Minggu, 19 Juli 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Sejarah Prancis

    Runtuhnya Bastille dan Hipokrisi Egalite: Membaca Sejarah Prancis melalui Lensa Mubadalah

    Kekerasan di Sampang

    Lubang Perlindungan Perempuan; Akar Kekerasan di Sampang dan Pesan Fatwa KUPI

    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

    Pemadaman Listrik

    Pemadaman Listrik Bergilir: Ironi Negara Eksportir Batu Bara

    Suporter Jepang

    Kritik untuk Suporter Jepang di Piala Dunia 2026: Cuitan Warganet, Sentilan Aristoteles

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Zakat

    Bolehkah Zakat Diberikan Kepada Penyintas Kekerasan?

    Kepemimpinan Beragam Gender

    Lebih Beragam, Lebih Hijau: Mengubah Dunia Lewat Kepemimpinan Beragam Gender

    Memahami Islam

    Sudah Saatnya Memahami Islam sebagai Sumber Inspirasi

    Poskolonialisme

    Aroma Poskolonialisme di Final Piala Dunia 2026: Albiceleste Kontra La Roja

    Militerisasi

    Menyoal Militerisasi Tata Kelola Koperasi Desa

    Lagu Teh Hijau

    Lagu Teh Hijau Karya Tulus dan Seni Merayakan Kehampaan bagi Perempuan

    Hukum Adat Bali

    Karang Memadu: Bukti Hukum Adat Bali Melindungi Perempuan

    Pemberian

    Ketika Sebuah Pemberian Menjadi Tanda Kepedulian

    Nikah Sirri

    Enam Langkah Cerai Sirri bagi Perempuan yang Terjebak Nikah Sirri

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    HIV Menular

    HIV Menular Melalui Apa Saja? Cek Fakta dan Mitosnya

    Apa itu AIDS

    Apa itu AIDS?

    Apa itu HIV

    Apa itu HIV?

    Jalan Kebahagiaan

    Menggapai As-Sa’adah: Jalan Kebahagiaan Menurut Imam al-Ghazali

    HIV

    Mengapa Perempuan Lebih Rentan Tertular HIV?

    AIDS

    Jangan Percaya Mitos, Kenali Fakta tentang HIV dan AIDS

    Mencegah Penyakit Menular Seksual

    Membangun Kesadaran Masyarakat untuk Mencegah Penyakit Menular Seksual

    Pengobatan Penyakit Menular

    Tips Menjalani Pengobatan Penyakit Menular Seksual agar Tidak Menulari Pasangan

    Penyakit Menular

    7 Cara Mencegah Penyebaran Penyakit Menular Seksual di Masyarakat

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Sejarah Prancis

    Runtuhnya Bastille dan Hipokrisi Egalite: Membaca Sejarah Prancis melalui Lensa Mubadalah

    Kekerasan di Sampang

    Lubang Perlindungan Perempuan; Akar Kekerasan di Sampang dan Pesan Fatwa KUPI

    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

    Pemadaman Listrik

    Pemadaman Listrik Bergilir: Ironi Negara Eksportir Batu Bara

    Suporter Jepang

    Kritik untuk Suporter Jepang di Piala Dunia 2026: Cuitan Warganet, Sentilan Aristoteles

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Zakat

    Bolehkah Zakat Diberikan Kepada Penyintas Kekerasan?

    Kepemimpinan Beragam Gender

    Lebih Beragam, Lebih Hijau: Mengubah Dunia Lewat Kepemimpinan Beragam Gender

    Memahami Islam

    Sudah Saatnya Memahami Islam sebagai Sumber Inspirasi

    Poskolonialisme

    Aroma Poskolonialisme di Final Piala Dunia 2026: Albiceleste Kontra La Roja

    Militerisasi

    Menyoal Militerisasi Tata Kelola Koperasi Desa

    Lagu Teh Hijau

    Lagu Teh Hijau Karya Tulus dan Seni Merayakan Kehampaan bagi Perempuan

    Hukum Adat Bali

    Karang Memadu: Bukti Hukum Adat Bali Melindungi Perempuan

    Pemberian

    Ketika Sebuah Pemberian Menjadi Tanda Kepedulian

    Nikah Sirri

    Enam Langkah Cerai Sirri bagi Perempuan yang Terjebak Nikah Sirri

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    HIV Menular

    HIV Menular Melalui Apa Saja? Cek Fakta dan Mitosnya

    Apa itu AIDS

    Apa itu AIDS?

    Apa itu HIV

    Apa itu HIV?

    Jalan Kebahagiaan

    Menggapai As-Sa’adah: Jalan Kebahagiaan Menurut Imam al-Ghazali

    HIV

    Mengapa Perempuan Lebih Rentan Tertular HIV?

    AIDS

    Jangan Percaya Mitos, Kenali Fakta tentang HIV dan AIDS

    Mencegah Penyakit Menular Seksual

    Membangun Kesadaran Masyarakat untuk Mencegah Penyakit Menular Seksual

    Pengobatan Penyakit Menular

    Tips Menjalani Pengobatan Penyakit Menular Seksual agar Tidak Menulari Pasangan

    Penyakit Menular

    7 Cara Mencegah Penyebaran Penyakit Menular Seksual di Masyarakat

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom Personal

Gus Dur dan Diplomasi Sepak Bola Kini

Bagi Gus Dur, sepak bola bukan hanya sekedar permainan. Beliau bisa menjadikannya sebagai jokes, filosofi hidup, bahkan strategi dialektika politik dalam kehidupan antar-bangsa

Hafidzoh Almawaliy Ruslan by Hafidzoh Almawaliy Ruslan
5 April 2023
in Personal, Rekomendasi
A A
0
Gus Dur, Sepak Bola

Gus Dur, Sepak Bola

23
SHARES
1.2k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Di masa lalu, kita tahu Gus Dur tidak hanya penggemar sepak bola. Beliau bahkan juga bekerja sebagai komentator sepak bola pada sebuah stasiun TV, sekaligus kolumnis sepak bola pada sejumlah media cetak di negeri ini. Gus Dur tidak hanya terkenal sebagai intelektual, politisi, kiai, atau budayawan belaka.

Pembatalan Indonesia sebagai tuan rumah PiaIa Dunia U-20 2023 oleh FIFA (Fédération Internationale de Football Association) hari-hari lalu karena alasan awal “situasi terkini”; Bisa jadi adalah indikasi Indonesia masih atau bahkan kian dikuasai pola pikir fundamentalis, ultra konservatif yang terus membayangi dan tingkatkan kerentanan anak negeri.

Kemanakah Gus Dur akan jejakkan kaki, bersikap dalam hal ini? Andai beliau masih hidup, menyaksikan peristiwa yang bangsanya hadapi kini.

Berikut ini ulasan singkat, tugas lagi dari “Kelas Pemikiran Gus Dur” (KPG) pada minggu akhir bertema “9 Nilai Diri”. KPG diselenggarakan Jaringan Gusdurian selama Maret 2023, dengan peserta pendaftar 1146 yang terbagi dalam 7 Batch. Sebagian besar mereka adalah anak muda usia milenial, harapan penuh Indonesia di masa depan.

Poin-poin 9 Nilai Diri

Gus Dur sesungguhnya adalah pribadi paripurna dengan 9 nilai dirinya. Nilai-nilai itu adalah ketauhidan (sprirituality), kemanusiaan (humanity), keadilan (justice), kesetaraan (equality), pembebasan (liberation), persaudaraan (solidarity), kesederhanaan (humility), keksatriaan (chivalry), dan juga kearifan (wisdom of tradition).

Karenanya, semua kerja-kerja Gus Dur akan terus terarahkan untuk penuhi 9 nilai ini. Saya yakin, itu akan berlaku pula dalam aktivitas yang beliau gemari bersama seluruh masyarakat lintas dunia, olah raga: sepak bola.

Dalam polemik hari-hari kemarin tentang kehadiran Timnas Israel U-20 ke Indonesia, pada gelaran piala FIFA nanti, kita tahu banyak suara dan kepentingan pro – kontra. Baik yang pro maupun kontra, yang menerima atau menolak kehadiran mereka, sama-sama gunakan alasan isu solidaritas bagi kemerdekaan Palestina.

Namun dalam keyakinan saya, sangat bisa jadi Gus Dur akan berada di pihak pro, yang menerima kehadiran mereka. Ia akan segera gunakan kesempatan baik ini, sebagai pintu masuk diplomasi lebih dalam lagi, untuk isu yang sama.

Bagi Gus Dur, sepak bola bukan hanya sekedar permainan. Beliau bisa menjadikannya sebagai jokes, filosofi hidup, bahkan strategi dialektika politik dalam kehidupan antar-bangsa. Kebijaksanaannya seolah akan terus menuntunnya memanfaatkan, menemukan setiap momentum, peluang; Termasuk sepak bola bagi kerja-kerja keadilan dan kemanusiaan yang jadi keyakinannya.

Dengan begitu, harapan baik terpenuhinya 9 nilai Gus Dur akan selalu tumbuh bagi mereka yang masih terus terjajah, terpinggirkan, teraniaya, alami stigma maupun ketidakadilan lain. Termasuk bagi anak-anak dan kaum perempuan yang selama ini bahkan juga jadi pihak paling rentan; Banyak menanggung penderitaan akibat konflik apapun, termasuk pula dalam konflik Palestina dan Israel.

Lepas dari Debat Kontroversi

Terlepas dari debat kontroversi sebab apa sesungguhnya FIFA batalkan Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia tersebut. Pro kontra penerimaan Timnas asal Israel, seolah jadi persoalan paling mencolok, sekaligus juga keruh karena seakan dimuati berbagai kepentingan politik, praktis maupun agama.

Pada keterangan lanjutan FIFA akhirnya memang sebut tragedi Kanjuruhan pada Oktober 2022 sebagai tolak ukur pertimbangan. Karena memang peristiwa ini telah jadi tragedi sepak bola terbesar ke dua di dunia antara Peru dan Ghana.

Kanjuruhan telan korban jiwa hingga 130-an orang lebih. Terdiri dari 90 laki-laki dan 40 perempuan. Dari angka tersebut terdapat 33 anak-anak, dengan uraian 25 anak laki-laki dan 8 anak perempuan.

Sementara di Ghana sendiri, tragedi sepak bola memilukan pernah terjadi hingga telan korban 126 jiwa, pada 2001. Sedang di Peru jatuh korban hingga 328 jiwa, pada 1964 silam. Kesemua pasalnya hampir serupa, penonton kecewa hingga terjadi pitch invasion. Lalu aparat gunakan gas air mata untuk kendalikan massa. Tapi kepanikan dan kericuhan justru makin perparah suasana.

Dengan begitu alasan tragedi Kanjuruhan saja, sepertinya cukup buat FIFA batalkan posisi Indonesia sebagai tuan rumah. Seolah tak ada masalah lain, termasuk kesiapan venue juga.

Jangan lupa, hingga kini tragedi Kanjuruhan masih terselimuti kabut. Lantaran para tersangka yang dapat vonis minim, bahkan bebas. Sedang pengadilan hanya dalilkan keganjilan tentang tiupan angin yang picu peristiwa nahas itu.

Waspada Ultra Konservatisme Agama

Namun demikian, rasanya kita tidak bisa abai begitu saja pada suara-suara penolakan itu. Memang penolakan juga datang dari barisan nasionalis. Mereka khawatirkan potensi pelanggaran terhadap Konstitusi Negara yang amanahkan penghapusan penjajahan di atas muka bumi. Sedang Israel terhadap Palestina telah demikian lama tak henti-henti lakukan agresi.

Akan tetapi yang harus terus kita waspadai adalah suara barisan fundamentalisme agama. Karena tidak hanya menolak, barisan ini juga terindikasi lakukan tekanan-tekanan yang mengarah pada laku inkonstitusi. Data-data indikasi tersebut banyak bertebaran, termasuk di media sosial tanpa bisa kita hentikan.

Negara atau siapapun tentu tidak bisa, dan tidak boleh tunduk pada kehendak tersebut. Semua tindakan yang mengarah pada ekstremisme yang terbangun atas dasar ultra konservatisme, fundamentalisme agama harus kita hentikan. Gus Dur selama masa hidupnya telah banyak berjuang dengan segenap elannya untuk halau ini semua.

Di mana Gus Dur tidak henti-hentinya lebih memilih membangun jalan dialektika lewat diplomasi yang ia jalankan hingga ke berbagai penjuru dunia. Gus Dur tegas, menolak jalan kekerasan atas nama apapun juga.

Ketauhidan Poros Utamanya

Bagaimana sesungguhnya Gus Dur bisa menjalani diplomasi “sepak bola” yang seolah ditempuhnya seorang diri ini? Tak lain, sangat bisa jadi itu karena kokohnya nilai ketauhidan Gus Dur yang selalu jadi poros utama dalam bekerja.

Kesadaran bahwa Tuhan adalah segala sumber rahmat, belas kasih bagi kehidupan semesta, telah kuatkan Gus Dur dalam perjuangan. Tentu beliau adalah pribadi yang miliki karakter basyariyah umumnya manusia lain, dengan kekurangan dan kelebihan.

Namun dalam berproses, Gus Dur tampaknya telah mampu mendaki, gapai puncak gunung tertinggi sebagai hamba yang telah ridha dan diridhai; Damai – mendamaikan, serta dikasihi seluruh Yang di langit dan siapapun yang di bumi.

Gus Dur tidak takut dengan apapun. Keberaniannya mendorongnya bekerja tidak hanya untuk diri dan keluarga, namun justru bagi sesama umat manusia hingga semesta.

Merujuk Abuya KH. Husein Muhammad, manusia dan kemanusiaan telah jadi fokus pikiran dan perhatian Gus Dur sepanjang hayat; Berhari-hari, siang dan malam, bahkan pada setiap hembusan napasnya.

Gus Dur Sungguh Mencintai Manusia

Semua itu karena Gus Dur sungguh-sungguh mencintai manusia. Beliau bekerja keras menerjemahkan nilai-nilai dan prinsip dirinya. Baik melalui tulisan-tulisan, ceramah, maupun dalam sikap hidupnya sehari-hari, di mana dan kapan pun juga.

Gus Dur bahkan sanggup telan kekecewaan, asalkan umat di sekelilingnya, apa pun latar belakang dan keyakinannya, terlindungi seluruh hak-hak dasarnya (maqashidus syari’ah/ al-kulliyyat al-khams). Kesakitan yang diterima seolah tak dirasa, tak membuat benci atau hilang rasa keadilannya pada liyan. Termasuk pada barisan fundamentalisme agama.

Gerakan fundamentalisme, ultra konservatisme itu nyata, ada, bagian dari kita, bangsa ini. Meski Gus Dur sadari jumlah mereka tak seberapa, atau tetap lebih banyak barisan “orang-orang baik” (moderat, kata Abuya Husein); Namun kesanggupan mereka lakukan kekerasan atau tindakan-tindakan inkonstitusional, harus terus dihadapi dengan strategi.

Negara harus bersedia juga menjangkau mereka, melibatkan dalam dialektika sehingga betul-betul bisa pengaruhi; Bangun kesadaran pola pikir mereka, atau siapapun juga bahwa kini tidak lagi saatnya ‘mengenyahkan’ Israel karena telah menjajah Palestina. Indonesia kini telah terlibat upaya-upaya untuk membantu terwujudnya solusi dua negara. Di mana Israel dan Palestina harus hidup bersama, berdampingan dengan damai pula.

Cinta yang Mendamaikan, Membebaskan dan Mempersatukan

Penuh yakin, Gus Dur bisa jadi juga akan melakukan itu semua. Dalam Abdurrahman Wahid, Islamku, Islam Anda, Islam Kita (2006), Gus Dur sepertinya bahkan telah ajak negara untuk ‘berhadapan’ langsung dengan mereka. Jangan biarkan pola pikir fundamentalis, ultra konservatisme itu justru yang pengaruhi kita. Apalagi buat takut negara, atau siapapun juga. Tentu ini tidak boleh, dan tidak bisa terjadi.

Kerja-kerja ketauhidan, kemanusiaan, keadilan, kesetaraan, pembebasan, persaudaraan, kesederhanaan, keksatriaan, dan juga kearifan itu, yang harus bisa dan terus terlaksana segera. Karena negara dan rakyat sesungguhnya tidaklah boleh berjarak. Dialektika, dialog timbal-balik itu semestinya bisa kita lakukan kapanpun juga.

Tak ada lagi tekanan atau ancaman. Apalagi pola pikir ultra konservatif, yang kian pula mendorong (encorage) anak-anak dan perempuan terlibat dalam ekstremisme kekerasan. Mereka harus disengaged, dan mulai berpikir serta bertindak mengutamakan perdamaian. Seperti Gus Dur yang selalu nyata berupaya damaikan Israel – Palestina; Memikirkan nasib semua umat manusia, anak-anak, laki-laki dan perempuan di sana, dengan penuh kebijaksanaan.

Memang tidak ada upaya-upaya membangun damai yang tidak melibatkan, menghadirkan kedua belah pihak, pelaku dan korban sekaligus. Dan itu tadinya mungkin saja bisa dimulai terjadinya dalam ajang olah raga, diplomasi sepak bola.

Andai semua itu terwujud, akan bisa jadi ungkapan “sekali layar terkembang, dua – tiga benua terarungi jua”. Indonesia perlahan akan bisa mulai keluarkan bangsanya sendiri dari belenggu pola pikir fundamentalis, ultra konservatisme agama; Sekaligus juga turut dalam usaha pembebasan Palestina, sumbangan besar bagi perdamaian dunia.

Mengutip tanya Gus Dur, “Sederhana dalam konsep, tapi sukar dilaksanakan bukan?” Semoga saja tidak, Gus. Dengan seluruh doa restu, Anda. Wallahu yuwaffiquna fi ma yuhibbuh wa yardhah. Wallahu a’lam bisshawab. []     

 

Tags: Diplomasigus durIndonesiaJaringan Gusduriansepak bola
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Kerja-kerja Mubadalah Itu Untuk Kesalingan, Keadilan dan Kemaslahatan

Next Post

Sesama Muslim adalah Saudara, Maka Jangan Merendahkan, Sakiti, dan Zaliminya

Hafidzoh Almawaliy Ruslan

Hafidzoh Almawaliy Ruslan

Ibu dua putri, menyukai isu perempuan dan anak, sosial, politik, tasawuf juga teologi agama-agama

Related Posts

Poskolonialisme
Publik

Aroma Poskolonialisme di Final Piala Dunia 2026: Albiceleste Kontra La Roja

17 Juli 2026
Aborsi
Pernak-pernik

Aborsi Menurut Hukum Indonesia

2 Juli 2026
Pemimpin
Publik

Pemimpin Tanpa Kepala: Membaca Kondisi Indonesia Hari Ini

18 Juni 2026
Piala Dunia 2026
Publik

Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Poskolonialisme: Kala Sepakbola Turut Mendekonstruksi Tatanan Hegemonik

16 Juni 2026
Ida Nasution
Figur

Ida Nasution: Muslimah Pertama yang Meraih Gelar Doktor di Universitas Amsterdam

8 Juni 2026
Indonesia
Publik

Masih Adakah Pancasila dalam Indonesia?

3 Juni 2026
Next Post
merendahkan

Sesama Muslim adalah Saudara, Maka Jangan Merendahkan, Sakiti, dan Zaliminya

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • HIV Menular Melalui Apa Saja? Cek Fakta dan Mitosnya
  • Apa itu AIDS?
  • Runtuhnya Bastille dan Hipokrisi Egalite: Membaca Sejarah Prancis melalui Lensa Mubadalah
  • Bolehkah Zakat Diberikan Kepada Penyintas Kekerasan?
  • Apa itu HIV?

Komentar Terbaru

  • Nur Fadiah Anisah pada Memaknai Jargon The Personal is Political: Kecemasan Kita Ternyata Diproduksi Negara!
  • Zikri Alvi Muharam pada Takut Kok Sama “Pesta Babi”
  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0