Rabu, 15 Juli 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

    Pemadaman Listrik

    Pemadaman Listrik Bergilir: Ironi Negara Eksportir Batu Bara

    Suporter Jepang

    Kritik untuk Suporter Jepang di Piala Dunia 2026: Cuitan Warganet, Sentilan Aristoteles

    Slut Shaming

    Slut Shaming: Ruang Digital tidak Ramah Terhadap Perempuan Kritis

    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Feminisme: Kala Perempuan Tak Melulu Menjadi Penghibur

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Krisis Pangan

    Krisis Pangan dan Kerentanan Ganda yang Dialami Difabel

    Nafkah Keluarga

    Reinterpretasi Tafsir Nafkah Keluarga

    Perempuan Pembela Keadilan

    Siapa Menjaga Perempuan Pembela Keadilan?

    Integritas

    Integritas Melawan Korupsi: Sikap Gereja Katolik terhadap Korupsi

    Memasak

    Memasak Menyembuhkan Saya dari Patah Hati di Usia Matang

    Anak Guru SLB

    Melihat Disabilitas dari Rumah: Cerita Anak Guru SLB

    The Personal is Political

    Memaknai Jargon The Personal is Political: Kecemasan Kita Ternyata Diproduksi Negara!

    Tadarus Subuh

    Tadarus Subuh ke-197: Ketika Gugatan Cerai Menjadi Exit Option

    Makna Tahrīr

    Dari Pembebasan ke Pembebasan Lain: Evolusi Makna Tahrīr

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Kepemimpinan Abu Bakar

    Menilik Kembali Integritas Kepemimpinan Abu Bakar di Tengah Kekacauan Politik

    AIDS

    Kenali HIV/AIDS dan Hepatitis B agar Terhindar dari Risiko Penularan

    herpes

    Herpes dan HIV/AIDS pada Ibu Hamil, Kenali Risiko Penularannya kepada Bayi

    Herpes

    Cara Meredakan Gejala Herpes Genitalia dan Mencegah Penularannya

    Herpes Genital

    Herpes Genitalia: Kenali Gejala, Cara Meredakan Keluhan, dan Penanganannya

    sifilis

    Sifilis pada Ibu Hamil dan Kangkroid, Dua Infeksi Menular Seksual yang Perlu Diwaspadai

    Lecet di Kelamin

    Jangan Abaikan Lecet di Area Kelamin, Bisa Menjadi Gejala Awal Sifilis

    Kutil di Kelamin

    Kutil di Kelamin: Kenali Gejala, Cara Mengobati, dan Kapan Harus Waspada

    Alat Kelamin

    Jangan Anggap Sepele, Kenali Penyebab Gatal dan Kutil di Alat Kelamin

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

    Pemadaman Listrik

    Pemadaman Listrik Bergilir: Ironi Negara Eksportir Batu Bara

    Suporter Jepang

    Kritik untuk Suporter Jepang di Piala Dunia 2026: Cuitan Warganet, Sentilan Aristoteles

    Slut Shaming

    Slut Shaming: Ruang Digital tidak Ramah Terhadap Perempuan Kritis

    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Feminisme: Kala Perempuan Tak Melulu Menjadi Penghibur

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Krisis Pangan

    Krisis Pangan dan Kerentanan Ganda yang Dialami Difabel

    Nafkah Keluarga

    Reinterpretasi Tafsir Nafkah Keluarga

    Perempuan Pembela Keadilan

    Siapa Menjaga Perempuan Pembela Keadilan?

    Integritas

    Integritas Melawan Korupsi: Sikap Gereja Katolik terhadap Korupsi

    Memasak

    Memasak Menyembuhkan Saya dari Patah Hati di Usia Matang

    Anak Guru SLB

    Melihat Disabilitas dari Rumah: Cerita Anak Guru SLB

    The Personal is Political

    Memaknai Jargon The Personal is Political: Kecemasan Kita Ternyata Diproduksi Negara!

    Tadarus Subuh

    Tadarus Subuh ke-197: Ketika Gugatan Cerai Menjadi Exit Option

    Makna Tahrīr

    Dari Pembebasan ke Pembebasan Lain: Evolusi Makna Tahrīr

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Kepemimpinan Abu Bakar

    Menilik Kembali Integritas Kepemimpinan Abu Bakar di Tengah Kekacauan Politik

    AIDS

    Kenali HIV/AIDS dan Hepatitis B agar Terhindar dari Risiko Penularan

    herpes

    Herpes dan HIV/AIDS pada Ibu Hamil, Kenali Risiko Penularannya kepada Bayi

    Herpes

    Cara Meredakan Gejala Herpes Genitalia dan Mencegah Penularannya

    Herpes Genital

    Herpes Genitalia: Kenali Gejala, Cara Meredakan Keluhan, dan Penanganannya

    sifilis

    Sifilis pada Ibu Hamil dan Kangkroid, Dua Infeksi Menular Seksual yang Perlu Diwaspadai

    Lecet di Kelamin

    Jangan Abaikan Lecet di Area Kelamin, Bisa Menjadi Gejala Awal Sifilis

    Kutil di Kelamin

    Kutil di Kelamin: Kenali Gejala, Cara Mengobati, dan Kapan Harus Waspada

    Alat Kelamin

    Jangan Anggap Sepele, Kenali Penyebab Gatal dan Kutil di Alat Kelamin

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom Personal

Mencatat Luka-luka Gen Z di Balik Perayaan Iduladha di Negeri Kapitalis

Ironi terbesar dari kebijakan ini adalah bantuan kurban senilai Rp100 miliar tersebut tersalur atas nama pribadi pejabat negara.

Layyin Lala by Layyin Lala
28 Mei 2026
in Personal, Rekomendasi
A A
0
Iduladha

Iduladha

23
SHARES
1.2k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Hari Raya Iduladha sangat identik dengan kegiatan menyembelih hewan ternak yang seringkali kita sebut dengan berkurban. Ritual berkurban sendiri merupakan salah satu rangkaian Ibadah di Hari Raya Iduladha yang terinspirasi dari kisah Nabi Ibrahim As. Umat Islam mempercayai bahwa Allah meminta Nabi Ibrahim AS untuk menyembelih Nabi Ismail AS yang kemudian berganti menjadi kepala kambing. Sehingga, turun perintah Allah agar anak-cucu Nabi Ibrahim AS melaksanakan ibadah kurban.

Pada praktiknya, tak semua umat Islam wajib menunaikan ibadah kurban. Hukum Ibadah kurban menurut fikih adalah sunnah muakkad. Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wasallam selalu melaksanakan ibadah kurban sejak pertama kali tersyariatkan hingga beliau wafat. Mayoritas ulama, seperti Imam Malik dan Imam al-Syafi’i, menetapkan hukum kurban sebagai sunnah muakkad atau sunnah yang sangat teranjurkan. Sementara itu, Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa kurban wajib dilakukan oleh orang yang mampu dan sedang tidak bepergian.

Merosotnya Ekonomi Kurban 2026

Pada bagian ini, saya meminta para pembaca untuk menenangkan hati sejenak dalam melihat perayaan Iduladha menggunakan perspektif ekonomi. Tidak mudah memang, menerima fakta bahwa keadaan ekonomi kita sedang sangat tidak baik-baik saja. Nilai tukar rupiah melemah, daya beli masyarakat menurun, harga barang-barang melonjak drastis, dan lemahnya pemerintah dalam menangani masalah yang ada membuat rakyat menjadi korban utama dalam perputaran ekonomi.

Lembaga riset Institute for Demographic and Affluence Studies (IDEAS) memproyeksikan potensi ekonomi kurban nasional 2026 sebesar Rp26,89 triliun, turun Rp210 miliar dibanding tahun sebelumnya. Penurunan ini terjadi seiring melemahnya daya beli masyarakat kelas menengah akibat kenaikan harga pangan dan biaya hidup yang terus meningkat. 

Sebanyak 1,9 juta rumah tangga tercatat sebagai pekurban pada tahun ini, dengan total hewan yang tersembelih mencapai 1,59 juta ekor. Jumlah sapi turun sekitar 10.000 ekor, sementara kambing dan domba berkurang sekitar 3.400 ekor, sehingga pasokan daging kurban nasional menyusut sekitar 1.850 ton menjadi sekitar 99.000 ton.

Masyarakat pekurban pada tahun 2026 cenderung memilih hewan dengan harga lebih terjangkau, seperti kambing atau domba berbobot ringan 20 hingga 40 kilogram, atau memilih skema patungan sepertujuh sapi bersama peserta lain. Perubahan pilihan ini terjadi karena pendapatan masyarakat stagnan sementara harga kebutuhan hidup terus naik. 

Di sisi distribusi, IDEAS mencatat penumpukan hewan kurban masih terjadi di kawasan perkotaan Pulau Jawa, dengan Jakarta Utara, Depok, dan Kabupaten Sleman sebagai wilayah surplus daging kurban tertinggi. Wilayah-wilayah dengan angka kemiskinan tinggi di luar Jawa justru mendapatkan pasokan daging kurban yang jauh lebih sedikit dari kebutuhannya.

Mayoritas Generasi Produktif Belum Mampu Membeli Hewan Kurban

Data ekonomi kurban telah saya coba jelaskan, namun salah satu hal yang begitu menyakitkan bagaimana dampaknya menyasar langsung pada generasi produktif Indonesia. Generasi Z atau Gen Z saat ini mendominasi jumlah populasi masyarakat Indonesia. Bonus demografi yang Indonesia miliki menempatkan negara memiliki generasi produktif terbesar yang pernah ada. 

Sayangnya, tingkat demografi yang tinggi tak selaras dengan kekuatan ekonomi bangsa yang justru semakin hari semakin melemah. Jangankan untuk berkurban, bahkan untuk memandang hari besok atau lusa apakah masih cukup dengan penghidupan saat ini seringkali menghantui para Gen Z. pertanyaannya, seberapa besar Gen Z di Indonesia berkurban pada tahun 2026? 

Center for Sharia Economic Development (CSED) Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) melalui berita Tempo mencatat tingkat partisipasi kurban dari Generasi Z (lahir 1997–2012) baru mencapai sekitar 5 persen, berdasarkan data survei Social Trust Fund (STF) UIN Jakarta. Angka ini jauh lebih rendah ketimbang generasi milenial sekitar 8 persen, Gen X sekitar 14 persen, dan baby boomer sekitar 15 persen. 

Kepala CSED INDEF, Nur Hidayah, menyebut rendahnya partisipasi Gen Z terjadi karena sebagian besar dari mereka masih berusia di bawah 29 tahun dan baru memulai karier profesional, sehingga kondisi keuangan mereka belum cukup stabil untuk berkurban. 

Luka-luka Gen Z di Balik Perayaan Iduladha

Boleh saja kita melihat angka-angka yang telah saya sebutkan sebagai gambaran statistik. Namun, ada luka-luka yang mungkin tak akan pernah kita bisa pahami dibalik angka-angka yang besar tersebut. Lagi-lagi, saya akan menyalahkan pemerintah yang tak bertanggungjawab atas fenomena gunung es yang dirasakan oleh Gen Z dalam menghadapi perayaan Iduladha.

Kemarin saat malam takbiran, sebuah diskusi di aplikasi threads muncul membahas apakah netizen Gen Z sudah mulai membeli hewan kurban? diskusi tersebut menyorot minat saya untuk terjun ke dalam percakapan yang sebetulnya semakin dibaca semakin pelik dan mengiris hati. Sebagain besar, hampir 90% netizen Gen Z yang menjawab belum memiliki cukup uang untuk berkurban.

Beberapa diantaranya bertanya, mengapa harga hewan kurban semakin mahal namun gaji yang ia dapatkan tak pernah naik atau bertambah. Jangankan untuk berkurban, rasanya hari ini netizen Gen Z dapat makan dan mencukupi kehidupan sudah sangat Alhamdulillah. Adapun yang bisa berkurban, perlu mengeluarkan uang yang hampir setahun ia kumpulkan. Hatinya senang saat hewan kurbannya datang, namun juga terselip pertanyaan mengapa hewan kurbannya kurus tak berisi ataupun kecil mungil. 

Kalau kita mau berempati, masalah seperti ini adalah bentuk kegagalan bagaimana pemerintah yang belum bisa memberikan keamanan ekonomi kepada masyarakat. Kalau kita mau berempati, apa yang para gen Z sedang khawatirkan merupakan maslaah-masalah valid yang justru dapat menyerang siapa saja. Bahkan jika terus dibiarkan maka akan mengancam generasi Alpha Indonesia. Lalu apakah kita akan terancam dalam hal seperti ini terus menerus?

Jangan Meromantisasi Sikap Beragama yang Tak Berempati

Salah satu hal yang perlu saya soroti ialah respon-respon terhadap apa yng sedangmuslim Gen Z hadapi saat ini. Generasi Milenial atau Baby Boomer utamanya, beberapa kali saya lihat melontarkan respon tak berempati terhadap gen Z yang tidak dapat berkurban.

Misalnya, gen Z dianggap kurang berdoa dan beribadah agar dapat melaksanakan kurban sehingga Allah belum memberikan rezeki untuk Gen Z berkurban. Respon-respon inilah yang ingin saya highlight dan diskusikan. Respon-respon tak berempati inilah yang memperburuk kita, sebagai generasi muslim untuk dapat meningkatkan kemampuan beribadah. Khususnya ibadah-ibadah yang memang kemudian membutuhkan kemampuan finansial.

Kita semua setuju, bahwa dalam hidup ini, Allah menghendaki siapa saja yang berkurban dan tidak. Seringkali, respon yang ada selalu mengatakan, “meskipun uang banyak, kalau Allah tidak menghendaki maka ya gabisa berkurban” atau sebaliknya. Kemudian kalimat-kalimat tersebut tertuju sebagai senjata untuk menyakiti orang lain. Pendapat yang memang benar. Namun, tak berempati jika terlontar kepada teman muslim Gen Z yang memang memiliki keinginan berkurban. 

Seringkali yang terucap juga respon menyalahkan Gen Z yang tidak sepenuhnya percaya pada kekuatan rezeki dari Tuhan. Wah, saat saya membaca respon-respon yang demikian, jatuhnya lebih kepada gaslighting. Daripada memberi solusi yang memang dapat berimpact. Menyalahkan keimana Gen Z atas ketidak mampuannya dalam memenuhi kegiatan kurban menurut saya adalah respon paling tidak berempati yang saya baca. Seakan-akan seluruh gen Z yang tidak dapat berkurban memang demikian (tidak percaya dengan rezeki Tuhan).

In This Economy, Semakin Kesini Semakin Kapitalis!

Perlu kita pahami, bahwa salah satu faktor mengapa gen Z belum bisa berkurban adalah daya beli yang melemah di tengah-tengah krisis ekonomi yang memang sedang terjadi. Penyebab daya beli lemah oleh kebijakan moneter dan fiskal negara yang terpuruk. Nilai mata uang yang anjlok, dan meningkatnya harga-harga kebutuhan yang tidak diimbangi dengan kenaikan penghasilan. Sehingga, fenomena ini tidak hanya membuat satu atau dua masyarakat yang kesusuahan tapi hampir seluruh rakyat yang menanngggung dampaknya. 

Kita tidka bisa menyalahkan atau menyebutkan bahwa daya beli masyarakat Indonesia turun karena Allah. Bukan, bukan seperti itu konsepnya. Allah selalu memberikan rezeki kepada seluruh hambanya. Allah selalu menjamin rezeki setiap hambanya, dan kita mempercayai hal tersebut sepenuhnya. Rezeki datang dari Allah, namun cara Allah mendistribusikan rezeki kepada manusia salah satunya melalui sistem ekonomi dan kebijakan yang dibuat oleh pemerintah. 

Maka, ketika kebijakan pemerintah gagal menjaga daya beli masyarakatnya, kita tidak boleh pasrah begitu saja dan menerimanya sebagai takdir yang tidak bisa diubah. Pasrah kepada Allah berbeda dengan pasrah kepada kegagalan pemerintah. Kita justru diwajibkan untuk terus bersuara, menuntut, dan mendorong pemerintah agar mampu menciptakan kondisi ekonomi yang layak bagi seluruh rakyatnya.

Coba kita lihat negara-negara tetangga kita. Malaysia dan Brunei Darussalam, dua negara dengan mayoritas penduduk muslim, justru memperlihatkan gambaran yang berbeda. Masyarakat di kedua negara tersebut masih mampu menunaikan ibadah kurban dengan lebih luas dan merata, karena pemerintah mereka berhasil menjaga stabilitas ekonomi, daya beli masyarakat, dan nilai mata uang dengan lebih baik. 

Itu justru membuktikan bahwa kemampuan berkurban bukan semata-mata soal keimanan seseorang. Tetapi juga soal bagaimana negara hadir dan bertanggung jawab atas kesejahteraan warganya. Gen Z Indonesia bukan generasi yang lemah imannya. Mereka merupakan generasi yang tumbuh di bawah sistem yang memang belum berpihak kepada mereka.

Memangnya Apa yang Sedang Pemerintah Lakukan?

Di tengah lesunya ekonomi kurban 2026, berita terbaru justru menampilkan pemandangan yang semakin menyakitkan. Pemerintah melalui anggaran negara (APBN) mengalokasikan sekitar Rp100 miliar untuk menyalurkan 1.098 ekor sapi kurban pada Iduladha 1447 Hijriah. Uang sebesar itu berasal dari pajak dan iuran rakyat. Termasuk dari jutaan Gen Z yang bekerja keras setiap hari namun belum mampu berkurban atas namanya sendiri. 

Ironi terbesar dari kebijakan ini adalah bantuan kurban senilai Rp100 miliar tersebut tersalur atas nama pribadi pejabat negara. Bukan atas nama rakyat Indonesia. Pertanyaan yang wajar kemudian muncul: mengapa uang rakyat hanya untuk membangun citra pribadi? Kami para rakyat sudah cukup muak dengan kurban perasaan tiap tahunnya!

Tenangin dirimu, Gen Z! []

 

Tags: Daya BeliekonomiGen ZHari Raya Iduladha 1447 HiduladhaKapitalis
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Mengenali Anemia dan Gangguan Haid pada Perempuan Usia 40–50 Tahun

Next Post

Waspadai Benjolan Payudara dan Tekanan Darah Tinggi pada Perempuan Lansia

Layyin Lala

Layyin Lala

A Student, Santri, and Servant.

Related Posts

Mengelola Stres
Publik

Cara Gen Z Mengelola Stres

7 Juli 2026
Budaya FOMO
Lingkungan

Bahaya Budaya FOMO dalam Meningkatkan Sampah

1 Juli 2026
Rumah Tangga yang
Pernak-pernik

Membangun Relasi Ekonomi Rumah Tangga yang Adil dan Setara

29 Juni 2026
Aliansi Perempuan Indonesia
Aktual

Aliansi Perempuan Indonesia Turun ke Jalan Tolak Kenaikan Harga

20 Juni 2026
Kampung idiot
Disabilitas

Mengubah Stigma Kampung Idiot di Karangpatihan Menjadi Berdaya secara Ekonomi

13 Juni 2026
Ekonomi Disabilitas
Pernak-pernik

Membangun Kemandirian Ekonomi Perempuan Penyandang Disabilitas

3 Juni 2026
Next Post
Benjolan Payudara

Waspadai Benjolan Payudara dan Tekanan Darah Tinggi pada Perempuan Lansia

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Menilik Kembali Integritas Kepemimpinan Abu Bakar di Tengah Kekacauan Politik
  • Kenali HIV/AIDS dan Hepatitis B agar Terhindar dari Risiko Penularan
  • Krisis Pangan dan Kerentanan Ganda yang Dialami Difabel
  • Herpes dan HIV/AIDS pada Ibu Hamil, Kenali Risiko Penularannya kepada Bayi
  • Reinterpretasi Tafsir Nafkah Keluarga

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0