Sabtu, 4 Juli 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

    Pemadaman Listrik

    Pemadaman Listrik Bergilir: Ironi Negara Eksportir Batu Bara

    Suporter Jepang

    Kritik untuk Suporter Jepang di Piala Dunia 2026: Cuitan Warganet, Sentilan Aristoteles

    Slut Shaming

    Slut Shaming: Ruang Digital tidak Ramah Terhadap Perempuan Kritis

    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Feminisme: Kala Perempuan Tak Melulu Menjadi Penghibur

    Aliansi Perempuan Indonesia

    Aliansi Perempuan Indonesia Turun ke Jalan Tolak Kenaikan Harga

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Demonstrasi

    Mengapa Demonstrasi Tetap Penting?

    Makna Iddah

    Menakar Ulang Makna Iddah dalam Relasi Perkawinan

    Putri

    Menjadi Guru bagi Putri, Anak dengan Disabilitas Intelektual

    Pemain Diaspora

    Fenomena Pemain Diaspora Piala Dunia 2026 dalam Lensa Mubadalah

    Pengelolaan Sampah

    Implementasi Nilai Kesemestaan KUPI dalam Pengelolaan Sampah Pondok Pesantren

    Anak Autisme

    Menjaga Emosi Tetap Stabil dari Pola Makan bagi Anak Autisme dan Down Syndrome

    Anak Disabilitas

    Stabilitas Keluarga, Kunci Utama Menjaga Hak Anak Disabilitas

    Masa Depan Anak

    Momen Lulus Sekolah: Siapa yang Berhak Menentukan Masa Depan Anak?

    Memaknai Mahar

    Memaknai Mahar sebagai Penghormatan, Bukan Pembelian

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Setelah Aborsi

    Perawatan Setelah Aborsi: Kenali Tanda Normal dan Gejala yang Harus Diwaspadai

    Aborsi

    Begini Ciri-ciri Layanan Aborsi yang Aman Menurut Standar Kesehatan

    Layanan Aborsi

    Bagaimana Mengetahui Layanan Aborsi Aman atau Tidak? Ini 9 Tandanya

    Obat Aborsi

    3 Jenis Obat yang Aman Digunakan untuk Aborsi

    Aborsi

    Mengenal Aborsi dengan Obat serta Risiko yang Perlu Diwaspadai

    Aborsi Aman

    2 Metode Aborsi yang Aman dalam Layanan Medis

    Aborsi

    Aborsi Menurut Hukum Indonesia

    Aborsi legal

    Sulitnya Akses Aborsi Legal dan Bahaya Praktik Aborsi Ilegal

    Aborsi

    Kapan Aborsi Diperbolehkan? Memahami Ketentuan di Berbagai Negara

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

    Pemadaman Listrik

    Pemadaman Listrik Bergilir: Ironi Negara Eksportir Batu Bara

    Suporter Jepang

    Kritik untuk Suporter Jepang di Piala Dunia 2026: Cuitan Warganet, Sentilan Aristoteles

    Slut Shaming

    Slut Shaming: Ruang Digital tidak Ramah Terhadap Perempuan Kritis

    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Feminisme: Kala Perempuan Tak Melulu Menjadi Penghibur

    Aliansi Perempuan Indonesia

    Aliansi Perempuan Indonesia Turun ke Jalan Tolak Kenaikan Harga

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Demonstrasi

    Mengapa Demonstrasi Tetap Penting?

    Makna Iddah

    Menakar Ulang Makna Iddah dalam Relasi Perkawinan

    Putri

    Menjadi Guru bagi Putri, Anak dengan Disabilitas Intelektual

    Pemain Diaspora

    Fenomena Pemain Diaspora Piala Dunia 2026 dalam Lensa Mubadalah

    Pengelolaan Sampah

    Implementasi Nilai Kesemestaan KUPI dalam Pengelolaan Sampah Pondok Pesantren

    Anak Autisme

    Menjaga Emosi Tetap Stabil dari Pola Makan bagi Anak Autisme dan Down Syndrome

    Anak Disabilitas

    Stabilitas Keluarga, Kunci Utama Menjaga Hak Anak Disabilitas

    Masa Depan Anak

    Momen Lulus Sekolah: Siapa yang Berhak Menentukan Masa Depan Anak?

    Memaknai Mahar

    Memaknai Mahar sebagai Penghormatan, Bukan Pembelian

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Setelah Aborsi

    Perawatan Setelah Aborsi: Kenali Tanda Normal dan Gejala yang Harus Diwaspadai

    Aborsi

    Begini Ciri-ciri Layanan Aborsi yang Aman Menurut Standar Kesehatan

    Layanan Aborsi

    Bagaimana Mengetahui Layanan Aborsi Aman atau Tidak? Ini 9 Tandanya

    Obat Aborsi

    3 Jenis Obat yang Aman Digunakan untuk Aborsi

    Aborsi

    Mengenal Aborsi dengan Obat serta Risiko yang Perlu Diwaspadai

    Aborsi Aman

    2 Metode Aborsi yang Aman dalam Layanan Medis

    Aborsi

    Aborsi Menurut Hukum Indonesia

    Aborsi legal

    Sulitnya Akses Aborsi Legal dan Bahaya Praktik Aborsi Ilegal

    Aborsi

    Kapan Aborsi Diperbolehkan? Memahami Ketentuan di Berbagai Negara

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom Keluarga

Multitasking itu Keren? Mitos Melelahkan yang Membebani Ibu Rumah Tangga

Keep in mind: ibu rumah tangga bukanlah makhluk dengan kekuatan super. No. Mereka bukan robot, bukan juga dewi multitasking.

Nadhira Yahya by Nadhira Yahya
17 Juni 2025
in Keluarga
A A
0
Ibu Rumah Tangga

Ibu Rumah Tangga

30
SHARES
1.5k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Di berbagai sudut media sosial, kita sering menemukan potret ibu rumah tangga yang tampak seperti “superhero.” Memasak sambil menggendong anak, menyapu sambil menjawab telepon, membereskan rumah sambil mengurus belanja bulanan, semua ibu lakukan dalam satu tarikan napas. Lalu muncullah pujian-pujian bernada kagum: “Ibu-ibu itu luar biasa ya, multitasking-nya keren banget!” atau “Ibu rumah tangga itu pekerjaan paling hebat sedunia!”

Tapi mari kita berhenti sejenak dan merenung: benarkah semua ini keren? Atau jangan-jangan kita sedang memaklumi sebuah beban struktural yang begitu berat, dengan mengemasnya dalam pujian yang sebenarnya kosong? Karena di balik narasi “ibu multitasking itu hebat”, tersembunyi realitas yang jauh dari glamor: kelelahan mental, invisibilitas peran, dan tuntutan tanpa batas.

Sejak kecil, banyak perempuan tumbuh dengan narasi bahwa menjadi ibu berarti harus siap mengorbankan diri. Menjadi ibu rumah tangga sering kali dimaknai sebagai puncak pengabdian: memasak dengan cinta, membersihkan rumah dengan senyum, mengurus anak dengan penuh kesabaran. Semua dilakukan tanpa keluhan, karena katanya, “itulah kodrat perempuan.” Hmmm, rasanya cukup bikin narik napas panjang.

Kemudian, muncullah stereotip ibu multitasking sebagai bentuk ideal. Sosok yang bisa mengerjakan lima hal dalam satu waktu dianggap keren, kuat, bahkan menjadi inspirasi. Namun, kita jarang bertanya: mengapa semua itu harus kita lakukan sendiri? Mengapa pekerjaan rumah dan pengasuhan kita anggap sebagai tanggung jawab utama ibu, sementara ayah kita sebut “membantu” saat ikut serta?

Pujian terhadap kemampuan multitasking ini, yang seolah penuh kekaguman, sebenarnya menormalisasi beban yang tidak manusiawi. Kita lebih suka memuji ibu yang kuat, daripada mempertanyakan mengapa ia harus sekuat itu. Dan di sinilah letak kemirisannya.

Normalisasi Beban Ganda

Banyak penelitian menunjukkan bahwa multitasking dalam jangka panjang justru menurunkan produktivitas dan meningkatkan stres. Tubuh dan pikiran manusia tidak didesain untuk terus-menerus beralih fokus dalam waktu singkat.

Ketika ibu harus berpindah dari menyuapi anak, ke menyetrika, ke menjawab pesan sekolah, ke membereskan mainan, semua dalam waktu satu jam, apa yang terjadi bukanlah efisiensi, tapi kelelahan yang tak sempat kita beri nama.

Ibu rumah tangga sering mengalami kelelahan emosional (emotional labor) yang tidak terlihat. Mereka mengatur jadwal keluarga, mengingatkan jadwal imunisasi, memperhatikan suasana hati anak dan pasangan, dan tetap dituntut untuk tersenyum.

Multitasking di sini bukan pilihan, melainkan paksaan struktural karena tidak ada sistem pendukung yang memadai. Lalu kita balut semua itu dengan kata “hebat”, agar tampak indah di permukaan.

Masalahnya bukan pada pujian itu sendiri, melainkan pada pujian yang tidak kita sertai aksi nyata. Mengatakan “ibu itu pahlawan tanpa tanda jasa” tidak akan mengurangi cucian di keranjang atau piring di wastafel. Kita terlalu sering memuliakan perempuan dalam retorika, tapi membiarkan mereka sendirian dalam praktik. Iya?

Percayalah, ibu rumah tangga tidak butuh gelar “multitasker sejati” jika itu hanya akan membuat beban mereka tampak wajar. Mereka tidak butuh pujian tentang ketangguhan jika itu hanya menjadi alasan bagi orang-orang di sekitarnya untuk lepas tangan.

Yang mereka butuhkan adalah sistem pendukung yang adil. Pasangan yang setara, anak-anak yang belajar bertanggung jawab. Masyarakat yang tidak membebani perempuan dengan ekspektasi tanpa batas.

Bagaimana caranya?

Kita bisa mulai dengan hal sederhana: berhenti menyebut ayah yang mengganti popok sebagai “bapak luar biasa.” Karena seharusnya, itu adalah hal yang biasa. Atau berhenti menilai perempuan dari seberapa bersih rumahnya atau seberapa teratur anaknya. Karena ukuran perempuan tidak seharusnya kita ukur dari keberhasilannya “mengatur segalanya.”

Kita hidup dalam budaya yang masih melihat peran domestik sebagai urusan perempuan. Bahkan ketika perempuan bekerja di luar rumah, urusan dapur, cucian, dan anak tetap dianggap “wilayah ibu.” Itulah mengapa ibu bekerja pun tetap dituntut multitasking. Pagi memasak, siang rapat, sore antar les, malam menyuapi anak sambil membalas email. Sebaliknya, laki-laki yang bekerja penuh waktu sering kali tak dituntut untuk tetap aktif di ranah domestik.

Muaknya lagi, multitasking menjadi mitos kemegahan yang justru menutupi ketimpangan peran. Kita lupa bahwa rumah adalah ruang bersama, dan pekerjaan rumah tangga adalah tanggung jawab kolektif. Jika kita terus menerus menyanjung ibu sebagai “dewi serba bisa”, di situlah kita gagal menciptakan ruang yang adil dan manusiawi.

Sudah waktunya kita mengganti pujian kosong dengan aksi nyata. Mari bantu ibu rumah tangga bukan hanya saat mereka terlihat kewalahan, tapi juga saat mereka terlihat “baik-baik saja.” Karena sering kali yang tersenyum pun sedang lelah. Bantu dengan mengambil alih sebagian beban. Dengan berbagi peran. Dengan tidak menganggap keberesannya sebagai sesuatu yang “otomatis terjadi.”

Ibu bukan Dewi Multitasking

Kita juga perlu mendidik anak-anak laki-laki sejak dini bahwa mengurus rumah bukanlah “membantu ibu,” tapi bagian dari menjadi manusia yang bertanggung jawab. Kita perlu mengubah sistem pendidikan yang masih bias gender, membentuk media yang tidak hanya menampilkan perempuan sebagai “penjaga rumah,” tapi juga sebagai manusia utuh dengan hak untuk lelah, beristirahat, dan mengatakan “aku butuh bantuan.”

Keep in mind: ibu rumah tangga bukanlah makhluk dengan kekuatan super. No. Mereka bukan robot, bukan juga dewi multitasking. Mereka manusia biasa yang berusaha melakukan yang terbaik di tengah tuntutan yang tidak masuk akal. Yang mereka butuhkan bukanlah piala atau panggung, tapi ruang untuk bernapas. Bukan sekadar apresiasi dalam bentuk caption Instagram, bukan juga omong kosong, tapi kehadiran nyata yang meringankan beban.

Mari berhenti memuja multitasking seolah itu mahkota. Karena di balik kemampuan itu, ada tubuh yang letih, pikiran yang penat, dan hati yang kadang merasa sendirian.

Ibu rumah tangga tidak butuh dipuji, tapi butuh kita bantu. Catet! []

 

 

 

 

Tags: Beban Gandam Stigmaibu rumah tanggakeluargamultitaskingpengasuhanRelasiStereotip
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Melihat lebih Dekat Tradisi Sasi: Kearifan Lokal yang Melestarikan Laut Raja Ampat

Next Post

Nabi Saw Memuliakan dan Menolak Semua Tindakan Kekerasan Terhadap Perempuan

Nadhira Yahya

Nadhira Yahya

Gender Equality Enthusiast. Menyimak, menulis, menyuarakan perempuan.

Related Posts

Esok Tanpa Ibu
Film

Mengapa Harus Ai-BU? Kritik atas Imajinasi Penyembuhan dalam Esok Tanpa Ibu

4 Juli 2026
Makna Iddah
Keluarga

Menakar Ulang Makna Iddah dalam Relasi Perkawinan

4 Juli 2026
Seni Memahami Kekasih
Film

Seni Memahami Kekasih: Antara Agus, Kalis, dan Kisah Cinta Ugal-ugalan yang Memberikan Banyak Pelajaran

3 Juli 2026
Anak Autisme
Disabilitas

Menjaga Emosi Tetap Stabil dari Pola Makan bagi Anak Autisme dan Down Syndrome

3 Juli 2026
Anak Disabilitas
Disabilitas

Stabilitas Keluarga, Kunci Utama Menjaga Hak Anak Disabilitas

2 Juli 2026
Masa Depan Anak
Keluarga

Momen Lulus Sekolah: Siapa yang Berhak Menentukan Masa Depan Anak?

2 Juli 2026
Next Post
Kekerasan Perempuan yang

Nabi Saw Memuliakan dan Menolak Semua Tindakan Kekerasan Terhadap Perempuan

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Mengapa Demonstrasi Tetap Penting?
  • Mengapa Harus Ai-BU? Kritik atas Imajinasi Penyembuhan dalam Esok Tanpa Ibu
  • Perawatan Setelah Aborsi: Kenali Tanda Normal dan Gejala yang Harus Diwaspadai
  • Dari Maskulinitas Hegemonik ke Maskulinitas Mubadalah: Akar Kekerasan Seksual dalam Paparan Katrin Bandel
  • Begini Ciri-ciri Layanan Aborsi yang Aman Menurut Standar Kesehatan

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0