Mubadalah.id – Franka Franklin Makarim mengajarkan bahwa ada saatnya laki-laki membutuhkan bahu pasangannya ketika lelah. Ada saatnya peristiwa rumah tangga diwarnai do’a dan tangis bersama, saling menguatkan di saat tersulit. Kali ini aku tidak membicarakan kesetaraan gender.
Franka Makarim, atau Franka Franklin Makarim menjadi perhatian saya sejak mengamati kasus ini. Tenang, cerdas dalam berkomunikasi dan santun dalam menjelaskan peristiwa yang suaminya alami. Dalam penjelasannya di berbagai media, dia tidak menjual air mata dan amarah namun kesedihannya bisa menjalar ke hati kita.
Kasus hukum yang menyeret nama Nadiem Makarim kembali memenuhi ruang publik. Jaksa menuntut hukuman 18 tahun penjara dalam perkara duga korupsi pengadaan chromebok pada masa pandemi Covid-19. Dan Franka harus menghadapi dua musibah sekaligus. Nadiem yang sakit dan harus melaksanakan operasi yang ke lima, dua hari setelah sidang dan menghadapi sidang panjang, dituntut 18 tahun penjara dan denda 5,7 Triliun.
Musibah itu datang secara bersamaan dan tentunya tidak pernah ia rencanakan sebelum saling memilih untuk menikah. skenario hidup yang tak terduga dan tak diharapkan oleh siapapun. Aku melihat ibuku yang berjuang merawat bapak ketika sakit dan aku tahu betapa sulitnya peran ibuku sebagai istri yang harus kuat dan multitasking dalam suasana hati yang tidak karuan.
“Yang kami doakan bukan hanya kesembuhannya. Saya memohon do’a untuk keteguhan bagi kami, bagi semua yang sedang berjuang di tempat yang sama, bagi mereka yang masih menunggu keadilan menemukan jalannya.” Tulis Franka.
Dari awal persidangan, Franka duduk di baris nomor dua. Wajahnya fokus dan sesekali menghela napas panjang. Di depan kursinya, duduk mertuanya, Nono Anwar Makarim. Meski tengah diliputi kesedihan, Franka tetap berusaha tegar dan memberi perhatian kepada ayah mertuanya.
Begitu majelis hakim mengetuk palu tanda sidang tuntutan selesai, Nadiem segera bangkit dan dan melangkah gontai ke arah bangku audiens. Frnka menyambut dengan mata sembab. Pasangan itu saling berpelukan dan tangis Nadiem pecah. Franka berulang kali mengusap punggung suaminya dan berusaha memberikan kekuatan di titik terendah perjalanan hidupnya sebagai mantan Menteri.
Kesalingan: Ketika Suami dan Istri Sama-sama Menjadi Tempat Pulang
Konsep kesalingan berarti juga kemitraan perempuan dan laki-laki yang dalam hal ini memiliki tanggung jawab emosional yang setara. Saling menjaga ketika salah satu runtuh. Selama ini dalam ungkapan yang sudah menjadi quote andalan bahwa bahu laki-laki tercipta untuk perempuan bersandar. Tetapi, perempuan juga menjadi penyangga emosional, tempat pulang, sekaligus sumber kekuatan ketika pasangan kehilangan pijakan hidupnya.
Kasus Nadiem menghadirkan ironi sosial yang kuat. An Harvard educated, yang pulang ke Indoesia. Built Gojek (His own work). Created 3 Millions lapangan kerja, and this is how this country thank him? Dituntut 18 tahun taoi bukti-buktinya? feels paper thin. This news really broke my heart. What does “Justice” really mean in this country?
Dalam situasi krisis seperti inilah kualitas hubungan manusia terlihat paling jelas. Seorang Sosiolog dari Amerika, Erich Fromm, pernah menjelaskan bahwa cinta bukan sekadar perasaan, tetapi tindakan aktif untuk menjaga keberadaan orang lain. Artinya, cinta tidak berhenti ketika pasangan kehilangan status sosialnya. Dan mungkin itu lah yang memuat publik begitu terhubung dengan Franka dan Nadiem.
Potret Sidang Itu Menjadi Simbol Emosi Kolektif
Publik sebenarnya sudah terbiasa melihat drama yang dibuat-buat. Karena itu ekspresi tenang Franka terasa berbeda. Masyarakat Indonesia memiliki ikatan budaya yang kuat terhadap konsep “setia menemani dalam suka maupun duka”. Narasi ini hidup dalam budaya keluarga.
Akibatnya, potret Franka tidak hanya terbaca sebagai dokumentasi hukum. Publik membaca sebagai ketahanan rumah tangga di tengah krisis. Bukan semata-mata simpati pribadi. Di situlah potret Franka memperoleh makna sosial yang besar. Menghadirkan refleksi sosial yang sangat mendala tentang relasi manusia.
Mungkin di tengah lorong rumah sakit dan ruang sidang yang dingin itu, publik sedang menyaksikan wajah cinta kesalingan yang nyata. Saling menopang.
Perempuan-perempuan yang Bertahan
Barangkali alasan mengapa banyak orang tersentuh oleh sosok Franka Makarim bukan semata karena ia istri tokoh publik, melainkan karena publik merasa pernah melihat sosok seperti itu dalam kehidupan sehari-hari.
Indonesia sebenarnya penuh dengan perempuan seperti Franka perempuan yang tetap berdiri ketika suaminya kehilangan pekerjaan, ketika ekonomi keluarga runtuh, ketika sakit datang bersamaan dengan tekanan hidup, atau ketika pasangan mereka menghadapi kegagalan dan kehancuran.
Mereka menjaga rumah tetap hangat, menyembunyikan tangis agar anak-anak tidak ikut takut, dan tetap menjadi tempat pulang bagi keluarganya meski dirinya sendiri sedang lelah. Hanya saja, perempuan-perempuan seperti itu tidak memiliki kamera yang menyorot wajah mereka.
Tidak ada media yang menulis tentang kesetiaan mereka, padahal mereka menjalankan kerja emosional yang sangat besar dalam menjaga keluarga tetap utuh. Karena itu, banyak orang merasa dekat dengan Franka Makarim.
Sosoknya seperti mengingatkan publik pada ibu, istri, atau perempuan-perempuan di sekitar mereka yang selama ini bertahan dalam sunyi. Dan mungkin di situlah letak kekuatan foto-foto itu: ia bukan hanya bercerita tentang keluarga seorang tokoh publik, tetapi tentang wajah banyak perempuan yang tetap memilih tinggal ketika badai datang.
Paragraf Cinta untuk Franka
Barangkali Mbak Franka tidak pernah membayangkan bahwa langkah kecil berjalan menuju ruang sidang, duduk diam di lorong rumah sakit, atau menggenggam tangan pasangan di tengah masa sulit dapat menyentuh begitu banyak orang. ketika dunia luar terasa bising oleh penilaian dan penghakiman.
Namun justru dari sikap yang tenang itu, banyak perempuan belajar sesuatu yang penting tentang cinta dan keteguhan.
Banyak orang mungkin melihat Mbak Franka hanya sebagai istri seorang tokoh publik. Tetapi di mata banyak perempuan lain, Mbak Franka terasa seperti representasi dari begitu banyak perempuan yang selama ini bertahan menjaga keluarga tetap utuh, menenangkan rumah ketika badai datang, dan tetap terlihat kuat meski hatinya sendiri mungkin sedang runtuh. []












































