Mubadalah.id – Iduladha selalu identikan dengan kisah pengorbanan Nabi Ibrahim terhadap putra kesayanganya Nabi Ismail. Kisah tersebut begitu familiar hingga selalu diulang pada setiap mimbar Salat Eid. Khatib mengingatkan tentang pentingnya menyembelih ketamakan dan rasa kepemilikan kita sebagai manusia dengan kata-kata yang sangat memorable:
“Setiap kita adalah Ibrahim. Ibrahim punya Ismail. Ismailmu mungkin hartamu, ismailmu mungkin jabatanmu, ismailmu mungkin gelarmu, Ismailmu mungkin egomu, Ismailmu adalah sesuatu yang kau sayangi dan kau pertahankan di dunia ini”
Romantisasi dan filosofi dari pengorbanan tersebut memang begitu indah, menjadi bagian dari syariat, serta kita peringati selama ribuan tahun. Namun di balik itu, ada bagian lain dari kisah tersebut yang jarang kita perdalam. Ia adalah bagian Siti Hajar, Sang Ibunda nabi yang mengumpulkan air zam-zam.
Nasab Mulia dari Seorang Budak
Siti Hajar adalah seorang budak dari Mesir, yang kemudian dinikahi Nabi Ibrahim setelah pernikahan pertamanya belum kunjung dikaruniai anak. Dari pernikahan inilah Nabi Ibrahim mendapatkan karunia Ismail yang nasabnya bersambung hingga ke Nabi Muhammad SAW.
Pernahkah kita berpikir bagaimana hebatnya Allah menciptakan relasi yang unik di antara manusia? Bagaimana garis nasab manusia yang paling mulia justru lahir dari seorang perempuan yang pernah menjadi budak?
Tentu hal ini bukan untuk merendahkan salah satu dari keduanya. Bahkan bisa jadi, merupakan sindiran halus dari Allah bagi orang yang berlaku angkuh karena status sosialnya. Sebab, yang menentukan derajat manusia di sisi Allah bukanlah suku, ras, maupun status sosialnya. Melainkan ketakwaan yang ada padanya. Dan Hajar sebagai seorang budak perempuan telah menunjukan ketakwaan tersebut dalam kisah perjuanganya.
Optimisme Dan Perjuangan
Keteguhan dan perjuangan Siti Hajar terlihat pada saat Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk meninggalkannya bersama Ismail kecil di lembah yang tandus dan tidak berpenghuni dengan sedikit perbekalan.
Sebagai wanita yang rasional, Hajar menanyakan keputusan yang tak masuk akal itu kepada suaminya: “Wahai Ibrahim, apakah ini perintah Allah? Nabi Ibrahim pun membenarkanya. Hajar bisa saja menolak, namun optimisme yang lahir dari keimanan itu menjadi motivasi yang luar biasa. Hajar pun mematuhi keputusan tersebut dan menjawab: “Jika demikian, Allah tidak akan menyiayiakan kami”.
Sikap optimis itu ia buktikan dengan tindakan nyata. Saat Ismail kehausan dan air susunya kering, Hajar tidak berpangku tangan atau sekedar berdoa memohon keajaiban. Dengan segenap tenaga, ia berlarian di antara dua bukit untuk mendapatkan air. Perjuanganya itu pun Allah abadikan dalam syariat (Sa’i) dan jerih payahnya dapat turut kita nikmati dalam bentuk Air Zam-Zam.
Padang tandus tak berpenghuni itu pun, kini menjadi salah satu tempat terbaik yang dikunjungi jutaan manusia dari seluruh penjuru dunia. Apa yang terjadi seandainya dulu Hajar menolak ditempatkan atau berdiam diri berpangku tangan?
Hajar Tidak Mewariskan Luka
Masih ingatkah percakapan masyhur antara Nabi Ibrahim dan Ismail yang diabadikan dalam QS. Ash-Shaffat ayat 102?
“Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu?”
“Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”
Selain melihat keteguhan dan sisi demokratis pada pola komunikasinya, pernahkah kita berfikir bagaimana Ismail muda bisa memiliki jawaban yang demikian bijaknya? Tentu hal tersebut tidak lahir dari ruang kosong, namun terbentuk oleh tarbiyah dan pola asuh dari ibunya.
Seorang anak yang lahir dari istri kedua yang berstatus sebagai budak. Kemudian ditinggalkan untuk bertahan hidup dalam situasi yang sulit oleh ayahnya. Jika terjadi di era sekarang, mungkin Ismail akan membenci ayahnya, atau tumbuh menjadi pribadi yang buruk perangainya.
Namun, semua itu berhasil Hajar cegah. Ia tidak mewariskan luka yang ia dapati dalam penikahanya, ataupun membiarkan Sang anak membeci ayahnya dan menyalahkan Tuhanya. Ia justru mendidik Ismail untuk menghormati orang tua dan memegang optimisme yang kuat terhadap apapun yang menjadi kehendak Allah.
Jawaban Ismail saat itu, tidak lain adalah representasi optimisme keimanan yang ia warisi dari Ibunya. Sebagaimana jawaban Hajar saat menerima keputusan Ibrahim untuk meninggalkanya di lembah Makkah
Teruntuk Para Hajar Di Masa Kini
Sampai di sini, adakah kisah hidup Hajar yang mirip dengan episode kehidupan kita saat ini? Tentu ada, dan mungkin banyak. Di luar sana bayak perempuan yang menjalani kehidupan pernikahan yang tidak mudah. Di uji karena status sosialnya, berpisah dengan suami saat anaknya masih balita, ataupun kerasnya tuntutan ekonomi yang mengharuskanya berlarian mencari nafkah demi memenuhi kebutuhan anaknya.
Semua itu adalah ujian pernikahan yang lazim kita dapati pada perempuan di sekeliling kita. Namun bagian paling menakjubkanya adalah, mereka tidak menyerah, terus berjuang, sambil terus meyakini bahwa pertolongan Tuhan itu pasti datang. Semua itu ia lakuan dengan penuh keyakinan dan pengharapan untuk kehidupan yang lebih baik bagi anak-anaknya.
Hajar bukan sekedar simbol perjuangan dan keteguhan perempuan, ia juga bentuk keberhasilan seorang Ibu untuk memutus rantai luka dan trauma pada anak-anaknya.
Teruntuk semua ibu yang sedang berjuang, Shafa dan Marwa mu mungkin bukan bukit atau gurun pasir. Ia bisa jadi puluhan kilometer yang kau tempuh setiap hari, ia bisa jadi komentar-komentar sinis yang kau abaikan, atau ia bisa jadi rasa ingin menyerah yang berulang kau taklukan. Semoga berkat keteguhanmu, Ismail kecilmu kelak dilimpahkan berkah dan kemuliaan. []











































