Mubadalah.id – Sejak 2025, Mei ditetapkan sebagai Bulan Kebangkitan Ulama Perempuan (KUPI). Pada momentum bulan KUPI tahun ini, menghadirkan sebanyak 30 ulama dalam diskusi serial biografi ulama perempuan. Serial kedua pada Minggu, 2 Mei 2026 melalui ruang digital, para peserta diskusi diajak melawat ke Pesantren Cintapada di Tasikmalaya. Sebuah tempat yang menyimpan jejak ketangguhan sosok perempuan luar biasa, yakni Nyai Hj. Nonoh Hasanah.
Melalui bincang hangat antara Nyai Asriani Arsyad selaku moderator bersama Nyai Isti’anah selaku pencerita, saya seolah diajak melintasi waktu. Nyai Isti’anah mengajak pendengar menelusuri riwayat hidup Nyai Nonoh Hasanah, sosok perempuan yang menghabiskan seluruh usia untuk memajukan kaumnya, melalui pendidikan pesantren.
Lahir di Leuwisari, Tasikmalaya pada 1935, Nyai Nonoh Hasanah tumbuh di tengah keluarga yang sangat menghargai pendidikan. KH Muhammad Syamsuddin dan Hj Qomariyah adalah sosok yang egaliter. Hal ini terbukti dengan tidak adanya sekat pembeda dalam perlakuan pada kelima anaknya. Baik laki-laki maupun perempuan, harus menuntut ilmu setinggi mungkin, tidak terkecuali Nyai Nonoh Hasanah.
Sosok yang Dahaga atas Ilmu Pengetahuan
Saya merenung sejenak saat mendengar betapa dahaganya Nyai Nonoh kecil akan ilmu. Nyai Isti’anah sempat mengungkapkan keseharian Nyai Nonoh sedari pagi hingga petang menjelang. Pagi hari Nyai Nonoh kecil memanfaatkan waktunya untuk menyelesaikan kegiatan sekolah formal di Sekolah Rakyat (SR). Siangnya, Nyai Nonoh melanjutkan rutinitas belajarnya ke madrasah diniyah. Lalu selepas ashar, Nyai Nonoh kecil masih sanggup ngaji ngalong ke pesantren kakak kandungnya, Nyai Muflihah.
Pendidikan formal Nyai Nonoh di SR terhenti sampai kelas empat. Namun demikian, Nyai Nonoh masih melanjutkan pendidikan non-formal dengan mengikuti pengajian di beberapa tempat. Pertama, Nyai Nonoh mengaji kepada KH Khaeruddin di Cisaro. Kedua, Nyai Nonoh bersama sang adik laki-laki meneruskan pendidikan ke pesantren milik KH Ruhiyat di Cipasung.
Sebagai perempuan yang lahir di tengah tradisi keilmuan yang matang, Nyai Nonoh membuktikan ketekunannya. Mengutip tulisan Nyai Wiwi Siti Sajaroh di laman Rahima, Di Pesantren Cipasung, Nyai Nonoh belajar hingga sembilan tahun, mendalami turats dengan berbagai bidang keilmuan seperti fiqh, tauhid, mantiq, tafsir, hadis, bahkan tata bahasa Arab.
Kegigihan dalam belajar mengantarkan Nyai Nonoh menjuarai lomba baca kitab dan khitabah (pidato). Setelah itu, Nyai Nonoh pun KH Ruhiyat percayai untuk menjadi asistennya. Kemudian bersama dengan KH Ilyas Ruhiyat (anak dari KH Ruhiyat), Nyai Nonoh Hasanah pun menjadi staf pengajar di pesantren Cipasung, bahkan di usia yang relatif masih sangat muda.
Ikhtiar Membangun Cintapada pasca Operatie Product
Selepas nyantri di Cipasung, Nyai Nonoh Hasanah akhirnya menikah dengan KH Ahmad Dimyati pada 1959. Seperti yang kita tahu, menikah tidak lantas membuat daya juang seseorang berhenti. Pernikahan Nyai Nonoh dengan KH Dimyati juga berhadapan dengan medan juang baru, yakni upaya menghidupkan kembali pesantren Cintapada yang telah vakum selama 12 tahun.
Sebelumnya, pesantren Cintapada merupakan warisan dari KH Dimyati, ayah dari KH Ahmad Dimyati yang berdiri sejak 1918. Namun akibat pengaruh revolusi fisik agresi Belanda I pada 1947, pesantren Cintapada mengalami masa fatrah atau vakum. Jika menengok ulang sejarah, agresi militer Belanda I memiliki dampak yang signifikan terhadap kehidupan pesantren. Tidak sekadar mengganggu proses pembelajaran, tetapi juga telah membuat banyak kiai dan santri gugur.
Mengutip Tirto.id, agresi militer Belanda I terjadi setelah Belanda melanggar perjanjian Linggarjati, dan melakukan operasi polisinil untuk mengembalikan ketertiban umum (versi Belanda). Padahal, yang terjadi sesungguhnya adalah aksi Operatie Poduct. Serangan udara yang Belanda lakukan, menyasar wilayah penting baik di Jawa Barat, Jawa Timur, maupun Sumatra yang notabene adalah penghasil komoditi ekspor.
Agresi yang mulai pada 21 Juli hingga akhir tahun 1947 tersebut turut membuat KH Dimyati beserta keluarga besar terpaksa mengungsi dan mencari perlindungan, sehingga para santri pun bubar. Baru pada 1955, cucu KH Dimyati, yakni KH Yusuf Faqih mulai mengaktifkan pesantren Cintapada, dengan menerima santri putra dan putri. Kemudian pada 1959, KH Ahmad Dimyati dan Nyai Nonoh Hasanah mengambil alih pesantren Cintapada dan fokus pada pendirian pesantren khusus putri.
Jejak Juang Di Pesantren Putri Al-Hasanah Cintapada
Namanya adalah Pesantren Putri al-Hasanah Cintapada, resmi berdiri pada 23 Desember 1959. Kala itu, usia Nyai Nonoh Hasanah masih 21 tahun. Usia yang terlampau muda untuk bisa mendirikan sebuah pesantren khusus putri. Namun di masa itu, dengan dukungan dan dorongan dari suami dan keluarga besar, Nyai Nonoh Hasanah berhasil membuat sesuatu yang tampaknya mustahil menjadi nyata.
Alasan utama pendirian pesantren putri Cintapada adalah Nyai Nonoh ingin perempuan banyak membaca. Menurutnya, perempuan harus maju dan ahli sebagaimana laki-laki, baik dalam ilmu umum maupun ilmu agama. Semangat tersebut juga tampak ketika Nyai Nonoh mengajar kitab-kitab ‘berat’, seperti Alfiyah dan Jam’ul Jawami’, kitab tafsir maupun hadis. Nyai Nonoh terinspirasi dari salah satu kitab yang pernah dikajinya,
“Maka jika umat Islam menginginkan masa kejayaan mereka di masa lalu, wajiblah mereka berusaha untuk mendidik kaum wanitanya.”
Pada awal berdiri, pesantren putri Cintapada memiliki santri putri sebanyak sembilan orang. Baru pada 1960, jumlahnya meningkat menjadi 16 orang. Pada 1963, Nyai Nonoh dan suami melakukan pembangunan gedung pesantren seluas 15 x 15 meter, dengan biaya dari swadaya masyarakat dan bantuan dari orang tua wali santri. Perjuangan Nyai Nonoh mengembangkan pesantren Cintapada faktanya tidak hanya menguras pikiran, namun juga tenaga dan materi.
Satu wujud inisiasi dan kreativitas Nyai Nonoh tercermin dalam memecahkan masalah pesantren. Pada 1979, ketika pesantren membutuhkan biaya sekitar Rp 3.500.000 untuk instalasi listrik mandiri, Nyai Nonoh menyusun buku riwayat Ashabul Kahfi dalam bahasa Sunda dengan tulisan pegon untuk dijual. Hasil penjualan karya tersebut yang kemudian menerangi pesantren Cintapada.
Tak hanya satu buku, Nyai Nonoh juga menyelesaikan bukunya berjudul ‘Am al Fil. Sebuah bukti konkret bahwa Nyai Nonoh merupakan contoh perempuan yang memiliki kemampuan sekaligus kualitas literasi yang mumpuni. Selain itu, menurut penuturan Nyai Isti’anah, Nyai Nonoh Hasanah juga aktif dalam kegiatan sosial keagaamaan, seperti memenuhi panggilan dakwah ke berbagai kota dan aktif dalam organisasi Muslimat di Tasikmalaya.
Ternyata, Nyai Nonoh yang sejak kecil memiliki dahaga atas ilmu pengetahuan, sampai dewasa pun seolah tak pernah kenyang. Di sela kesibukan menjadi pengajar dan muballighah, Nyai Nonoh masih sempat belajar lagi kepada KH Abdullah terkait Ulumul Qur’an, juga kepada KH Kosasih mengenai Qira’ah Sab’ah, serta kepada KH Najamuddin mengenai ilmu-ilmu agama.
Sang Pengayom dan Pewaris Kasih Sayang
Nyai Nonoh wafat pada 1986 dalam usia yang relatif muda, yakni 48 tahun. Namun, Nyai Nonoh meninggalkan warisan yang abadi, yakni ribuan santri yang tersebar di seluruh penjuru Indonesia. Ketika wafat, nyai Nonoh meninggalkan 450 santri putri di Cintapada. Namun jumlah total alumni Cintapada telah sampai pada angka 8000 santri. Dari ribuan alumni tersebut, beberapa alumni santri Cintapada telah mendirikan sekitar 42 pesantren di Jawa Barat.
Dari cerita Nyai Isti’anah, saya menyadari bahwa kekuatan utama Nyai Nonoh ternyata bukan hanya pada kecerdasan, tetapi juga tampak pada karakter yang mengayomi. Nyai Nonoh tidak sekadar mengajar, tetapi ikut mengawal persoalan pribadi santri-santrinya dengan penuh kasih. Tak heran jika hingga hari ini, beberapa alumni santri Cintapada secara rutin menggelar haul khusus untuk mengenang sosok Nyai Nonoh Hasanah.
Melawat jejak hidup dan juang Nyai Nonoh Hasanah lagi-lagi mengingatkan saya bahwa posisi perempuan hari ini, tidak bisa lepas dari perjuangan perempuan di masa lalu. Kegigihan dan tekad Nyai Nonoh Hasanah dalam mengembangkan keilmuan untuk para santri putri di Cintapada, adalah sepenggal bukti bahwa perjuangan perempuan untuk sesamanya tak lain adalah wujud perjuangan seumur hidup. []












































