Minggu, 5 Juli 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

    Pemadaman Listrik

    Pemadaman Listrik Bergilir: Ironi Negara Eksportir Batu Bara

    Suporter Jepang

    Kritik untuk Suporter Jepang di Piala Dunia 2026: Cuitan Warganet, Sentilan Aristoteles

    Slut Shaming

    Slut Shaming: Ruang Digital tidak Ramah Terhadap Perempuan Kritis

    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Feminisme: Kala Perempuan Tak Melulu Menjadi Penghibur

    Aliansi Perempuan Indonesia

    Aliansi Perempuan Indonesia Turun ke Jalan Tolak Kenaikan Harga

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Surah 'Abasa

    Membaca Ulang Hikmah Inklusivitas Surah ‘Abasa 1-10

    Lagu Om Zein

    Ketika Candaan Melanggengkan Seksisme: Membaca Polemik Lagu Om Zein

    Demonstrasi

    Mengapa Demonstrasi Tetap Penting?

    Makna Iddah

    Menakar Ulang Makna Iddah dalam Relasi Perkawinan

    Putri

    Menjadi Guru bagi Putri, Anak dengan Disabilitas Intelektual

    Pemain Diaspora

    Fenomena Pemain Diaspora Piala Dunia 2026 dalam Lensa Mubadalah

    Pengelolaan Sampah

    Implementasi Nilai Kesemestaan KUPI dalam Pengelolaan Sampah Pondok Pesantren

    Anak Autisme

    Menjaga Emosi Tetap Stabil dari Pola Makan bagi Anak Autisme dan Down Syndrome

    Anak Disabilitas

    Stabilitas Keluarga, Kunci Utama Menjaga Hak Anak Disabilitas

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    KB Setelah Aborsi

    Keluarga Berencana (KB) Setelah Aborsi

    Bahaya Aborsi

    Tanda-tanda Bahaya Setelah Aborsi

    Setelah Aborsi

    Perawatan Setelah Aborsi: Kenali Tanda Normal dan Gejala yang Harus Diwaspadai

    Aborsi

    Begini Ciri-ciri Layanan Aborsi yang Aman Menurut Standar Kesehatan

    Layanan Aborsi

    Bagaimana Mengetahui Layanan Aborsi Aman atau Tidak? Ini 9 Tandanya

    Obat Aborsi

    3 Jenis Obat yang Aman Digunakan untuk Aborsi

    Aborsi

    Mengenal Aborsi dengan Obat serta Risiko yang Perlu Diwaspadai

    Aborsi Aman

    2 Metode Aborsi yang Aman dalam Layanan Medis

    Aborsi

    Aborsi Menurut Hukum Indonesia

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

    Pemadaman Listrik

    Pemadaman Listrik Bergilir: Ironi Negara Eksportir Batu Bara

    Suporter Jepang

    Kritik untuk Suporter Jepang di Piala Dunia 2026: Cuitan Warganet, Sentilan Aristoteles

    Slut Shaming

    Slut Shaming: Ruang Digital tidak Ramah Terhadap Perempuan Kritis

    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Feminisme: Kala Perempuan Tak Melulu Menjadi Penghibur

    Aliansi Perempuan Indonesia

    Aliansi Perempuan Indonesia Turun ke Jalan Tolak Kenaikan Harga

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Surah 'Abasa

    Membaca Ulang Hikmah Inklusivitas Surah ‘Abasa 1-10

    Lagu Om Zein

    Ketika Candaan Melanggengkan Seksisme: Membaca Polemik Lagu Om Zein

    Demonstrasi

    Mengapa Demonstrasi Tetap Penting?

    Makna Iddah

    Menakar Ulang Makna Iddah dalam Relasi Perkawinan

    Putri

    Menjadi Guru bagi Putri, Anak dengan Disabilitas Intelektual

    Pemain Diaspora

    Fenomena Pemain Diaspora Piala Dunia 2026 dalam Lensa Mubadalah

    Pengelolaan Sampah

    Implementasi Nilai Kesemestaan KUPI dalam Pengelolaan Sampah Pondok Pesantren

    Anak Autisme

    Menjaga Emosi Tetap Stabil dari Pola Makan bagi Anak Autisme dan Down Syndrome

    Anak Disabilitas

    Stabilitas Keluarga, Kunci Utama Menjaga Hak Anak Disabilitas

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    KB Setelah Aborsi

    Keluarga Berencana (KB) Setelah Aborsi

    Bahaya Aborsi

    Tanda-tanda Bahaya Setelah Aborsi

    Setelah Aborsi

    Perawatan Setelah Aborsi: Kenali Tanda Normal dan Gejala yang Harus Diwaspadai

    Aborsi

    Begini Ciri-ciri Layanan Aborsi yang Aman Menurut Standar Kesehatan

    Layanan Aborsi

    Bagaimana Mengetahui Layanan Aborsi Aman atau Tidak? Ini 9 Tandanya

    Obat Aborsi

    3 Jenis Obat yang Aman Digunakan untuk Aborsi

    Aborsi

    Mengenal Aborsi dengan Obat serta Risiko yang Perlu Diwaspadai

    Aborsi Aman

    2 Metode Aborsi yang Aman dalam Layanan Medis

    Aborsi

    Aborsi Menurut Hukum Indonesia

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Film

Takut Kok Sama “Pesta Babi”

Setiap kali sebuah kegiatan dibubarkan atau ditekan, respons publik biasanya bergerak ke arah yang sama: rasa penasaran meningkat.

Sofhal Adnan by Sofhal Adnan
19 Mei 2026
in Film
A A
0
Pesta Babi

Pesta Babi

18
SHARES
915
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Pemutaran film dokumenter Pesta Babi di sejumlah daerah disebut mendapat berbagai tekanan, penolakan, bahkan intimidasi. Situasi itu terjadi dalam rangkaian kegiatan nonton bareng atau nobar yang terselenggera oleh komunitas, mahasiswa, hingga kelompok masyarakat sipil di berbagai kota.

Di Kota Ternate, Maluku Utara, kegiatan nobar dan diskusi film dokumenter karya Dandhy Laksono ini aparat bubarkan pada 8 Mei 2026. Sementara di sejumlah kampus, pemutaran film juga disebut mengalami tekanan administratif maupun pengawasan ketat. Koalisi masyarakat sipil bahkan mencatat sedikitnya 21 kasus intimidasi selama pemutaran film Pesta Babi berlangsung di berbagai daerah.

Polemik Pesta Babi kemudian berkembang bukan semata karena isi filmnya, tetapi karena respons yang muncul setelahnya. Reaksi yang terlalu keras terhadap sebuah tontonan justru membuat publik semakin penasaran. Analogi sederhananya seperti seseorang yang buru-buru menutup mata ketika orang lain baru melirik meja kerjanya. Respons itu sering memancing dugaan baru, meski belum tentu ada kesalahan di baliknya.

Nobar Film bukan Tindakan Kriminal

Film sejak lama menjadi medium kritik sosial. Banyak karya lahir untuk memotret persoalan masyarakat, relasi kuasa, hingga dinamika politik. Karena itu, menonton film tidak bisa otomatis kita anggap sebagai tindakan bermusuhan terhadap kelompok atau institusi tertentu.

Konstitusi Indonesia juga menjamin kebebasan berekspresi. Pasal 28E ayat (3) UUD 1945 menegaskan bahwa setiap orang berhak menyatakan pendapat. Dalam konteks demokrasi modern, ruang diskusi publik termasuk pemutaran film dan forum dialog merupakan bagian dari hak sipil warga negara.

Data yang SAFEnet rilis dalam laporan Situasi Hak Digital Indonesia 2024 menunjukkan bahwa pembatasan ruang ekspresi publik masih sering terjadi, baik di ranah digital maupun kegiatan luring. SAFEnet mencatat puluhan kasus intimidasi dan pembubaran forum diskusi sepanjang tahun 2023–2024.

Karena itu, publik tidak boleh langsung kita curigai hanya karena datang ke acara nobar. Menonton film tidak identik dengan mendukung seluruh isi film tersebut. Sama seperti seseorang membaca buku sejarah perang bukan berarti ia mendukung perang.

Intimidasi Justru Memunculkan Kecurigaan Publik

Setiap kali sebuah kegiatan dibubarkan atau ditekan, respons publik biasanya bergerak ke arah yang sama: rasa penasaran meningkat.

Fenomena ini terkenal dalam ilmu komunikasi sebagai Streisand Effect, yakni situasi ketika upaya menekan informasi justru membuat informasi itu semakin menyebar luas. Penelitian Mike Masnick dalam The Streisand Effect and Online Censorship (2011) menjelaskan bahwa pelarangan atau pembungkaman sering menghasilkan perhatian publik yang lebih besar daripada substansi awal yang dipermasalahkan.

Dalam konteks Pesta Babi, tekanan terhadap nobar justru membuat masyarakat semakin ingin mengetahui isi film tersebut. Publik mulai mencari tautan film, membicarakannya di media sosial, hingga memperdebatkan alasan di balik berbagai penolakan.

Namun penting kita tegaskan bahwa rasa curiga publik tidak boleh berubah menjadi tuduhan liar terhadap pihak tertentu. Demokrasi membutuhkan sikap kritis sekaligus kehati-hatian agar opini tidak berkembang menjadi fitnah.

Karena itu, pendekatan terbuka jauh lebih sehat daripada intimidasi. Jika ada bagian film yang dianggap keliru, maka klarifikasi dan diskusi publik lebih efektif daripada pembubaran.

Kritik dan Film tidak Selalu Berarti Serangan

Kritik sosial adalah bagian dari kehidupan demokrasi. Film, teater, musik, hingga sastra sering menjadi medium untuk menyampaikan keresahan publik. Kehadiran kritik tidak otomatis berarti kebencian terhadap negara atau institusi tertentu.

Di banyak negara demokratis, film kritik justru menjadi bagian penting dalam evaluasi sosial. Film Spotlight di Amerika Serikat mengkritik institusi keagamaan. Film Snowden mengangkat isu pengawasan negara terhadap warga. Namun kritik dalam karya seni tidak otomatis terpahami sebagai serangan terhadap seluruh lembaga.

Indonesia juga memiliki sejarah panjang film kritik sosial. Film Senyap karya Joshua Oppenheimer misalnya memicu perdebatan luas tentang tragedi 1965. Meski kontroversial, diskusi terhadap film itu tetap menjadi bagian dari percakapan publik.

Masalah muncul ketika menganggap kritik langsung sebagai ancaman. Padahal kritik, fitnah, dan provokasi adalah tiga hal berbeda.

Kritik berbasis argumentasi dan fakta. Fitnah menyebarkan tuduhan tanpa dasar. Sementara provokasi mendorong tindakan permusuhan. Perbedaan ini penting kita pahami agar masyarakat tidak mudah menganggap semua bentuk kritik sebagai serangan.

Apalagi hingga saat ini, tidak semua pihak yang hadir dalam nobar Pesta Babi memiliki tujuan yang sama. Ada yang sekadar ingin tahu isi filmnya, ada yang ingin berdiskusi, ada pula yang hanya ikut bersama teman-temannya. Menggeneralisasi seluruh peserta nobar sebagai kelompok tertentu jelas bertentangan dengan prinsip keadilan.

Negara Hukum Harus Mengedepankan Dialog, Bukan Ketakutan

Demokrasi membutuhkan keberanian menghadapi kritik. Institusi yang kuat tidak runtuh hanya karena sebuah film terputar di layar proyektor.

Jika ada keberatan terhadap isi film, jalur yang tersedia sebenarnya cukup banyak. Kritik terbuka, diskusi akademik, konferensi pers, hingga hak jawab merupakan cara yang lebih sehat daripada tekanan atau intimidasi.

Laporan Freedom in the World 2024 terbitan dari Freedom House menempatkan kebebasan sipil sebagai salah satu indikator penting kualitas demokrasi. Negara yang mampu menjaga ruang dialog umumnya memiliki tingkat kepercayaan publik lebih baik daripada negara yang mudah menggunakan pendekatan represif.

Polemik Pesta Babi seharusnya menjadi pengingat bahwa demokrasi tidak teruji saat semua orang sepakat, tetapi saat kritik mulai terdengar. Negara hukum menuntut ketenangan dalam merespons perbedaan pendapat.

Publik tentu berhak menilai sebuah film. Namun publik juga berhak mendapatkan rasa aman untuk menonton, berdiskusi, dan bertanya tanpa stigma berlebihan. Sebab dalam negara hukum, seseorang tidak bisa dianggap bersalah hanya karena memilih duduk di kursi penonton. []

 

Tags: Budayademokrasifilm dokumenterFilm IndonesiaPesta BabiSafe Netseni
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Mahasiswa Ilmu Komunikasi UNTIDAR dan BCI Perkuat UMKM Perempuan di Borobudur

Next Post

Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

Sofhal Adnan

Sofhal Adnan

Sofhal Adnan adalah Mudir Madrasah Tahfiz Al-Qur’an Pondok Pesantren Ketitang Cirebon, Pemred Ikhbar.com, dan Ketua LTN PCNU Kabupaten Cirebon. Alumnus Prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon serta Pondok Pesantren Bayt Al-Qur’an Pusat Studi Al-Qur’an (PSQ) Jakarta asuhan M. Quraish Shihab.

Related Posts

Esok Tanpa Ibu
Film

Mengapa Harus Ai-BU? Kritik atas Imajinasi Penyembuhan dalam Esok Tanpa Ibu

4 Juli 2026
Seni Memahami Kekasih
Film

Seni Memahami Kekasih: Antara Agus, Kalis, dan Kisah Cinta Ugal-ugalan yang Memberikan Banyak Pelajaran

3 Juli 2026
Diskriminasi terhadap Perempuan
Aktual

Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

2 Juli 2026
Film Jangan Buang Ibu
Film

Film Jangan Buang Ibu: Mengingatkan Pentingnya Berbakti kepada Orang Tua

30 Juni 2026
Film Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah
Film

Film Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah: Apakah Ibu Harus Selalu Menjadi Paling Kuat dalam Keluarga?

29 Juni 2026
Bulan Suro
Featured

Membongkar Mitos Pernikahan Bulan Suro dan Beban Perempuan Jawa

12 Juni 2026
Next Post
Nyi Mas Pakungwati Cirebon

Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Membaca Ulang Hikmah Inklusivitas Surah ‘Abasa 1-10
  • Ketika Candaan Melanggengkan Seksisme: Membaca Polemik Lagu Om Zein
  • Keluarga Berencana (KB) Setelah Aborsi
  • Mengapa Demonstrasi Tetap Penting?
  • Tanda-tanda Bahaya Setelah Aborsi

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0