Mubadalah.id – Sangat banyaknya kasus kematian ibu bersalin yang sebetulnya bisa dicegah dengan gizi yang baik, KB (agar jarak antarkelahiran cukup jauh), akses ke aborsi yang aman, perawatan kesehatan yang baik selama hamil, transportasi yang memadai, serta adanya jasa donor darah yang cepat tanggap bila transfusi darah diperlukan.
Untuk menurunkan tingkat kematian ibu bersalin, bisa dilakukan beberapa tindakan:
Pertama, pelajari apa saja gejala dan tanda bahaya selama kehamilan, persalinan, dan sesudah persalinan.
Kedua, rencanakan bagaimana cara mencari bantuan medis sejak jauh-jauh hari.
Ketiga, kalau masalah muncul, usahakan mencari bantuan secepat mungkin.
Keempat, cobalah menggerakkan masyarakat setempat agar alat transportasi darurat, uang, dan donor darah siap manakala terjadi persalinan bermasalah.
Kelima, seandainya tempat tinggal Anda jauh sekali dari rumah sakit (seperti dalam kisah di atas), usahakan bermusyawarah dengan para sesepuh desa, apakah bisa mendapatkan rumah di dekat rumah sakit untuk menampung perempuan yang sudah mendekati masa persalinan.
Masyarakat di daerah terdekat dengan rumah sakit pun bisa mengadakan musyawarah serupa untuk membantu menyediakan tempat tinggal sementara bagi ibu-ibu dari jauh yang mungkin membutuhkan pertolongan medis secepatnya.
Saran bagi Pekerja Kesehatan untuk Menyelamatkan Nyawa Perempuan
Pertama, tawarkan jasa pelayanan KB untuk mencegah aborsi yang tidak aman dan membantu menjarangkan kelahiran sehingga kondisi perempuan membaik.
Kedua, tawarkan perawatan dan pencegahan penyakit yang menular lewat hubungan seksual pada semua perempuan dewasa maupun remaja yang sudah mampu memiliki keturunan.
Ketiga, sediakan vaksin tetanus bagi semua perempuan, termasuk yang tidak hamil.
Keempat, pelajari cara melacak semua gejala problema semasa hamil, melahirkan, maupun setelahnya.
Kelima, bila menjumpai pasien hamil yang kelihatannya dirundung masalah dan kemungkinan akan mengalami persalinan yang sulit atau membahayakan, beri nasihat untuk melahirkan di puskesmas yang punya sarana pengangkutan darurat.
Keenam, ajarkan pada para bidan, dukun beranak, dan tetangga pembantu persalinan bagaimana cara mencegah infeksi, serta bagaimana cara mewaspadai dan mengatasi tanda-tanda bahaya selama kehamilan dan kelahiran.
Ketujuh, imbaulah semua perempuan untuk memberikan ASI kepada anak-anak mereka paling sedikit selama 2 tahun.
Selalu siap dengan kotak obat dan peralatan pertolongan pertama yang isinya meliputi:
Pertama, Oxytocin, ergometrine, dan tanaman obat lokal untuk mencegah dan mengendalikan pendarahan sehabis persalinan. Kedua, antibiotika untuk menanggulangi infeksi.
Ketiga, peralatan suntik untuk urat maupun pembuluh darah/infus. Keempat, obat-obatan untuk memberi pertolongan bila ibu hamil mengalami toxemia.
Kelima, sepasang sarung tangan bersih atau kantong plastik. Keenam, silet yang belum pernah dipakai. Ketujuh, kantong atau kaleng untuk mewadahi cairan dubur. []
*)Sumber Tulisan: Buku Bila Perempuan Tidak Ada Dokter karya A. August Bruns dkk hlm 131-132.












































