Selasa, 21 Juli 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Spanyol

    Panggung Bola, Air Mata Gaza, dan Trofi Juara Spanyol

    Sepak Bola Dunia

    Perempuan di Balik Layar Bintang Sepak Bola Dunia

    Sejarah Prancis

    Runtuhnya Bastille dan Hipokrisi Egalite: Membaca Sejarah Prancis melalui Lensa Mubadalah

    Kekerasan di Sampang

    Lubang Perlindungan Perempuan; Akar Kekerasan di Sampang dan Pesan Fatwa KUPI

    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Nafkah Skincare

    Nafkah Skincare, Antara Kosmetik Tersier dan Hak Kesehatan Reproduksi Istri

    Anak dengan Down Syndrome

    Memahami Emosi Anak dengan Down Syndrome

    Kehamilan

    Mengapa Kehamilan Perlu Diputuskan Bersama?

    Dimensi Akhlak dalam Talak

    Tadarus Subuh ke 198: Dimensi Akhlak dalam Talak

    Humor Disabilitas

    Ironi Humor Disabilitas di Era Konten Viral

    Zakat

    Bolehkah Zakat Diberikan Kepada Penyintas Kekerasan?

    Kepemimpinan Beragam Gender

    Lebih Beragam, Lebih Hijau: Mengubah Dunia Lewat Kepemimpinan Beragam Gender

    Memahami Islam

    Sudah Saatnya Memahami Islam sebagai Sumber Inspirasi

    Poskolonialisme

    Aroma Poskolonialisme di Final Piala Dunia 2026: Albiceleste Kontra La Roja

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Pasangan HIV

    Pasangan Positif HIV? Ini yang Perlu Anda Ketahui dan Lakukan

    Mengidap HIV

    Tetap Bahagia Meski Mengidap HIV atau AIDS

    Tes HIV

    Apa yang Harus Dilakukan Setelah Hasil Tes HIV Positif?

    Tes HIV

    Kapan Sebaiknya Menjalani Tes HIV?

    Periode Jendela HIV

    Apa Itu Periode Jendela HIV? Ini Penjelasan dan Contohnya

    Virus HIV

    Mengenal Periode Jendela Virus HIV dan Cara Membaca Hasil Tes

    Perempuan HIV

    HIV pada Perempuan: Risiko Lebih Besar dan Enam Cara Mencegahnya

    HIV

    Mengapa Perempuan Lebih Rentan terhadap HIV? Ini Penjelasannya

    HIV Menular

    HIV Menular Melalui Apa Saja? Cek Fakta dan Mitosnya

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Spanyol

    Panggung Bola, Air Mata Gaza, dan Trofi Juara Spanyol

    Sepak Bola Dunia

    Perempuan di Balik Layar Bintang Sepak Bola Dunia

    Sejarah Prancis

    Runtuhnya Bastille dan Hipokrisi Egalite: Membaca Sejarah Prancis melalui Lensa Mubadalah

    Kekerasan di Sampang

    Lubang Perlindungan Perempuan; Akar Kekerasan di Sampang dan Pesan Fatwa KUPI

    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Nafkah Skincare

    Nafkah Skincare, Antara Kosmetik Tersier dan Hak Kesehatan Reproduksi Istri

    Anak dengan Down Syndrome

    Memahami Emosi Anak dengan Down Syndrome

    Kehamilan

    Mengapa Kehamilan Perlu Diputuskan Bersama?

    Dimensi Akhlak dalam Talak

    Tadarus Subuh ke 198: Dimensi Akhlak dalam Talak

    Humor Disabilitas

    Ironi Humor Disabilitas di Era Konten Viral

    Zakat

    Bolehkah Zakat Diberikan Kepada Penyintas Kekerasan?

    Kepemimpinan Beragam Gender

    Lebih Beragam, Lebih Hijau: Mengubah Dunia Lewat Kepemimpinan Beragam Gender

    Memahami Islam

    Sudah Saatnya Memahami Islam sebagai Sumber Inspirasi

    Poskolonialisme

    Aroma Poskolonialisme di Final Piala Dunia 2026: Albiceleste Kontra La Roja

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Pasangan HIV

    Pasangan Positif HIV? Ini yang Perlu Anda Ketahui dan Lakukan

    Mengidap HIV

    Tetap Bahagia Meski Mengidap HIV atau AIDS

    Tes HIV

    Apa yang Harus Dilakukan Setelah Hasil Tes HIV Positif?

    Tes HIV

    Kapan Sebaiknya Menjalani Tes HIV?

    Periode Jendela HIV

    Apa Itu Periode Jendela HIV? Ini Penjelasan dan Contohnya

    Virus HIV

    Mengenal Periode Jendela Virus HIV dan Cara Membaca Hasil Tes

    Perempuan HIV

    HIV pada Perempuan: Risiko Lebih Besar dan Enam Cara Mencegahnya

    HIV

    Mengapa Perempuan Lebih Rentan terhadap HIV? Ini Penjelasannya

    HIV Menular

    HIV Menular Melalui Apa Saja? Cek Fakta dan Mitosnya

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Featured

Gelombang Keberkahan Raksasa Satu Abad NU

NU, menyambut abad kedua ini jika ingin terus tumbuh menjadi semakin besar dan menciptakan raksasa keberkahan kian luas, harus senantiasa menjaga dan memelihara semua aspek kehidupan

Rochmad Widodo by Rochmad Widodo
17 Februari 2023
in Featured, Publik
A A
0
Satu Abad NU

Satu Abad NU

15
SHARES
744
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Ada diksi menarik dan mencuri perhatian dari Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Yahya Cholil Staquf atas gelaran memperingati satu Abad NU kemarin atas istilah Keberkahan Raksasa atau Barokah Raksasa. Hal itu mengisyarakatkan betapa besar, luas, dan lamanya rentang keberkahan atas NU, hingga menginjak usia 100 tahun sebagai ormas Islam terbesar di Indonesia dan bahkan dunia dengan jumlah lebih dari 95 juta pada tahun 2021.

Istilah Keberkahan Raksasa tentu bukan terlalu melebih-lebihkan. Namun demikianlah gambaran paling tepat untuk merangkum wujud keberkahan yang sedemikian besar, luas, dalam rentang waktu panjang, di mata Ketua Umum PBNU yang akrab kita sapa Gus Yahya itu.

Usia satu abad NU sebagai organisasi keagamaan bukan sekadar menunjukkan lamanya NU berdiri. Namun hakikatnya, di sana sekaligus menunjukkan sebuah simbol kekuatan, kedigdayaan, dan sekaligus ke-akbaran NU sebagai organisasi. Tentu jika kita ibaratkan sebuah pohon, dengan usia 100 tahun, akarnya sudah sangat mengakar, dengan batang yang kokoh, dan jelas pasti menjadi pohon kuat dan bernilai tinggi.

Dalam hal ini tidak relevan kata bijak yang cukup masyhur mengatakan, “apalah arti sebuah usia”, karena dianggap hanya sebatas bilangan angka. Dari banyak sedikitnya angka usia, jelas ada banyak makna di setiap perjalanannya. Termasuk usia NU yang telah satu abad berdiri dan selanjutnya memasuki abad kedua.

Hasil Riyadhah dan Tirakat Wali-Wali dan Kiai

Di setiap rangkaian acara hajatan satu Abad NU, selalu meriah dan begitu banyak warga NU berduyun-duyun hadir. Lebih-lebih di acara puncak 7 Februari 2023 di Stadion Delta, Sidoarjo, Jawa Timur. Menyemut kerumunan jamaah NU dan pencintanya dari seluruh penjuru nusantara tidak hanya di dalam stadion. Namun juga mengular panjang di sepanjang jalan Sidoarjo menjadi lautan manusia.

Jika keberkahan itu kita kalkulasikan dengan kaca mata ekonomi, jelas kehadiran para warga NU dan pecinta NU dari setiap acara turut berdampak kepada multiplier effect perputaran roda ekonomi. Mulai dari bisnis transportasi, penginapan, makanan, oleh-oleh, mainan, tukang parkir, hingga toilet tak terkecuali. Dari skala bisnis besar, usaha kecil, pedagang kaki lima, pedagang asongan, semua mendapat berkah limpahan rezeki. Namun sudah dipastikan keberkahan lain lebih besar, bukan terletak di sana.

Lautan manusia yang saya taksir mencapai 4 juta lebih itu, hadir ke puncak hajatan akbar satu abad NU, karena mendapat magnet yang sangat kuat. Momen 100 tahun adalah momen langka. Momentum satu abad merupakan keberkahan yang demikian bermakna. Karena kemungkinan kecil, bagi siapa saja akan menemuinya lagi di abad kedua NU. Bahkan bisa kita katakan hampir mustahil, dengan rata-rata umur orang Indonesia yang secara umum tidak sampai menginjak 100 tahun sudah tutup usia.

Kehadiran warga NU dalam perayaan satu abad juga menjadi sebuah kegiatan spiritual. Wujud kecintaan terhadap NU yang menjadi laku hidup dan pedoman dalam beragama di setiap denyut kehidupan jamaah, sekaligus ikhtiar ngalap keberkahannya. Sebab, sebagaimana Gus Yahya sampaikan, barokah raksasa satu abad NU adalah hasil dari riyadhah dan tirakat para wali-wali, tirakat dari para kiai, tirakat dari segenap warga pencinta NU.

Membaca Keberkahan Raksasa NU

Dijelaskan dalam Kamus Al-Munawwir (1997: 78), berkah menurut bahasa berasal dari Bahasa Arab barokah (بركة) yang artinya nikmat. Istilah lain berkah dalam Bahasa Arab adalah mubarak dan tabaruk. Sementara dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008:179), berkah adalah “karunia Tuhan yang mendatangkan kebaikan bagi kehidupan manusia.” Imam Al-Ghazali dalam Ensiklopedia Tasawuf (2009: 79) menjelaskan, berkah (barokah) adalah bertambahnya kebaikan.

Keberkahan raksasa NU sebagaimana istilah Gus Yahya, bisa kita baca dari banyak aspek khidmah yang dijalankan oleh seluruh elemen NU sebagai jamaah maupun jam’iyyah. Bahwasannya NU memiliki kontribusi bagi kehidupan warga NU, sekaligus bagi bangsa, negara, dan umat manusia dalam membangun peradaban.

Adalah nyata amaliyah (tindakan), fikrah (pemikiran), dan harakah (gerakan) NU dalam membangun peradaban kehidupan yang lebih baik dan secara kontinue hingga 100 tahun. Melalui lembaga perangkat organisasi NU seperti; LDNU, LBMNU, LPMNU, RMINU, LPNU, LPPNU, LKNU, LKKNU, LAKPESDAM-NU, LPBHNU, LESBUMI, LAZISNU, LWPNU, LTMNU, LFNU, LPBPINU, LTNNU, dan LPTNU. Khidmah NU senantiasa hadir di tengah masyarakat mengurai sengkarut berbagai persoalan yang ada. Baik dalam lingkup personal, sosial kemasyarakatan, hingga kebangsaan dan permasalahan dunia.

Demikian juga berbagai badan otonom (banom) NU seperti; Gerakan Pemuda Ansor, Muslimat, Fatayat, IPNU, IPPNU, JQH, Pergunu, PMII, Pencak Silat Pagar Nusa, Jatman, Ishari, ISNU, Sarbumusi, dan juga SNNU. Kiprah dan kontribusinya sangat besar, baik dalam wujud amaliyah, fikrah, maupun harakah-nya bagi masyarakat. Semua menjadi bagian dari tubuh NU yang hidup, berdenyut di tengah masyarakat dengan ghirah khidmah dan menjadi perwujudan dari ajaran Aswaja an Nahdliyyah.

Tidak lain semua itu menggambarkan dengan jelas bagaimana wujud kebesaran dan keluasan NU, dalam membuahkan keberkahan yang berlansung dalam rentang waktu panjang selama 100 tahun ini.

Mengukur dan Memaksimalkan Kekuatan NU

Ada sebuah teori yang Jones cetuskan (1995), bahwa suatu organisasi akan mengalami empat tahapan siklus hidup. Yaitu; organizational birth (kelahiran organisasi), organizational growth (pertumbuhan organisasi), organizational decline (penurunan organisasi), dan organizational death (organisasi mati). Tentu NU sebagai organisasi keagamaan juga tidak terlepas dari teori siklus hidup organisasi tersebut.

Di satu abad NU menuju abad kedua ini, bisa kita katakan NU sedang memasuki fase organizational growth (pertumbuhan organisasi). Baik secara jamaah yang tertandai dengan jumlah warga NU lebih dari 95 juta yang tersebar di seluruh dunia, maupun dari sisi jam’iyyah (organisasi) yang selalu berbenah menuju manajemen organisasi modern. Hingga sampai di satu abad ini, sudah membuktikan ada kekuatan dahsyat dari diri NU. Di samping berkah tirakat dan riyadhah yang menaungi NU dari para pendiri, para wali dan kiai-kiai, kekuatan yang menjadi penyokong kokohnya NU, di antaranya adalah:

Pertama, NU memiliki akar sejarah sangat kuat. NU berdiri 31 Januari 1926 (16 Rajab 1344 H) atau jauh sebelum Indonesia merdeka. Bahkan para pendiri NU turut andil dalam membentuk dan memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sejarah NU akan senantiasa melekat bersama perjalanan bangsa ini.

Kedua, NU memiliki prinsip kokoh dalam amaliyah, fikrah, maupun harakah. Senantiasa berpegang teguh pada empat prinsip dasar, yaitu tawasuth (moderat), tawazun (simbang), i’tidal (adil) dan tasamuh (toleran). Dengan prinsip itu membuat NU selalu relevan menjawab semua persoalan di berbagai zaman. Mampu adaptif dan lentur dengan perkembangan zaman, namun tetap pada posisi idealisnya.

Tradisi Amaliyah, Metodologi dan Keilmuan Ulama NU

Ketiga, tradisi amaliyah NU sangat mengakar di tengah warga NU. Yasinan, tahlilal, ziarah kubur, maulid Nabi, istighotsah, tingkepan (doa tujuh bulan kehamilan), dan lain sebagainya, adalah tradisi amaliyah NU yang rutin dilakukan dalam kegiatan harian secara senang hati, suka rela, penuh guyub, sudah seperti ibadah wajib dan ibarat telah mendarah daging di tengah masyarakat.

Keempat, tradisi fikrah (berpikir) NU. Para ulama dan warga NU memiliki gaya dan metodologi berpikir yang khas. Keilmuan ulama NU ber-nasab dan ber-sanad hingga sampai ke Rasulullah. Metodologi berpikirnya dibentuk dengan tradisi mengaji kitab kuning dan terus hidup dengan wadah pesantren. NU mendasarkan faham keagamaan kepada Al-Qur’an, As-Sunnah, Ijma dan Qiyas.

Dalam memahami dan menafsirkan Islam dari sumber-sumber tersebut, NU mengikuti paham ahlusunnah wal jama’ah dan menggunakan jalan pendekatan madzhab. Dalam fikrah berpegang pada prinsip tawasuth, tawazun, i’tidal dan tasamuh, yang senantiasa membentuk keluwesan NU dalam berpikir mengikuti zaman.

Kelima, kiai dan santri. Tradisi relasi kiai dan santri dalam NU menjadi bagian tak terpisahkan dari kekuatan NU. Kiai menjadi sumber ilmu dan kebijakan bagi santri. Kiai dengan kealiman dan keulamaannya senantiasa mengayomi dan membimbing seluruh warga NU yang menjadi santri dalam seluruh aspek kehidupannya. Karena agama mangatur semua hal dalam kehidupan, baik akhlak, ilmu, ekonomi, sosial, dan juga berbagai persoalan lainnya termasuk politik.

Kekuatan Jama’ah dan Jam’iyyah

Keenam, jamaah dan jam’iyyah. Tidak dipungkiri jumlah jamaah NU yang lebih dari 95 juta menjadi bagian dari kekuatan. Dalam istilah Gus Mus, jamaah merupakan isi, dan jam’iyyah merupakan wadahnya. Mestinya jamaah ini harus lebur ketika diwadahi jam’iyyah. Jika saat ini dengan jamaah besar meski secara organisatoris belum maksimal sudah demikian diperhitungkan. Tentu jika jamaah NU terorganisir dengan baik dalam jam’iyyah, akan sangat disegani. Khidmahnya pun kian besar membawa manfaat bagi masyarakat di tingkat nasional hingga ke dunia internasional.

Ibarat dalam filosifi menanam sebuah pohon. Pohon besar tidak bisa hanya dirawat dengan memperhatikan batang, dahan, rimbunnya daun, dan banyak buah tanpa memperhatikan akarnya. Sebab, akar menjadi kunci dari pohon tersebut untuk memenuhi nutrisi dalam tumbuh dan berkembang, serta mengokohkan pertahanan untuk tidak roboh.

Demikian halnya dalam hal ini NU, menyambut abad kedua ini jika ingin terus tumbuh menjadi semakin besar dan menciptakan raksasa keberkahan kian luas, harus senantiasa menjaga dan memelihara semua aspek yang menjadi akar NU kuat dan kokoh tersebut. Wallahu a’lam bish-shawab. []

Tags: Harlah NUKeberkahanNahdlatul UlamaSatu Abad NU
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Pada Masa Nabi Saw, Banyak Perempuan yang Gemar Bersedekah

Next Post

Ini Sosok Perempuan yang Mengislamkan Umar bin Khattab Ra

Rochmad Widodo

Rochmad Widodo

Rochmad Widodo adalah Asisten Pengasuh Pondok Pesantren Mahasina Darul Qur’an Wal Hadits, Pendidikan Terintegrasi Kader Ulama-Pemimpin Berakhlakul Qur’ani Berwawasan Kebangsaan di Kota Bekasi.

Related Posts

Idulfitri
Personal

Merayakan Tiga Kali Idulfitri dalam Satu Desa

25 Maret 2026
Awal Ramadan
Publik

Kita Tidak Lagi Relevan untuk Bersikap Sektarian dalam Menentukan Awal Ramadan dan Syawal

14 Februari 2026
Harlah NU
Publik

Merayakan Harlah NU, Menguatkan Peran Aktivis Keagamaan

9 Februari 2026
Harlah 100 Tahun
Aktual

Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

1 Februari 2026
NU dan Lingkungan
Lingkungan

Di Era Gus Dur, NU Konsisten Menyuarakan Isu Lingkungan

16 Januari 2026
Resolusi Jihad
Aktual

Resolusi Jihad Santri: Dari Angkat Senjata hingga Media Sosial

22 Oktober 2025
Next Post
Umar bin Khattab Ra

Ini Sosok Perempuan yang Mengislamkan Umar bin Khattab Ra

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Pasangan Positif HIV? Ini yang Perlu Anda Ketahui dan Lakukan
  • Panggung Bola, Air Mata Gaza, dan Trofi Juara Spanyol
  • Tetap Bahagia Meski Mengidap HIV atau AIDS
  • Nafkah Skincare, Antara Kosmetik Tersier dan Hak Kesehatan Reproduksi Istri
  • Apa yang Harus Dilakukan Setelah Hasil Tes HIV Positif?

Komentar Terbaru

  • Nur Fadiah Anisah pada Memaknai Jargon The Personal is Political: Kecemasan Kita Ternyata Diproduksi Negara!
  • Zikri Alvi Muharam pada Takut Kok Sama “Pesta Babi”
  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0