Mubadalah.id – Pos kesehatan, klinik, maupun puskesmas perlu menjadi ruang yang ramah bagi ibu menyusui. Dukungan dari tenaga kesehatan sangat penting agar ibu merasa percaya diri dan nyaman dalam memberikan ASI kepada bayinya.
Karena itu, setelah pasien selesai melahirkan, bayi sebaiknya segera diberikan kepada ibunya untuk disusui dalam satu jam pertama kelahiran. Tenaga kesehatan juga perlu mengajarkan cara menyusui yang baik sekaligus memberikan penjelasan mengenai berbagai persoalan yang mungkin muncul selama proses menyusui.
Selain itu, ibu dan bayi sebaiknya tidak terpisah. Jika tidak memungkinkan berada di satu tempat tidur, bayi tetap perlu diletakkan sedekat mungkin dengan ibunya agar proses menyusui lebih mudah dilakukan.
Saat ibu mengalami kesulitan atau sedang sakit, tenaga kesehatan perlu memberikan dukungan dan menenangkan ibu bahwa ASI tetap aman bagi bayinya. Dengan begitu, ibu akan lebih yakin untuk terus menyusui.
Bagi tenaga kesehatan yang juga seorang ibu menyusui, membawa bayi ke tempat kerja dan tetap memberikan ASI dapat menjadi contoh nyata bagi para pasien, khususnya ibu yang bekerja di luar rumah. Hal ini menunjukkan bahwa bekerja dan menyusui tetap bisa berjalan bersamaan.
Di sisi lain, fasilitas kesehatan juga perlu bebas dari promosi susu formula. Poster iklan maupun bahan promosi susu buatan pabrik sebaiknya tidak kita pasang di klinik, puskesmas, maupun balai desa. Tenaga kesehatan juga tidak membagikan sampel susu formula kepada pasien atau masyarakat.
Selain itu, perusahaan susu formula sebaiknya tidak kita beri ruang untuk memasarkan produknya di fasilitas kesehatan. Sebab, dukungan terhadap ASI tidak cukup hanya melalui kata-kata atau penyuluhan. Tetapi juga perlu kita wujudkan dalam tindakan nyata dan keberpihakan yang jelas kepada ibu menyusui.
*)Sumber Tulisan: Buku Bila Perempuan Tidak Ada Dokter karya A. August Bruns dkk hlm 159. []










































