Jumat, 10 Juli 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

    Pemadaman Listrik

    Pemadaman Listrik Bergilir: Ironi Negara Eksportir Batu Bara

    Suporter Jepang

    Kritik untuk Suporter Jepang di Piala Dunia 2026: Cuitan Warganet, Sentilan Aristoteles

    Slut Shaming

    Slut Shaming: Ruang Digital tidak Ramah Terhadap Perempuan Kritis

    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Feminisme: Kala Perempuan Tak Melulu Menjadi Penghibur

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Bertumbuh bersama Pesantren

    Bertumbuh Bersama Pesantren: Menjadi Alim, Saleh, dan Kafi

    Kesehatan Mental Disabilitas

    Kesehatan Mental Disabilitas Belum Menjadi Prioritas

    Perkawinan Anak

    Peran Strategis Pesantren dalam Mencegah Perkawinan Anak

    Pengadilan Agama

    Teras Pengadilan Agama, Asas Hukum, dan Harapan Lain tentang Perceraian

    Menjadi Pemimpin

    Kalau Masih Seksis dan Misoginis Jangan Menjadi Pemimpin

    Persahabatan

    Persahabatan Sejati dalam Terang Ensiklik Fratelli Tutti

    Kemandirian Manusia

    Kemandirian Manusia: Mitos yang Dibongkar Difabel

    Anak Muda

    Anak Muda dan Krisis Kecukupan di Era Digital

    There's a Man

    “There’s a Man”: Saat Media Sosial Mengajak Kita Mengkritisi Cara Pandang Patriarkal

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Luka Dalam Aborsi

    Luka Dalam Setelah Aborsi: Kenali Tanda Bahaya dan Cara Penanganannya

    Infeksi Aborsi

    Kapan Infeksi Setelah Aborsi Menjadi Berbahaya? Ini Tanda-Tandanya

    Infeksi setelah Aborsi

    Infeksi Setelah Aborsi: Penyebab, Gejala, dan Cara Penanganan Awalnya

    Aborsi

    Pasien Pingsan Setelah Aborsi? Ini Langkah Pertolongan Pertama yang Perlu Dilakukan

    Pendarahan Aborsi

    Pendarahan Hebat Setelah Aborsi, Ini Langkah Pertolongan Pertama yang Perlu Dilakukan

    Pasca Aborsi

    Pendarahan Pasca Aborsi yang Mengancam Nyawa, Ini 5 Langkah Penanganan Lanjutannya

    Pasca Aborsi

    7 Langkah Darurat Menangani Pendarahan Pasca Aborsi sebelum Dirujuk ke Rumah Sakit

    Pendarahan pasca aborsi

    Cara Menghentikan Pendarahan yang Berlebihan Pasca Aborsi

    Aborsi

    Pendarahan Pasca Aborsi: Kenali Tanda Bahaya dan Langkah Pertolongan Pertama

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

    Pemadaman Listrik

    Pemadaman Listrik Bergilir: Ironi Negara Eksportir Batu Bara

    Suporter Jepang

    Kritik untuk Suporter Jepang di Piala Dunia 2026: Cuitan Warganet, Sentilan Aristoteles

    Slut Shaming

    Slut Shaming: Ruang Digital tidak Ramah Terhadap Perempuan Kritis

    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Feminisme: Kala Perempuan Tak Melulu Menjadi Penghibur

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Bertumbuh bersama Pesantren

    Bertumbuh Bersama Pesantren: Menjadi Alim, Saleh, dan Kafi

    Kesehatan Mental Disabilitas

    Kesehatan Mental Disabilitas Belum Menjadi Prioritas

    Perkawinan Anak

    Peran Strategis Pesantren dalam Mencegah Perkawinan Anak

    Pengadilan Agama

    Teras Pengadilan Agama, Asas Hukum, dan Harapan Lain tentang Perceraian

    Menjadi Pemimpin

    Kalau Masih Seksis dan Misoginis Jangan Menjadi Pemimpin

    Persahabatan

    Persahabatan Sejati dalam Terang Ensiklik Fratelli Tutti

    Kemandirian Manusia

    Kemandirian Manusia: Mitos yang Dibongkar Difabel

    Anak Muda

    Anak Muda dan Krisis Kecukupan di Era Digital

    There's a Man

    “There’s a Man”: Saat Media Sosial Mengajak Kita Mengkritisi Cara Pandang Patriarkal

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Luka Dalam Aborsi

    Luka Dalam Setelah Aborsi: Kenali Tanda Bahaya dan Cara Penanganannya

    Infeksi Aborsi

    Kapan Infeksi Setelah Aborsi Menjadi Berbahaya? Ini Tanda-Tandanya

    Infeksi setelah Aborsi

    Infeksi Setelah Aborsi: Penyebab, Gejala, dan Cara Penanganan Awalnya

    Aborsi

    Pasien Pingsan Setelah Aborsi? Ini Langkah Pertolongan Pertama yang Perlu Dilakukan

    Pendarahan Aborsi

    Pendarahan Hebat Setelah Aborsi, Ini Langkah Pertolongan Pertama yang Perlu Dilakukan

    Pasca Aborsi

    Pendarahan Pasca Aborsi yang Mengancam Nyawa, Ini 5 Langkah Penanganan Lanjutannya

    Pasca Aborsi

    7 Langkah Darurat Menangani Pendarahan Pasca Aborsi sebelum Dirujuk ke Rumah Sakit

    Pendarahan pasca aborsi

    Cara Menghentikan Pendarahan yang Berlebihan Pasca Aborsi

    Aborsi

    Pendarahan Pasca Aborsi: Kenali Tanda Bahaya dan Langkah Pertolongan Pertama

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom Disabilitas

Kesehatan Mental Disabilitas Belum Menjadi Prioritas

Setiap orang dapat mengalami tekanan psikologis, termasuk difabel. Mereka juga merasakan sedih, kecewa, marah, cemas, atau lelah seperti orang lain.

Salwaa Khanzaa Al Salsabil by Salwaa Khanzaa Al Salsabil
10 Juli 2026
in Disabilitas
A A
0
Kesehatan Mental Disabilitas

Kesehatan Mental Disabilitas

4
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Saat ini, kesehatan mental disabilitas belum menjadi prioritas dalam berbagai pembahasan mengenai kesehatan maupun pembangunan. Padahal, banyak difabel menghadapi tekanan psikologis akibat stigma, diskriminasi, dan terbatasnya akses terhadap layanan kesehatan mental yang ramah serta mudah dijangkau.

Berbagai kampanye tentang kecemasan, depresi, hingga kesejahteraan psikologis terus berkembang. Namun, pembahasan tersebut belum sepenuhnya menyentuh pengalaman hidup disabilitas.

Banyak orang masih berfokus pada kondisi fisik atau hambatan yang tampak, tetapi sering mengabaikan beban emosional yang mereka hadapi setiap hari. Setiap orang dapat mengalami tekanan psikologis, termasuk disabilitas.

Mereka juga merasakan sedih, kecewa, marah, cemas, atau lelah seperti orang lain. Sayangnya, masyarakat masih sering menganggap emosi tersebut sebagai bagian yang wajar dari kehidupan disabilitas sehingga tidak memerlukan perhatian khusus.

Cara pandang seperti ini justru membuat banyak persoalan kesehatan mental tidak terdeteksi sejak awal.

Stigma Masih Menjadi Beban yang Berat

Tidak hanya menghadapi hambatan fisik, tetapi juga menghadapi stigma yang terus muncul dalam kehidupan sehari-hari. Sebagian orang masih meragukan kemampuan mereka untuk belajar, bekerja, hidup mandiri, atau mengambil keputusan.

Penilaian tersebut sering muncul tanpa memberi kesempatan untuk menunjukkan kemampuan yang mereka miliki. Stigma yang berlangsung terus-menerus dapat memengaruhi kepercayaan diri seseorang.

Ketika lingkungan terus memberikan penilaian negatif, disabilitas dapat merasa tidak dihargai, kehilangan motivasi, atau menarik diri dari pergaulan. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko munculnya gangguan kesehatan mental.

Masalahnya, banyak orang masih menganggap diskriminasi hanya terjadi dalam bentuk perlakuan yang terang-terangan. Padahal, komentar yang meremehkan, sikap yang terlalu mengasihani, atau keputusan yang mengabaikan pendapat mereka juga dapat meninggalkan luka emosional yang mendalam.

Akses Layanan Kesehatan Mental Belum Ramah Difabel

Selain menghadapi stigma, banyak disabilitas juga masih kesulitan mengakses layanan kesehatan mental. Tidak semua fasilitas kesehatan menyediakan layanan yang benar-benar inklusif bagi berbagai jenis difabel.

Sebagai contoh, disabilitas tuli mungkin membutuhkan pendamping atau juru bahasa isyarat saat berkonsultasi dengan psikolog. disabilitas netra memerlukan informasi dalam format yang mudah diakses.

Sementara itu, sebagian disabilitas dengan hambatan mobilitas masih menghadapi bangunan yang belum menyediakan akses fisik yang memadai. Hambatan tersebut membuat sebagian disabilitas memilih untuk tidak mencari bantuan, meskipun mereka membutuhkan dukungan profesional.

Akibatnya, banyak persoalan kesehatan mental terus berlangsung tanpa penanganan yang memadai.

Lingkungan Memiliki Peran Besar

Kesehatan mental tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi individu. Lingkungan juga membentuk pengalaman emosional seseorang setiap hari.

Keluarga, sekolah, tempat kerja, dan masyarakat dapat menciptakan ruang yang aman atau justru memperbesar tekanan yang dirasakan disabilitas. Ketika keluarga memberikan dukungan, mendengarkan keluhan, dan menghargai pendapat mereka, disabilitas akan lebih mudah membangun rasa percaya diri.

Sebaliknya, lingkungan yang terus membatasi kesempatan atau memandang rendah kemampuan disabilitas dapat memperbesar tekanan psikologis. Perasaan tidak diterima sering kali muncul bukan karena kondisi yang dimiliki seseorang, tetapi karena lingkungan belum memberikan ruang yang setara.

Karena itu, menjaga kesehatan mental disabilitas tidak cukup hanya mengandalkan layanan psikologi. Kita juga perlu membangun lingkungan yang menghargai perbedaan dan memberikan kesempatan yang sama kepada setiap orang.

Saatnya Mengubah Cara Pandang

Selama ini, masyarakat lebih sering membahas kebutuhan fisik disabilitas daripada kebutuhan emosional mereka. Padahal, keduanya sama-sama penting.

Disabilitas tidak hanya membutuhkan kursi roda yang sesuai, jalur landai, atau teknologi bantu. Mereka juga membutuhkan lingkungan yang menghormati pilihan hidup mereka, menghargai pendapat mereka, dan memberikan kesempatan untuk berpartisipasi tanpa stigma.

Mengubah cara pandang menjadi langkah penting untuk mengurangi beban psikologis yang mereka hadapi. Ketika masyarakat mulai melihat mereka sebagai individu yang memiliki kemampuan, potensi, dan hak yang sama, berbagai tekanan sosial dapat berkurang secara perlahan.

Perubahan tersebut juga membantu membangun hubungan yang lebih sehat antara difabel dengan lingkungan sekitarnya.

Membangun Dukungan yang Lebih Inklusif

Semua pihak dapat berperan dalam menjaga kesehatan mental disabilitas. Orang tua dapat menciptakan komunikasi yang terbuka di rumah. Guru dapat membangun suasana belajar yang menghargai keberagaman. Tempat kerja dapat menciptakan budaya yang bebas dari diskriminasi.

Pemerintah juga dapat memperluas layanan kesehatan mental yang mudah diakses oleh seluruh kelompok disabilitas. Selain itu, media memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan pemberitaan yang lebih adil.

Media tidak perlu terus menggambarkan disabilitas sebagai objek belas kasihan atau sosok yang selalu menginspirasi. Media justru dapat menghadirkan cerita yang menunjukkan kehidupan disabilitas secara utuh, termasuk pengalaman mereka menjaga kesehatan mental di tengah berbagai tantangan.

Pada akhirnya, kesehatan mental merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kesehatan secara keseluruhan. Kita tidak dapat membangun masyarakat yang benar-benar inklusif jika masih mengabaikan kesejahteraan psikologis difabel.

Sudah saatnya kita melihat kesehatan mental sebagai hak setiap orang. Dengan cara itu, kita tidak hanya membantu disabilitas menghadapi tekanan hidup, tetapi juga menciptakan masyarakat yang lebih adil, saling menghargai, dan benar-benar peduli terhadap sesama. []

Tags: Hak Penyandang DisabilitasInklusi SosialKesehatan Mental DisabilitasMerawat Kesehatan Mental
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Peran Strategis Pesantren dalam Mencegah Perkawinan Anak

Next Post

Luka Dalam Setelah Aborsi: Kenali Tanda Bahaya dan Cara Penanganannya

Salwaa Khanzaa Al Salsabil

Salwaa Khanzaa Al Salsabil

Part of Pesantren Ekologi Ath Thaariq

Related Posts

Mitos Disabilitas
Disabilitas

Meruntuhkan Mitos, yang Perlu Disembuhkan Bukan Disabilitas

8 Juli 2026
Anak Disabilitas
Disabilitas

Stabilitas Keluarga, Kunci Utama Menjaga Hak Anak Disabilitas

2 Juli 2026
Hukum Transaksi Finansial bagi Disabilitas
Disabilitas

Bagaimana Hukum Transaksi Finansial bagi Disabilitas dalam Islam

1 Juli 2026
Normalitas dan Disabilitas
Disabilitas

Normalitas dan Disabilitas: Privilege yang Sementara

30 Juni 2026
Kursi Roda
Disabilitas

Kursi Roda: Tanda Pengenal untuk Sebagian Penyandang Disabilitas

29 Juni 2026
Trotoar Disabilitas
Disabilitas

Ketika Trotoar Disabilitas Beralih Fungsi Menjadi Lahan Parkir dan Area Perdagangan

27 Juni 2026
Next Post
Luka Dalam Aborsi

Luka Dalam Setelah Aborsi: Kenali Tanda Bahaya dan Cara Penanganannya

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Bertumbuh Bersama Pesantren: Menjadi Alim, Saleh, dan Kafi
  • Luka Dalam Setelah Aborsi: Kenali Tanda Bahaya dan Cara Penanganannya
  • Kesehatan Mental Disabilitas Belum Menjadi Prioritas
  • Peran Strategis Pesantren dalam Mencegah Perkawinan Anak
  • Teras Pengadilan Agama, Asas Hukum, dan Harapan Lain tentang Perceraian

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0