Minggu, 19 Juli 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Sejarah Prancis

    Runtuhnya Bastille dan Hipokrisi Egalite: Membaca Sejarah Prancis melalui Lensa Mubadalah

    Kekerasan di Sampang

    Lubang Perlindungan Perempuan; Akar Kekerasan di Sampang dan Pesan Fatwa KUPI

    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

    Pemadaman Listrik

    Pemadaman Listrik Bergilir: Ironi Negara Eksportir Batu Bara

    Suporter Jepang

    Kritik untuk Suporter Jepang di Piala Dunia 2026: Cuitan Warganet, Sentilan Aristoteles

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Zakat

    Bolehkah Zakat Diberikan Kepada Penyintas Kekerasan?

    Kepemimpinan Beragam Gender

    Lebih Beragam, Lebih Hijau: Mengubah Dunia Lewat Kepemimpinan Beragam Gender

    Memahami Islam

    Sudah Saatnya Memahami Islam sebagai Sumber Inspirasi

    Poskolonialisme

    Aroma Poskolonialisme di Final Piala Dunia 2026: Albiceleste Kontra La Roja

    Militerisasi

    Menyoal Militerisasi Tata Kelola Koperasi Desa

    Lagu Teh Hijau

    Lagu Teh Hijau Karya Tulus dan Seni Merayakan Kehampaan bagi Perempuan

    Hukum Adat Bali

    Karang Memadu: Bukti Hukum Adat Bali Melindungi Perempuan

    Pemberian

    Ketika Sebuah Pemberian Menjadi Tanda Kepedulian

    Nikah Sirri

    Enam Langkah Cerai Sirri bagi Perempuan yang Terjebak Nikah Sirri

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    HIV Menular

    HIV Menular Melalui Apa Saja? Cek Fakta dan Mitosnya

    Apa itu AIDS

    Apa itu AIDS?

    Apa itu HIV

    Apa itu HIV?

    Jalan Kebahagiaan

    Menggapai As-Sa’adah: Jalan Kebahagiaan Menurut Imam al-Ghazali

    HIV

    Mengapa Perempuan Lebih Rentan Tertular HIV?

    AIDS

    Jangan Percaya Mitos, Kenali Fakta tentang HIV dan AIDS

    Mencegah Penyakit Menular Seksual

    Membangun Kesadaran Masyarakat untuk Mencegah Penyakit Menular Seksual

    Pengobatan Penyakit Menular

    Tips Menjalani Pengobatan Penyakit Menular Seksual agar Tidak Menulari Pasangan

    Penyakit Menular

    7 Cara Mencegah Penyebaran Penyakit Menular Seksual di Masyarakat

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Sejarah Prancis

    Runtuhnya Bastille dan Hipokrisi Egalite: Membaca Sejarah Prancis melalui Lensa Mubadalah

    Kekerasan di Sampang

    Lubang Perlindungan Perempuan; Akar Kekerasan di Sampang dan Pesan Fatwa KUPI

    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

    Pemadaman Listrik

    Pemadaman Listrik Bergilir: Ironi Negara Eksportir Batu Bara

    Suporter Jepang

    Kritik untuk Suporter Jepang di Piala Dunia 2026: Cuitan Warganet, Sentilan Aristoteles

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Zakat

    Bolehkah Zakat Diberikan Kepada Penyintas Kekerasan?

    Kepemimpinan Beragam Gender

    Lebih Beragam, Lebih Hijau: Mengubah Dunia Lewat Kepemimpinan Beragam Gender

    Memahami Islam

    Sudah Saatnya Memahami Islam sebagai Sumber Inspirasi

    Poskolonialisme

    Aroma Poskolonialisme di Final Piala Dunia 2026: Albiceleste Kontra La Roja

    Militerisasi

    Menyoal Militerisasi Tata Kelola Koperasi Desa

    Lagu Teh Hijau

    Lagu Teh Hijau Karya Tulus dan Seni Merayakan Kehampaan bagi Perempuan

    Hukum Adat Bali

    Karang Memadu: Bukti Hukum Adat Bali Melindungi Perempuan

    Pemberian

    Ketika Sebuah Pemberian Menjadi Tanda Kepedulian

    Nikah Sirri

    Enam Langkah Cerai Sirri bagi Perempuan yang Terjebak Nikah Sirri

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    HIV Menular

    HIV Menular Melalui Apa Saja? Cek Fakta dan Mitosnya

    Apa itu AIDS

    Apa itu AIDS?

    Apa itu HIV

    Apa itu HIV?

    Jalan Kebahagiaan

    Menggapai As-Sa’adah: Jalan Kebahagiaan Menurut Imam al-Ghazali

    HIV

    Mengapa Perempuan Lebih Rentan Tertular HIV?

    AIDS

    Jangan Percaya Mitos, Kenali Fakta tentang HIV dan AIDS

    Mencegah Penyakit Menular Seksual

    Membangun Kesadaran Masyarakat untuk Mencegah Penyakit Menular Seksual

    Pengobatan Penyakit Menular

    Tips Menjalani Pengobatan Penyakit Menular Seksual agar Tidak Menulari Pasangan

    Penyakit Menular

    7 Cara Mencegah Penyebaran Penyakit Menular Seksual di Masyarakat

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Featured

Hari Raya Waisak: Mengenal 7 Tradisi dan Nilai-Nilai Kebaikan Umat Buddha

Beragama itu tidak boleh berhenti hanya dengan rajin ibadah ritual saja, tetapi juga harus dibarengi dengan ibadah sosial, yaitu menghormati orang lain, tidak menyakiti sesama dan menolong orang yang membutuhkan.

Revalina Setyaningrum by Revalina Setyaningrum
12 Mei 2025
in Featured, Publik
A A
0
31
SHARES
1.5k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Hari Raya Waisak merupakan hari besar untuk umat Buddha dalam rangka memperingati tiga peristiwa penting sang Buddha Gautama, yaitu lahirnya Pangeran Siddhartha Gautama tahun 623 SM di Taman Lumbini, Pangeran Siddharta mencapai Penerangan Agung dan menjadi Buddha pada usia 35 tahun pada tahun 588 SM, dan yang terakhir kematian Buddha Gautama di usia 80 tahun, tepatnya pada 543 SM.

Setiap tahunnya, perayaan ini dipenuhi dengan berbagai kegiatan religius dan tradisi yang sarat makna spiritual. Mulai dari meditasi hingga mengibarkan bendera Buddha, seluruh rangkaian perayaan Waisak menjadi refleksi atas ajaran Buddha tentang cinta kasih, kedamaian, dan pembebasan dari penderitaan.

7 Tradisi Umat Buddha Jelang Perayaan Hari Raya Waisak

Melansir dari Antaranews.com disebutkan bahwa setidaknya ada 7 tradisi yang biasa dilakukan oleh umat Buddha pada saat peringatan Hari Raya Waisak.

Pertama, mengamalkan lima sila Buddha. Bagi umat Buddha, Lima Sila bukan hanya dijalankan saat Waisak, melainkan menjadi prinsip hidup yang dipegang setiap hari. Lima Sila ini tertuang dalam Kitab Tripitaka dan menjadi landasan moral untuk menjauhi tindakan yang merugikan makhluk hidup lain maupun diri sendiri.

Adapun isi dari lima sila tersebut ialah  Panatipata veramani sikkhapadang samadiyami (Aku bertekad melatih diri untuk tidak membunuh makhluk hidup), Adidana veramani sikkhapadang samadiyami (Aku bertekad melatih diri untuk tidak mengambil sesuatu yang bukan hakku), Kamesumiccharacara veramani sikkhapadang samadiyami (Aku bertekad melatih diri untuk menjauhi perilaku asusila).

Lalu ada juga sila tentang Musavada veramani sikkhapadang samadiyami (Aku bertekad melatih diri untuk tidak berkata tidak benar) dan Surameraya majjapamadattana veramani sikkhapadang samadiyami (Aku bertekad melatih diri untuk tidak mengonsumsi zat yang menyebabkan hilangnya kesadaran).

Kedua, meditasi, perenungan, dan ibadah di Vihara. Tradisi yang tidak terpisahkan dari Waisak. Biasanya Umat Buddha akan berkumpul di vihara untuk merenungkan kembali ajaran Sang Buddha serta mencari ketenangan batin. Di momen ini mereka juga akan membaca ayat suci (paritta) dan mantra-mantra untuk menambah kekhusyukan proses meditasi.

Selain meditasi, di Vihara juga diselenggarakan berbagai upacara keagamaan, seperti puja bhakti, khotbah dari para biksu, hingga ritual khusus yang memperkuat nilai-nilai spiritual. Momen ini sering ditutup dengan makan bersama untuk mempererat kebersamaan.

Prosesi Pindapata

Ketiga, prosesi pindapata. Dalam tradisi ini Umat Buddha dengan penuh rasa hormat akan memberikan persembahan kepada biksu yang berjalan mengelilingi lingkungan sekitar. Tradisi ini merupakan simbol nyata dari sikap berbagi welas asih.

Keempat, memandikan patung Buddha. Dalam prosesi ini, umat menuangkan air secara perlahan ke atas patung Buddha kecil.

Siapa sangka ternyata ritual ini bukan hanya bermakna penyucian sebuah benda, tetapi juga sebagai simbol keinginan untuk membersihkan diri dari dosa dan pikiran negatif, sekaligus menumbuhkan kesadaran untuk menjaga kejernihan hati.

Kelima, menyalakan lilin dan melepas lampion. Cahaya menjadi simbol yang sangat kuat dalam perayaan Waisak. Salah satu wujudnya adalah penyalaan lilin berbentuk bunga lotus, yang melambangkan terang pengetahuan dan kebijaksanaan yang mampu mengusir kegelapan dalam batin.

Lampion-lampion tersebut membawa serta doa dan harapan umat akan kehidupan yang damai dan penuh kesejahteraan. Tradisi ini biasanya dilakukan di tempat suci seperti Candi Borobudur dan berlangsung dengan penuh khidmat.

Busana Serba Putih

Keenam, mengenakan busana serba putih. Meskipun bukan suatu kewajiban, mengenakan pakaian berwarna putih saat perayaan Waisak kerap dianjurkan oleh para pemuka agama Buddha.

Warna putih dipandang sebagai simbol kesucian dan kejernihan batin. Melalui busana putih, umat mengekspresikan rasa hormat dan ketulusan dalam menjalani rangkaian ritual serta perenungan spiritual selama perayaan berlangsung.

Ketujuh, aksi sosial dan kegiatan bakti. Dalam rangka menyambut Hari Waisak, berbagai komunitas dan kelompok umat Buddha turut berpartisipasi dalam kegiatan sosial.

Umat Buddha biasanya akan mengunjungi panti asuhan, rumah sakit, serta lembaga sosial lainnya untuk menyalurkan bantuan, baik berupa barang, makanan, maupun dukungan moral. Kegiatan ini mencerminkan semangat welas asih serta ajaran Buddha mengenai pentingnya melayani sesama dengan ketulusan hati.

Inspirasi Kebaikan dari 7 Tradisi Hari Raya Waisak

Sebagai seorang muslim, sungguh saya kagum dengan nilai-nilai yang terdapat dalam 7 tradisi Umat Buddha tersebut. Bagaimana tidak, saat ini masih banyak kelompok agama yang merasa paling benar. Sehingga enggan untuk berteman apalagi berbagi dengan yang bukan kelompoknya.

Namun, tidak dengan Umat Buddha. Setidaknya dalam proses merayakan Hari Raya Suci Waisak kita bisa melihat bahwa mereka terus melakukan perenungan atas ajaran-ajaran yang diyakininya, sambil terus mengelola hati dan pikiran agar tidak mudah berprasangka buruk, menghakimi apalagi melakukan kekerasan pada orang lain.

Selain itu, Umat Buddha juga memastikan supaya apa yang mereka yakini tidak hanya berhenti pada simbol saja. Tetapi juga menjelma menjadi perbuatan baik ajaran tentang welas asih dan berbagi pada sesama misalnya.

Tentu teladan-teladan menjadi inspirasi tersendiri untuk saya yang beragama Islam. Ternyata beragama itu tidak boleh berhenti hanya dengan rajin ibadah ritual saja. Tetapi juga harus dibarengi dengan ibadah sosial, yaitu menghormati orang lain, tidak menyakiti sesama dan menolong orang yang membutuhkan. []

Tags: 7 TradisiHari Raya WaisakkebaikanmengenalNilai-NilaiUmat Buddha
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Mengenal Paus Leo XIV: Harapan Baru Penerus Paus Fransiskus

Next Post

Dampak Tambang Ilegal di Merapi: Sumber Air Mengering, Lingkungan Rusak

Revalina Setyaningrum

Revalina Setyaningrum

Saya adalah Mahasantriwa Sarjana Ulama Perempuan Indonesia, ISIF Cirebon

Related Posts

Metode KB Mana
Uncategorized

Mengenal Metode KB Tradisional: Mana yang Efektif dan Mana yang Berbahaya?

24 Juni 2026
KB ALami
Pernak-pernik

Mengenal Metode KB Alami: Cara Memahami Masa Subur untuk Mencegah Kehamilan

23 Juni 2026
KB
Pernak-pernik

Mengenal KB Spiral (IUD), Alat Kontrasepsi yang Bisa Mencegah Kehamilan hingga 10 Tahun

22 Juni 2026
Suntik KB
Pernak-pernik

Mengenal Suntik KB Kombinasi, Kontrasepsi Hormonal yang Membantu Menjaga Siklus Haid Tetap Teratur

22 Juni 2026
Mengenal Kondom
Pernak-pernik

Mengenal Kondom Perempuan

15 Juni 2026
Anemia
Pernak-pernik

Mengenali Anemia dan Gangguan Haid pada Perempuan Usia 40–50 Tahun

28 Mei 2026
Next Post
Merapi

Dampak Tambang Ilegal di Merapi: Sumber Air Mengering, Lingkungan Rusak

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • HIV Menular Melalui Apa Saja? Cek Fakta dan Mitosnya
  • Apa itu AIDS?
  • Runtuhnya Bastille dan Hipokrisi Egalite: Membaca Sejarah Prancis melalui Lensa Mubadalah
  • Bolehkah Zakat Diberikan Kepada Penyintas Kekerasan?
  • Apa itu HIV?

Komentar Terbaru

  • Nur Fadiah Anisah pada Memaknai Jargon The Personal is Political: Kecemasan Kita Ternyata Diproduksi Negara!
  • Zikri Alvi Muharam pada Takut Kok Sama “Pesta Babi”
  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0