitinya.

Seorang Anak Dengan Keberaniannya

Zahid merasa dadanya penuh. Ia ingin sekali berdoa di keremangan yang sepi, di mana ia bisa mendengar hatinya, bisa bercerita dalam sunyi atas kejadian-kejadian yang menimpanya. Dan di kala itu, ia teringat Maqbaroh.

Maka, saat malam gulita ia menyelinap keluar pondok melalui pagar kayu yang gampang dipanjat di belakang Kompleknya. Begitu saja ia memiliki keberanian. Padahal ia adalah santri yang tak pernah melanggar. Namun ia sudah tidak bisa lagi menahan sabar dalam hatinya yang rapuh.

Zahid tak tahu mendapat kekuatan dari mana namun nurani mengajaknya terus melangkah. Seperti tak sadar, ia mengendap-endap melewati lorong kecil antara dua komplek dan sepelan mungkin memanjat tembok tinggi dengan bantuan meja yang rusak.

“Saat hati gelisah, berdo’alah kepada Allah, atau di tempat tenang seperti makam orang-orang sholeh.”

HUP!

Ia melompat hati-hati dan berjalan dalam senyap menuju Maqbaroh. Menyusuri pohon-pohon tinggi hingga terus masuk ke karang yang lebih gelap. Semakin jauh ia menusuri jalanan setapak, semakin ia melihat pepohonan menjulang tinggi nan saling berhimpit. Terus hingga masuk ke dalam gerbang. Maqbaroh itu jelas di tengah-tengah hutan.

Rasa takut seakan tercabut, berganti keberanian yang lahir dari tekad yang besar.

Seorang Anak Dengan Hatinya

Ketika sampai, Maqbarah tidak seratus persen seperti bayangannya. Memang ada makam yang disepuh, namun tidak menggunakan keramik, melainkan hanya disemen saja. Dua makam utama terlihat paling jelas dekat dengan pendopo yang luas. Ada Shalawat Ziarah Qubur dalam pigura yang besar. Di atasnya kaligrafi dengan terjemahan “Istiqamah lebih baik dari Seribu Karamah.” Terpampang indah.

Di samping kiri tembok ada peringatan ‘Dilarang tiduran dan larangan lainnya’. Sedangkan di samping kanannya ada lukisan macan putih yang terkenal sebagai Khodim K.H. Ainurrohman. Sangat menarik memandang lukisan itu seakan-akan, Zahid bisa merasakan kehadirannya.

Sudahlah. Zahid tak mau berlama-lama menyusuri setiap sudut dan titik di Maqbarah yang tenang, sunyi dan dingin oleh semilir angin itu. Ia bersimpuh, mengucap shalawat, lalu mulai berdo’a.

Ya Allah…

Hanya itu yang bisa Zahid lirihkan. Selebihnya air mata yang mengucur deras. Mewakili isi hatinya.

Ia yakin Tuhan memahami lebih dalam kegelisahannya. Ia tahu Tuhan lebih mengetahui maksud hatinya. Ia tak perlu menceritakan semuanya. Yang jelas, ia hanya ingin tidak mendapat perlakuan berbeda oleh orang lain lantaran wajahnya, sikapnya, dan kekurangan daya tangkapnya. Ia menangis meratapi penyesalan mengapa ia tidak belajar begitu keras dan mengapa ia susah sekali menerima pelajaran.

Di tengah hati Zahid, yang paling dalam, ia meminta, pada kesunyian di jantung Maqbarah yang magis dan sunyi.

Zahid merasakan perutnya sakit dan badannya demam. Namun ia memilih meneruskan berdoa begitu dalam hingga air mata tak berhenti mengalir dari wajahnya. Ia menangis dan terus menangis. Matanya terpejam sampai ia sendiri tak sadar jika perlahan, bayangan putih datang memenuhi penglihatannya sampai ia merasa silau. Ia tak menyadari jika bayangan yang perlahan itu juga menyedot kesadarannya sedikit demi sedikit…

Zahid pun tumbang. Dalam mimpinya, ia melihat seekor macan putih berdiri dalam sebuah ruangan serba putih, dengan kerumunan orang-orang yang juga berpakaian serba putih. Setelah itu, tiba-tiba semuanya gelap.

Seorang Anak Yang Telah Pergi Dari Buminya

Keesokan harinya Zahid terbangun. Tanpa mengumpulkan kesadarannya Ia langsung bergegas ke Pondok sebelum mulainya agenda Dhuhaan agar tak tertangkap basah jika ia baru saja menyelinap keluar.

Begitu ia berhasil memasuki Pondok tanpa ketahuan. Ia buru-buru memakai seragam Madrasahnya. Lalu berjalan dengan perasaan kalut ke Masjid.

Dhuhaan sudah hampir di mulai dan dia terlambat. Ia pun segera menuju Ustadz Qais yang sedang menggobrek di halaman. Berniat menyerahkan diri dan menerima seandainya akan ditakzir.

Masjid yang sudah penuh itu ia rasakan agak berbeda. Biasanya para santri akan mengobrol hingga dengungannya memenuhi langit-langit Masjid. Wajah yang ia lihat kini adalah wajah-wajah santri yang tertekuk. Diam. Merenung begitu kelam. Begitu sunyi dan tenang.

Zahid tak begitu mempedulikan. Mungkin ada sesuatu, pikirnya. Zahid hanya memikirkan apa kiranya sanksi yang akan ia terima. Begitu sudah berdiri di hadapan Ustadz Qais dengan tubuh membungkuk, ia mengucap kata punten. Namun rupanya Ustadz Qais tak menyadari kehadirannya. Maka ia menunggu, tanpa tahu bahwa Ustadz Qais sedang membaca sebuah berita menakutkan. Termenung melihat Pamflet Belasungkawa di Grup Pengurus.

“Innalillahi wa Inna Ilaihi Roji’un. Turut beduka cita atas wafatnya Ananda Zahid Hamizan.  Santri Pondok Pesantren Al-Birr.”

Yang penyebab kematiannya belum diketahui. []

Tags: IQ RendahLambat Dalam BepikirMaqbarahPondok PesantrenSantri
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

8 Hak Dasar Pasien yang Sering Terabaikan dalam Pelayanan Kesehatan

Next Post

Silaturahmi Lebaran, Hierarki Sosial, dan Logika Untung-Rugi

Shella Carissa

Shella Carissa

Masih menempuh pendidikan Agama di Pondok Kebon Jambu Al-Islamy dan Sarjana Ma'had Aly Kebon Jambu. Penikmat musik inggris. Menyukai kajian feminis, politik, filsafat dan yang paling utama ngaji nahwu-shorof, terkhusus ngaji al-Qur'an. Heu.

Related Posts

Percaya Pondok Pesantren
Personal

Kami Masih Percaya Pondok Pesantren

11 Juli 2026
Bertumbuh bersama Pesantren
Personal

Bertumbuh Bersama Pesantren: Menjadi Alim, Saleh, dan Kafi

10 Juli 2026
Pesantren Putra
Publik

Runtuhnya Anggapan Misoginis dan Peran Pesantren Putra dalam Mencegah Kekerasan Seksual

25 Juni 2026
Kekerasan Seksual di Pesantren
Aktual

Dari Dalam Pesantren: Saatnya Membangun Sistem Perlindungan Santri dari Kekerasan Seksual

11 Juni 2026
Santri Aman
Publik

Santri Aman, Pesantren Beradab; Membaca Ulang Pancasila di Kamar Asrama

8 Juni 2026
Marwah Pesantren
Publik

Di Tengah Krisis Kepercayaan, Ke Mana Marwah Pesantren akan Dibawa?

5 Juni 2026
Next Post
Silaturahmi Lebaran

Silaturahmi Lebaran, Hierarki Sosial, dan Logika Untung-Rugi

No Result
View All Result

TERBARU

  • Pasangan Positif HIV? Ini yang Perlu Anda Ketahui dan Lakukan
  • Panggung Bola, Air Mata Gaza, dan Trofi Juara Spanyol
  • Tetap Bahagia Meski Mengidap HIV atau AIDS
  • Nafkah Skincare, Antara Kosmetik Tersier dan Hak Kesehatan Reproduksi Istri
  • Apa yang Harus Dilakukan Setelah Hasil Tes HIV Positif?

Komentar Terbaru

  • Nur Fadiah Anisah pada Memaknai Jargon The Personal is Political: Kecemasan Kita Ternyata Diproduksi Negara!
  • Zikri Alvi Muharam pada Takut Kok Sama “Pesta Babi”
  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0