Mubadalah.id – Bila Anda merasa sakit sewaktu menyusui, mungkin bayi belum menyedot seluruh saluran susu dan hanya memasukkan puting saja ke dalam mulutnya. Jika yang masuk ke mulut bayi hanya puting, dalam waktu singkat puting itu akan terasa nyeri atau bahkan “retak”. Rekahan pada puting payudara dapat mempermudah terjadinya infeksi.
Karena itu, ajarkan bayi untuk menyusu dengan benar sehingga bukan hanya puting saja yang disedotnya.
Cara Pencegahan dan Perawatannya:
Pertama, pegang bayi dengan baik supaya ia menyusu dengan benar.
Kedua, jangan merenggut payudara dari mulut bayi. Biarkan ia menyusu selama yang ia mau. Jika sudah kenyang, bayi akan melepaskan payudara dengan sendirinya.
Namun, bila terpaksa harus menghentikan proses menyusui sebelum bayi puas, lepaskan mulut bayi dengan menarik dagunya perlahan ke bawah atau memasukkan satu jari tangan yang bersih ke dalam mulutnya agar mulut terbuka dan payudara bisa dilepaskan.
Ketiga, setelah bayi selesai menyusu, rawatlah puting yang terasa nyeri dengan ASI. Setelah bayi melepas payudara Anda, keluarkan sedikit ASI lalu usapkan pada bagian yang nyeri atau sakit.
Jangan mencuci payudara yang sakit dengan sabun atau krim pembersih wajah. Tanpa bantuan pembersih buatan pun, tubuh Anda mampu menghasilkan minyak alami yang berguna untuk menjaga kebersihan dan kelembutan puting susu.
Keempat, hindari memakai baju yang ketat dan berbahan kasar.
Kelima, gar puting yang sakit lebih cepat sembuh, bila memungkinkan biarkan payudara terbuka agar terkena udara dan sinar matahari.
Keenam, teruskan menyusui meski puting terasa nyeri atau “rekah”. Bila rasa sakit cukup mengganggu, susuilah bayi dengan payudara yang terasa lebih nyaman terlebih dahulu, lalu pindah ke payudara yang lain ketika ASI mulai mengalir.
Ketujuh, bila rasa sakit tidak tertahankan, keluarkan ASI seperti petunjuk pada halaman sebelumnya, lalu berikan kepada bayi menggunakan sendok teh, cangkir, atau botol (lihat halaman 155). Biasanya rasa nyeri akan sembuh dalam dua hari. []
*)Sumber Tulisan: Buku Bila Perempuan Tidak Ada Dokter karya A. August Bruns dkk hlm 149.












































