Kamis, 9 Juli 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

    Pemadaman Listrik

    Pemadaman Listrik Bergilir: Ironi Negara Eksportir Batu Bara

    Suporter Jepang

    Kritik untuk Suporter Jepang di Piala Dunia 2026: Cuitan Warganet, Sentilan Aristoteles

    Slut Shaming

    Slut Shaming: Ruang Digital tidak Ramah Terhadap Perempuan Kritis

    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Feminisme: Kala Perempuan Tak Melulu Menjadi Penghibur

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    There's a Man

    “There’s a Man”: Saat Media Sosial Mengajak Kita Mengkritisi Cara Pandang Patriarkal

    Mitos Disabilitas

    Meruntuhkan Mitos, yang Perlu Disembuhkan Bukan Disabilitas

    Nyeleneh

    Mereka Bilang Saya Nyeleneh: Memahami Kelelahan Mental Penyandang Sindrom Asperger

    Tradisi Pesantren

    Al-Ma’arifiyah: Menuju Persenyawaan Pengetahuan dalam Tradisi Pesantren

    Merantau

    Di Balik Tradisi Merantau Minangkabau, Ada Beban Ganda yang Dipikul Para Istri

    Pendidikan Perempuan

    Benarkah Perempuan Tidak Perlu Sekolah Tinggi? Menepis Stigma tentang Pendidikan Perempuan

    Kurikulum Responsif Gender

    Pendidikan Berkeadilan Dimulai dari Kurikulum yang Responsif Gender

    Mengelola Stres

    Cara Gen Z Mengelola Stres

    Kepemimpinan Perempuan

    Membongkar Mitos Kepemimpinan Perempuan dalam Islam

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Pasca Aborsi

    Pendarahan Pasca Aborsi yang Mengancam Nyawa, Ini 5 Langkah Penanganan Lanjutannya

    Pasca Aborsi

    7 Langkah Darurat Menangani Pendarahan Pasca Aborsi sebelum Dirujuk ke Rumah Sakit

    Pendarahan pasca aborsi

    Cara Menghentikan Pendarahan yang Berlebihan Pasca Aborsi

    Aborsi

    Pendarahan Pasca Aborsi: Kenali Tanda Bahaya dan Langkah Pertolongan Pertama

    KB Setelah Aborsi

    Keluarga Berencana (KB) Setelah Aborsi

    Bahaya Aborsi

    Tanda-tanda Bahaya Setelah Aborsi

    Setelah Aborsi

    Perawatan Setelah Aborsi: Kenali Tanda Normal dan Gejala yang Harus Diwaspadai

    Aborsi

    Begini Ciri-ciri Layanan Aborsi yang Aman Menurut Standar Kesehatan

    Layanan Aborsi

    Bagaimana Mengetahui Layanan Aborsi Aman atau Tidak? Ini 9 Tandanya

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

    Pemadaman Listrik

    Pemadaman Listrik Bergilir: Ironi Negara Eksportir Batu Bara

    Suporter Jepang

    Kritik untuk Suporter Jepang di Piala Dunia 2026: Cuitan Warganet, Sentilan Aristoteles

    Slut Shaming

    Slut Shaming: Ruang Digital tidak Ramah Terhadap Perempuan Kritis

    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Feminisme: Kala Perempuan Tak Melulu Menjadi Penghibur

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    There's a Man

    “There’s a Man”: Saat Media Sosial Mengajak Kita Mengkritisi Cara Pandang Patriarkal

    Mitos Disabilitas

    Meruntuhkan Mitos, yang Perlu Disembuhkan Bukan Disabilitas

    Nyeleneh

    Mereka Bilang Saya Nyeleneh: Memahami Kelelahan Mental Penyandang Sindrom Asperger

    Tradisi Pesantren

    Al-Ma’arifiyah: Menuju Persenyawaan Pengetahuan dalam Tradisi Pesantren

    Merantau

    Di Balik Tradisi Merantau Minangkabau, Ada Beban Ganda yang Dipikul Para Istri

    Pendidikan Perempuan

    Benarkah Perempuan Tidak Perlu Sekolah Tinggi? Menepis Stigma tentang Pendidikan Perempuan

    Kurikulum Responsif Gender

    Pendidikan Berkeadilan Dimulai dari Kurikulum yang Responsif Gender

    Mengelola Stres

    Cara Gen Z Mengelola Stres

    Kepemimpinan Perempuan

    Membongkar Mitos Kepemimpinan Perempuan dalam Islam

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Pasca Aborsi

    Pendarahan Pasca Aborsi yang Mengancam Nyawa, Ini 5 Langkah Penanganan Lanjutannya

    Pasca Aborsi

    7 Langkah Darurat Menangani Pendarahan Pasca Aborsi sebelum Dirujuk ke Rumah Sakit

    Pendarahan pasca aborsi

    Cara Menghentikan Pendarahan yang Berlebihan Pasca Aborsi

    Aborsi

    Pendarahan Pasca Aborsi: Kenali Tanda Bahaya dan Langkah Pertolongan Pertama

    KB Setelah Aborsi

    Keluarga Berencana (KB) Setelah Aborsi

    Bahaya Aborsi

    Tanda-tanda Bahaya Setelah Aborsi

    Setelah Aborsi

    Perawatan Setelah Aborsi: Kenali Tanda Normal dan Gejala yang Harus Diwaspadai

    Aborsi

    Begini Ciri-ciri Layanan Aborsi yang Aman Menurut Standar Kesehatan

    Layanan Aborsi

    Bagaimana Mengetahui Layanan Aborsi Aman atau Tidak? Ini 9 Tandanya

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Figur

Teologi ke Aksi: Umi Eha Ulama Perempuan Pejuang Ekologis

Eha Suhaeni, merupakan tokoh agama sekaligus perempuan yang gigih melawan perampasan ruang hidup di Padarincang, Banten.

Zikri Alvi Muharam by Zikri Alvi Muharam
23 Mei 2026
in Figur
A A
0
Umi Eha

Umi Eha

31
SHARES
1.5k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Masih segar dalam ingatan saya, ketika sosok perempuan teduh namun tangguh berpidato di hadapan kami dalam kuliah jalanan bertajuk “Pesantren Ekologi”. Ia mengatakan:

“Ber-Islam bukan hanya soal ritual ibadah dan mengaji kitab. Kita semua memiliki kewajiban untuk memahami dan menjaga alam, tidak ada ajaran Islam yang membolehkan manusia merusak alam apalagi untuk kantong pribadi.”

Kami semua terpukau, sebagai santri yang belajar agama kata-kata tersebut membasuh kesadaran kami bahwa Islam itu merupakan agama pembebasan.

Sosok tersebut adalah Eha Suhaeni, atau orang-orang menyapanya dengan Umi Eha merupakan tokoh agama sekaligus perempuan yang gigih melawan perampasan ruang hidup di Padarincang, Banten.

Ia juga merupakan pengasuh sekaligus pemimpin pesantren putri Furu Ar-Raudhatul Baqiyat. Ia menjadikan pesantren dan majelis pengajian sebagai medium untuk mendakwahkan jihad ekologis serta basis gerakan.

Dari mobilisasi dan mengorganisasi santri-santri hingga ibu-ibu terbentuklah Gerakan Perempuan Sapar (GERAPAS), yang merupakan bagian dari Serikat Perjuangan Rakyat Padarincang (SAPAR).

Yang Umi Eha dan Masyarakat Padarincang Lawan

Mula-mula penetapan Padarincang menjadi wilayah kerja panas bumi (WKP) Kaldera Rawa Danau Banten pada 15 Januari 2009, melalui keputusan Menteri ESDM No. 0026 K/30/MEM/2009.

Sejak masuknya proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPb) tersebut kehidupan masyarakat di Padarincang mulai terusik. Baru saja tahap eksplorasi, proyek ini sudah memberikan dampak signifikan terhadap lingkungan dan masyarakat di sana.

Melansir laman resmi Project Multatuli pada artikel bertajuk ‘Tiap Beko Datang, Kami Adang’: Perempuan Padarincang Melawan Proyek Geothermal Banten, artikel tersebut menyebutkan bahwa pada tahap eksplorasi proyek geothermal tersebut telah membabat sekitar 2 ha hutan di Gunung Prakasak pada tahun 2018. Alhasil, pada 2025 terjadi longsor dan banjir yang merusak rumah-rumah warga — sawah-sawah tergenang lumpur tebal dan saluran irigasi rusak parah.

Bagaimana jika sudah beroperasi, tentu akan banyak malapetaka yang akan menghampiri Umi Eha dan masyarakat Padarincang. Seperti lubang uap panas yang membahayakan masyarakat di Mataloko, Flores. Krisis air yang menghantui masyarakat Dieng, Jawa Tengah. Atau gas beracun dari proyek geothermal Sorik Marapi yang terus memakan korban.

Itu hanya serpihan kecil konsekuensi serius dari proyek yang tidak mengindahkan ekologi. Meskipun klaim proyek ini ramah lingkungan — tapi prakteknya tidak ramah manusia — makhluk hidup. Inilah yang Umi Eha dan masyarakat Padarincang lawan.

Mereka bukan menolak pembangunan mereka hanya ingin hidup tenang — tanpa takut kehilangan ruang hidup.

Perampasan Ruang Hidup Tak Pernah Netral

Seperti bencana, perampasan ruang hidup atau land grabbing dalam studi agraria tidak pernah netral. Selalu ada kelompok rentan yang paling kena dampak, salah satunya adalah perempuan. Vandana Shiva mengatakan bahwa akar dari dominasi dan eksploitasi terhadap alam dan perempuan itu sama. Ya. Sistem patriarki dan kapitalis yang memandang alam dan perempuan sebagai objek pasif yang sah untuk dieksploitasi.

Banyak sumber mengatakan bahwa proyek geothermal membutuhkan air yang banyak. Maka, tak heran di beberapa proyek geothermal yang sudah berjalan maupun masih dalam tahap eksplorasi selalu mengincar sumber air.

Air merupakan hajat dasar manusia. Dan perempuanlah yang paling bersinggungan langsung dengan air. Seperti memasak, mencuci, hingga kebutuhan biologis seperti menstruasi.

Syahdan, industrialisasi juga kerap memutus simbiosis mutualisme komunitas lokal dengan tanahnya. Dan mayoritas masyarakat Padarincang bergantung pada alam untuk bertani dan berkebun —- hingga minum.

Umi Eha bahkan mewanti-wanti “Kalau alamnya hijau, warga tidak kelaparan.”

Ia khawatir jika masyarakat kehilangan akses terhadap tanahnya, berarti kehilangan akses terhadap pangan. Dan perempuan sebagai garda terdepan pangan tentu paling terdampak. Mereka tidak bisa memutuskan lagi makanan apa yang mereka tanam, bagikan dan baik mereka konsumsi.

Maka dari itu, Umi Eha bersama perempuan Padarincang yang tergabung dalam Gerakan Perempuan Sapar (GERAPAS) menjadi garda terdepan dalam melakukan perlawanan sebagai bentuk resistensi. Mereka sadar bahwa perempuan paling merasakan dampak dari kerusakan alam.

Dari Ngaji ke Aksi

Dalam melakukan menyuarakan perlawanan atau penolakannya banyak aksi-aksi yang telah Umi Eha dan santrinya bersama masyarakat Padarincang lakukan. Misalnya, aksi damai di sekitar lokasi pembangunan geothermal, bahkan mendatangi kantor Kementerian ESDM di Jakarta dengan berjalan kaki dari Serang.

Umi Eha juga kerap mendapat intimidasi dari perusahaan melalui militer untuk menghentikan perlawanan hingga iming-iming, tetapi dengan tegas ia menolak dan akan terus memperjuangkan ruang hidup demi ia dan generasi berikutnya.

Ungkapan itu mengingatkan saya pada sosok pejuang Islam yang menaklukan Eropa, Thariq bin Ziyad saat memberikan motivasi kepada pasukannya: “Laut di belakang kalian, musuh di depan kalian. Tiada pilihan selain menang atau mati syahid.”

Tetapi, ada strategi dakwah yang Umi Eha lakukan sebelum bisa memobilisasi warga — terutama perempuan untuk melakukan demonstrasi langsung seperti menghadang alat berat milik perusahaan.

Umi Eha menemui satu persatu rumah warga, terutama ibu-ibu dan perempuan muda di Padarincang untuk mengaji bersama. Mereka mengadakan istighosah sebagai kegiatan berkumpul dan bersolidaritas.

Setiap ceramah, Umi Eha selalu menyisipkan topik-topik seputar alam, lingkungan, dan pentingnya menjaga air dan tanah. Ia tak langsung bicara konfrontasi, tapi pelan-pelan menumbuhkan kesadaran bahwa manusia bagian dari alam.

Umi Eha bersama GERAPAS juga membekali diri pengetahuan soal transisi energi berkeadilan. Tiap minggu, mereka rutin mengadakan kajian khusus membahas dampak pembangunan geothermal dengan mengundang pemateri dari luar yang mumpuni soal geothermal.

Tiap melakukan aksi, ia memimpin para perempuan Padarincang melaksanakan istighosah. Mereka melantunkan ayat-ayat al-Quran dan doa saat memulai demo. Dengan melakukan cara tersebut warga Padarincang tak ingin ada kekerasan, karena bagi mereka menjaga alam artinya menjaga keimanan. Dan keimanan tak mungkin terpatri dalam bentuk kekerasan.

Solidaritas Lintas Penyintas Proyek Geothermal

Untuk memperkuat gerakan tersebut Umi Eha dan masyarakat Padarincang melakukan solidaritas lintas penyintas proyek geothermal di seluruh Indonesia. Mereka saling menguatkan, berbagi strategi, hingga melakukan upaya-upaya mitigasi untuk menghadang proyek berbahaya itu.

Di Padarincang, proyek geothermal PT Sintesa Banten Geothermal selaku pengembang memang berhasil mereka usir dengan adanya pengembalian ijin WKP, tetapi itu hanya sementara dan sedang menunggu pengembang baru untuk melanjutkannya.

Solidaritas inilah menjadi penting untuk melakukan upaya-upaya mitigasi jika proyek itu kembali lagi, bahkan bisa dengan bentuk atau cara yang tak pernah Umi Eha dan masyarakat Padarincang bayangkan.

Agama Itu Pembebas

Resistensi terhadap gerakan adalah sebuah keniscayaan. Gerakan yang Umi Eha dan masyarakat Padarincang dengan melalui pendekatan spiritual akan menemukan lawan serupa. Seperti di Halmahera, calo-calo tanah atau orang yang membujuk warga untuk menjual tanahnya ke perusahaan nikel adalah seorang tokoh agama: pendeta dan seorang imam masjid. Dengan iming-iming umroh atau haji dan ziarah ke Yerusalem.

Kerap terjadi, pola perampasan ruang hidup rakyat baik itu tanah sumber daya alam dengan legitimasi panji-panji kesucian agama. Eko Cahyono, peneliti senior Sajogyo Institute menyebutnya dengan istilah “Holy Grabbing”.

Mudah membayangkan hal serupa terjadi di Banten yang notabene tokoh masyarakatnya kyai yang memiliki basis massa yang banyak. Dan mudah baginya untuk mendoktrin seperti hal yang terjadi di Halmahera.

Tapi, adanya Umi Eha menjadi angin segar bagi masyarakat Padarincang atau bagi siapapun yang percaya bahwa agama bisa membebaskan —- menentang status quo yang tidak adil.

Seperti gereja di Flores, imam, suster katolik bersama warga melakukan perlawanan terhadap proyek geothermal Mataloko yang merusak lingkungan dan merugikan warga.

Lalu, bagaimana jika suatu hari nanti ada kyai atau tokoh terkemuka yang datang ke Padarincang, membawa amplop dan iming-iming umroh, lalu meminta warga menandatangani surat pelepasan tanah? Umi Eha dan GERAPAS tahu itu bukan sekadar kemungkinan—itu sudah terjadi di tempat lain. Dan merekalah yang paling siap menghadapinya.

Qiwamah Ala Sang Pejuang Ekologis

Di balik perjuangan sosok Umi Eha tak lepas dari dukungan suaminya. Suaminya yang juga seorang tokoh agama selalu membagi tugas dengan Umi Eha. Umi Eha lebih banyak mengajar para santri, sedangkan suaminya yang memimpin pengajian jamaah, istighosah, tahlilan, hingga mengurus sawah dan kebun.

Ketika Umi Eha sedang melakukan pengajian ekologi atau konsolidasi bersama warga, urusan pesantren suaminya yang urus. Sehingga Umi Eha bisa lebih fokus melakukan agitasi kepada warga-warga.

Dukungan orang terdekat memang menjadi penting dalam sebuah perjuangan. Karena kehilangan teman, tetangga, bahkan saudara dalam konflik agraria tak pernah terelakan. Di sanalah pasangan menjadi penting untuk bisa menjadi figur-figur yang hilang.

Praktik yang Umi Eha dan suaminya lakukan merupakan konsep Qiwamah dalam mubadalah — keduanya saling mengisi satu sama lain tanpa ada yang terbebani atau mendominasi.

Greenfaith: Faith for Justice

Dari teologi ke aksi, dari mengaji ke agitasi — resistensi — Umi Eha dan GERAPAS mengajarkan bahwa melawan ketidakadilan tidak harus kehilangan akar spiritual (akhlak). Di tengah gempuran proyek yang mengaku hijau (Green grabbing), mereka tetap teduh namun teguh: menjaga alam adalah menjaga iman. Dan iman, sejatinya, tak pernah diam ketika melihat kezaliman — perampasan ruang hidup. []

 

Tags: Bulan Kebangkitan Ulama Perempuan IndonesiaEkologiProyek Geothermalulama perempuanUmi Eha
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Tips Pola Makan Sehat bagi Perempuan Menopause

Next Post

Usia Senja Bukan Halangan untuk Tetap Bergerak dan Produktif

Zikri Alvi Muharam

Zikri Alvi Muharam

Mas-mas yang sehari-harinya di kebun & sawah

Related Posts

Sitti Rohmi Djalilah
Figur

Sitti Rohmi Djalilah: Ulama Perempuan dalam Gerak Muslimat dan Pendidikan

5 Juni 2026
Cut Nyak Dien
Aktual

Ulama Perempuan Serukan Indonesia Tanpa Kekerasan Melalui Risalah Cut Nyak Dien

26 Mei 2026
Nyai Luluk Farida
Aktual

Di BuKUPI, Nyai Luluk Farida Ajak Masyarakat Dukung Perjuangan Ulama Perempuan

26 Mei 2026
Bulan KUPI
Personal

Bulan KUPI, Momen Bersejarah Gerakan Keulamaan Perempuan

26 Mei 2026
BuKUPI
Aktual

Pera Sopariyati: BuKUPI 2026 Perkuat Independensi Gerakan Ulama Perempuan

25 Mei 2026
Buku Manaqib Ulama Perempuan
Aktual

Diluncurkan di BuKUPI: Buku Manaqib Ulama Perempuan Indonesia Jadi Ikhtiar Awal Dokumentasi Sejarah Ulama Perempuan

25 Mei 2026
Next Post
Usia Senja

Usia Senja Bukan Halangan untuk Tetap Bergerak dan Produktif

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • “There’s a Man”: Saat Media Sosial Mengajak Kita Mengkritisi Cara Pandang Patriarkal
  • Meruntuhkan Mitos, yang Perlu Disembuhkan Bukan Disabilitas
  • Mereka Bilang Saya Nyeleneh: Memahami Kelelahan Mental Penyandang Sindrom Asperger
  • Al-Ma’arifiyah: Menuju Persenyawaan Pengetahuan dalam Tradisi Pesantren
  • Di Balik Tradisi Merantau Minangkabau, Ada Beban Ganda yang Dipikul Para Istri

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0