Mubadalah.id – Siang itu, suasana ruang keterampilan di sebuah Sekolah Luar Biasa (SLB) Dharma Wicaksana Pasuruan, Jawa Timur berjalan seperti biasanya. Seorang guru yang dikenal memiliki kemampuan di bidang handycraft sedang mengajar para siswa – siswi untuk membuat berbagai karya kreatif. Tangan-tangan kecil sibuk mengikuti arahan, sementara sang guru dengan sabar membimbing mereka satu per satu.
Di antara para siswa, ada seorang anak Tuli yang cukup cepat menangkap instruksi. Ia sudah terbiasa mengikuti pelajaran keterampilan dan mampu menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan dengan baik. Karena kemampuannya itu, ia sering mendapat kesempatan untuk mempelajari keterampilan-keterampilan baru.
Hari itu, sang guru mengajarkan cara membuat jajanan berbentuk kue tart. Anak tersebut tampak antusias mengikuti setiap langkah yang dicontohkan. Sementara itu, beberapa siswa lain hanya melihat dari kejauhan.
Tidak ada yang terasa berbeda sampai tiba-tiba terdengar sebuah suara dari sudut ruangan.
“Buu, kok aku nggak pernah diajari bikin yang bagus-bagus sama ibu guru? Mesti Mbak Intan terus.”
Kalimat itu keluar dari mulut seorang siswi tunagrahita. Tidak ada nada marah. Tidak ada tangisan. Ia hanya menyampaikan apa yang selama ini ia rasakan. Namun entah mengapa, kalimat itu terasa begitu menggetarkan.
Sang Guru Terdiam
Sang guru sempat terdiam. Barangkali ia tidak pernah berniat membeda-bedakan. Bisa jadi selama ini ia hanya berpikir bahwa mengajar anak yang lebih cepat memahami instruksi akan membuat proses belajar berjalan lebih mudah dan hasilnya lebih cepat terlihat.
Tetapi ucapan siswi tersebut membuka sesuatu yang sebelumnya luput dari perhatian.
Bahwa ada anak lain yang juga ingin belajar. Ada anak lain yang juga ingin diberi kesempatan. Juga, ada anak lain yang diam-diam memperhatikan dan bertanya dalam hati mengapa kesempatan itu tidak pernah datang kepadanya.
Secara spontan sang guru menjawab, “Besok ya. Sama kamu dan yang lain juga.” Jawaban itu menjadi awal dari sebuah refleksi yang lebih besar.
Malam harinya, kejadian tersebut dibahas dalam grup WhatsApp para guru. Guru yang mengajar keterampilan itu menceritakan apa yang terjadi kepada kepala sekolah dan rekan-rekannya. Ia mengaku tersentuh oleh ucapan siswinya.
Diskusi pun mengalir. Para guru menyadari bahwa tanpa sengaja mereka kadang lebih fokus kepada anak-anak yang dianggap cepat, mudah diarahkan, atau memiliki hasil yang terlihat menonjol. Sementara anak-anak lain sering kali harus menunggu lebih lama untuk mendapatkan kesempatan yang sama.
Akhirnya disepakati bahwa dalam beberapa hari ke depan, kegiatan keterampilan akan diberikan secara bergilir kepada siswa-siswa yang lain. Semua anak akan memperoleh kesempatan mencoba, belajar, dan mengalami proses yang sama.
Peristiwa itu mungkin terlihat kecil. Hanya percakapan singkat antara seorang murid dan gurunya. Namun dari situlah kita belajar bahwa sering kali tanpa sadar lebih memberi perhatian kepada mereka yang paling menonjol.
Kita mudah memberikan dukungan kepada orang yang berbakat, cepat belajar, atau memiliki peluang besar untuk berhasil. Sebaliknya, mereka yang anggap biasa-biasa saja sering luput dari perhatian.
Padahal setiap orang ingin diberi kesempatan. Setiap orang ingin dipercaya. Juga setiap orang ingin dilihat.
Jangan Membeda-bedakan
Fenomena seperti ini bukan hanya terjadi di sekolah. Dalam kehidupan sehari-hari pun kita sering menemukannya. Di tempat kerja, organisasi, komunitas, bahkan di lingkungan keluarga, kesempatan sering kali lebih banyak kita berikan kepada mereka yang sudah terlihat mampu. Sementara yang lain harus berjuang lebih keras hanya untuk mendapatkan ruang yang sama.
Padahal dunia tidak selalu tentang siapa yang paling cepat sampai di tujuan. Dunia juga tentang siapa yang terus berjalan meski langkahnya pelan. Tentang siapa yang tetap bertahan ketika orang lain menyerah. Tentang bagaimana kita saling menggandeng tangan agar tidak ada yang tertinggal.
Kisah di sebuah SLB itu menjadi bahan renungan yang mendalam. Jika di lingkungan yang setiap hari berinteraksi dengan penyandang disabilitas saja masih mungkin terjadi situasi seperti ini, bagaimana dengan dunia di luar sana?
Bagaimana dengan mereka yang tidak pernah memiliki kesempatan untuk menunjukkan kemampuannya? Bagaimana dengan mereka yang sejak awal sudah kita anggap tidak mampu sebelum kita beri kesempatan untuk mencoba?
Barangkali yang penyandang disabilitas butuhkan bukan belas kasihan. Mereka hanya membutuhkan peluang yang sama. Kesempatan yang sama untuk belajar, berkarya, dan membuktikan kemampuan mereka.
Karena terkadang, suara dari siswi tersebut justru menyampaikan pelajaran yang paling besar.
Dan siang itu, dari sebuah kalimat seorang siswi tunagrahita, semua orang di ruangan belajar kembali arti penting sebuah kesempatan. Sebuah kesempatan untuk melihat bahwa setiap anak, tanpa terkecuali, berhak tumbuh dan bersinar dengan caranya masing-masing. []











































