Selasa, 21 Juli 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Sepak Bola Dunia

    Perempuan di Balik Layar Bintang Sepak Bola Dunia

    Sejarah Prancis

    Runtuhnya Bastille dan Hipokrisi Egalite: Membaca Sejarah Prancis melalui Lensa Mubadalah

    Kekerasan di Sampang

    Lubang Perlindungan Perempuan; Akar Kekerasan di Sampang dan Pesan Fatwa KUPI

    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

    Pemadaman Listrik

    Pemadaman Listrik Bergilir: Ironi Negara Eksportir Batu Bara

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Nafkah Skincare

    Nafkah Skincare, Antara Kosmetik Tersier dan Hak Kesehatan Reproduksi Istri

    Anak dengan Down Syndrome

    Memahami Emosi Anak dengan Down Syndrome

    Kehamilan

    Mengapa Kehamilan Perlu Diputuskan Bersama?

    Dimensi Akhlak dalam Talak

    Tadarus Subuh ke 198: Dimensi Akhlak dalam Talak

    Humor Disabilitas

    Ironi Humor Disabilitas di Era Konten Viral

    Zakat

    Bolehkah Zakat Diberikan Kepada Penyintas Kekerasan?

    Kepemimpinan Beragam Gender

    Lebih Beragam, Lebih Hijau: Mengubah Dunia Lewat Kepemimpinan Beragam Gender

    Memahami Islam

    Sudah Saatnya Memahami Islam sebagai Sumber Inspirasi

    Poskolonialisme

    Aroma Poskolonialisme di Final Piala Dunia 2026: Albiceleste Kontra La Roja

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Tes HIV

    Kapan Sebaiknya Menjalani Tes HIV?

    Tes HIV

    Apa yang Harus Dilakukan Setelah Hasil Tes HIV Positif?

    Periode Jendela HIV

    Apa Itu Periode Jendela HIV? Ini Penjelasan dan Contohnya

    Virus HIV

    Mengenal Periode Jendela Virus HIV dan Cara Membaca Hasil Tes

    Perempuan HIV

    HIV pada Perempuan: Risiko Lebih Besar dan Enam Cara Mencegahnya

    HIV

    Mengapa Perempuan Lebih Rentan terhadap HIV? Ini Penjelasannya

    HIV Menular

    HIV Menular Melalui Apa Saja? Cek Fakta dan Mitosnya

    Apa itu AIDS

    Apa itu AIDS?

    Apa itu HIV

    Apa itu HIV?

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Sepak Bola Dunia

    Perempuan di Balik Layar Bintang Sepak Bola Dunia

    Sejarah Prancis

    Runtuhnya Bastille dan Hipokrisi Egalite: Membaca Sejarah Prancis melalui Lensa Mubadalah

    Kekerasan di Sampang

    Lubang Perlindungan Perempuan; Akar Kekerasan di Sampang dan Pesan Fatwa KUPI

    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

    Pemadaman Listrik

    Pemadaman Listrik Bergilir: Ironi Negara Eksportir Batu Bara

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Nafkah Skincare

    Nafkah Skincare, Antara Kosmetik Tersier dan Hak Kesehatan Reproduksi Istri

    Anak dengan Down Syndrome

    Memahami Emosi Anak dengan Down Syndrome

    Kehamilan

    Mengapa Kehamilan Perlu Diputuskan Bersama?

    Dimensi Akhlak dalam Talak

    Tadarus Subuh ke 198: Dimensi Akhlak dalam Talak

    Humor Disabilitas

    Ironi Humor Disabilitas di Era Konten Viral

    Zakat

    Bolehkah Zakat Diberikan Kepada Penyintas Kekerasan?

    Kepemimpinan Beragam Gender

    Lebih Beragam, Lebih Hijau: Mengubah Dunia Lewat Kepemimpinan Beragam Gender

    Memahami Islam

    Sudah Saatnya Memahami Islam sebagai Sumber Inspirasi

    Poskolonialisme

    Aroma Poskolonialisme di Final Piala Dunia 2026: Albiceleste Kontra La Roja

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Tes HIV

    Kapan Sebaiknya Menjalani Tes HIV?

    Tes HIV

    Apa yang Harus Dilakukan Setelah Hasil Tes HIV Positif?

    Periode Jendela HIV

    Apa Itu Periode Jendela HIV? Ini Penjelasan dan Contohnya

    Virus HIV

    Mengenal Periode Jendela Virus HIV dan Cara Membaca Hasil Tes

    Perempuan HIV

    HIV pada Perempuan: Risiko Lebih Besar dan Enam Cara Mencegahnya

    HIV

    Mengapa Perempuan Lebih Rentan terhadap HIV? Ini Penjelasannya

    HIV Menular

    HIV Menular Melalui Apa Saja? Cek Fakta dan Mitosnya

    Apa itu AIDS

    Apa itu AIDS?

    Apa itu HIV

    Apa itu HIV?

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Buku

Relasi Mubadalah Muslim dengan Umat Berbeda Agama Part II

Ada banyak orang yang mungkin mengklaim menyatu dengan Allah atau menjadi juru bicara-Nya, tetapi jika tidak kita barengi dengan relasi kesalingan dan persaudaraan antar sesama maka klaimnya adalah bohong dan palsu

Zaprulkhan by Zaprulkhan
4 Januari 2023
in Buku
A A
1
Relasi Mubadalah

Relasi Mubadalah

11
SHARES
535
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Sebelumnya di artikel “Relasi Mubadalalah Muslim dengan Umat Berbeda Agama Part I” Penulis menjelaskan tentang perspektif mubadalah, bagaimana konsep ini juga bisa kita gunakan untuk menjalin relasi dengan umat yang berbeda agama. Penulis melanjutkan dalam artikel bagian kedua ini, masih dari buku yang sama. Bagaimana ketika umat Islam diboikot selama tiga tahun (616-619 M), salah satu tokoh utama yang meluapkan kemarahan terhadap pemboikotan ini adalah Muth’im bin ‘Adi.

Pemboikotan Mun’im Bin ‘Adi

Ia menggalang kekuatan dengan mengajak berbagai anak muda Arab untuk membatalkan pemboikotan. Ia tidak masuk Islam kala itu, alias musyrik. Tetapi akhlak mulia yang nenek moyangnya wariskan, menolak dia untuk bergabung pada isolasi yang zalim dan mematikan umat Islam itu.

Karena posisinya yang bukan Islam, ia bisa masuk, bertemu dan menggedor semua pimpinan kabilah Arab, termasuk orang-orang Quraisy. Ia berhasil. Orang-orang Arab dan Quraisy pada akhirnya membatalkan pemboikotan dan isolasi, serta kembali bisa berelasi sosial dengan Nabi Muhammad Saw dan umat Islam.

Di berbagai pertemuan, Muth’im bin ‘Adi  membuat pernyataan dengan lantang, “Aku yang melindungi Muhammad! Siapa pun tidak boleh melukai dan menyakitinya.”

Bersama ketujuh anaknya, Muth’im bin ‘Adi mengitari tempat-tempat pertemuan para pemuka Quraisy. “Kamu ikut masuk Islam atau hanya memberi suaka perlindungan? ” tanya Abu Jahal kepada Muth’im bin ‘Adi.

“Aku hanya memberinya perlindungan” jawab Muth’im bin ‘Adi.

Dan, Nabi Muhammad Saw pun tinggal di rumah Muth’im bin ‘Adi dengan pengawalan ketat anak-anaknya.

Mengingat jasa besar Muth’im bin ‘Adi, Nabi Muhammad Saw pernah menyampaikan bahwa semua tawanan Perang Badar akan ia lepaskan jika yang memintanya adalah Muth’im bin ‘Adi. Perang Badar adalah perang antara pasukan Nabi Muhammad Saw dengan tentara kafir Quraisy Makkah. Nabi memenangkan peperangan ini dan sekitar 70 orang menjadi tawanan.

Penjelasan Kang Faqih

“Demikian ini”, tulis Kang Faqih, “mengisyaratkan bahwa perbedaan agama tidak menghalangi Nabi Muhammad Saw untuk tetap memiliki hubungan yang baik, menerima dukungan mereka, memberi dukungan terhadap mereka, dan terutama memberi apresiasi atas peran dan jasa baik mereka terhadap kehidupan umat Islam. Rasa syukur dan berterima kasih adalah bagian dasar dari ajaran Islam, termasuk kepada orang yang tidak beragama Islam. Inilah teladan dan inspirasi akhlak mulia Nabi Muhammad Saw.”

Contoh ketiga, pembelaan Rasulullah Saw kepada orang Yahudi yang bernama Zaid bin Samin. Dikisahkan salah seorang sahabat Anshar, Thu’mah bin Abiraq mencuri baju besi dari rumah pamannya. Baju besi itu merupakan titipan seseorang untuk pamannya jaga.

Ketika sang paman merasa kehilangan, beberapa orang mencurigai gelagat Thu’mah bin Abiraq. Ketika merasa dicurigai, ia pindahkan baju besi tersebut secara sembunyi-sembunyi ke rumah seorang Yahudi bernama Zaid bin Samin. Ia ingin membersihkan namanya dan membiarkan agar orang-orang menemukan baju besi tersebut, tidak pada diri dia. Tetapi pada si orang Yahudi.

Kisah Zaid bin Samin

Alkisah, karena bukti ada di rumah Zaid bin Samin, beberapa orang terutama dari keluarga dekat Thu’mah bin Abiraq terbawa ikut menyalahkan dan mengutuk orang Yahudi tersebut. Thu’mah bin Abiraq sendiri ikut menuduh Zaid bin Samin sebagai pencurinya. Zaid bin Samin tentu tidak terima.

Ketika hal ini tersampaikan kepada Rasulullah Saw tentu saja Zaid bin Samin ini menolak dengan tegas semua tuduhan atas dia. Ia menangis dan memohon kepada Rasulullah Saw agar mengadakan penyelidikan secara menyeluruh. Setelah investigasi secara cukup, Nabi Saw membebaskan orang Yahudi itu dan memutuskan bahwa Thu’mah bin Abiraq sebagai yang bersalah. Mengetahui keputusan ini, Thu’mah bin Abiraq melarikan diri keluar Madinah dan tidak kembali lagi.

Kang Faqih menggarisbawahi pesan moral kisah ini dengan elegan;

“Demikianlah salah satu akhlak Rasulullah Saw dalam membela orang yang dizhalimi, sekalipun non-muslim. Akhlak ini, tentu saja harus menjadi inspirasi kita dalam berelasi sesama warga warga bangsa, untuk terus mendukung sikap adil dan menolak sikap zhalim, sekalipun kepada mereka yang berbeda agama.”

Inspirasi Dari Maqashid Qur’ani

Dalam bagian ini, Kang Faqih berusaha menafsirkan Al-Qur’an dengan menggunakan perspektif mubadalah. Mulai dari surat Al-Fatihah sampai surat Al-Baqarah hingga ayat ke-74. Begitu pula dengan sejumlah ayat-ayat yang berbicara relasi muslim dengan non-muslim dalam semangat mubadalah. Di sini, saya akan menampilkan contoh demonstratif bagaimana Kang Faqih menafsirkan tiga ayat awal dalam surat Al-Fatihah dan awal surat Al-Baqarah dengan menggunakan pendekatan mubadalah.

Sebagaimana kita ketahui, surat Al-Fatihah terdiri dari tujuh ayat. Berawal dengan ayat Bismillahirrahmanirrahim (Dengan keagungan Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang), sebuah permulaan untuk mengingat keagungan dan kasih sayang Allah agar seluruh aktivitas hidup kita dipenuhi dengan keagungan, kemuliaan, dan kasih sayang dari-Nya dan juga dari diri kita. Basmalah adalah doa kita dan motivasi untuk kita, sekaligus komitmen kita pada nilai-nilai kemuliaan dan kasih sayang. Pada mulanya adalah basmalah yang menuntun pada hamdalah (Alhamdulillahi rabbli’alamin).

Alhamdulillahi rabbli’alamin (Segala puji bagi Allah pengasuh seluruh alam). Ungkapan ini adalah pengakuan seorang hamba pada eksistensi dan sifat-sifat Tuhan. Pada kalimat ini, ada dua eksistensi: eksistensi Allah dan eksistensi seluruh alam (‘alamin) yang menjadi makhluk-Nya. Relasi antara kedua eksistensi ini adalah pengasuhan (rububiyah) oleh Tuhan dan pengakuan hamba dengan memuji-Nya (hamdiyah).

Pujian adalah Kewajiban Manusia

Hal yang tampak dari kalimat hamdalah ini adalah empat konsep kata, yaitu pujian (hamdiyah), ketuhanan (uluhiyah), pengasuhan (rububiyah), dan kealaman (‘alamiyah). Pujian adalah kewajiban manusia, sebagai bagian dari alam (‘alamin), pada eksistensi ketuhanan (Allah) karena peran pengasuhan (rabb) yang telah dilakukan bagi pemeliharaan dan pelestarian seluruh alam.

Pujian kita kepada Tuhan bukan karena Dia membutuhkannya. Allah itu Ash-Shamad, tidak membutuhkan sesuatu. Tetapi, segala sesuatu membutuhkan-Nya. Kita, sebagai manusia adalah yang paling membutuhkan pujian pada Tuhan ini (hamdiyah).

Memuji-Nya agar ingat (dzikir) kepada-Nya. Mengingat-Nya agar sadar dengan sifat dan peran pengasuhan-Nya (rububiyah). Sebagaimana sifat-sifat-Nya agar bisa kita terapkan dalam kehidupan kita sebagai khalifah-Nya yang menerima mandat untuk memakmurkan dan melestarikan alam semesta.

Menurut Kang Faqih, dalam perspektif mubadalah, ungkapan hamdalah ini memberi pesan bahwa pujian (hamdiyah) berelasi dengan peran pengasuhan dan pemeliharaan (rububiyah). Dua konsep kata ini harus selalu berelasi kesalingan (mubadalah) dalam kehidupan kita. Setiap kerja pengasuhan yang kita lakukan, sekecil apapun, harus kita apresiasi.

Apresiasi yang sehat dan sportif harus lahir dari kinerja rububiyah yang nyata ada. Hamdiyah mendorong rububiyah, dan rububiyah melahirkan kehidupan penuh hamdiyah, yakni hal-hal terpuji. Bahkan, dalam relasi kehidupan antar manusia yang kuat, sikap dan perilaku hamdiyah menjadi bagian dari tumbuhnya kerja-kerja rububiyah, dan rububiyah ini akan lestari secara kuat dengan hamdiyah. Relasi ini masih perlu kita topang kembali agar dasar dan tujuannya kuat dengan nilai kasih sayang.

Penguatan Konsep Kasih Sayang

Ayat selanjutnya, arrahmanirrahim adalah dua sifat Allah yang hadir lagi setelah hamdalah untuk menguatkan konsep kasih sayang yang penegasannya pada ayat pertama, yaitu bimillahirrahmanirrahim. Relasi hamdiyah kita sebagai manusia dengan rububiyah Allah kepada alam semesta yang kita representasikan dalam kehidupan relasional kita sehari-hari, antar manusia, harus senantiasa kita kaitkan pada dasar dan tujuan prinsip relasi kasih sayang.

Sebelumnya, melalui kalimat basmalah, kita sudah berdoa kepada-Nya, memotivasi diri, dan berkomitmen dengan ajaran kasih sayang ini. Sekarang, kita kembali diingatkan dengan kasih sayang-Nya agar komitmen kita semakin kuat untuk selalu saling menyayangi satu sama lain.

Lalu Kang Faqih menggarisbawahi prinsip mubadalah dalam tiga ayat tersebut dengan elegan: “Melalui tiga ayat awal QS. Al-Fatihah, sesungguhnya telah terang benderang bahwa kasih sayang adalah ajaran ketuhanan dan pondasi spiritual untuk kemanusiaan.

Allah mewajibkan diri-Nya sebagai Maha Pengasih dan Maha Penyayang, mengutus Nabi Muhammad Saw sebagai bentuk dan untuk menebar kasih sayang pada seluruh alam (rahmatan lil ‘alamin) (QS. Al-Anbiya 21: 107), menurunkan wahyu-Nya dalam bentuk Al-Qur’an juga untuk ajaran kasih sayang (QS. Al-Dukhaan 44: 1-6), dan meminta seluruh manusia untuk saling mengasihi dan menyayangi satu sama lain.”

Sedangkan makna takwa pada ayat ke-2 dan ke-21 dalam surat Al-Baqarah juga memiliki implikasi mubadalah. Menutut Kang Faqih, orang-orang yang bertakwa adalah orang-orang yang meyakini hal-hal yang tidak terlihat (gaib), mendirikan salat, dan berbagi kepada orang lain dari rezeki yang Allah berikan kepada mereka. Di sini, keimanan pada yang gaib, salat, dan perilaku berbagi laksana segitiga emas yang saling menguatkan satu sama lain. Ketiganya adalah ciri khas orang-orang bertakwa.

Makna Taqwa

Takwa di sini, karena itu, bukanlah ketakutan pada Allah sebagaimana biasa kita terjemahkan selama ini. Tetapi, takwa lebih merupakan kesadaran diri akan kehadiran Allah yaitu kesadaran bahwa Dia yang selalu berada bersama kita (QS. At-Taubah 9: 40), melihat seluruh aktivitas kita (QS. Al-Hujarat 49: 18), mengetahui suara hati kita. Bahkan bisa lebih dekat dari itu (QS. Qaaf 50: 16), dan mendengar doa-doa kita (QS. Ali Imran 3: 38). Kesadarann akan kehadiran Allah termasuk pada keimanan pada hal-hal yang tidak terlihat (gaib) karena Allah adalah Dzat yang melihat kita dan sama sekali tidak terlihat oleh kita.

Namun takwa juga merupakan kemenyatuan kita dengan Allah. Kita berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya. Kemenyatuan kita dengan Allah bersifat spiritual-transendental. Ini sisi vertikal dari kesadaran kemenyatuan kita kepada Allah (takwa). Sisi lain, yang horizontal. Karena hanya Allah yang Tuhan maka semua manusia diperlakukan sebagai sesama hamba-Nya yang setara, bermartabat, dan mulia. Relasi antar hamba yang terlahir dari kesadaran kemenyatuan dengan-Nya adalah relasi kesalingan dan kerja sama (mubadalah).

Ada banyak orang yang mungkin mengklaim menyatu dengan Allah atau menjadi juru bicara-Nya, tetapi jika tidak kita barengi dengan relasi kesalingan dan persaudaraan antar sesama maka klaimnya adalah bohong dan palsu.

“Misalnya, ” tulis Kang Faqih, “Al-Qur’an menegaskan bahwa Allah dan rasul-Nya mengajak pada kehidupan (Qs. Al-Anfaal 8: 24). Maka, jika ada pendakwah yang mengajak pada kematian, pasti ia pembohong. Al-Qur’an menegaskan misinya adalah kasih sayang (QS. Al-Anbiyaa’ 21: 107).

Maka, penceramah Islam yang menebar kebencian dan permusuhan adalah pasti pembohong. Al-Qur’an menegaskan bahwa relasi antara laki-laki dan perempuan adalah kemitraan dan kesalingan (QS. At-Taubah 9: 71). Baik dalam hal ritual, familial, maupun sosial.

Dengan demikian, ustadz atau ustadzah yang sehari-hari merendahkan perempuan di hadapan laki-laki, menganggapnya harus selalu taat dan patuh kepadanya, bukan sama-sama patuh kepada Allah, memintanya tunduk dan melayani laki-laki, bukan saling melayani satu sama lain untuk tunduk pada Allah dipastikan mereka adalah pembohong.” (bersambung)

Tags: bukuModerasi Beragamaperspektif mubadalahrelasi mubadalahUmat Berbeda Agama
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Cara Memberi Sanksi yang Baik untuk Anak

Next Post

Begini Tujuan Pernikahan yang Wajib Diketahui Oleh Setiap Pasangan

Zaprulkhan

Zaprulkhan

Dekan Dakwah IAIN Bangka Belitung. Penulis Buku Filsafat Islam

Related Posts

Pesantren yang Aman
Personal

Dari Epistemic Injustice Menuju Epistemic Partnership: Jalan Membangun Pesantren yang Aman

11 Juli 2026
Maskulinitas Mubadalah
Personal

Dari Maskulinitas Mubadalah Menuju Epistemologi Ulama Perempuan

6 Juli 2026
Memaknai Mahar
Keluarga

Memaknai Mahar sebagai Penghormatan, Bukan Pembelian

2 Juli 2026
Epistemic Injustice
Metodologi

Akar dan Jalan Keluar Kekerasan Seksual di Pesantren dalam Teori Epistemic Injustice dan Kerangka Mubadalah

29 Juni 2026
Fikih Disabilitas
Disabilitas

Buku Fikih Disabilitas Resmi Diluncurkan di Munas Konbes NU 2026

23 Juni 2026
Relasi Mubadalah
Publik

Gelas Kosong dan Sayap yang Sinkron: Paradoks Kekuatan dalam Relasi Mubadalah

15 Juni 2026
Next Post
tujuan nikah

Begini Tujuan Pernikahan yang Wajib Diketahui Oleh Setiap Pasangan

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Nafkah Skincare, Antara Kosmetik Tersier dan Hak Kesehatan Reproduksi Istri
  • Memahami Emosi Anak dengan Down Syndrome
  • Kapan Sebaiknya Menjalani Tes HIV?
  • Apa yang Harus Dilakukan Setelah Hasil Tes HIV Positif?
  • Mengapa Kehamilan Perlu Diputuskan Bersama?

Komentar Terbaru

  • Nur Fadiah Anisah pada Memaknai Jargon The Personal is Political: Kecemasan Kita Ternyata Diproduksi Negara!
  • Zikri Alvi Muharam pada Takut Kok Sama “Pesta Babi”
  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0