“Saya tanpa ragu menyebut nama Siti Maryam Salahuddin ketika Yeni- Staf Community Organizer Aman Indonesia- menanyakan siapa ulama perempuan di Nusa Tenggara Barat. Kiprahnya melampaui zamannya, masa, dan segala sesuatu yang pernah kita pikirkan di era sekarang.”
– Atun Wardatun
Mubadalah.id- Kata pembuka Atun Wardatun disampaikan sambil menahan tangis haru saat mengisahkan Siti Maryam Salahuddin dalam Serial Diskusi Ulama Perempuan Biografi Ulama Perempuan Indonesia #11. Diskusi tersebut berlangsung pada 12 Mei 2026 pukul 13.30–15.30 WIB.
Serial diskusi ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan bulan kebangkitan ulama perempuan Indonesia sepanjang Mei. Rangkaian acara tersebut mengisahkan sekitar 30 ulama perempuan yang inspiratif, berani, dan mengimplementasikan sembilan nilai Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI).
Moderator serial ini adalah Ghufron dengan penutur utama Atun Wardatun, sosok yang pernah berinteraksi langsung dengan Siti Maryam Salahuddin dan memiliki rentang usia sekitar 50 tahun dengannya.
Pencerita pendukungnya yakni Dewi Ratna Muchlisa, keponakan Siti Maryam Salahuddin; Abdul Wahid; serta Syukri Abubakar, salah satu santrinya.
Peserta yang bergabung berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Kehadiran mereka menjadi bentuk apresiasi atas kisah-kisah Sang Pelestari Aksara Bima.
Siapa Siti Maryam Salahuddin?
Siti Maryam Salahuddin merupakan putri dari Sultan Muhammad Salahuddin dan permaisuri keduanya, Siti Aisyah. Dia adalah anak ketujuh dari sembilan bersaudara. Ayahnya dikenal sebagai Sultan Bima ke-26 sekaligus sultan terakhir Kesultanan Bima.
Siti Maryam lahir di Bima pada 13 Juni 1927 dan wafat pada 18 Maret 2017 dalam usia 90 tahun.
Dalam perjalanan kariernya, putri Sultan ini meniti pengabdian di bidang birokrasi. Pada 1952, dia menjadi pegawai negeri sipil di Kementerian Luar Negeri RI. Kemudian, pada 1957–1960 dimutasi ke Kementerian Kehakiman RI. Selanjutnya, pada 1960–1964 dia menjabat sebagai Staf Ahli Menko Kehakiman RI, lalu menjadi anggota DPR RI pada 1966–1968. Selain itu, dia juga pernah menjadi dosen di Mataram dan menjabat sebagai Sekretaris Tetap Panitia MPRS Provinsi Nusa Tenggara Barat.
Dia bergelar Ina Ka’u Mari yang berarti “putri raja yang menjadi ibu bersama.” Dia terkenal sebagai sosok yang cerdas, sabar, rendah hati, gigih, kritis, dan berani. Selain sebagai birokrat, dia juga dikenal sebagai ahli filologi, aktivis budaya, serta ulama organik yang merawat pengetahuan lokal Bima.
Utlubul Ilma Minal Mahdi Ilal Lahdi
Utlubul ‘Ilma Minal Mahdi Ilal Lahdi (tuntutlah ilmu sejak lahir hingga meninggal dunia). Ungkapan ini sejalan dengan perjalanan Siti Maryam Salahuddin dalam menapaki cakrawala pengetahuan. Sejak kecil, dia telah belajar agama di Istana Bima kepada KH. Muhammad Said Ngali, KH. Usman Abidin, dan KH. Abdurrahman Idris.
Pada 1933–1939, dia menempuh pendidikan dasar di HIS (Hollandsch Inlandsche School) Bima. Kemudian, pada 1940–1942, dia melanjutkan pendidikan menengah di HBS Malang. Namun, pendidikannya mandek akibat situasi pemberontakan di Surabaya pada 1942. Saat itu, Siti Maryam pulang ke Bima bersama kakaknya, Abdul Kahir. Ketika ingin kembali melanjutkan sekolah, keinginannya tidak mendapat izin dari kedua orang tuanya.
Atun Wardatun menuturkan bahwa Ina Ka’u Mari memiliki kesadaran kritis sekaligus tindakan nyata terhadap nasib pendidikan perempuan di Bima. Pada 1949, Presiden Soekarno berkunjung ke Istana Bima. Kala itu, Presiden sedang berkeliling lingkungan istana dan melihat anak-anak perempuan yang tengah bermain.
“Ini anak-anak perempuan sudah pada sekolah?” Tanya Soekarno.
“Gak, pak! Perempuan tidak boleh sekolah,” bisik Siti Maryam Salahuddin.
“Siapa yang melarang sekolah?”
“Ya, Sultan Pak. Termasuk Ibu juga.”
“Tolong, Pak Presiden! Ketika ceramah nanti sampaikan perempuan harus sekolah,” pintanya kepada Soekarno.
Keesokan harinya di lapangan Istana Bima, Soekarno dengan suara lantang berkata “Gantunglah cita-citamu setinggi langit.”
Utlubul Ilma Minal Mahdi Ilal Lahdi #2
Kemudian, pada 1951, Ina Ka’u Mari melanjutkan pendidikannya di SMAN Budi Utama Jakarta. Pada 1953–1957, dia menempuh pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Beberapa media daring menuliskan bahwa dirinya pernah menempuh pendidikan magister. Namun, Dewi, keponakannya, meluruskan informasi tersebut.
Dewi menuturkan bahwa ketika dirinya berada di semester satu, seorang dosen menawarkan Siti Maryam Salahuddin untuk melanjutkan studi. Namun, dia menolak karena tidak ingin menjalani pendidikan S2 bersamaan dengan keponakannya.
Dosen tersebut kemudian menyarankan agar Siti Maryam langsung menempuh pendidikan doktoral karena ijazah sarjananya memiliki kualifikasi yang berbeda pada masanya. Sebelum melanjutkan studi, dia terlebih dahulu mengikuti ujian seleksi.
Hingga akhirnya, pada 2007–2010, Ina Ka’u Mari menempuh pendidikan S3 di Universitas Padjadjaran dengan konsentrasi filologi. Di usia 83 tahun, dia berhasil menyelesaikan pendidikan doktoralnya dengan penuh ketekunan dan tanpa menyerah pada keterbatasan fisik.
Kondisi penglihatannya saat itu tidak lagi sehat. Salah satu matanya mengalami katarak dan tidak dapat dioperasi karena faktor usia, sementara kondisi mata lainnya mengalami kebutaan sehingga dia hanya dapat melihat cahaya dan objek secara samar.
Disertasinya yang berjudul Naskah Hukum Adat Tanah Bima dalam Perspektif Hukum Islam tertulis secara manual di atas buku tulis. Tulisan tangannya yang kecil dan halus membuat tukang ketik harus ekstra cermat saat mengetiknya ulang ke komputer.
Merawat Ingatan Aksara Bima
“Aksara Bima hanya bisa dibaca oleh saya sendiri. Kalau saya tidak ada di dunia ini, siapa yang akan melanjutkan merawat Aksara Bima?”
Pertanyaan itu Siti Maryam Salahuddin sampaikan kepada Syukri dan Munawar di Museum Samparaja, museum pribadi miliknya di Bima. Dari percakapan tersebut, terlihat kegelisahannya tentang regenerasi pelestari Aksara Bima.
Pada 2008, Ina Ka’u Mary mulai mengajarkan Aksara Bima kepada keduanya. Syukri bercerita bahwa pada awal belajar, dia kesulitan membaca abjad-abjad kuno tersebut karena belum bisa membedakan huruf-hurufnya.
Bertahun-tahun Syukri dan Munawar mempelajari Aksara Bima melalui naskah-naskah kuno. Mereka mencatat setiap pelajaran yang diajarkan Ina Ka’u Mary. Usaha itu tidak sia-sia. Pada 2012, terbit buku karya Siti Maryam Salahuddin, Syukri Abubakar, dan Munawar Sulaiman berjudul Aksara Bima: Peradaban Lokal yang Sempat Hilang.
Setelah buku itu terbit, Ina Ka’u Mary membagikannya ke sekolah, perguruan tinggi, kantor dinas, hingga perpustakaan daerah di Bima. Tujuannya agar Aksara Bima tetap dikenal dan menjadi bagian dari ingatan budaya masyarakat Bima.
Begitulah cara Siti Maryam Salahuddin merawat ingatan Aksara Bima, yakni dengan mewariskan pengetahuan dan kearifan lokal kepada Dou Mbojo (red: Orang Bima).
Primordial Buku Aksara Bima
Mengutip Buku Aksara Bima: Peradaban Lokal yang Sempat Hilang, Siti Maryam Salahuddin tersentil ketika Henry Chambert Loir, filolog asal Perancis, sangsi Aksara Bima sebagai bahasa tulis resmi di Kerajaan Bima pada masa itu.
Berangkat dari keraguan tersebut, Siti Maryam dengan gigih mencari, mengkaji, dan meneliti Aksara Bima. Tahun 1987, dia menemukan salah satu naskah kuno di Perpustakaan Museum Nasional Republik Indonesia, Jakarta. Naskah itu berupa selembar dokumen berjudul Alfabet Bima, karya peneliti Belanda Heinrich Zollinger yang pernah melakukan perjalanan ke Bima dan Sumbawa pada Mei–Desember 1847.
Singkat cerita, pada tahun 1990-1991, J. Noorduyn, ahli bahasa bahasa dan Aksara Bugis dan seorang guru besar Universitas Leiden, Belanda menjumpai Ina Ka’u Mari. Dosen itu ingin meneliti naskah kuno berbahan lontar dan beraksara Bima yang tersimpan di Leiden.
Berbekal temuan aksara Bima yang ditemukan di Perpustakaan RI, mereka mulai mencocokkan huruf demi huruf hingga akhirnya tersusun menjadi kalimat berbahasa Bima.
Pada 28 Juli 2007 aksara Bima dideklarasikan di “Simposium Internasional Pernaskahan Nusantara XI” di Bima. Namun, deklarasi tersebut belum sepenuhnya mengungkap informasi mendalam mengenai misteri Aksara Mbojo Bima.
Oleh karena itu, Ina Ka’u Mari mengajak Syukri Abubakar dan Munawar Sulaiman membedah dan meneliti lebih intens terkait studi Aksara Bima ini.
Ulama Organik
Selain menekuni sejarah dan budaya Bima, Siti Maryam Salahuddin juga mendirikan organisasi Rukun Wanita pada 11 September 1947. Organisasi ini lahir ketika dia vakum sekolah di Malang. Kehadirannya bertujuan untuk memberdayakan perempuan di Bima.
Rukun Wanita berfokus pada peningkatan kapasitas dan kualitas perempuan Bima melalui program pemberantasan buta huruf. Selain itu, perempuan Bima juga dapat mengikuti kursus menjahit, menyulam, dan memasak.
Melihat rekam jejaknya, apa yang ia lakukan selaras dengan salah satu sembilan nilai KUPI, yaitu kemaslahatan. Nilai ini bermakna menghadirkan manfaat bagi bangsa dan negara dengan berpedoman pada kesetaraan, keadilan, dan kesalingan.
Tidak heran jika Dou Mbojo menokohkannya sebagai ulama organik dari Bima. Pengetahuan, pengalaman, dan peran Siti Maryam Salahuddin untuk masyarakat Bima.
Atun Wardatun menutup serial ini dengan sebuah kalimat, “pengalaman perempuan adalah pengetahuan, oleh karenanya bernilai valid sebagai dasar definisi atau redefinisi konsep keulamaan.” []











































