Mubadalah.id – Satu bulan yang lalu, tepatnya pada 15 Mei merupakan peringatan Hari Keluarga Internasional. Momentum tersebut merupakan saat yang tepat bagi setiap orang tua yang mempunyai anak laki-laki dan perempuan untuk mengajarkan keduanya tentang kesetaraan sejak dini.
Peringatan hari yang Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tetapkan pada tahun 1993 tersebut dapat menjadi pengingat penting bagi kita tentang fungsi utama keluarga. Peran orang tua jelas tidak hanya sebatas membesarkan dan mengasuh, tetapi juga mendidik anak agar tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, bertanggung jawab, dan berkarakter kuat. Salah satu aspek pembentukan karakter yang krusial untuk kita ajarkan sejak dini adalah kesetaraan antara anak laki-laki dan perempuan.
Melansir dari buku: “Modul Pendidikan Kesetaraan Gender untuk Ayah-Ibu” yang diterbitkan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak bekerjasama dengan Rifka Annisa, membesarkan anak dengan prinsip kesetaraan gender membawa banyak dampak positif bagi masa depan mereka, di antaranya:
Pertama, Meminimalisir Diskriminasi. Ketika anak paham bahwa setiap manusia memiliki hak dan kewajiban yang sama, mereka akan tumbuh tanpa memandang rendah gender lain.
Kedua, Mencegah Kekerasan. Kekerasan sering kali lahir dari relasi kuasa dan rasa dominan. Dengan mengajarkan bahwa semua orang sederajat, anak akan belajar saling menghormati dan menghargai hingga mereka dewasa nanti.
Ketiga, Membangun Hubungan yang Harmonis. Menanamkan nilai kesetaraan sejak golden age (di bawah usia enam tahun) membantu menciptakan lingkungan sosial yang adil, harmonis, dan minim kesenjangan.
Langkah Nyata Memulai dari Rumah
Sebelum membagikan pemahaman ini kepada anak, orang tua harus berada di frekuensi yang sama terlebih dahulu. Ingat, anak adalah peniru yang ulung. Mereka belajar dari apa yang mereka lihat, bukan hanya dari apa yang kita ucapkan. Jika orang tua masih mempraktikkan diskriminasi di rumah, nasihat apa pun akan sia-sia.
Menurut Alfina Sutanti, dalam tulisannya yang berjudul: “Mengapa stigma pria tidak boleh menangis harus dihentikan?”, Berikut adalah beberapa pergeseran pola asuh yang bisa mulai diterapkan oleh orang tua:
Pertama, Validasi Emosi yang Sama: Di masyarakat kita, anak laki-laki sering dilarang menangis karena dianggap tabu atau lemah. Padahal, menangis adalah respons emosional yang sehat untuk menjaga kesehatan mental. Baik anak laki-laki maupun perempuan berhak mengekspresikan kesedihan mereka dengan cara yang sehat.
Kedua, Eksplorasi Permainan tanpa Batas Gender: Anak perempuan juga butuh permainan fisik yang aktif untuk melatih kemampuan sensorik dan motoriknya. Jangan batasi ruang gerak mereka hanya pada permainan domestik.
Ketiga, Mengajarkan Basic Life Skills untuk Semua: Memasak dan mencuci bukanlah kodrat salah satu gender, tetapi kemampuan dasar untuk bertahan hidup (basic life skills). Anak laki-laki yang bisa memasak dan mencuci akan tumbuh menjadi orang dewasa yang mandiri saat merantau. Ini juga sekaligus menjadi mitra yang suportif saat kelak membangun rumah tangga bersama pasangannya.
Pandangan dalam Islam
Prinsip kesetaraan ini sejalan dengan ajaran Islam. Dalam Al-Qur’an Surah Al-Hujurat ayat 13:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَٰكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَٰكُمْ شُعُوبًا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓا۟ ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”
Allah SWT menegaskan bahwa manusia diciptakan berbeda-beda agar saling mengenal, dan kedudukan semua manusia adalah sama di mata-Nya. Tidak ada yang lebih unggul hanya karena faktor gender atau suku. Satu-satunya hal yang membedakan derajat manusia adalah tingkat ketakwaannya.
Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah juga memperjelas bahwa ayat ini melarang manusia untuk merasa lebih mulia dari sesamanya. Karena kita semua berasal dari akar yang sama, yaitu Nabi Adam dan Hawa.
Kesimpulannya, mengajarkan kesetaraan gender kepada anak laki-laki dan perempuan adalah investasi karakter yang sangat berharga. Langkah ini harus kita mulai dari rumah, lewat keselarasan pandangan orang tua dan pola asuh sehari-hari yang adil.
Mengenalkan gender pada anak sejak dini merupakan hal yang sangat penting. Sebab ketika ini terjadi pada masa krusial tumbuh kembang anak, kecerdasan mengalami peningkatan sampai 50 persen. Pembentukan karakter pada anak juga akan sangat berpengaruh pada pembentukan perilaku dan kepribadian anak ketika dewasa nanti. Mengajarkan perbedaan peran gender merupakan suatu keharusan, sebab akan tersimpan dalam memori jangka panjang anak. []











































